Mau Keluar dari Krisis ???
:: BBM ; gunakan BBM hasil bumi sendiri jangan gunakan Import dari Arab
Saudi (timur tengah)
:: Rupiah : jangan kenakan Pajak bagi pemilik rupiah // kurangi essensi
Pajak yang tidak berarti untuk kepentingan Rakyat.

[.] Salam Keluar Krisis ...

-----Original Message-----
From: Ambon [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
 
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=179393


Kamis, 07 Juli 2005,


Krisis BBM dan Rupiah


Dua krisis yang langsung menyentuh kepentingan hidup masyarakat banyak
ada di depan mata. Yaitu, kelangkaan BBM (bahan bakar minyak) dan tren
melemahnya nilai tukar rupiah. Penyebab kedua krisis ini, bisa jadi,
tidak terkait langsung, kecuali akibat pembelian minyak oleh Pertamina
di pasar impor sehingga meningkatkan permintaan dolar. Namun, dampaknya
sama-sama berat bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Terkait krisis BBM, pemerintah sudah merumuskan langkah-langkah taktis
dan strategis. Setelah dibahas dalam sidang kabinet hampir 10 jam,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memerintahkan jajarannya
untuk memasok berapa pun kebutuhan BBM bagi masyarakat. Pemerintah juga
akan memenuhi kebutuhan valuta asing (valas) Pertamina sebagai
pembayaran subsidi BBM ke perusahaan minyak BUMN itu.

Efektifkah langkah-langkah taktis pemerintah tersebut? Dalam jangka
pendek, mungkin efektif, namun dalam jangka panjang, kita masih akan
terus berkutat dengan krisis BBM. Sebab, persoalan besar terkait dengan
BBM ini adalah terus merosotnya produksi di dalam negeri, sedangkan
tingkat konsumsi baik di level rumah tangga maupun industri sangat
besar. Menekan konsumsi BBM dengan mengganti bahan bakar alternatif
memang salah satu cara menghemat. Namun, ketika sumber energi alternatif
belum tersedia -kalaupun tersedia, masyarakat masih belum yakin jaminan
pasokannya- sulit mendorong pemakaian energi alternatif itu.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga merosot tajam terhadap
dolar AS. Melemahnya kurs memang lebih sebagai dampak turunnya kinerja
perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat -mata uang dolar AS (USD)
juga menguat terhadap beberapa mata uang dunia. Namun, sebagai dampak
merosotnya nilai tukar rupiah ini, beban-beban pembiayaan dalam bentuk
valas akan semakin besar. Termasuk di dalamnya beban Pertamina untuk
membeli minyak dari luar negeri harus dibayar dengan rupiah dalam jumlah
yang lebih besar. 


Melemahnya rupiah jelas akan membawa dampak naiknya harga-harga barang.
Membengkaknya subsidi BBM -biasanya diatasi dengan menaikkan harga di
dalam negeri- juga menjadi faktor lain yang mendorong tekanan inflatoar.
Untuk menghindari spekulasi valas akibat tingginya uang beredar, bank
sentral biasanya melakukan keputusan moneter dengan menaikkan suku
bunga. Suku bunga yang tinggi tentu akan menghambat dunia usaha karena
mahalnya pembiayaan dari sektor perbankan.

Inilah percikan-percikan persoalan ekonomi yang membutuhkan upaya
penanganan lebih komprehensif integral. Tidak sekadar jalan keluar
taktis yang hanya mengatasi persoalan dalam jangka pendek. (*)






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke