http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Opini&id=120831
Sabtu, 2 Juli 2005
Polisi Gadungan
Catatan Orang Biasa yang Pingin Teratur
Oleh: Kritaya Zenaida Rizani
Saya cuma ingin curhat, karena sebenarnya saya cukup bingung harus dialamatkan
kemana cerita ini. Entah ini keluhan, atau bentuk keprihatinan terhadap negeri
yang saya amat cintai, sangat.
ARKIAN... banyak teman yang kerap memanggil saya polantas "gadungan". Itu
karena begitu seringnya saya mengoceh dan protes terhadap orang-orang yang
tidak taat peraturan. Saya memang bukan polisi beneran. Waktu kecil pun tak
pernah bercita-cita jadi polisi. I am only an ordinary people... Cuma orang
biasa yang ingin semuanya serba teratur... Mudah-mudahan pembaca yang lain juga
merasakan hal yang sama.
Saya, alhamdulillah, dianugerahi kecakapan untuk menyetir, dipinjami kendaraan
untuk disetir. Meskipun teman teman selalu bilang saya supir yang lambat, saya
selalu berdalih 'tidak apa lambat asal selamat'. Mungkin juga karena Samarinda
bukan kota yang sangat dinamis, sehingga saya cenderung santai atau bisa
dibilang menikmati saat saat indah menyetir, menyisir jalan yang kadang mulus,
berundak-undak, atau berlubang-lubang karena selalu ada saja proyek proyek
tanpa koordinasi, sebentar PU, sebentar TELKOM, sebentar PDAM.
Menyetir adalah bagian dari seni, bagaimana membuat rasa nyaman dan aman bukan
hanya bagi si pengendara tapi juga bagi para penumpangnya. Tidak sekedar
menghidupkan mesin, memindahkan gigi, menginjak gas, lalu melenggang kencang di
jalan raya. Banyak yang tidak dipahami tentang etika.
Ya etika... Sopan-santun di jalan itu lho. Hal inilah yang seringkali membuat
panas dingin mesin tubuh saya. Saya sendiri, jujur, bukan supir yang ahli. Tapi
rasa-rasanya cukup tahu diri untuk patuh aturan-aturan jalan. Jadi, ketika
banyak masyarakat protes dengan akan diberlakukannya peraturan lalu lintas
dengan denda yang lumayan berat, saya termasuk pihak yang yaahhh ... tidak
sedih tapi cenderung gembira. Artinya, dengan diberlakukannya denda, diharapkan
pelanggaran di jalan raya berkurang. Kalau sudah begini siapa sih yang
diuntungkan?
Demi terciptanya rasa aman nyaman tenteram di jalan raya, jelaslah diperlukan
kerjasama yang bersahabat antara semua pengguna jalan raya. Kepatuhan pengguna
jalan dan ketegasan para penegak hukum (baca, polisi) adalah sikap yang fardhu
alias wajib. Rambu-rambu, marka jalan, lampu merah, kuning, hijau jelas-jelas
dibuat untuk membuat ketertiban jalan. Tapi kok ya entah pengguna yang tidak
mengerti, tidak melihat, tidak memperhatikan atau tidak punya kesadaran patuh
peraturan sih.
Didikan almarhum ayah saya tetap segar tertanam di otak saya, bahwa ada atau
tidak ada yang mengawasi, tetaplah yang namanya peraturan harus diikuti.
Tidak mudah membujuk beliau supaya megijinkan saya belajar menyetir. Beliau
termasuk orang yang sangat konservatif. Boleh mengendarai kendaraan jika sudah
cukup umur; yakni menurut peraturan yang berlaku - apabila telah berusia 17
tahun. Ketika itu saya masih 15 tahun, dengan sedikit menggerundel dalam hati
kok ya punya orang tua yang gak asik, gak gaul, gak mengerti perasaan anak
muda. Padahal, waktu itu, sudah banyak teman yang bisa dengan asyik jalan-jalan
dengan motornya walaupun tanpa sim.
Walhasil, ayah saya, dengan dalih supaya lebih sayang dengan kendaraan, sebagai
awal pengenalan kendaraan maka saya diharuskan memulai dengan mencuci mobil,
belajar memanaskan mesin, bertahap belajar memindahkan gigi, baru mundur maju
di halaman depan rumah. Ketika usia cukup barulah beliau dengan besar hati
mengkursuskan saya pada salah satu tempat kursus mengemudi yang pada jaman itu
belum menjamur seperti sekarang. Satu jam sehari selama 10 hari lumayan melatih
mental menyetir di jalan raya, karena faktor yang paling penting dalam hal
mengemudi adalah mental beraninya, bukan sekadar bisa menjalankan kendaraan.
Selama mengendarai barulah terasa senewennya hati, apalagi kalau ada pengendara
lain berlaku seenak perutnya. Rasanya menjadi penumpang dan supir benar-benar
beda. Itulah mengapa seringkali saya dan ibu saya sering berantem. Saya sebagai
supir sudah merasa hati-hati, sudah pelan-pelan, tapi tetap saja dianggap
terlalu kencang.
Pertama kali diberi kepercayaan membawa kendaraan untuk jarak jauh,
Balikpapan-Samarinda. Rasanya bangga luar biasa. Artinya untuk sekedar jalan
dalam kota kemampuan saya sudah diakui, minimal oleh ayah saya sendiri.
Sepanjang jalan, begitu tegang, maklum pertama kali. Bukan hanya saya, ayah pun
luar biasa lebih tegang. Sepanjang jalan, beliau wanti-wanti, jangan sampai
melanggar marka jalan kecuali garisnya putus-putus. Meskipun sepi tak
lepas-lepas diingatkan, untuk sering-sering membunyikan klakson pada setiap
tikungan tajam.
Kata ayah, kalau kita cukup tertib mematuhi seluruh aturan, insyaallah semua
aman. Walaupun perjalanan pertama itu memakan waktu hampir 3 jam, tapi ayah
nampak cukup puas. Buktinya, perjalanan Balikpapan-Samarinda berikutnya beliau
lebih percaya saya ketimbang supirnya.
Beberapa bulan terakhir, mulai ramai disosialisasikan pemakaian sabuk pengaman.
Reaksi masyarakat seperti biasa, ada yang positif dan negatif. Sebagian tidak
merasa keberatan karena telah memiliki kesadaran pentingnya berkendaraan secara
aman. Sebagian lagi justru merasa tidak nyaman dengan pemakaian sabuk karena
merasa tidak bebas bergerak.
Pelanggaran terhadap kewajiban ini akan dikenai denda 1 juta rupiah. Mungkin
penerapan peraturan ada baiknya disertai sanksi yang berat, sehingga masyarakat
takut. Yah takut, takut dengan hukum. Selain sanksi berat, penegakannya sudah
pasti harus tegas. Apa yang saya lihat, saya amati, yang terjadi sekarang ini
adalah sanksi yang penuh toleransi. Bulan Ramadhan, saat lebaran, tiba-tiba
saja helm plastik bisa berubah menjadi helm kain alias kopiah. Terjaring razia
bisa saja bebas dengan sedikit "omong-omong ekonomi". Siapa yang salah?
Pelanggaran tidak akan berkurang jika tidak ada ketegasan dan kedisiplinan dari
penegak. Pemakai jalan akan kehilangan rasa takut, rasa was-was terhadap
pelanggaran yang dibuat. Yang terjadi sekarang, banyak saja berseliweran
remaja-remaja berkendaraan tanpa SIM. Dan parahnya mereka tidak merasa bersalah
sama sekali. Terheran-heran saya ketika beberapa murid saya yang masih belia
mengendarai sepeda motor, ketika saya tanya apa memiliki SIM, mereka hanya
tertawa, menjawab dengan riang "Ya belum dong, kan belum cukup umur".
Astagfirullah, ketika pernah saya menunda memperbaharui SIM selama satu minggu
saja, rasa bersalah selalu menghantui sepanjang berkendara. Lalu bagaimana
orang-orang yang entah tidak mengenakan helm standard, tidak memiliki SIM,
tidak memakai sabuk pengaman, bisa dengan tenangnya melenggang di jalan raya?
Menggugah kesadaran bukan perkara yang mudah, jelas perlu proses. Helm standard
diwajibkan ya karena dianggap lebih unggul dalam hal memberikan perlindungan
dibanding helm biasa yang dipakai sekedar menutup kepala. SIM diharuskan ya
karena dianggap sebagai penanda bahwa si pengendara sudah cukup punya kecakapan
mental dan ilmu berkendaraan. Sabuk pengaman diwajibkan ya karena dianggap bisa
memberikan perlindungan ekstra terhadap pengendara mobil. Masalah tetap selamat
atau tidak ya wallahualam. Yang terpenting sudah ada usaha untuk mengurangi
risiko.
Rasa-rasanya, bagaimana bisa menikmati perjalanan, ketika tiba-tiba ada yang
menyalip dari arah yang tidak semestinya, lampu merah diterjang, klakson
berlomba lomba di malam hari, memutar di tempat yang jelas-jelas terlarang,
belum lagi badan saya yang bergidik di malam minggu karena banyak anak-anak
muda yang kebut-kebutan di jalan raya.
Saya cuma bisa berdecak kagum pada para pelanggar itu. "Di mana malumu? Setiap
kali melanggar peraturan cuek saja, kalau begini terus bagaimana Indonesia bisa
maju jika manusianya tidak punya kesadaran?" (sedikit saya kutip lagu Melly
Goeslaw dengan mengganti beberapa liriknya).
Saya sebagai salah satu korban pelanggaran (korban tabrak lari, mobil saya yang
diparkir diam ditabrak dua kali oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab),
hanya ingin sedikit menggugah pembaca untuk lebih punya etika berkendaraan.
Pelakon supir, bijaksana sedikit dong, percuma membawa mobil bagus tapi tidak
santun. Apakah pendidikan tidak menyentuh pemilik benda mahal ini. Pembawa
motor, bijaksana sedikit dong, jangan mentang-mentang badan kecil bisa
selap-selip dari arah mana saja. Penjual jasa kendaraan umum, bijaksana sedikit
dong, jangan mentang-mentang berdalih mencari menurunkan penumpang bisa
berhenti tiba-tiba dan ngetem di sembarang tempat.
Pejalan kaki, bijaksana sedikit dong, demi keamanan menyeberanglah di tempat
yang disediakan, juga mempercepat gerak ketika diberi kesempatan menyeberang.
Para orang tua, bijaksana sedikit dong, kalau belum cukup usia, jangan manjakan
putra putrinya dengan fasilitas kendaraan sendiri. Terakhir, bapak ibu
polantas, dengan segala lebih kurangnya, aturan harus ditegakkan apapun
resikonya. Proses belajar pertama, contohkanlah pada kami bagaimana cara
mematuhi peraturan. Agar tidak hilang hormat dan takut kami pada kalian bapak
ibu penegak hukum. Waktu sedikit lama beroleh SIM tidak mengapa selama tidak
dipersulit, asalkan kami membayar dengan harga resmi. Ditilang siapapun kami
tidak mengapa, asalkan tidak ada proses tawar menawar. Ketika hormat kami sudah
menguap, takut kami sudah memudar, lalu hukum sudah bisa dibeli; seberapa
pantas kita disebut manusia yang punya Tuhan?
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/