menitik air mata sy membaca tulisan dibawah ini, sudah sedemikian parahnya kah 
negara sy tercinta itu bagi rakyatnya dan dimata negara lain? sudah bener² 
putuskah 'urat syaraf malu' para pemimpin² di negeriku yg teramat kurindukan 
itu? ya Allah tiada daya upaya kami kecuali atas pertolonganMU...(asli 
sedih...bangett deh..)

salam,
tr.-

Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=178526

Jumat, 01 Juli 2005,


TKI Makmur, Negerinya Busung Lapar 
Oleh Viddy A.D. Daery *


Saya baru saja diundang yang kesekian kalinya oleh pemerintah Malaysia untuk 
jadi pembicara sastra budaya di Perhimpunan Penulis Muda Malaysia di Resort 
Golf Kukup, Pantai Piyayi, Pontian, Johor. 

Pontian ialah wilayah yang 75 persen warganya pendatang dari Ponorogo, Jatim, 
di zaman penjahan Belanda dulu. Karena itu, sampai kini, daerah tersebut 
mempunyai kesenian andalan wayang kulit dan jarang kepang, yang tentu bisa 
dirujuk dari daerah asalnya.

Tentu, kini semua keturunan Ponorogo itu sudah menjadi warga negara Malaysia 
dan tidak bisa lagi berbahasa Jawa kecuali satu-dua patah kata. Untuk 
pertunjukan wayang pun, dipakai bahasa campuran Jawa dan lebih banyak Melayu.

Kompleks TKI
Ketika kembali ke ibu kota Kuala Lumpur dan menginap semalam di Rumah Budaya 
GAPENA yang secara nonresmi praktis menjadi "rumah dinas" saya jika di Kuala 
Lumpur, saya mempunyai waktu luang dua hari untuk berjalan-jalan. 

Karena saya sudah hampir mengenal semua wilayah Kuala Lumpur, saya tak ingin 
berjalan-jalan, tetapi ingin berkunjung ke adik sepupu saya yang sudah menjadi 
TKI di Kuala Lumpur sejak 20 tahun lalu.

Setelah saya telepon, ternyata adik sepupu saya justru ingin menjemput saya 
memakai mobilnya dan menyatakan saya tak perlu menyewa taksi. TKI punya mobil? 
Alangkah menariknya fenomena ini. Sebab, selama ini, di koran-koran Indonesia, 
yang dibesar-besarkan justru TKI yang disiksa majikan (biasanya majikan dari 
etnis India atau Cina, tapi koran Indonesia hanya menyebut Malaysia), TKI yang 
ditipu mandornya, TKI yang dicambuk polisi Malaysia, dan sebagainya.

Adik saya menjemput saya di Rumah Budaya GAPENA lepas isya. Saya diajak 
putar-putar Kuala Lumpur yang bermandi cahaya. Dia tentu ingin memamerkan 
kesuksesannya kan?

Dia menunjukkan gedung-gedung yang pernah dia bangun (dia ikut membangunnya). 
Dengan bangga, dia menyatakan, KL rata-rata dibangun tangan-tangan TKI dengan 
keringat, darah, dan air mata.

Kemudian, dia menuju ke kompleks Kampung Pandan, tempat tinggalnya, tetapi 
mampir ke kompleks kedai makan yang sangat meriah.

Ciri-ciri umum kota-kota besar Malaysia ialah kedai/warung buka sampai jam dua 
malam. Karena penduduknya berlebihan uang, kegiatan malam dihabiskan dengan 
makan dan berbincang di warung sampai jam dua malam, padahal esok dini setelah 
salat subuh langsung berangkat bekerja.

Sambil makan tom yam (sup Thailand) dan minum es teh tarik khas Malaysia, saya 
kaget mendengar sekitar saya banyak juga orang yang bercakap dengan dialek 
Indonesia versi Lamongan.

Maka, adik saya menerangkan, penduduk Kampung Pandan terdiri atas 50 persen 
Melayu Malaysia, 15 persen India, 15 persen Cina, dan sisanya yang 20 persen 
adalah TKI dari Lamongan, Tuban, Gresik, dan Madura.

TKI yang makmur dan berhaha-hihi itu rata-rata bekerja sebagai tukang bangunan 
kelas menengah dan sebagian kecil adalah pemimpin kelompok (mandor), termasuk 
adik saya ialah mandor dari sekelompok TKI Lamongan yang berjumlah 5 orang satu 
grup. Spesialisasi tugas mereka memasang kaca +++ rayban di gedung-gedung 
tinggi.

Tugas itu gampang-gampang susah karena menuntut keahlian khusus dan 
berpendidikan setingkat STM-lah. Gajinya sangat besar untuk ukuran TKI.

Karena itu, tentu nasibnya sangat berbeda dengan TKI ilegal yang kadang tidak 
dibayar. Menurut adik saya, yang nakal tidak membayar biasanya mandornya 
sendiri atau dengan kata lain teman mereka sendiri sesama TKI yang mempunyai 
posisi bagus sebagai pemimpin kelompok. Karena itu, tak jarang ada pembunuhan 
antar sesama TKI karena kasus pengkhianatan.

Kami pulang ke rumahnya jam sebelas malam. Rumahnya adalah rumah susun yang 
cukup bagus, disewa bersama seorang adiknya dan teman adiknya yang menjadi anak 
buahnya. Adik saya tinggal bersama istrinya dan dua anaknya yang lahir di 
Malaysia dan berpaspor Malaysia.

Adik saya tak mau membangun rumah di Lamongan karena dia tidak mempunyai 
angan-angan tinggal di Indonesia. Baginya, Indonesia adalah negara yang absurd.

Dia memang tak bisa membeli tanah dan rumah di sana karena bukan warga negara 
Malaysia. Tetapi, anaknya setelah dewasa bisa membeli karena secara hukum sudah 
warga negara Malaysia akibat kelahiran. Kekayaannya kini disimpan, menunggu 
anaknya cukup umur.

Kabar Kabur Busung Lapar
Ketika saya bercerita kini Indonesia sedang dilanda busung lapar, dia kaget. 
Dia bertanya bukankah Indonesia sedang terserang lumpuh layuh? "Kabar itu sudah 
kuno," kataku. "Tiap minggu datang penyakit baru di Indonesia dan kini pun 
mungkin sudah ada penyakit baru," kataku lagi.

Benar juga, setelah saya pulang ke Jakarta, sudah ada dua penyakit baru, yakni 
diare dan tumor perut. 

Kenapa adik sepupu saya terlambat mendengar kabar Indonesia? Padahal, dia 
berlangganan Koran Berita Harian? Ternyata, kini Malaysia menyensor ketat 
kabar-kabar dari Indonesia.

Selama di Malaysia, koran-koran Malaysia saya lihat hanya memberikan porsi 
sangat kecil berita-berita dari Indonesia. Yang diberitakan hanya berita-berita 
aman dan bencana dahsyat semacam tsunami.

Bagi mereka, Indonesia tidak bisa lagi diberi "hati", tidak bisa lagi 
ditoleransi. Bagi mereka, Indonesia adalah keledai, yang selalu terperosok ke 
dalam lubang kebodohan yang sama berkali-kali dan tidak kapok-kapok, sehingga 
sudah tidak menarik lagi diberitakan. Sudah basi.

Karena itu, di pelabuhan-pelabuhan negara bagian, semua yang datang dari 
Indonesia juga dirazia agar tidak membawa masuk buku-buku, koran, dan majalah 
dari Indonesia.

Maka, jangan heran jika TKI makmur di Kuala Lumpur tak ingin lagi pulang. 
Jangankan yag makmur, yang tidak makmur pun, seperti TKI cambukan pun, setelah 
dicambuk dan dipulangkan ke Indonesia, tetap nekat kembali ke Malaysia. 

*. Viddy AD Daery, visiting research di Walailak University, Nakhon Sri 
Thammarat, Tanah Genting Kra, Thailand Tengah 




[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links








                
---------------------------------
Yahoo! Sports
 Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke