SUARA KARYA
Arah Pembangunan Pendidikan Nasional
Oleh Yayat Dinar N
Sabtu, 2 Juli 2005
Plato dan Aristoteles menempatkan kebijakan intelektual di tempat
tertinggi. Dalam rencana-rencana pendidikan yang mereka kemukakan, ditekankan
pula kebijakan moral dan latihan kemauan. Juga pendidikan-pendidikan fisik dan
jasmani seperti gimnastik, menari dan permainan-permainan sebab mereka
berpendapat bahwa kekuatan jasmani membantu kekuatan moral dan intelektual.
Karena, semuanya berhubungan dengan kebaikan, disiplin dan keselarasan dalam
fikiran dan tabiat dengan keutamaan yang sama dalam tubuh manusia.
Di antara kebijakan-kebijakan intelektual, mereka masukkan juga
kepandaian (kesanggupan untuk membuat barang) dan kebijakan praktis
(kesanggupan menimbang secara tepat terutama dalam mencapai tujuan-tujuan yang
baik dalam kehidupan sehari-hari). Kebijakan praktis atau prudensia merupakan
hal yang esensial dalam kehidupan moral dan dalamdiri seorang warga negara yang
bertanggung jawab.
Pendidikan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu sudut pandang
masyarakat dan sudut pandang individu. Pendidikan dilihat dari sudut pandang
masyarakat merupakan pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi
muda agar nilai-nilai yang ada tetap terjaga kelestariannya, sehingga identitas
suatu masyarakat tetap lestari. Sedangkan jika dilihat dari sudut pandang
individu, pendidikan merupakan proses pengembangan potensi-potensi yang
terpendam dalam setiap individu, sehingga individu tersebut mempunyai kemampuan
intelektual yang tinggi dalam interaksi kehidupan sosial masyarakat.
Merujuk dua sisi pandangan pendidikan tersebut seyogianya
pendidikan dijadikan pijakan konkrit dalam upaya membangun karakter bangsa
(nation character building). Sudah saatnya konsep pendidikan modern dan terarah
yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat diterapkan
oleh pemerintah. Pada intinya, prinsip pendidikan dari zaman dahulu hingga saat
ini tidak ada perbedaan yang signifikan. Prinsip pertama pendidikan adalah
pewarisan nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat dari generasi ke generasi.
Kedua, pemindahan (transfer) ilmu dan keterampilan dari generasi ke generasi.
Tujuan akhir dari pendidikan menurut Aristoteles dan Plato adalah meningkatkan
perkembangan jiwa setiap individu yang akhirnya mampu membuat
pertimbangan-pertimbangan yang tepat dan mampu memperhatikan susunan kehidupan
yang sebenarnya.
Patut disayangkan hingga saat ini bangsa kita belum memiliki konsep
ideologi pendidikan yang jelas. Konsep pendidikan yang ada saat ini hanyalah
"mengadopsi" konsep-konsep pendidikan yang dianut dunia Barat yang sebagian
besar tidak menyerminkan budaya bangsa, sehingga hanya menghasilkan
individu-individu yang konsumtif dan berpikiran liberal. Masalah utama dalam
pendidikan kita saat ini adalah bagaimana menghasilkan orang-orang yang
merdeka, baik dari segi pengetahuan atau pun moralitas -- bukan orang-orang
yang malas atau tidak mau berusaha -- serta tenaga-tenaga teknis yang terlatih.
Akan tetapi, pendidikan dalam arti luaslah yang dapat melengkapi pendidikan
kita, termasuk dari segi bahan ilmu yang menyangkut kemanusiaan, seperti
matematika dan ilmu pengetahuan.
Ruang lingkup pendidikan sangat luas dan kompleks, karena di
dalamnya melibatkan faktor-faktor krusial yang memengaruhi sistem pendidikan
seperti materi, interaksi, inovasi dan cita-cita. Selain itu juga aspek sosial
dan politik sangat memengaruhi perkembangan dunia pendidikan. Yang menjadi
pertanyaan sekarang adalah sejauh mana pengaruh aspek sosial dan politik
terhadap dunia pendidikan kita?
Dalam dunia pendidikan aspek sosial sangat berkaitan dan memiliki
hubungan yang kuat terhadap konsep dasar pendidikan. Aspek sosial inilah yang
memberi kerangka budaya bagaimana dan dari mana pendidikan tersebut bergerak
dan berkembang dalam memindahkan budaya, memilih serta mengembangkannya. Sistem
pendidikan seyogianya berakar dan bercermin pada nilai-nilai sosial yang ada
dalam masyarakat, sehingga konsep pendidikan tersebut bisa diterima oleh
masyarakat. Pendidikan tidak akan berkembang tanpa peran aktif masyarakat
sebagai individu yang menjadi objek dan pelaksana sistem pendidikan. Konsep
pendidikan harus mampu menyentuh aspek sosial masyarakat agar terjadi interaksi
positif antara individu sebagai pelaku dan objek dengan sistem pendidikan.
Lalu apa esensi pendidikan yang mampu menyentuh aspek sosial
masyarakat?
Pertama, pendidikan harus mencerminkan karakter masyarakat sehingga
pendidikan melahirkan individu-individu berkarakter dan berintelektual tanpa
meninggalkan nilai-nilai luhur masyarakat. Kedua, pendidikan tidak bertentangan
dengan nilai-nilai masyarakat, agar mampu dicerna dan diserap dengan baik oleh
masyarakat. Ketiga, pendidikan harus mampu menjangkau seluruh lapisan
masyarakat, jangan ada lagi kesenjangan antara pendidikan di kota-kota besar
dengan kota-kota kecil (daerah). Pendidikan harus bisa terjangkau, baik dari
segi wilayah maupun dari segi finansial oleh masyarakat, sehingga tidak ada
lagi ketidak-adilan dalam dunia pendidikan. Selain itu pendidikan juga harus
mampu mereduksi keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak
dan berkualitas sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang menyatakan
bahwa setiap warga negara berhak untuk memeroleh pendidikan.
Aspek politik dalam dunia pendidikan merupakan aspek yang sangat
diperlukan, karena aspek ini merupakan aspek yang memberi bingkai ideologi dari
mana pendidikan bertolak untuk mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
Aspek ini meliputi ilmu administrasi dan organisasi, undang-undang dan
perundang-undangan yang menafsirkan susunan dan kedudukan organisasi pendidikan
serta mengarahkan pergerakannya.
Oleh karena itu dukungan aspek politik dalam dunia pendidikan
sangat penting dalam mengontrol kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah,
sehingga arah dan kebijakan pemerintah tidak keluar dari ketentuan yang
ditetapkan oleh Undang-Undang.
Political will pemerintah mutlak diperlukan dalam upaya membangun
pendidikan nasional, terutama dalam penyusunan kurikulum yang merupakan konsep
dasar serta petunjuk dan pelaksanaan pendidikan Rumusan kurikulum ini
dipengaruhi oleh faktor-faktor, seperti pertama, fisiologis negara. Kedua,
sosiologis yang menyangkut keadaan masyarakat, ekonomi, adat istiadat,
kesehatan. Ketiga, psikologis yang mempertimbangkan faktor-faktor yang
terkandung dalam sasaran penduduk, misalnya, minat terhadap kebutuhan kemampuan
dan pengalaman. Keempat organisatoris di mana kurikulum disajikan dalam bentuk
tertentu baik dalam luas bahan,isi maupun urutan.
Tujuan pendidikan nasional sama dengan tujuan adminitrasi negara,
yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaina abadi
dan keadilan sosial. Persoalan pendidikan nasional ini diatur dalam UUD 1945
pada BAB XIII yang secara tegas pada pasal 31 ayat 1 yang menyatakan hak warga
negara untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran.
Berdasarkan penjelasan batang tubuh UUD 1945 pada Bab XIII, maka
dapat disimpulkan bahwa pertama, pendidikan bangsa Indonesia merupakan bagian
dari kebudayaan bangsa Indonesia. Kedua, pendidikan di mana terdapat konsep
pengajaran merupakan wadah dan sarana untuk mewujudkan kebudayaan bangsa. Oleh
karena itu pemerintah seyogyanya mencari dan merumuskan konsep pendidikan
nasional yang sesuai dengan akar budaya bangsa, sehingga mampu melahirkan
individu-individu yang memiliki karakter kuat dan berintelektual tanpa
meninggalkan norma-norma yang dimiliki bangsa.
Pada saat ini pendidikan nasional juga masih dihadapkan pada
beberapa permasalahan yang menonjol (1) masih rendahnya pemerataan memperoleh
pendidikan; (2) masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan; dan (3)
masih lemahnya manajemen pendidikan, di samping belum terwujudnya kemandirian
dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi.
Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antarwilayah geografis yaitu
antara perkotaan dan perdesaan, serta antara kawasan timur Indonesia (KTI) dan
kawasan barat Indonesia (KBI), dan antar tingkat pendapatan penduduk ataupun
antar gender. ***
(Penulis staf eksekutif pada
Nuri Lestari Foundation, Indonesia)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/