Ungkapan Jujur Seorang Anak
 
"Menyambut Peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2005,
 saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan
 perenungan bagi para orang tua"
 
Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD
 Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika,
 duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang
 harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
 Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala
 sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat
 penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu
 justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.
 
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala
 sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah
 sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan
 sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk
 melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan
 lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:
 
"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
 
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
 
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
 
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan
 kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun
sudah
 sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun
sepakat
 untuk meminta bantuan seorang psikolog.
 
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika
 meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa
 persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal
 dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian,
Psikolog
 yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu
segera
 memberitahukan hasil testnya.
 
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147
 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek
 kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
 pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar
 pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan,
 yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari
 115 (Rata-Rata Cerdas).
 
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang
 berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan
 pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu
 dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika
 kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika
 perlu menjalani test kepribadian.
 
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika
 kembali mengikuti serangkaian test kepribadian.
 Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan,
 setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah
 yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa
 faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya
 saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
 
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam
 itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang
 ibu yang masih jauh dari ideal.
 
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin
 ibuku :...."
 
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka
 hatiku, sebentar saja"
 
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa
 selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika
 untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa
 banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga
 saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya
 menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan
 waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku
 cerita, kapan waktunya main game di komputer dan
 sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi
 kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati
 permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu
 luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian
 besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti
 berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing
 memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
 Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana :
 diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati
 masa kanak-kanaknya.
 
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku
 ingin Ayahku ..."
 Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan
namun
 kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa
saja
 seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"
 
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap
 bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi
 diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya
ingin
 melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari,
 seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika
ingin
 ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat
 tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus
dilayani
 orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri
 koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
 Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru
 sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
 
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku
 tidak ..."
 
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"
 
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup
 saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih
 untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu
 merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana.
 Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis
 seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya
 seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy
 diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah
 orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
 
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin
 ayahku tidak : .."
 
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan
 orang lain. Tidak mengatakan bahwa
kesalahan-kesalahan
 kecil yang aku buat adalah dosa"
 
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk
 selalu bersikap dan bertindak benar, hingga
 hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
 berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa
 setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar
 dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
 berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah
 dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul
 karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah
 dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang
 harus kami lakukan untuk mencegah atau
 menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya
 anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat
salah,
 kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
 Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah
 adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di
 waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang
 serupa.
 
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku
 berbicara tentang ....."
 
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang
 penting saja".
 
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru
 menggunakan kesempatan yang sangat sempit,
 sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang
 menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran
dan
 PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal
yang
 menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting
 untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan
 jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih
 penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan.
 Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya
dengan
 ilmu pengetahuan.
 
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
 .....",
 
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara
 tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku
tidak
 selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah
 berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya
 dan meminta maaf kepadaku".
 
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar
 tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari
 kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu
 ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya
 dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya,
 seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.
 
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku
 setiap hari ....."
 
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya
 dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku
 erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"
 
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir
 setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk,
 apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan
 hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
 supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu
saya
 tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak
 sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak
 diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau
 pilih kasih.
 
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin
 ayahku setiap hari ...."
 
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik
 dengan satu kata "tersenyum"
 
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah
 merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan
 wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus
seorang
 ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya,
 tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi
 anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang
 ia lihat dari ayahnya setiap hari.
 
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan
 "Aku ingin ibuku memanggilku...."
 
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku
 dengan nama yang bagus"
 
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami
 telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti,
 yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa
 sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang.
 Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang"
yang
 berarti laki-laki.
 
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku
 ingin ayahku memanggilku .."
 
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
 
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan
 sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara
 dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat
 Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling"
kata
 suami saya.
 
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu,
 saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di
 sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan
hak-hak
 anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya
 penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi
 Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya
 bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights
is
 an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang
 mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah
 Kewajiban, bukan Pilihan".
 
Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya
 karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak
 hormat dan bermartabat.
 
Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan
 dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua
 kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel,
 ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
 Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka
 tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada
 ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk
 menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua
 tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati
 anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya
di
 dalam ajaran dan nasehat yang baik.
 
Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal
 23 Juli 2004, saya ingin mengingatkan kembali kepada
 para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan
 melakukan hal-hal yang bijaksana.
(Ditulis oleh : Lesminingtyas)


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke