1. Sebuah kritikan untuk tulisan karya 
Viddy Al Machfoed Daery yang dianggap
tidak mampu membaca realita TKI secara
menyeluruh dan konseptual.

2. Baru-baru ini di media massa juga saya baca
kalau import garam dihentikan selama 6 bulan,
juga laporan investigasi dari LPEM UI tentang
korupsi di Beacukai yang mencapai angka 7 Trilyun.

Ngeri, soalnya di milis dan baru bebrapa minggu lalu
ngobrolin masalah ini waktu pra munas bareng S yang 
anak LPEM dan baru jadi staf ahli Menteri BUMN serta
abang dari beacukai, dan dampaknya langsung di geber
dalam bentuk laporan dan kebijakan.

3. Wah, kalau pengamatannya tidak cermat dan terburu buru
baru ngobrol doang, terus dampaknya justru berbalik
menghajar rakyat sendiri, bisa repot yak ....  :P

Jadi mikir, saat ini yang dipikir oleh teman teman yang dianggap
salah pengamatan dan asbun seperti Viddy A.M. Daery ini
bagaimana ya ?  Teman yang wartawan dan biasa main di
jurnalisme investigatif bagaimana ya ?  bagi bagi ceritanya donk ...

Eh, kejauhan kali ya, yang biasa bikin infotainment terus beritanya
gak jelas gak tahu ke mana, gimana ya ?

salam,
Ari Condro 


----- Original Message ----- 
From: "BECKhoo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>

Ontohood !

Siapa sih penulis ini, dengan modal berkunjung beberapa hari dan 
melihat nasib TKI yang kebetulan beruntung, berani melakukan 
penggeneralisiran sepihak begini ?

Geblek. Dungu. Guoblog.

Mau lihat TKI miskin ? Jangan cari di kampung Pandan atau kampung 
Melayu. Coba ke kantong2 kumuh yang terbentang dari Kajang, Semenyih, 
sampai Seremban. Coba lihat di pabrik2 sepanjang Alor Star, Sungai 
Petani sampai Butterworth.

Coba si Tulul ini bicara pada volunteer2 dari Tenaganita atau Migrant 
Care; coba tanya nasib TKI illegal di sono. Atau tanya bagaimana 
perlakuan households Malaysia terhadap yang namanya 'maid', 'budak 
rumah'. Coba buka mata lebar2 !

TKI illegal di sana hanya sapi perahan tanpa perlindungan hukum, 
diperes kiri-kanan. Kalau mati dibunuh ya tinggal kubur bangkainya 
saja seperti binatang; sebab encik Polis tak ada masa untuk urus 
Indon illegal.

Yang kayak gini jarang disorot, karena acapkali TKI2 illegal yang 
pulang terlunta2 itu malu menceritakan nasibnya; sementara orang 
tolol nan goublog macam penulis ini suka benar menggembar-gemborkan 
dan menggeneralisir potongan cerita kesuksesan macam gini.

Mau cari buku Indonesia ? Aduh geblek tenan. Buku2 karya Hamka, 
sampai dengan segala macam novel dari Sutan Takdir Alisyahbana sampai 
Djenar Mahesa Ayu ada kok. Coba saja ke pasar-pasar di sekitar Masjid 
Jamek, di belakang City Hall, di Jalan Abu Bakar (jl. Mesjid), di 
Jalan Sultan. Majalah Gatra, Tempo, bisa diperoleh di kios2 majalah 
yang besar2, mau langganan juga ada agencynya kok. 

Apanya yang dirazia, wong selama ini saya bisa menenteng Tempo, 
Gatra, Kompas, santai2 saja lewat KLIA, Senai, Stulang Johor dan 
Entikong.

Apanya juga yang heran TKI punya mobil ? Wong Kancil bekas bisa 
ditebus dengan harga RM 16K, Proton Saga bekas bisa dapat RM 25K. 
Sewanya beberapa ratus Ringgit sebulan, yang notabene ngga jauh beda 
dengan leasing. Asal ada guarantor, cukup RM 500 untuk uang muka bisa 
bawa pulang Kancil. Biasanya TKI2 seperti di Butterworth patungan 
untuk sewa/leasing Kancil/Proton Saga beginian. 

Hanya dengan modal pengetahuan secuil demikian, mau dipakai untuk 
mengecilkan negeri sendiri dengan kasus busung lapar dll yang 
sifatnya kasuistik dan tidak nationwide.

Tulisan keledai ginian diforward !

BK.

----- Original Message ----- 


TKI Makmur, Negerinya Busung Lapar 

Oleh Viddy A.D. Daery *

Saya baru saja diundang yang kesekian kalinya oleh pemerintah 
Malaysia untuk jadi pembicara sastra budaya di Perhimpunan Penulis 
Muda Malaysia di Resort Golf Kukup, Pantai Piyayi, Pontian, Johor. 

Pontian ialah wilayah yang 75 persen warganya pendatang dari 
Ponorogo, Jatim, di zaman penjahan Belanda dulu. Karena itu, sampai 
kini, daerah tersebut mempunyai kesenian andalan wayang kulit dan 
jarang kepang, yang tentu bisa dirujuk dari daerah asalnya.

Tentu, kini semua keturunan Ponorogo itu sudah menjadi warga negara 
Malaysia dan tidak bisa lagi berbahasa Jawa kecuali satu-dua patah 
kata. Untuk pertunjukan wayang pun, dipakai bahasa campuran Jawa dan 
lebih banyak Melayu.

Kompleks TKI
Ketika kembali ke ibu kota Kuala Lumpur dan menginap semalam di 
Rumah Budaya GAPENA yang secara nonresmi praktis menjadi "rumah 
dinas" saya jika di Kuala Lumpur, saya mempunyai waktu luang dua 
hari untuk berjalan-jalan. 

Karena saya sudah hampir mengenal semua wilayah Kuala Lumpur, saya 
tak ingin berjalan-jalan, tetapi ingin berkunjung ke adik sepupu 
saya yang sudah menjadi TKI di Kuala Lumpur sejak 20 tahun lalu.

Setelah saya telepon, ternyata adik sepupu saya justru ingin 
menjemput saya memakai mobilnya dan menyatakan saya tak perlu 
menyewa taksi. TKI punya mobil? Alangkah menariknya fenomena ini. 
Sebab, selama ini, di koran-koran Indonesia, yang dibesar-besarkan 
justru TKI yang disiksa majikan (biasanya majikan dari etnis India 
atau Cina, tapi koran Indonesia hanya menyebut Malaysia), TKI yang 
ditipu mandornya, TKI yang dicambuk polisi Malaysia, dan sebagainya.

Adik saya menjemput saya di Rumah Budaya GAPENA lepas isya. Saya 
diajak putar-putar Kuala Lumpur yang bermandi cahaya. Dia tentu 
ingin memamerkan kesuksesannya kan?

Dia menunjukkan gedung-gedung yang pernah dia bangun (dia ikut 
membangunnya). Dengan bangga, dia menyatakan, KL rata-rata dibangun 
tangan-tangan TKI dengan keringat, darah, dan air mata.

Kemudian, dia menuju ke kompleks Kampung Pandan, tempat tinggalnya, 
tetapi mampir ke kompleks kedai makan yang sangat meriah.

Ciri-ciri umum kota-kota besar Malaysia ialah kedai/warung buka 
sampai jam dua malam. Karena penduduknya berlebihan uang, kegiatan 
malam dihabiskan dengan makan dan berbincang di warung sampai jam 
dua malam, padahal esok dini setelah salat subuh langsung berangkat 
bekerja.

Sambil makan tom yam (sup Thailand) dan minum es teh tarik khas 
Malaysia, saya kaget mendengar sekitar saya banyak juga orang yang 
bercakap dengan dialek Indonesia versi Lamongan.

Maka, adik saya menerangkan, penduduk Kampung Pandan terdiri atas 50 
persen Melayu Malaysia, 15 persen India, 15 persen Cina, dan sisanya 
yang 20 persen adalah TKI dari Lamongan, Tuban, Gresik, dan Madura.

TKI yang makmur dan berhaha-hihi itu rata-rata bekerja sebagai 
tukang bangunan kelas menengah dan sebagian kecil adalah pemimpin 
kelompok (mandor), termasuk adik saya ialah mandor dari sekelompok 
TKI Lamongan yang berjumlah 5 orang satu grup. Spesialisasi tugas 
mereka memasang kaca +++ rayban di gedung-gedung tinggi.

Tugas itu gampang-gampang susah karena menuntut keahlian khusus dan 
berpendidikan setingkat STM-lah. Gajinya sangat besar untuk ukuran 
TKI.

Karena itu, tentu nasibnya sangat berbeda dengan TKI ilegal yang 
kadang tidak dibayar. Menurut adik saya, yang nakal tidak membayar 
biasanya mandornya sendiri atau dengan kata lain teman mereka 
sendiri sesama TKI yang mempunyai posisi bagus sebagai pemimpin 
kelompok. Karena itu, tak jarang ada pembunuhan antar sesama TKI 
karena kasus pengkhianatan.

Kami pulang ke rumahnya jam sebelas malam. Rumahnya adalah rumah 
susun yang cukup bagus, disewa bersama seorang adiknya dan teman 
adiknya yang menjadi anak buahnya. Adik saya tinggal bersama 
istrinya dan dua anaknya yang lahir di Malaysia dan berpaspor 
Malaysia.

Adik saya tak mau membangun rumah di Lamongan karena dia tidak 
mempunyai angan-angan tinggal di Indonesia. Baginya, Indonesia 
adalah negara yang absurd.

Dia memang tak bisa membeli tanah dan rumah di sana karena bukan 
warga negara Malaysia. Tetapi, anaknya setelah dewasa bisa membeli 
karena secara hukum sudah warga negara Malaysia akibat kelahiran. 
Kekayaannya kini disimpan, menunggu anaknya cukup umur.

Kabar Kabur Busung Lapar
Ketika saya bercerita kini Indonesia sedang dilanda busung lapar, 
dia kaget. Dia bertanya bukankah Indonesia sedang terserang lumpuh 
layuh? "Kabar itu sudah kuno," kataku. "Tiap minggu datang penyakit 
baru di Indonesia dan kini pun mungkin sudah ada penyakit baru," 
kataku lagi.

Benar juga, setelah saya pulang ke Jakarta, sudah ada dua penyakit 
baru, yakni diare dan tumor perut. 

Kenapa adik sepupu saya terlambat mendengar kabar Indonesia? 
Padahal, dia berlangganan Koran Berita Harian? Ternyata, kini 
Malaysia menyensor ketat kabar-kabar dari Indonesia.

Selama di Malaysia, koran-koran Malaysia saya lihat hanya memberikan 
porsi sangat kecil berita-berita dari Indonesia. Yang diberitakan 
hanya berita-berita aman dan bencana dahsyat semacam tsunami.

Bagi mereka, Indonesia tidak bisa lagi diberi "hati", tidak bisa 
lagi ditoleransi. Bagi mereka, Indonesia adalah keledai, yang selalu 
terperosok ke dalam lubang kebodohan yang sama berkali-kali dan 
tidak kapok-kapok, sehingga sudah tidak menarik lagi diberitakan. 
Sudah basi.

Karena itu, di pelabuhan-pelabuhan negara bagian, semua yang datang 
dari Indonesia juga dirazia agar tidak membawa masuk buku-buku, 
koran, dan majalah dari Indonesia.

Maka, jangan heran jika TKI makmur di Kuala Lumpur tak ingin lagi 
pulang. Jangankan yag makmur, yang tidak makmur pun, seperti TKI 
cambukan pun, setelah dicambuk dan dipulangkan ke Indonesia, tetap 
nekat kembali ke Malaysia. 

*. Viddy AD Daery, visiting research di Walailak University, Nakhon 
Sri Thammarat, Tanah Genting Kra, Thailand Tengah 

Indo Pos
Jumat, 01 Juli 2005

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=178526






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke