JURNAL KEMBANG KEMUNING:
APRIORISME KETIDAK-TAHUAN DAN NAMA

Dari diskusi tentang Manikebu versus Lekra versus Lekra yang sekarang sedang 
berlangsung di milis [EMAIL PROTECTED] lamat-lamat tertangkap oleh mataku yang 
membaca dan telingaku yang mendengar, sekali pun terkadang disuarakan dengan 
malu-malu ada pendapat yang menyetarakan Lekra sebagai sesuatu keaiban dan 
kenistaan sekali pun suara itu tidak menyertakan bukti-bukti. Kalau pun yang 
diannggap sebagai bukti itu adalah kesaksian maka kesaksian itu masih pantas 
dipertanyakan apakah bukti kenistaan membakar buku itu adalah memang tindakan 
yang dilakukan oleh anggota-anggota Lekra. Jangan-jangan ada suatu prasangka 
penyamarataan. Karena itu Desha menanyakan melalui contoh Yogya yang dikenalnya 
sebagai perbandingan. Dan Desha oleh penuding dijawab bahwa si penuduh bukan 
ahli Lekra tapi tidak menjawab dan menghindar dari inti persoalan tuduhan yang 
sudah dilempar ke depan umum. Pertanyaan tagihan Desha, kukira adalah suatu 
pertanyaan wajar. Dan aku sebagai penanggungjawab Lekra di Kota  Yogyakarta 
pada tahun-tahun 60-an pada kesempatan ini ingin menggarisbawahi pertanyaan 
Desha meminta pertanggunganjawaban dan bukti bahwa yang membakar buku itu 
adalah Lekra. Aku turut menagih bukti bahwa pembakaran buku itu, benar 
dilakukan oleh anggota-anggota Lekra seperti yang dituduhkan. Kalau tidak  bisa 
membuktikannya, aku minta sipenuduh menarik kembali tuduhannya di depan umum 
dan tidak melalui japri. Mengapa tuntutan ini aku ajukan karena sepengetahuanku 
anggota-anggota Lekra mencintai buku dan tidak ada petunjuk organisasi secara 
nasional untuk melakukannya. Kalau penuduh masih memahami arti kata, harga diri 
dan martabat diri sebagai manusia yang menolak fitnah, aku kira sipenuduh tidak 
menolak membuktikan pernyataannya. Dari pernyataan inilah aku melihat bahwa 
Lekra dijadikan kambinghitam dan orang merasa leluasa berkata apa saja serta 
merasa sah tentang Lekra. Sementara yang jelas sampai sekarang karya-karya 
anggota Lekra masih dinyatakan terlarang oleh pemerintah dan belum dicabut. 
Perpustakaan Pramoedya A. Toer dan dokumen-dokumennya dibakar -- hal yang 
sampai sekarang tetap digugat oleh Pram. Sementara itu juga, siapa yang bisa 
menyangkal bahwa berapa banyak anggota Lekra yang dibunuh, dipenjara, disiksa 
dan dibuang ke pulau pembuangan? Bahwa Lekra sebagai organisasi kebudayaan 
menentang prinsip-prinsip Manikebu, tidak disanggah dan benar, tapi Lekra dalam 
konfrensi nasional di Palembang, menolak dan mengkritik pembubaran Manikebu.  
Joebaar Ajoeb sebagain sekretaris jenderal [sekjen], orang pertama Lekra dalam 
percakapannya denganku di rumahnya di Jalan Pemuda Jakarta menyatakan dengan 
jelas bahwa dalam hal pembubaran Manibu, Lekra "telah kecolongan". Menurut 
Ajoeb, pembubaran Manikebu adalah atas usul Menteri Prof.Dr.Prijono kepada 
Soekarno demi menyelamatkan Partai Murba yang sedang menghadapi ancaman 
pembubaran.

Dari sini nampak betapa pada tahun-tahun itu, kehidupan kebudayaan, pada semua 
pihak, tanpa terkecuali, sangat terkait dengan perkembangan pertarungan politik 
pada periode itu.

Tentu saja aku tidak menuntut orang-orang menyetujui ide-ide Lekra. Hak 
masing-masing untuk setuju dan menentang. Tapi jelaskan apa yang tidak 
disetujui dan ditentang dari Mukadimmah Lekra dan ide-ide yang dikembangkannya 
melalui Kongres dan konfrensi-konfrensi nasional guna membangun dan 
mengembangkan gerakan kebudayaan rakyat di negeri ini? Aku sendiri, sebagai 
salah seorang penanggungjawab Lekra sederhana tingkat Yogya telah mencoba 
menuliskan dan secara terbuka mencoba menarik pelajaran dari praktek 
berkesenian Lekra dan menuturkan betapa sengitnya pertarungan di dalam Lekra 
sendiri dalam membangkitkan gerakan kebudayaan rakyat di Indonesia.

Barangkali ada yang beranggapan bahwa masalah Lekra dan Manikebu sudah menjadi 
masalah masalah silam dan  tidak relevan dengan tuntutan kekinian. Masalah 
Lekra dan Manikebu hanyalah rincian dari sejarah kebudayaan Indonesia. Benarkah 
anggapan begini? Apakah inti debat ide tersebut?

Kalau pengamatanku benar, sejak 17 Agustus 1950, hari berdirinya Lekra pertama 
di seluruh Indonesia di Jakarta, di jalan Madura, masalah sentral yang 
diketengahkan adalah masalah orientasi kebudayaan untuk Indonesia sebagaimana 
juga -- dalam konteks syarat sejarah berbeda -- masalah sentral yang 
dimunculkan dalam polemik kebudayaan di kalangan sastrawan-seniman-budayawan 
angkatan Poedjangga Baroe. Apakah masalah orientasi ini sekarang merupakan 
masalah yang tidak tanggap zaman lagi? Jika demikian, katakan kepadaku, mau ke 
mana sastra-seni dan kebudayaan Indonesia sekarang? Apakah debat orientasi ide 
ini menimpakan malapetaka saja kepada angkatan sekarang, seperti yang pernah 
kudengar di TIM Jakarta dan di milis-milis? Ataukah pernyataan dan tudingan 
demikian bukannya petunjuk dari kebingungan dan kehampaan ide dari si penuding. 
Hendaknya angkatan sekarang dan yang di atas angin tidak berkembang menjadi 
angkatan penuding dan pemfitnah. Fitnah dan tudingan tanpa bukti kukira tidak 
lain dari kain sutra  untuk menyelubungi ketidakmampuan dan kehampaan diri tapi 
malu mengaku diri tidak mampu dan kosong. [Tentu aku tidak mengucapkan kalimat 
ini dengan pendekatan generalisasi yang mengandung kelemahan lupa kekecualian]. 
Dengan pernyataan ini yang kuharapkan agar kalau tidak tahu, jangan 
berlagaktahu. Debat ide hanya bisa berlangsung sehat jika disertai oleh data, 
pengetahuan dan titiktolak mencari hakekat dan kebenaran untuk kepentingan hari 
ini dan esok. Hujatan dan saling menghujat bukan ciri debat ide dan kebudayaan 
serta hidup manusia yang berbudaya. Kebudayaan dimaksudkan untuk membudayakan 
kehidupan, manusia dan masyarakat. Dengan hujatan kita akan jatuh pada 
kekerasan dan makin jauh dari usaha memanusiawikan diri dan menangkap hakekat 
permasalahan. Jangan mengukur dalam laut dengan kail panjang sejengkal, 
kesimpulan tetua negeri ini.Hujatan tanpa bukti sama dengan kekerasan berbentuk 
verbal.

Bertanya adalah bentuk yang aman sekalipun untuk bisa mengajukan pertanyaan 
yang baik dan tanggap diperlukan kesungguhan renungan. Dari pertanyaan pun kita 
bisa menakar taraf penanya.

Dalam hal ini kukira usul Sonydebono dari Jawa Timur yang mengusulkan agar 
dilakukan studi banding tentang Lekra dan Manikebu barangkali jauh lebih sehat, 
tepat dan bermanfaat. Melalui studi banding dengan berbagai pendekatan kita 
bisa membandingkan dan mengenal hakekat Lekra dan Manikebu untuk kepentingan 
hari ini dan esok. Memoire jujur dari semua pihak  dan bukan untuk menunjukkan 
jenialitas dan mengiklankan diri tanpa tahu malu akan lebih berguna sebagai 
acuan dalam studi banding ini. Hari ini dan esok jauh lebih penting dari 
masasilam, tapi masasilam bisa memberikan sangu pikiran dan pengalaman untuk 
hari ini dan esok, jika kita sepakat dengan pandangan sejarah sejarawan Grup 
Annales Paris. Sebagai "penyang pambelum" jika menggunakan ungkapan orang Dayak 
Katingan, Kalimantan Tengah. 

Usul Sodydebono dari Jawa Timur ini kukira akan membuat diskusi jadi bermanfaat 
dan menunut kita untuk kembali ke persoalan pokok. Untuk ini diperlukan 
pertanyaan-pertanyaan mendasar dan menghindari diri asal tanya dan 
jeplak.Hentikan sendagurau saat kita diskusi serius. Jika mau bercanda , 
bercandalah dalam konteks.Kita memang perlu canda memang. Sedangkan hujatan 
tanpa bukti hanya ujud lain dari kedunguan. Prasangka dan apriorisme kukira 
termasuk kedunguan. Takut pada nama berangkat dari ketidaktahuan apakah 
bukannya termasuk dari kedunguan dan apariorisme? Hari ini dan hari esok yang 
manusiawi bisakah dibangun atas dasar apriorisme, lupa, ketakutan, hujatan dan 
kedunguan? Memandang Lekra sebagai serba kenistaan dan kejahatan, seperti 
memandang Manikebu hal serupa, kukiran tidak lain dari pada ketakutan pada nama 
dan ketidaktahuan serta kemalasan berpikir.Ketidaktahuan yang diyakini dan 
ketakutan pada nama, kukira mengancam hari ini dan esok. Ketidaktahuan yang 
diyakini sebagai kebenaran dan nama hanya bisa merunyamkan hari ini dan esok.***

Paris, Juli 2005

JJ.KUSNI



SPONSORED LINKS Writing book  Writing a book report  Writing child book  
      Writing and publishing a book  Creative writing book  Book writing 
software  


--------------------------------------------------------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 

  a..  Visit your group "panggung" on the web.
    
  b..  To unsubscribe from this group, send an email to:
   [EMAIL PROTECTED]
    
  c..  Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


--------------------------------------------------------------------------------



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke