Salam,
Semula saya tak hendak berkomentar masalah "Blocked Member" itu. Hanya saja,
setelah bung Tony menyenggol India, saya secara pribadi akhirnya merasa perlu
untuk sedikit bersuara. Saya kira, setiap milis memiliki aturan-aturan yang
berbeda; tergantung dari keinginan lembaga (dalam hal ini: PPI) yang membentuk
milis tersebut.
Dalam kasus PPI Amsterdam ini, saya melihat ada satu kejanggalan. PPI Amsterdam
menyebutkan bahwa "Tujuan milis ini (baca:PPI Amsterdam) adalah sarana
komunikasi dan informasi para siswa Indonesia di Amsterdam. Searah dengan
tujuan itu maka tidak tertutup kemungkinan bagi yang bukan siswa Indonesia di
Amsterdam untuk juga menjadi member".
Hal yang perlu untuk saya tanggapi adalah bila PPI Amsterdam membuka kesempatan
kepada orang luar untuk mengikuti milis tersebut, maka secara otomatis anggota
yang dari luar itu juga berhak untuk menerima dan mengkritisi segala siaran
yang ada di milis tersebut. Yang perlu diperhatikan itu adalah, apakah
postingan member itu mengundang dan mengundang "gejolak dan kemarahan" member
yang lain? Maka, bila iya, member tersebut mesti diperingati dan diberitahu ttg
adab dan tata krama masuk ke "rumah" orang.
Saya secara pribadi juga cukup menyayangkan sikap yang diambil oleh Sr. Berly
untuk memblock email Tante Mira, karena menurut saya kebijakan tersebut
merupakan salah satu bentuk kediktatoran bang Berly. Sebenarnya hal serupa tak
hanya dilakukan oleh milis PPI Amsterdam saja, milis JIL saja juga sering
memblock member yang tak "seakidah" dgnya. Padahal, sudah jelas JIL
mendengung-dengungkan liberal, tapi begitu komentar membernya rada-rada
"tradisional dan menentang JIL", maka tunggu sajalah pemblokiran email itu ...
Kembali ke milis PPI Amsterdam, bila rekan-rekan mahasiswa/i di sana menutup
diri dari segala informasi yang disajikan orang luar, dan lebih menikmati
kehiduan bersenang-senang di luar negeri, maka wajarlah, bila pemimpin-pemimpin
kita yang katakanlah banyak lulusan lura negerinyam, kurang begitu perhatian
thdp nasib akyat miskin yang memenuhi bangsa Indonesia itu. Bagaimana mungkin
kita bisa merasakan derita masyarakat bawah, lha, pada kita kuliah di luar
negeri, kita lebih banyak berhaving fun bersama kerabata-kerabat Indonesia yang
belajar di negara setempat. Kalau saya tak salah hitung, kebanyakan pejabat
kita di Indonesia adalah lulusan dan atau pernah mengeyam pendidikan di luar
negeri. Benarkah?
Wassalam,
IzaM -
tony picasso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Apa ini ada hubungannya dg Milis PPIINDIA? Do we have Berly and mbak Mira here?
Atau ini adalah problem dapur ppi lain yg nyasar...ah ada2 aja!
heri latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
bung sabiq yang baik,
sepertinya tak ada tanggung jawab dari seorang intelektual model berly
martawardaya itu, sudah sangat busuk sekali niatnya, yang berniat "nyari
selamat", sembari berhura-hura menikmati hidup cuekbebek sebagai student di
perantauan.
......
---------------------------------
Yahoo! Sports
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/