Refleksi : Bagi yang berkunjung atau berdiam di Tokyo bila berhasrat untuk melihat lelang ikan, bisa dilihat di pasar ikan di bahagian kota yang namanya Tsukiji. Ada stasiun metro dengan nama yang sama. Kurang lebih 7 menit jalan kaki dari stasion metro ke tempat pelangan tsb, tetapi harus datang sebelum jam 05.00 pagi. Pada jam tsb mulai lelang dan selesainya cepat sekali.
Kalau lapar bisa makan mie di muka pasar tsb. ada tempat penjualan mie kua. Banyak orang antre untuk makan mie sebagai sarapan pagi, tetapi service dan orang yang makan pun sangat cepat. Penjualan mie ini tutup jam 09.00 Bagi yang mau minta rejeki dari Buddha bisa ke tempel yang letaknya bersebahan dengan pasar. Boleh dibilang semua aktivitas di pasar tutup jam 10.00. http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/03/nas17.htm Pasar Ikan Higienis di Tokyo PEMERINTAH Kota Tegal berencana membangun pasar ikan higienis, sebagai bagian dari disain besar pembangunan industri maritim di daerah tersebut. Meski masih asing di telinga kita, tidak terkecuali bagi komunitas nelayan sendiri, rencana ini patut diapresiasi dan didorong agar benar-benar terealisasi. Rencana ini memang sedikit tertinggal dari Kota Semarang, yang tahun lalu memulai pembangunan tahap pertama pasar ikan higienis di Jalan Pengapon --menempati areal bekas Makam Kristen Kodong, Kelurahan Semarang Timur. Bahkan fisik gedung kini hampir mendekati penyelesaian akhir. Apabila sudah beroperasi, maka inilah pasar ikan higienis pertama di Indonesia. ''Dalam waktu dekat ini, kami akan menemui Menteri Kelautan dan Perikanan,'' ungkap Wali Kota Tegal, Adi Winarso SSos. Sebagian dana pasar ikan higienis di Semarang pun disuplai pusat, meski secara bertahap. Karena itu, Tegal juga akan melakukan upaya yang sama untuk memperoleh bantuan pembiayaan. Bagi masyarakat di negara maju, pasar ikan higienis bukan barang baru lagi. Jepang boleh dibilang sebagai pelopornya. Sejak tahun 1967, negeri ini sudah memiliki Tsukiji Fish Market (TFM), yang berdiri di atas lahan seluas 23 ha dan berada di tengah-tengah Kota Tokyo. Pembangunan pasar ikan higienis ini secara dramatis mengubah citra pasar ikan tradisional, yang acapkali terlihat kumuh, berbau amis, dan becek. Di Indonesia, pasar ikan umumnya merupakan bagian integral dari bangunan pasar umum. Karena ciri amis, becek dan kumuh itulah, los-los ikan ditempatkan di bagian paling pojok. Para pedagang pun seperti terpinggirkan, karena terkucil dari para pedagang lainnya. Selalu Ramai TFM bukanlah satu-satunya pasar ikan higienis di Jepang. Hampir setiap kota memiliki pasar serupa. Tetapi tempat inilah yang terbesar, sehingga selalu ramai dikunjungi pedagang serta pembeli perorangan. Sekitar 80 persen kebutuhan ikan bagi penduduk Tokyo disuplai dari sini. Berbagai jenis ikan pun dapat ditemui di TFMi. Mulai dari tuna beku, cakalang, tongkol, udang, sidat, lobster, kerang, hingga telur ikan dan produk ikan siap saji. Semua dijual di ruang terpisah, yang selalu terjaga mutu dan kebersihannya. Jalan utama menuju TFM selalu bersih. Setiap pagi, siang, dan sore hari, jalan selalu disemprot dengan air bersih dari mobil tangki air. Bau amis dan busuk pun tak tercium sama sekali. Sistem pengangkutan barang dilakukan dengan forklift dan kendaraan roda tiga, yang hilir-mudik mengangkut kotak-kotak kardus berisi ikan, udang, dan hasil laut lainnya. Mau tahu volume penjualan ikan setiap hari? Sulit dipercaya, tetapi angka 2.300 ton merupakan fakta yang tak bisa diingkari. Ikan-ikan ini berasal dari hasil tangkapan nelayan setempat, ditambah produk impor dari negara lain, termasuk Indonesia. Transportasi dari nelayan atau importir dikelola oleh sebuah koperasi. Sedangkan pelelangan ikan ditangani oleh tujuh perusahaan. Namun, selebihnya, seluruh pengelolaan pasar ditangani sendiri oleh Pemkot Tokyo, dalam hal ini lembaga semacam Dinas Pasar di negara kita. Hal yang cukup menarik adalah penataan ruang terhadap komoditas tertentu, sehingga pembeli tak pernah bingung ketika akan mencari jenis ikan tertentu. Selain itu, penyediaan sarana kebersihan, perawatan, dan sarana/ prasarana lainnya juga menjadi tanggung jawab Pemkot Tokyo. Sesuai dengan kesepakatan antara pedagang dan pengelola, setiap perusahaan/grosir yang melelang ikan harus membayar sewa tempat sebesar 494 yen/m2 per bulan. Sedangkan untuk toko dikenai ongkos 1.940 yen/m2 per bulan. Dalam setiap pelelangan, Pemkot memperoleh retribusi sebesar 0,25 persen dari harga lelang. Kegiatan di tempat ini berlangsung tiap hari, sejak pagi hingga siang hari. Di tempat ini, pembagian kegiatan antara pedagang besar, pedagang menengah, dan grosir diatur sedemikian rupa sehingga ada pembagian wilayah kerja yang transparan. Sistem penyewaan tempat berdagang dan alur kegiatan perdagangan juga diatur dengan bagus, sehingga penempatan lokasi berjualan pun terlihat serasi. Yang unik, setiap bulan dilakukan rotasi tempat, sehingga tak ada pedagang yang dominan di lokasi strategis. Kita perlu menirup prinsip keadilan ini, karena tempat-tempat strategis seperti ini sering diperjualbelikan, dan uangnya masuk ke kantong pribadi pejabatnya. Komitmen pada perjanjian yang disepakati antarpihak itu menunjukkan mekanisme pelelangan, pelayanan penjualan, sirkulasi bahan/produk, dan lokasi usaha dapat berjalan lancar. Sistem informasi harga ikan dan hasil produksi juga bisa diakses langsung oleh siapa pun melalui perangkat multimedia (televisi sirkuit) yang disediakan pengelola TFM. Bila kita ingin mencontoh Jepang, jangan ambil enaknya saja, semisal besarnya uang retribusi yang masuk ke kas daerah. Tetapi contohlah pula kewajiban-kewajiban yang mesti diselenggarakan pemerintah daerah terhadap pembeli dan pedagang di pasar ikan higienis. Tidak kalah pentingnya, sekalian mencontoh budaya antikorupsi dan antipungli, dalam bentuk apa pun. (32) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

