http://www.indomedia.com/bpost/072005/1/opini/opini1.htm



Memaknai Uban
Oleh: Ahmad Barjie B
Dag, dig, dug. Getaran perasaan ini mungkin dialami orang yang pertama kali 
mendapati satu dua helai uban di rambutnya,  Dag, dig, dug. Getaran perasaan 
ini mungkin dialami orang yang pertama kali mendapati satu dua helai uban di 
rambutnya, baik diketahuinya sendiri maupun lewat penglihatan istri/suami atau 
anaknya. Timbul pikiran spontan dalam dirinya: Sudah tuakah aku?; Sudah 
hilangkah masa mudaku?; Ataukah aku mulai berbau tanah alias makin dekat dengan 
kematian?

Bagi orang yang mengutamakan penampilan dan tidak ingin dianggap tua, mungkin 
segera mencabut ubannya. Setiap hari dengan seksama ia amati, jika ada lagi 
uban tumbuh dicabut kembali. Ada juga yang sibuk menyemir rambut agar sang uban 
tidak kelihatan. Tetapi tidak sedikit membiarkan ubannya bertambah, tanpa mau 
memikirkan terlalu serius. Ia pikir kalau uban sudah waktunya mampir mengapa 
harus ditolak. Dicabut dan disemir pun tidak banyak membantu. Hidup ini tidak 
berjalan di tempat, usia selalu bertambah dan fisik pun berubah. Uban adalah 
sinyal perubahan itu. Jadi tidak perlu ditutup-tutupi.

Sebenarnya uban itu indah. Seseorang kelihatan lebih matang dan intelek ketika 
ada uban di kepalanya. Profesor dan doktor kurang afdhal kalau uban belum 
banyak di kepalanya dan belum botak, seolah ilmunya belum mumpuni. Pengacara 
kawakan Adnan Buyung Nasution, Mahendradatta, mantan anggota DPR RI era orde 
baru asal Sulsel Tajuddin Noer Said, Menhub Hatta Rajasa, mantan Gubernur NTT 
Piet A Tallo dan masih banyak lagi, adalah tokoh yang kelihatan lebih berwibawa 
dengan rambut peraknya. Terkesan mereka lebih gagah ketimbang saat rambutnya 
masih hitam.

Makna fisik

Uban (syaibun/grey) merupakan gejala alamiah. Secara pasti akan mendatangi 
setiap orang, kulit putih mulai beruban di usia 34 tahun, kulit hitam 43 tahun 
dan kulit sawo matang seperti orang Indonesia lebih segera, 30 tahun ada yang 
sudah mulai beruban. Pada beberapa kasus terjadi pengubanan dini (premature 
greying), sebelum usia 20 tahun. Kasus begini terbilang langka, biasanya karena 
faktor gen atau keturunan.

Tumbuhnya uban disebabkan berkurangnya aktivitas sel melanosit yang 
menghasilkan pigmen melanin. Penurunan melanosit berbanding lurus dengan 
pertambahan usia. Berkurangnya melanosit berakibat memutihnya rambut. Ini bisa 
diperparah bila seseorang mengidap suatu penyakit yang sukar disembuhkan atau 
penyembuhannya memakan waktu lama. Kekurangan vitamin B6 yang berdampak pada 
kurangnya sel darah merah, penyakit kencing manis dan gangguan kelenjar gondok, 
gizi kurang dan sejenisnya, juga memberi pengaruh signifikan pada percepatan 
tumbuh dan berkembangnya uban.

Bila orang ingin mengantisipasi dan memperlambat tumbuh dan berkembangnya uban, 
perlu perbaikan gizi dengan memperbanyak makanan berprotein, makanan suplemen 
antiuban, vitamin B Kompleks, B5, dll. Beberapa jenis makanan kaya vitamin 
seperti gandum, beras, hati ayam, hati sapi, dll, baik sekali dikonsumsi, 
ditambah massage dan creambath guna memperlancar sirkulasi darah di kulit 
kepala (BPost, 24/5/2005).

Seorang nenek usia 75 tahun ubannya bisa dihitung. Setelah ditanya rahasianya, 
ternyata sejak gadis ia mengamalkan minyak kelapa untuk rambutnya, tanpa mau 
pakai minyak rambut pabrikan. Apakah minyak kelapa mengandung unsur pengawet 
rambut, perlu penelitian lebih lanjut. Baginya, yang penting rambut tetap subur 
dan hitam. Meski beraroma khas ia tidak peduli.

Apa pun usaha yang dilakukan, hakikatnya hanya memperlambat dan mengurangi, 
bukan mencegah tumbuhnya uban. Tidak sedikit orang dari keluarga kaya yang 
gizinya baik dan gigih menekan uban, tetap saja uban hadir. Jadi suka atau 
tidak, uban harus diterima sebagai sebuah keniscayaan alami.

Makna psikis

Hadirnya uban juga dipicu oleh stres. Sebab, stres mempengaruhi aktivitas 
hormon dan meningkatkan autoimun yang berakibat uban datang lebih awal. Bagi 
orang Indonesia, angka stres cukup tinggi. Di awal terjadinya krisis ekonomi 
moneter (1998), Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di 
Hongkong mencatat: tingkat stres orang Vietnam 8,5; Korea Selatan 8,2; Thailand 
7,8; Indonesia, Cina, Hongkong, Jepang, Filipina dan Singapura 6,7; Malaysia 
5,6; Taiwan 5,5.

Mengingat krisis lambat pulih, sementara negara lain sudah normal, dipastikan 
tingkat stres orang Indonesia masih tinggi. Prof Dr Dadang Hawari melihat, 
stresor psikososial paling dominan sekarang adalah masalah ekonomi, keuangan, 
posisi dan pekerjaan. Selebihnya juga karena problema keluarga, kesehatan dan 
lingkungan.

Di tengah angka stres yang tinggi, dipastikan jumlah orang yang beruban lebih 
cepat dari yang seharusnya juga meningkat. Ini ditambah pula problema pekerjaan 
orang kantoran dan pekerja swasta yang karena tekanan kerja atau ambisi yang 
tidak tercapai, juga riskan memicu stres. Ada orang yang gagal jadi anggota 
legislatif atau di-PHK, mendadak uban menjamur di kepalanya.

Tetapi tanpa faktor penekan sekali pun, perjalanan usia pasti membuat seseorang 
makin banyak berpikir. Dengan begitu, uban akan tumbuh sebagai sinyal ketuaan 
dan kelelahan. Karena itu, memang sudah semestinya orang yang beruban lebih 
matang dan bijak dalam menyikapi hidup. Sudah waktunya lebih introspektif, 
tidak terlalu diperbudak nafsu, ambisi jabatan, kedudukan dan kekayaan. Waktu 
dan perhatian harus lebih terfokus mengabdi pada keluarga dan masyarakat tanpa 
pamrih.

Patut disayangkan, masih banyak orang beruban yang suka dugem (dunia gemerlap), 
diskotek, miras, narkoba dan main perempuan di luar nikah. Bergaya ABG, 
dipercaya menjadikan awet muda. Sebenarnya tidak ada gunanya menunda ketuaan 
dengan cara hedonik seperti itu, karena hanya nikmat sesaat dan hipokrit. 
Generasi muda membutuhkan figur panutan orangtua yang baik dan mendidik. Tak 
jarang orang tua ubanan meninggal di tempat yang berbau maksiat. Kalau sudah 
begitu, biar sebelumnya gemar berbuat baik, cenderung dinilai sebagai orang 
buruk dan celaka. Nilai hidup seseorang sering diukur di babak akhir.

Makna agama

Agama mematok puncak usia dewasa pada angka 40 tahun. Meski usia harapan hidup 
lansia pada 1995 mencapai 63,3 tahun dan 2000 meningkat 64,5 tahun (Milhan, 
BPost, 28/5), namun usia 40 tahun harus diberi catatan. Di usia ini, ada atau 
tidak ada uban, seseorang dituntut lebih banyak menggunakan agama sebagai 
cermin.

Menurut KH Husin Naparin Lc MA (2003: 15), usia 40 tahun mendapat sorotan tajam 
dalam Alquran. Allah menyuruh manusia di usia ini memperbanyak syukur, zikir, 
amal saleh, memikirkan dan menyiapkan generasi mendatang agar lebih baik, 
banyak bertobat dan memantapkan keislaman. Usia ini merupakan batas puncak 
kematangan akal pikiran dan perjalanan hidup, selanjutnya seseorang akan 
berjalan menurun.

Syekh Musthafa al-Manfaluthi ketika beru0sia 40 tahun meratapi usia mudanya 
yang telah pergi, telah berlalu masa bermain dan bersenang-senang. Ia merasa 
telah sampai ke puncak kehidupan, dan selanjutnya menuruni lereng kehidupan 
sebelahnya. Ia tidak tahu, apakah dapat turun dengan selamat ataukah akan 
tergelincir dan jatuh.

Kerisauan al-Manfaluthi tentu merupakan kerisauan kita semua. Meski usia 
harapan hidup sudah cukup tinggi, kita tidak pernah tahu sampai di mana limit 
usia kita, sebab ajal merupakan misteri kehidupan, dan peristiwa kematian 
merupakan pemandangan harian. Adanya uban, harus dijadikan indikator lebih 
separo umur sudah dilewati. Jarang orang sekarang berumur 80-an tahun.

Bagi yang membiarkan rambutnya penuh uban, perlu kita hargai. Berarti, ia jujur 
dengan dirinya sendiri dan tidak ingin merekayasa penampilan. Yang bersangkutan 
tidak perlu diledek sudah bau tanah, atau termasuk anggota 'KPU' (kepala penuh 
uban), meski dengan maksud bercanda. Sekiranya belum punya cucu, tidak bijak 
pula jika dipanggil kakek atawa kai.

Tetapi bagi yang berusaha menyembir rambutnya jika masih memungkinkan, itu pun 
tidak usah disalahkan. Imam Turmudzi dalam kitab al-Syamail menyatakan, 
Rasulullah SAW juga menyemir ubannya dengan daun pacar dan katam, sehingga 
berwarna merah tua. Bila rambut beliau diminyaki uban tidak terlihat, dan bila 
tidak barulah terlihat. Namun menurut Anas bin Malik, uban Rasulullah sampai 
akhir hayatnya tidak banyak, hanya 14 helai, dan menurut Ibnu Umar 20 helai 
saja. Jadi menyemir rambut untuk menutupi uban, terutama bila masih sedikit, 
dibolehkan. Tentu dengan catatan, bahan semirnya tidak terlarang dan tidak 
menghalangi berwudlu dan shalat.

Sekarang rambut beruban bisa dihitamkan, penampilan bisa direkayasa, banyak 
teknologi modern untuk mempermak wajah. Bahkan program Swan di Inggris, mampu 
mengubah fisik dari ujung kaki ke ujung rambut berbeda dengan aslinya. Tetapi 
tidak boleh dilupakan, hitungan usia yang sebenarnya tetap berjalan. Uban, 
kulit keriput, urat kendor, mata kabur, penyakit dan sejenisnya perlu dimaknai 
sebagai SMS dari Allah bahwa malaikat maut sudah mulai mengintai.

Mantan Presiden Perancis, mendiang Francois Mitterand lewat bukunya Intimate 
Death menyatakan, mati adalah seperti perjalanan ke alam yang tidak dikenal. 
Benar pesan Alquran, agar keislaman semakin dimantapkan yang ditandai kecintaan 
beramal individual dan sosial. Berapa pun usia yang dijatahkan Tuhan, faktor 
iman dan amal sangat menentukan. Dengan memperkuat iman dan amal saleh, 
seseorang insyaallah akan sampai ke ujung usianya dalam keadaan husnul 
khatimah. Amien.

Pemerhati masalah kemasyarakatan
, tinggal di Banjarmasin
e-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke