Sebuah pemikiran dan tinjauan yang menarik.
Dalam beberapa hal, saya melihat aspek yang lain (belum tentu lebih benar,
hanya lain), dimana saya akan coba memberikan pandangan pendek:
"...pertentangan Peradaban yg intens antara agama (Islam, Kristen, Buddha,
Hindu) disatu pihak dgn peradaban global yg sekarang cenderung sekuler liberal
bebas .. Thesis Samuel P Huntington ttg perbenturan antara Barat dan Islam
adalah keliru total, sebab yg nyata adalah pertempuran antara agam-agama
monotheist dgn Liberalist Kapitalisme..."
DH: Pertentangan (atau pertemuan?) yang terjadi, adalah multidimensional, dan
tak sekedar dalam satu lapiran, agama versus agama. Sikap antipati di Eropa
terhadap apa yang mereka namakan "fundamentalis" Islam (di Austria dan Jerman
disebut "Islamisten"), bukanlah sikap manusia Kristiani terhadap Islam sui
generis, namun sikap manusia Eropa dengan Civilisation Barat (Abendland)
terhadap Islam (Orientalismus). Pada saat yang sama rata rata orang Eropa juga
allergi terhadap sikap pimpinan gereja, yang dianggap tidak realistis dalam
ucapan ucapan atau peringatan (anti perceraian dimana di Vienna saja angka
perceraian mencapai 60,1% per annum).
Agama agama monotheist tidaklah, seperti yang saya lihat, menjadi satu front
menghadapi libelaisme kapital, karena partai partai Konservatif di Eropa rata
rata adalah disisi enterpreneur, jadi kapital. Agama Yahudi, sebagai agama
monotheist tak pernah muncul vis-a-vis kapitalisme apapun. kekuatan politis
yang mencoba menghadang kapitalisme liberal adalah partai Sosial dan kaum Hijau
(the Greens). Totally a religious.
-----------------------------
"...Implikasi dibidang Ekonomi tidak kalah mengerikan yaitu agama dilepaskan
dari modal(capital) dan pengusaha dibiarkan sendiri untuk mengelola dana yg ada
(laiseez-faire) sesuai dgn kepentingan individu( Adam Smith).. artinya Individu
(privat) berhak mengelola modalnya tanpa arahan negara, agamawan dan
nilai-nilai agama asalkan itu mengandung profits tinggi.. Dan yg terjadi adalah
kebebasan apapun demi pencapaian tujuan mass consumtion dan keberlimpahan dan
terjadilah homo ekonomikus yg serakah berbuat semaunya berdasar satu aspek saja
yaitu kekayaan tanpa batas berpola akumulasi keuntungan dalam naungan hukum
sekuler yg niragama
Itulah yg dikenal dgn Kapitalisme liberal...."
DH: Sikap pelaku ekonomi yang kuat memakan yang lemah, sudah ada dizaman
pertengahan, dimana gereja masih mutlak berkuasa, dan belum dikenal
sekularisme. Yang bangkit melawan kekuasaan gereja yang berkolaborasi dengan
kaum bangsawan dan tuan tanah, adalah dua golongan:
1) petani yang tertindas dan 2) kaum burgoisie, yang adalah kaum menengah yang
kemudioan mengembangkan industrialisme, yakni para tukang, pedagang, bankers,
dlsb. Mereka membutuhkan ruang gerak yang bebas kungkungan. Juga disini tak ada
motif keagamaan samasekali, sebab mereka seringkali sangat saleh.
Para industriawan Eropa, kebanyakan adalah keluarga yang saleh dan pelaku agama
yang taat. Sebaliknya, yang paling niragama, adalah kaum buruh yang dahulu
(sebelum 80an) mengorganisasikan diri dalam partai partai kiri.
--------------------------
"..Dan pengaruh global itu telah datang diruang pribadi kita dan pilihan
kitalah untuk menerima atau menolak.."
DH: Di Eropa, fenomena globalisasi datang dari pengusaha besar dan pemilik dana
(banks, funds, indusri berat). Ini bukan hal yang dimasalahkan didalam atau
diluar gereja. Penganut globalisasi ada yang sekularist ada yang taat bergereja
atau beragama. Juga para pemilik dana dari Arab saudi yang memperkir dana
mereka di fund fund internasional yang gentayangan di mana mana, adalah
pengikut agama yang saleh. tentu banyak pula yang berpikiran sekularist.
Juga diantara musuh globalisasi, banyak kaum sekularist dan mereka yang tak
menyukai pengaruh pimpinan agama.
Jadi, bukanlah agama (Tuhan) versus ekonomi, tetapi pemilik dana dan faktor
ekonomi versus kaum pekerja dan greens.
Globalisasi tak dapat dilawan dengan Kitab Suci. Ini adalah masalah ekonomi
sosial, bukan masalah theologi. Juga Sri Paus tak pernah mengecam globalisasi,
beliau lebih mengecam pengguguran bayi. Pimpinan agama Protestant juga tak
pernah memerangi globalisasi. Juga mullah dari Iran tak membenci globalisasi
sui generis. Mereka membenci kapitalis dari negara negara non Islam...
Salam
danardono
"sangkakala ." <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
Ekonomi, Kristenisasi dan Kapitalisme.
Awalnya saya adalah petempur dibidang berbandingan agama khususnya
Islam-Kristen-Hindu, ini awal perkenalan saya dgn diskusi dan debat publik di
wilayah tak bertuan no land man internet raya, tetapi berlalunya waktu saya
sadari ini bukan a real fight tetapi pertempuran sesungguhnya adalah
pertentangan Peradaban yg intens antara agama (Islam, Kristen, Buddha, Hindu)
disatu pihak dgn peradaban global yg sekarang cenderung sekuler liberal bebas
.. Thesis Samuel P Huntington ttg perbenturan antara Barat dan Islam adalah
keliru total, sebab yg nyata adalah pertempuran antara agam-agama monotheist
dgn Liberalist Kapitalisme.
Saya kira inilah faktor petaka yg menjadikan agama teredusir menjadi hanyalah
ruang pribadi bukan sebuah institusi kenegaraan yaitu setelah Revolusi Prancis
thn 1789 dimana kebebasan Individu yg liberal telah menghempaskan kekuasaan
monarki, borjuis dan gerejani sekaligus.. hasilnya adalah Pemisahan agama dgn
Negara seperti yg diuraikan rosseau( social Contract,1762), voltaire dan di
america oleh Emerson dan John Stuart Mill(On Liberty,1859)..
Petaka ini disebabkan nilai-nilai Kristen yg kontradiktif (bertentangan antara
satu teks dgn teks bibel lain dan perbedaan yg nyata dgn sains reality) juga
penuh dgn dogma ketunggalan kebenaran, takhayul ttg keselamatan kosong dan
kekuasaan mutlak gereja yg represif menekan tanpa memberi kesempatan kebebasan
intelektuil untuk berkreasi sep yg dialami Galileo dan Copernikus..
Pemberontakan para filosof free thinker ini telah menjadikan Kristen hanya
tinggal kerangka di eropa yaitu gereja wisata dan tempat rekreasi semata
ketimbang selaku penjaga pintu gerbang morality. Dan berujung pada pandangan
sekuler dgn justifikasi fatal bahwa agama adalah non sense, irrasional dan
kepercayaan membabi buta yg sarat ketundukan total dan keimanan buta dari semua
agama pada pemeluk masing-masing. Sementara di America church hanya berfungsi
selaku tempat pengakuan dosa-dosa para liberal kemaruk materi dan kesenangan
hedonist plus pengumpul dana dan tempat pemakaman semata..
Lalu implikasinya Politik adalah kebebasan institusi negara dan individu lebih
penting daripada keharusan mematuhi nilai2 Kristiani, Hak berpendapat dan
berekspresi lebih utama daripada hak gereja untuk memberi masukan moril dan
negara berhak untuk bersikap berbeda dari keputusan gereja.. Hasilnya adalah
ketiadaan pedoman moril yg tunggal selaku code of morality yg lalu tersusunlah
HUMAN RIGHT selaku hak yg memberi kerelativan kebenaran dan kebebasan
menentukan kebenaran sendiri dgn diawali kontroversial tulisan Tom Paine dlm
Right of Man (1791) yg memberi inspirasi ttg Common sense dan hak individu
untuk hidup bebas dan lepas dari tekanan gereja dan raja..
Implikasi dibidang Ekonomi tidak kalah mengerikan yaitu agama dilepaskan dari
modal(capital) dan pengusaha dibiarkan sendiri untuk mengelola dana yg ada
(laiseez-faire) sesuai dgn kepentingan individu( Adam Smith).. artinya Individu
(privat) berhak mengelola modalnya tanpa arahan negara, agamawan dan
nilai-nilai agama asalkan itu mengandung profits tinggi.. Dan yg terjadi adalah
kebebasan apapun demi pencapaian tujuan mass consumtion dan keberlimpahan dan
terjadilah homo ekonomikus yg serakah berbuat semaunya berdasar satu aspek saja
yaitu kekayaan tanpa batas berpola akumulasi keuntungan dalam naungan hukum
sekuler yg niragama
Itulah yg dikenal dgn Kapitalisme liberal..
Kapitalisme lalu berkombinasi dgn sosialist materialisme Histories tetapi dgn
tujuan sama yaitu keberlimpahan materi demi pencapaian kebahagiaan dan
kesenangan yg setinggi-tingginya tanpa perlu bersikap bak seorang saleh agama..
Jadi silahkan manfaatkan keuntungan apapun bagi kesenangan hidup tanpa perlu
ada rujukan dari agama(nirreligi) Yg dihasilkan adalah manusia liberal dan
immoral sekaligus materialist demi pencapaian kepuasan pribadi yg
setinggi-tingginya dan ditutupi dgn tampilan pribadi penyumbang dana bagi
institusi agama (Mesjid dn Gereja) tanpa perlu bersikap saleh religius
sebagaimana yg dilakukan orang-orang di america dan eropa, barangkali juga di
Indonesia..
Lalu ini yg coba diterapkan di Indonesia yg masih kuat pada Monotheisme, apakah
kebijakan ini adalah hal yg tepat? Spirituil coba dilepaskan selapis perselapis
dari kehidupan bernegara dan yg dihasilkan adalah manusia munafik yg disatu
sisi saleh tetapi berperilaku pemburu uang receh dgn cara immoral dan pemuja
materi plus kesenangan fisikalist..
Kristen telah diruntuhkan Kapitalist sekuler Liberal dari tahtanya, sekarang
hal yg sama sedang diupayakan oleh institusi, lembaga, LSM, agen, tokoh-tokoh
liberal untuk meruntuhkan bangunan nilai-nilai Islam.. Percobaan ini malahan
kentara sekali di wilayah asal saya yaitu Minangkabau yg gencar dgn proyek
Kristenisasi tetapi sesungguhnya adalah liberal sekuler berbaju Kristen.
Lebih dari 15 Lembaga Kristenisasi berwujud liberal sedang bergentayangan
diranah Minang mencoba merobah sistem agama dan adat yg telah berurat berakar,
yg jika berhasil maka akan menjadi inspirasi bagi umat daerah lain untuk
mengikuti( demikian isi otak dari evangelist asing).. Sudah pasti hal ini
mendapat tentangan dari orang Minang yg sadar akan bahaya liberal Kristen yg
didanai kapitalist global, salah satunya adalah saya yg tidak sudi daerah saya
diinjak-injak oleh pihak injili yg kapitalist
Itulah makanya saya menjadi
petarung di ruang maya demi eksistensi agama dan keyakinan saya yg stlh
dianalisa terus menerus tidak saya ragukan kebenarannya..
Tetapi bukan kristenisasi yg sesungguhnya ancaman nasional dan global melainkan
adalah sejatinya kapitalisme yg berbaju Kristen tetapi tidak menerapkan
ajaran-ajaran Kristus.. Orang-orang ini adalah penganut pemikiran pragmatist yg
cenderung bebas berkarya tanpa perlu pedoman injil.. Jadi Kristenisasi
hanyalah kamuflase baju lapisan pertama yg sebenarnya lapisan berikutnya adalah
pola hidup liberal sekuler demi pencapaian pasar bebas ( free market) bagi
produk-produk sekuler (film, food, bir, music, pakaian, nightclub, televisi,
gayahidup, pornografi,media, pers, tekhnologi, biotech dll) yg sebetulnya jauh
dari ajaran kristus sejati demi keuntungan-keuntungan kapitalist global..
Dan pengaruh global itu telah datang diruang pribadi kita dan pilihan kitalah
untuk menerima atau menolak..
Sang
A man from Minangkabau
Kita menjalani kehidupan dengan apa yang
kita peroleh, tetapi kita menciptakan
kehidupan dengan apa yang kita berikan.
(Winston Churchill)
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/