tersingkap implisit faktum
termasuk di era betara kala
rakyat wong cilik pun masih terus DIBODOHI
mulanya definisi OBAT pun dikorup
agar tercipta ketergantungan
mana tahu kini anak muda manapun OBAT HERBAL
yang bertebaran di kebun dan tepi parit ?
yang menyebut cendekia hanya omong
tak berbuat
atau mau network gerakan penyadaran non partisan ?
ayo
salam



--- In [email protected], "BUD'S" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kami teringat dengan kata kunci dari salah satu atasan kami 
beberapa waktu lalu dan menjadikan topik dalam training para manager.
> 
> Orphan and Widows ( Maaf tidak ada niatan dalam menyinggung para 
Widows )
> 
> Dalam realita kehidupan sering kali kita temukan pada saat 
membicarakan Widows ( Janda ), semua orang pada mau ikut 
partisipasi, membantu, memperhatikannya. kalau mungkin mau ikut 
mengalang demo. tetapi kalau sudah menyinggung orphan ( Yatim 
piatu ). tidak ada seorang pun yang mau menjadi pahlawan. 
> 
> Itulah keadaan yang sedang terjadi di Negeri ini, Para Dewan yang 
terhormat lagi membicarakan kenaikan Gaji, sedangkan diluar sana 
sebagian orang lagi putus asa dalam memikirkan " APAKAH BESOK ANAK2 
KU MASIH BISA MAKAN " Di Negeri ini juga Banyak NATO ( No Action 
Talking Only ).
> 
> Seingat kami, beberapa waktu lalu, ada juga Ibu yang membakar 
dirinya beserta Anaknya karena keputusasaan dalam menyediakan Biaya 
untuk pengobatan anaknya. dan Ironisnya semunya terjadi di Ibu Kota 
Jakarta dimana berkumpulnya Para Pejabat Tinggi , Anggota Dewan yang 
terhormat. 
> 
> Salam
> 
> Budiman 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Ambon 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Wednesday, July 06, 2005 4:08 PM
>   Subject: Re: [ppiindia] Meninggal Tak Bisa Tebus Obat, Rakyat 
Miskin Meradang
> 
> 
>   Sdrku Nizami yang budiman,
> 
>   Gambaran yang Anda berikan adalah suatu hal yang biasa bagi 
sistem yang
>   berlaku. Masyarakat lapisan bawah bukan diangkat menjadi manusia 
yang
>   mempunyai hak untuk hidup layak, tetapi dimarginalisasikan. 
Bayangkan saja
>   untuk ditransport dengan ambulance harus dibayar Rp 250.000,-- 
Mana mampu
>   rakyat lapisan bawah? Jadi kalau miskin dan sakit  itu sama 
seperti telah
>   dihukum mati sebelum waktu dipanggil oleh Alloh.
> 
>   Salam,
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]>
>   To: <[email protected]>; 
<[email protected]>; "lisi" 
>   <[EMAIL PROTECTED]>; "sabili" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "yisc_al-azhar" 
>   <[EMAIL PROTECTED]>; "padhang-mbulan" 
>   <[EMAIL PROTECTED]>
>   Sent: Wednesday, July 06, 2005 9:59 AM
>   Subject: [ppiindia] Meninggal Tak Bisa Tebus Obat, Rakyat Miskin 
Meradang
> 
> 
>   > Di Detik.com diberitakan seorang gadis miskin
>   > meninggal karena tak bisa menebus obat di RSCM.
>   > Sebelumnya, Khaerunnisa, 3 tahun, juga meninggal
>   > karena ayahnya tak punya uang untuk berobat.
>   >
>   > Lalu di manakah gembar-gembor yang dikumandangkan
>   > Menkominfo di Televisi-televisi bahwa sesudah harga
>   > BBM dinaikan maka dana kompensasinya akan diberikan
>   > kepada rakyat miskin berupa pendidikan dan kesehatan
>   > gratis?
>   >
>   > Kemanakah rakyat menuntut jika janji-janji tersebut
>   > tidak ditepati?
>   >
>   > Atau mungkin janji itu hanya angin surga seperti
>   > sebelumnya?
>   >
>   >
>   > Meninggal Tak Bisa Tebus Obat, Rakyat Miskin Meradang
>   > Fitraya Ramandhanny - detikcom
>   >   Jakarta - Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK)
>   > menuntut pemerintah benar-benar merealisasikan program
>   > pengobatan gratis. Tuntutan disampaikan menyusul
>   > meninggalnya Nurhayati (23), warga Tambora, Jakpus di
>   > RSCM pada Selasa, 5 Juli 2005.
>   >
>   > Sikap diskriminatif RSCM yang tidak mengizinkan
>   > Nurhayati mendapat pengobatan gratis dinilai SRMK
>   > menjadi salah satu faktor yang membuat penderitaan
>   > gadis itu semakin berat.
>   >
>   > "Janji-janji pemerintah SBY-Kalla mewujudkan
>   > pengobatan gratis bagi rakyat miskin, bohong. Kita
>   > pertanyakan, sampai kapan rakyat kecil terus
>   > diperlakukan seperti ini," kata Ketum Dewan Pimpinan
>   > Nasional SRMK Mario Sitompul kepada wartawan di
>   > Sekretariat SRMK, Jl. Tebet Timur Dalam II, Jakarta,
>   > Rabu (6/7/2005).
>   >
>   > Padahal untuk Nurhayati yang datang dari keluarga
>   > miskin, pengobatan gratis sangat dibutuhkan. Nurhayati
>   > meninggal dunia pukul 04.20 WIB, Selasa, setelah lima
>   > hari dalam perawatan yang menurut keluarga korban
>   > hanya dilakukan ala kadarnya.
>   >
>   > Korban dibawa ke RSCM pada 1 Juli 2005 pukul 10.00 WIB
>   > oleh keluarga korban yang didampingi Ketum DPN SRMK
>   > Mario Sitompul. Saat itu korban dalam kondisi sakit
>   > yang merupakan komplikasi kurang gizi, TBC, dan
>   > paru-paru kotor yang sudah dalam kondisi kronis.
>   >
>   > "Satu hari sebelum kami mengantar Nurhayati, kami
>   > sebetulnya sudah mengirim surat permohonan pembebasan
>   > biaya kepada pimpinan RSCM," ungkap Mario.
>   >
>   > Sayangnya, ketika tiba di UGD pada Jumat (1/7/2005),
>   > mereka mendapati kenyataan keluarga korban harus
>   > membayar administrasi untuk masuk ruang perawatan
>   > sebesar Rp 763 ribu.
>   >
>   > Keluarga korban dan SRMK kemudian berdebat dengan
>   > pihak administrasi UGD dan mencoba meyakinkan korban
>   > adalah keluarga miskin. Saat itu mereka juga
>   > menunjukkan surat keterangan miskin dari RT, RW,
>   > kelurahan, dan puskesmas. Namun RSCM hanya mengakui
>   > kartu keluarga miskin (Gakin) yang tidak dimiliki
>   > keluarga korban.
>   >
>   > Tinus, saudara laki-laki korban, mengatakan, setelah
>   > berdebat, Nurhayati akhirnya diizinkan masuk ruang
>   > rawat Irna B lantai 5 dengan menandatangani surat
>   > pernyataan utang. Nurhayati kemudian mendapatkan tiga
>   > kali rontgen, tiga kantong darah, infus, dan tiga
>   > butir obat.
>   >
>   > Namun malamnya, pihak rumah sakit memberikan resep
>   > obat yang harus ditebus oleh keluarga korban sebesar
>   > Rp 1.205.300. Resep ini urung ditebus karena ketiadaan
>   > biaya dan kartu Gakin.
>   >
>   > Kondisi Nurhayati semakin memburuk sejak hari itu dan
>   > akhirnya meninggal dunia pada 5 Juli 2005.
>   > Nurhayati kini telah dimakamkan di TPU Tegal Alur dan
>   > keluarga korban belum menyelesaikan biaya
>   > pemakamannya.
>   >
>   > Menindaklanjuti peristiwa ini, pada 11 Juli 2005, SRMK
>   > bersama elemen petani, buruh, pemuda dan mahasiswa
>   > se-Jabotabek akan melakukan demonstrasi ke kantor
>   > Menko Kesra dan KPK. Di kantor Menko Kesra mereka akan
>   > menuntut perwujudan program kesehatan gratis. Mereka
>   > akan membawa fakta-fakta kasus Nurhayati. Sedangkan di
>   > kantor KPK, mereka akan menuntut maksimalisasi fungsi
>   > KPK dalam mendukung kesejahteraan melalui uang sitaan
>   > para koruptor. (umi)
>   >
>   > http://jkt.detiknews.com/indexfr.php?
url=http://jkt.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/07
/tgl/06/time/14521/idnews/397742/idkanal/10
>   >
>   > Bacalah artikel tentang Islam di:
>   > http://www.nizami.org
>   >
>   >
>   >
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke