----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, July 05, 2005 3:47 PM
Subject: [daarut-tauhiid] Surat Margaret Marcus<->Maududi-2/12
New York, 31 Januari 1961
Maulana Maududi yth.,
Beberapa hari yang lalu saya menerima hadiah buku-buku berbahasa Inggris
dari anda yang jumlahnya menyerupai suatu perpustakaan kecil. Saya rasa,
mengatakan terimakasih saja tidak cukup. Saya hanya bisa berjanji akan
selalu memelihara dan menghargainya. Baru kemarin saya terima surat anda
yang menceritakan bahwa tatkala anda baca naskah-naskah saya seolah-olah
anda sedang membaca karya sendiri. Yakinlah, bahwa tatkala saya baca
buku-buku anda, saya juga merasa seolah benar-benar sedang membaca
gagasan-gagasan saya sendiri yang hanya saja diungkapkan dengan lebih tegas
dan menyeluruh daripada yang barangkali bisa saya tulis.
Dua naskah terakhir saya adalah; yang satu tentang puisi Allamah Iqbal
[Lihat artikel saya tentang Allamah Iqbal dalam Islam Versus The West],
satu-satunya ilmuwan dunia Islam masa kini yang telah berhasil
mengungkapkan --dalam bentuk puisi dengan keindahan abadi-- tentang apa
arti sebenarnya menjadi seorang muslim; naskah yang lain berjudul The
Philosophical Sources of Western Materialism (Sumber-sumber Filsafat
Materialisme Barat), di sini saya lacak perkembangan Materialisme Barat
sejak kelahirannya di masa Yunani Kuno, melewati zaman Renesan sampai
memuncak dalam bentuk ideologi, seperti Komunisme.
Dalam naskah yang kedua ini juga saya coba tunjukkan, bahwa
kejahatan-kejahatan yang kita saksikan saat ini adalah akibat logis
daripada kecenderungan yang telah berlanjut selama lebih dari lima abad.
Tokoh-tokoh pemikiran Barat seluruhnya adalah materialis yang bersemangat;
nyatanya, seluruh tema peradaban Barat modern adalah pemberontakan terhadap
gereja dan pada puncaknya juga terhadap seluruh agama dan nilai rohaniah.
Jadi, materialisme adalah bagian dari esensi Barat terpenting.
Pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, sebagaimana anda jelaskan dengan jitu
dalam artikel anda Nasionalism and India (Nasionalisme dan India), secara
serempak telah diajar untuk memandang rendah pusaka asli mereka dan
dicekoki dengan filsafat materialisme. Karena rasa dendam dan benci yang
mendalam kepada majikan Barat mereka terdahulu, maka mereka lemparkan
kembali sampah-sampah tepat ke muka mereka sendiri. Hal ini saya maksudkan
sebagai gambaran pergolakan hebat yang saat ini sedang terjadi di Asia dan
Afrika, khususnya di Kongo.
Setelah saya baca tentang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Afrika, saya
mengkhawatirkan keselamatan anda. Sungguh sangat menyakitkan terasa bagi
saya membaca dan mengetahui bagaimana negara-negara muslim seperti Republik
Persatuan Arab (sekarang pecah menjadi Mesir dan Syria -penerjemah) secara
membudak meniru Komunis Rusia dan Cina dalam hal politik luar negeri mereka
di Afrika. Saya hendak bersimpati dengan beberapa negara seperti RPA,
tetapi tidak saya lihat sesuatu yang Islami dalam kebijaksanaan
pemerintahannya. Seorang muslim yang mudah tertipu akan menyambut gembira
upaya-upaya Nasser (Jamal Abdul Nasser, presiden Mesir-pengirim e-mail))
dalam memajukan dakwah Islam di Afrika, tetapi tak syak lagi bahwa ia tidak
begitu tertarik untuk berjuang lebih jauh dari pada sekedar menggunakan
akidah itu semata-mata sebagai slogan untuk meninggikan keharuman nama dan
harkatnya.
Saya dengan tulus dan pasti yakin bahwa pemahaman anda tentang Islam
sebagai yang anda kernukakan dalam buku Towards Understanding Islam (Menuju
Pemahaman Islam) dan Islamic Law and Constitution (Hukum dan
Perundang-undangan Islam) dan brosur-brosur lain yang telah anda kirimkan
kepada saya adalah satu-satunya penafsiran yang tepat. Saya berharap agar
saya tidak dipandang sebagai orang yang berpikiran sempit dengan berkata
demikian. Sungguh saya hargai anda dan segala sesuatu yang anda kerjakan,
sebab anda memegang teguh Islam dalam kemurniannya di samping menolak untuk
berdamai dengan tingkah laku zaman atau memperkosanya dengan
filsafat-filsafat asing.
Seperti yang telah anda uraikan dalam karya-karya anda, maka saya percaya
bahwa Islam adalah jalan hidup yang unggul dan merupakan satu-satunya jalan
menuju kebenaran. Tragisnya, ternyata banyak orang Islam yang tidak setuju.
Berkali-kali saya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Islam yang belajar
pada universitas-universitas di New York yang berusaha meyakinkan saya
bahwa Kemal Ataturk adalah orang Islam yang baik dan bahwa Islam harus
menerima kriteria filsafat kontemporer, sehingga bila ada akidah Islam dan
peribadatannya yang menyimpang dari kebudayaan Barat modern, maka hal itu
harus dicampakkan. Pemikiran demikian dipuji sebagai "liberal",
"berpandangan ke depan" dan "progresif". Sedang orang-orang yang berpikiran
seperti kita dicap sebagai "reaksioner dan fanatik", yakni orang-orang yang
menolak untuk menghadapi kenyataan masa kini. Suatu hal di dalam buku kecil
anda Nasionalisme dan India yang perlu mendapatkan perhatian khusus ialah
sikap oposisi anda terhadap orang Islam yang memakai pakaian Barat. Banyak
orang memandang masalah ini sebagai sesuatu yang remeh, tetapi saya
memandangnya sebagai hal yang paling penting. Tidakkah Nabi Besar Muhammad
saw telah bersabda: "Barangsiapa yang meniru orang kafir, maka ia termasuk
salah seorang dari mereka!" Saya pikir, orang muslim harus merasa bangga
memperlihatkan kenyataan berupa kekhasan penampilan fisiknya. Demikianlah,
maka bila saya lihat pemimpin Islam yang sama sekali berpakaian model barat
dan bercukur licin, tak bisa tidak saya anggap imannya bercacat, karena
lewat pakaiannya, dia permaklumkan kepada dunia bahwa ia malu akan
identitasnya yang sebenarnya. Pernahkah anda baca Islam di Simpang Jalan
karya Muhammad Asad yang membicarakan hal ini secara panjang lebar?
Tidak aneh bila anda begitu heran terhadap gadis yang lahir dari keluarga
khas Amerika bisa memeluk Islam. Karenanya, berikut ini akan saya ceritakan
bagaimana hal itu terjadi.
Ketika saya berumur sepuluh tahun, saya bersekolah di sekolah Jewish Sunday
yang diperbaharui. Segera saya terpesona dengan sejarah Yahudi yang tragis.
Saya tertarik kepada cerita Ibrahim dan kedua anaknya Ismail dan Ishak.
Ishak dianggap sebagai bapak orang Yahudi dan Ismail bapak orang Arab.
Tidak saja orang Arab dan Yahudi bersamaan asal, tetapi sejarahnya pun
saling berkaitan pada beberapa perioda. Telah saya pelajari bahwa di bawah
pemerintahan Islam, khususnya di Spanyol, orang Yahudi mengalami masa
keemasan dengan kebudayaan Ibraninya. Karena ketidaktahuan, tentunya
terhadap sifat jahat Zionisme, secara naif saya mengira bahwa orang Yahudi
Eropa kembali ke Palestina untuk menjadi orang semit lagi dan hidup seperti
orang Arab. Sungguh saya sangat tergairahkan oleh prospek kerja sama antara
orang-orang Arab dan Yahudi untuk menciptakan zaman keemasan baru seperti
pernah terjadi di Spanyol.
Selama masa remaja, saya mengalami keterasingan sosial di sekolah karena
saya senang menggunakan sebagian besar waktu saya untuk membaca buku-buku
di perpustakaan dan tidak tertarik, kepada lain jenis, pesta-pesta, dansa,
film, pakaian, perhiasan atau pun kosmetika. Saya beranggapan bahwa merokok
adalah kebiasaan vulgar dan kemubaziran. Meskipun kenyataan di masyarakat
mengharuskan seseorang untuk minum-minum di dalam pesta dengan tujuan agar
dapat diterima secara sosial, dan kedua orangtua saya berpendapat bahwa
pengumbaran diri sekedarnya dengan anggur tak dapat dipisahkan dari
"kenikmatan hidup", namun saya belum pernah menyentuh minuman keras. Saya
hampir tidak mempunyai teman selama delapan tahun di sekolah lanjutan
pertama dan atas, karena saya hanya berbagi sedikit kegetiran dengan
anak-anak laki-laki dan perempuan sebaya saya.
Pada tahun kedua di Universitas New York, saya bertemu dengan seorang gadis
remaja dari keluarga Yahudi yang telah memutuskan untuk memeluk agama
Islam. Karena begitu tertarik kepada bangsa Arab sebagaimana saya, maka dia
kenalkan saya dengan teman-teman Arab dan muslimnya di New York. Dia dan
saya sama-sama mengikuti pelajaran dalam kelas yang diajar oleh Rabbi
Yahudi berjudul Yudaisme dalam Islam.
Rabbi itu mencoba untuk memberikan bukti-bukti kepada para siswanya,
dibalik kedok "perbandingan agama", bahwa segala yang baik dalam Islam itu
dipinjam langsung dari perjanjian lama, Talmud dan Midrash. Buku teks kami,
yang disusun oleh Rabbi ini juga (Judaism in Islam, Abraham I Katsh,
Washington Square Press, New York 1954), menuliskan surat kedua dan ketiga
dari Al-Qur'an ayat demi ayat, untuk melacak asal-usulnya dari
sumber-sumber Yahudi. Kuliah ini diselingi juga dengan pemutaran film
berwarna dan slide propaganda Zionis untuk mengagungkan negara Yahudi.
Tetapi ironisnya, kuliah ini bukannya mampu meyakinkan saya akan keunggulan
Yahudi atas agama Islam, tapi malah mengalihkan saya kepada pandangan yang
sebaliknya.
Walaupun kenyataannya di dalam kitab Perjanjian Lama terdapat konsep-konsep
universal tentang Tuhan dan cita moral luhur seperti yang diajarkan oleh
para nabi, tetapi agama Yahudi selalu mempertahankan karakter kesukuan dan
kebangsaan. Dan meskipun di dalamnya terdapat idealisme luhur, narnun kitab
suci agama Yahudi itu bagaikan buku sejarah orang Yahudi saja layaknya
sejarah ketuhanan dan kebangsaannya.
Parokialisme berpandangan sempit telah mendapatkan ungkapan modernnya dalam
Zionisme (walaupun dalam bentuk yang sepenuhnya sekular). Perdana Menteri
Israel, David ben Gurion, tidak beriman kepada Tuhan yang bersifat pribadi
dan supranatural, tidak pernah mendatangi sinagoge dan tidak menaati hukum
Yahudi, adat-adat maupun upacara-upacara, namun ia dipandang sebagai orang
Yahudi terbesar masa kini, bahkan juga oleh orang-orang yang taat dan
ortodoks.
Sebagian besar pemimpin Yahudi memandang Tuhan sebagai "super agen real
estate" yang membagi-bagikan lahan untuk keuntungan mereka sendiri.
Zionisnie telah menjadikan aspek-aspek yang sangat jelek dari nasionalisme
materialistik Barat modern sebagai milik mereka sendiri. Hanya filsafat
utilitarian dan opportunisme seperti itu yang dapat membenarkan di dalam
pikiran-pikiran, hal-hal seperti: kampanye zalim untuk mengusir mayoritas
orang Arab dan menginjak-injak minoritas yang mengibakan yang masih tinggal
di "Israel", kemudian memasang gaya pembawa "kemajuan" dan "pencerahan"
bagi bangsa Arab "yang jahil".
Betapapun unggulnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi "Israel",
namun saya yakin kemajuan material yang dikombinasikan dengan moralitas
kesukuan bangsa "terpilih" ini adalah suatu ancaman yang amat besar bagi
perdamaian dunia. Pernah saya dengar Golda Meir berpidato di depan Sidang
Umum PBB: "Saya akan menentang siapa saja yang hendak mempersoalkan hak
keamanan Israel dengan menahan daerah Arab yang dikuasai lewat penaklukan.
Satu-satunya etika yang penting bagi kami adalah bertahan hidupnya bangsa
Yahudi di negeri Yahudi" (Tak apa, Nyonya Golda Meir, tentang bertahan
hidup itu, bangsa-bangsa lain pun akan mempertahankan hidupnya pula).
Waktu itu pula saya ketahui bahwa para ulama Yahudi memendam rasa
permusuhan yang lebih besar terhadap Nabi Muhammad saw daripada orang-orang
Kristen. Kemunafikan agama Yahudi yang diperbaharui sama juga tak bisa
diterima. Sehingga, walaupun seorang keturunan Yahudi, saya tetap tidak
bisa mengidentifikasikan pemikiran-pemikiran dan aspirasi-aspirasi saya
dengan bangsa Yahudi. ...( ..........Mereka memuaskan kamu dengan
mulut-mulut mereka, tapi hati mereka menolak, dan sebagian besar mereka
adalah orang-orang fasik...QS:At-Taubah : 8 - pengirim email)
Karena kedua orangtua saya bukanlah Yahudi yang taat dan keduanya sangat
yakin akan perlunya orang Yahudi Amerika untuk berpikir, berpandangan dan
berperilaku seperti orang Amerika lain, maka setelah dua tahun belajar di
sekolah agama Yahudi, saya didaftarkan pada sistem pendidikan Pergerakan
Kebudayaan Etika yang didirikan oleh mendiang Dr. Felix Adler pada
dekade-dekade terakhir abad sembilan belasan.
Dalam buku anda Pandangan Islam tentang Etika, anda merujuk kepada
pergerakan humanis agnostik ini yang menolak landasan supranatural
nilai-nilai etika dan menganggapnya sebagai relatif dan buatan manusia.
Saya hadiri pengajaran di sekolah kebudayaan Etika itu seminggu sekali
selama empat tahun sampai saya tamat pada usia lima belas tahun.
Sejak itu hingga saya masuk sekolah Rabbi Katsh di Universitas New York
tahun 1954, saya menjadi seorang ateis tulen dan meremehkan semua
organisasi keagamaan ortodoks sebagai ketahayulan. Suatu hari di kelas,
Rabbi Katsh memberikan kuliah di hadapan para mahasiswa, ia kemukakan
alasan-alasan mengapa seluruh nilai-nilai etika yang tumbuh sebagai hak
bawaan universal setiap manusia bersifat mutlak dan merupakan pemberian
Tuhan, bukan ciptaan manusia dan tidak pula relatif sebagaimana telah
diajarkan kepada saya sebelumnya.
Saya lupa argumentasi khasnya, tetapi saya hanya ingat bahwa alasan-alasan
tersebut begitu masuk akal dan meyakinkan saya, sehingga hal ini menandai
suatu titik balik dalam kehidupan saya. Setelah saya pelajari Al-Qur'an
lebih dalam lagi, saya mulai sadar mengapa Islam dan hanya agama Islam
telah mampu membuat bangsa Arab menjadi bangsa besar. Tanpa Al-Qur'an saat
ini bahasa Arab mungkin telah punah. Paling-paling, tanpa Al-Qur'an bahasa
Arab akan menjadi kurang berarti dan tidak dikenal seperti dulu. Keberadaan
seluruh kesusasteraan dan kebudayaan Arab berhutang banyak kepada
Al-Qur'an. Karenanya, kebudayaan Arab dan Islam tidak bisa dipisahkan.
Tanpa Islam, kebudayaan Arab tidak akan berarti penting dalam dunia
internasional.
Walaupun kedua orangtua saya tidak dapat memahami penentangan saya terhadap
kebudayaan yang membesarkan saya, khususnya rasa permusuhan saya terhadap
Zionisme, mereka tetap memberikan kebebasan untuk mencari dan mendapatkan
pegangan hidup. Mulanya mereka mencoba melemahkan semangat saya dengan
mengatakan bahwa keterlibatan saya akan menjauhkan saya dari mereka dan
seluruh keluarga. Tetapi saat ini, setelah mereka lihat saya begitu tetap
hati, mereka yakinkan saya bahwa mereka tidak akan menghalangi saya
berpindah agama atau menjalani kehidupan yang membuat saya bahagia.
Walaupun tetap meyakini pandangan-pandangan yang berlawanan dengan saya
hampir dalam segala hal, mereka tetap toleran dan lapang dada. Betapapun
tidak setuju, mereka tak pernah mengancam untuk tidak mengakui saya sebagai
anaknya. Alangkah bedanya dengan orangtua Yahudi ortodoks, yang menganggap
anaknya yang memeluk agama lain sebagai telah mati.
Kemarin saya kunjungi Islamic Foundation di New York, imamnya adalah Dr.
Nuruddin Shoreibah, sarjana tamatan al Azhar. Ia ajari saya bacaan-bacaan
shalat lima waktu dalam bahasa Arab, sebagai persiapan untuk menghadapi
bulan Ramadan yang akan datang, karena saya berniat hendak melaksanakan
ibadah puasa untuk pertama kalinya.
Saya serahkan pada anda untuk memutuskan, adakah lebih baik kita bekerja
bersama atau sendiri-sendiri, mengingat kita mengejar cita-cita yang sama.
Dengan surat saya yang panjang ini, ingin sekali saya ucapkan terimakasih
atas tawaran-tawaran yang telah anda sampaikan.
Salam takzim,
Margaret Marcus
----------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------
----
Lahore, 25 Februari 1961
Nona Marcus yth..
Assalamu'alaikum warahmatullah,
Surat anda yang panjang lebar tertanggal 31 Januari itu agak terlambat
sampai di sini. Maaf, karena saya tidak bisa segera membalas sebab adanya
kesibukan yang tak terhindarkan. Saya khawatir keterlambatan ini akan
menyebabkan anda tidak enak hati. Oleh karena itu saya mohon maaf.
Saya mempelajari sketsa kehidupan anda dengan rasa tertarik dan perhatian
yang besar. Begitu selesai membaca, segera saya menyadari bagaimana pikiran
terbuka dan tanpa prasangka bisa menemukan Jalan yang Lurus, asalkan
berusaha dengan sungguh-sungguh dan terus menerus.
Kisah kesulitan, kesengsaraan dan kesedihan mental anda bukan merupakan hal
baru bagi saya. Bila seseorang mengalami konflik yang keras dengan
lingkungan sosialnya serta tidak mendapatkan simpati atau penghargaan
sedikitpun dari lingkungan mental maupun moralnya, sungguh luar biasa bila
sarafnya tidak mengalami kehancuran fatal.
Ketidakmampuan anda untuk menyesuaikan adalah akibat yang alami daripada
ketidak-cocokan antara anda dengan masyarakat anda. Tabiat, citarasa,
gagasan, kebiasaan dan seluruh kelakuan anda secara asasi berbeda dari
lingkungan masyarakat tempat anda tinggal. Pergesekan yang terus-menerus
bisa lebih merusak daripada yang kenyataannya terjadi.
Anda tampak bagaikan seperti pohon muda di daerah Khatulistiwa yang ditanam
di zona Arktik dan anda tak bisa tidak dipaksa menghadapinya. Tiap orang
dapat tumbuh dan memancar sebaik-baiknya dalam suasana cocok. Pada iklim
permusuhan, seseorang cenderung kehilangan atau dituduh sebagai telah
kehilangan keseimbangan mental dan seluruh kemampuannya, seakan-akan hilang
sirna.
Alasan serupalah yang menyebabkan anda masih belum menikah; masyarakat anda
tidak menyukai tipe wanita seperti anda. Seluruh kelebihan anda dipandang
sebagai cacat. Tidak mungkin anda temukan teman hidup sejati dalam keadaan
sekarang ini. Jika anda paksakan mengikat diri kepada seseorang di sana,
anda tak akan mungkin bisa menjalani kehidupan perkawinan yang baik atau
berhasil.
Sejak surat anda yang pertama, telah saya pertimbangkan masalah anda dengan
penuh perhatian. Saya pikir anda harus memilih salah satu dari dua pilihan.
Pertama, anda harus bekerja secara terbuka untuk Islam di Amerika dengan
mengumpulkan simpatisan-simpatisan dan rekan-rekan sekerja di sekitar anda,
atau, yang kedua, anda pindah ke suatu negara Islam, sebaiknya Pakistan.
Tidak mudah bagi saya untuk memilih salah satu alternatif yang sesuai
dengan anda, karena hal ini tergantung pada lingkungan dan kemampuan anda
yang tentunya anda sendiri yang memahaminya dengan baik.
Saya hanya mampu menyampaikan bahwa bila anda hendak hijrah dan tinggal di
Pakistan, anda akan berada di tengah-tengah orang-orang yang sependirian,
hanya saja dengan bahasa yang berbeda. Insyaallah di Pakistan akan anda
dapatkan segenap dukungan serta dorongan moral dan material Lebih lagi,
besar kemungkinan anda temukan orang muslim yang takwa, yang dapat menjadi
teman hidup anda.
Bila anda berada di Pakistan, saya dapat memberikan segala pertolongan.
Tetapi sayang sekali saya tidak dapat membantu perjalanan anda dari Amerika
ke Pakistan, mengingat adanya pembatasan-pembatasan yang sangat ketat
terhadap lalu-lintas luar negeri.
Saya benar-benar berharap agar orangtua anda, yang menaruh harapan baik
bagi anda, tidak menghalangi pilihan anda. Mereka seharusnya menyadari
kenyataan bahwa bila anak putrinya dipaksa untuk hidup dalam iklim yang
buruk, akibatnya tidak hanya akan memaksa anaknya hidup dalam keputusasaan,
tetapi lebih dari itu, putrinya akan mengalami goncangan-goncangan syaraf
yang membahayakan.
Tetapi sebaliknya, bila ia cukup beruntung dan mendapatkan suasana
beruntung dan mendapatkan suasana sosial yang cocok lagi bersahabat,
pikirannya akan kembali sehat dan bersemangat, dan akan menjalani kehidupan
yang produktif dan bermanfaat. Saya pikir, begitu mereka sadar akan hal ini
sepenuhnya, maka tak akan anda temui halangan dari pihak mereka. Malah, ada
kemungkinan akan mereka terima usulan-usulan saya.
Anda tanyakan buku Islam di Simpang Jalan. Buku tersebut sudah saya baca
dan juga buku-buku karya Muhammad Asad lainnya. Saya telah berkesempatan
untuk berkenalan secara pribadi dengannya tidak lama setelah ia memeluk
Islam, ketika ia tinggal di anak benua Indo-Pakistan.
Mungkin menarik bagi anda untuk mengetahui, bahwa Muhammad Asad juga
keturunan Yahudi (Austria). Saya sangat kagum akan pikiran-pikirannya
tentang Islam, khususnya kritikan-kritikannya terhadap kebudayaan Barat dan
filsafat materialistik. Namun demikian, sayang sekali, meskipun di awal
keislamannya ia seorang muslim yang begitu kukuh dan taat, tetapi secara
perlahan-lahan ia bergeser mendekati jalan apa yang sering disebut sebagai
muslim "progresif", sebagaimana Yahudi yang "diperbaharui".
Belakangan ini, perceraian dengan istri Arabnya dan kemudian perkawinannya
dengan gadis Amerika modern, dengan pasti mempercepat proses ini. Walaupun
kenyataan-kenyataan yang mengharukan ini tidak bisa dipersoalkan apalagi
dibenarkan, namun dalam masalah ini saya tidak bisa terlalu menyalahkannya.
Ketika saya bertemu pertama kali di tahun-tahun pertama keislamannya,
perubahan-perubahan yang menggembirakan terjadi dalam hidupnya.
Tetapi, sekali seseorang menjalani kehidupan sebagai orang Islam sejati,
segera saja semua kemampuannya kehilangan "nilai pasar" nya. Cerita sedih
yang sama juga menimpa Muhammad Asad. Sebelum itu ia sudah terbiasa hidup
dengan standar tinggi lagi modern. Sesudah memeluk Islam, ia harus
menghadapi kesulitan-kesulitan ekonomi yang teramat berat.
Akibatnya, ia terpaksa melakukan kompromi-kompromi. Saya selalu berharap,
meskipun dengan terjadinya perubahan-perubahan ini, cita-cita dan
pendirian-pendiriannya tidak berubah, walaupun kehidupan sehari-harinya
telah mengalami perubahan. Nabi besar Muhammad saw pernah bersabda bahwa
akan datang suatu masa bila seseorang mengikuti jalannya, ia seolah sedang
memegang bara api dalam genggamannya. Nubuatannya ini telah terbukti.
Akhir-akhir ini, bila seseorang, laki-laki maupun perempuan, hendak mencoba
melaksanakan ajaran-ajaran Islam, ia akan menghadapi tantangan-tantangan
yang keras dalam setiap langkahnya dari peradaban materialistik. Seluruh
lingkungannya berbalik memusuhi muslim itu. Ia akan dipaksa untuk
berkompromi atau tetap berada dalam suasana pertentangan dengan masyarakat.
Syaraf yang paling kuat dan tahan uji mutlak diperlukan untuk perjuangan
yang tidak mengenal henti ini.
Sudahkan anda berhubungan dengan Islamic Centre di Washington D.C. atau di
Montreal yang mungkin bermanfaat bagi anda? Alamat Islamic Centre di
montreal adalah: The Islamic Centre, 1345 Red Path Crescent, Montreal - 2,
Quebeq, Canada.
Terima kasih atas perhatian yang tulus dari anda terhadap keselamatan saya
sehubungan dengan kepergian saya ke Afrika yang akan datang. Alhamdulillah,
negara-negara di benua Afrika yang akan saya kunjungi ada dalam keadaan
yang sangat aman dan damai. Saya bermaksud mengunjungi Somalia, Kenya,
Uganda, Tanganyika, Zansibar, Mauritus dan Republik Afrika Selatan. Di
negara-negara tersebut terdapat banyak orang India, Pakistan dan Arab yang
muslim. Dengan bantuan mereka saya berharap dapat meningkatkan dakwah Islam
di sana.
Benar-benar dapat saya pahami kebingungan anda terhadap Presiden Nasser.
Sebaliknya daripada seorang pembela Islam, tangan bengisnya dilumuri darah
merah para syuhada. Dengan kejam ia tindas al-lkhwanul Muslimin. Dialah
yang telah menghancurkan kekuatan Islam di dunia Arab. Paling sedikit ia
memiliki empat lidah dalam satu mulut. Bila berbicara kepada orang Mesir,
ia katakan: "kita adalah putra-putra Firaun." (ia dirikan patung raksasa
Ramses II yang dikutuk sebagai Firaun sang penindas di alun-alun Kairo).
Bila berbicara kepada dunia Arab, dia katakan: "Kita adalah bagian dari
satu bangsa Arab yang agung". Bila berbicara kepada masyarakat umum Afrika
dia berupaya sok menjadi eksponen dan penyambung lidah mereka. Baru-barn
ini ia berusaha untuk meniup terompet "Suara Islam" lewat Radio Kairo,
karena hal ini sesuai dengan kepentingan dan strateginya.
Petualang-petualang jahat seperti dia tidak akan pernah mengabdi untuk
perjuangan Islam. Hanyalah mujahid yang tidak kenal pamrih --ikhlas,
sederhana dan tidak kenal kompromi, yang siap mengorbankan segenap
kepentingan pribadinya dan menyerahkan kehidupannya ke haribaan Islam--
yang bisa melakukan hal ini.
Sungguh saya amat bahagia mengetahui bahwa anda telah menjadi orang Islam
yang taat dan telah mulai melaksanakan shalat lima kali sehari, dan pula
telah menjalankan ibadah puasa. Akan hal ini, saya ucapkan selamat kepada
anda. Saya berdoa kepada Allah semoga Dia selalu menguatkan hati dan
membantu anda di atas jalan Islam.
Hormat saya,
Abul A'la
===================================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================================
Yahoo! Groups Links
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/