Ass. Wr. Wb.
Subject (judul) tersebut bukan mengada-ada, tapi begitulah realita
yang ada di Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya ini.
Memang tidak semuanya begitu, namun sebagian besar rasanya seperti
itu.
Ok deh saya ceritakan sedikit kenapa kesimpulan sementara saya kok
seperti itu.
Saya dan beberapa teman berprofesi sebagai dosen di beberapa PTS,
dan kami berupaya keras agar sedapat mungkin mereka yang tidak mampu
secara finansial, tetap dapat kuliah di pendidikan tinggi. Agar SDM
Bangsa ini jadi lebih baik.
Singkat cerita, kami bertemu dengan KPT (Konsultan Pendidikan
Tinggi). Yang kebetulan sejak beberapa tahun yang lalu, KPT bekerja-
sama (bahu-membahu) dengan beberapa PTS di Jabodetabek (yaitu
Universitas Pancasila, ITI, ISTA (Al-Kamal), STIE Kampus Ungu,
UNTAG, dan STT Texmaco) untuk melaksanakan KOMITMEN SOSIAL nya.
Yaitu menyelenggarakan Program Kuliah Sabtu Minggu (PKSM) dan
Program Kuliah Karyawan (P2K) yang memberi kesempatan kepada seluruh
masyarakat lulusan SMU, SMA, SMK, MA, D1, D2, D3, S1, dsb-nya, baik
yang hanya memiliki waktu luang terbatas maupun dana terbatas. Untuk
melanjutkan/pindah jurusan ke Program S1 atau S2 di PTS-PTS tersebut
secara layak dan bermutu. Program tersebut telah berjalan dengan
baik, dan telah meluluskan berbagai sarjana dan master/magister
dengan kualitas yang sangat baik.
Biaya studinya terjangkau, juga dapat diangsur bulanan sesuai
kemampuan mahasiswa selama masa studinya. Hal ini dapat diterapkan
karena dibelakang KPT dan PTS-PTS tersebut ada donatur2 yang
membantunya.
Mereka juga memberikan beasiswa sampai 90% (artinya mahasiswa hanya
membayar 10%, beasiswanya tidak 100% hanya semata-mata untuk
mendidik mahasiswa, agar tetap ada sedikiti beban). Namun memang
selama itu beasiswa tersebut diberikan kepada mahasiswa yang
berprestasi.
Nah ... saya dan temen2 berjuang keras ke PTS-PTS terkait dan ke
KPT, bahwa kalau mau melaksanakan KOMITMEN SOSIAL jangan setengah2.
Artinya berilah beasiswa kepada siapa saja yang ingin melanjutkan
kuliah namun tidak mampu secara finansial (keuangan).
Istilah "siapa saja" disini ... benar-benar siapa saja, artinya
tidak memandang apakah kemampuan akademiknya bagus ataukah pas-
pasan. Pendeknya yang tidak mampu secara finansial, berilah beasiswa
agar bisa kuliah.
Yang menggembirakan, KPT dan PTS-PTS tersebut ternyata menyetujui
usulan/keinginan kami itu. Dan mereka menyiapkan donatur2nya.
Mulai Semester Ganjil 2005/2006 ini mereka (KPT bersama PTS-PTS
tsb), sejak April 2005 mulai mengumumkan dan mempublikasikan
kemasyarakat adanya beasiswa tersebut. Baik memalui media masa,
internet, surat, dsb-nya, bersama-sama dengan pengumuman mereka
tentang PKSM dan P2K.
Saya dan temen2 bahagia sekali terhadap hal ini. Kenapa ? karena
sekarang setiap orang (apakah dia itu baru lulus, ataukah sudah lama
lulus, ataukah karyawan/bukan, sudah tua atau masih muda, dsb-nya,
pendeknya setiap orang) yang pengen kuliah (melanjutkan studi ke
pendidikan tinggi), saat ini dapat melakukannnya, tanpa harus
memikirkan ketidakmampuan finansial/keuangannya.
Tadinya saya beranggapan bahwa akan banyak orang (berbondong-
bondong) datang ke PTS-PTS tersebut atau menghubungi KPT untuk minta
beasiswa agar dapat ikut kuliah (melanjutkan pendidikan), karena
keuangannya tidak mampu.
Namun apa yang terjadi, ternyata biasa-biasa saja.
Orang-orang yang mendaftar adalah orang2 yang cukup mampu
keuangannya seperti semester2 sebelumnya. Dan nggak sampai 2% yang
mendaftar namun finansialnya nggak mampu, jadi harus diberi
beasiswa. Misalnya di UNTAG saja, untuk semester inbi yang masuk
jadi mahasiswa di PKSM ada 417 orang, dan yang tidak mampu
finansialnya hanya 7 orang (mereka diberi beasiswa. karena nggak
mampu finansialnya), di ISTA juga gitu, malah cuman 4 orang yang
nggak mampu finansialnya sehingga harus diberi beasiswa.
Saya jadi sedih dan prihatin, ternyata selama ini mereka yang nggak
mampu secara finansial (alias miskin, bahasa singkatnya), dan yang
selama ini saya anggap tidak kuliah karena miskin. Ternyata ....
bukan itu faktor utamanya, ... tetapi karena memang nggak mau maju,
nggak mau kuliah.
Jadi ... masalah sedikitnya orang yang kuliah di perguruan tinggi
tenyata bukan lantaran nggak mampu membayar biaya kuliahnya. Tapi
emang benar-benar karena malas, nggak mau maju, nggak ada niat buat
belajar lagi, buat kerja keras, yaa ... gitulah, sedih rasanya.
Selain sedih, saya dan temen2 juga malu sama KPT dan PTS-PTS tadi,
karena mereka sudah capek-capek menyiapkan donatur-donaturnya untuk
siap-siap membantu mahasiswa baru yang tidak mampu keuangannya.
Gimana yaa bangsa ini ? Apa karena kelamaan dijajah belanda yaa....
gitu kali.
Ok deh gitu aja dulu.
Thanks a lot of.
Wass.
Wulan
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/