http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/07/sh01.html
Di Kupang Harga Premium Rp 35.000/Liter Harga Sembako di Sejumlah Daerah Naik Tajam Jakarta, Sinar Harapan Masalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) membawa imbas yang semakin panjang. Selain antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di sejumlah daerah, kendaraan umum juga mulai tidak beroperasi karena kehabisan bensin/solar. Namun di sisi lain, penjual BBM eceran malah ikut antre di sejumlah SPBU dengan membawa jerigen dan drum. Akibat aksi borong itu, seperti yang terjadi di Kupang, harga premium di tingkat pengecer berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 35.000 per liter. Sementara di Jambi, harga BBM di tingkat eceran antara Rp 13.000 hingga Rp 16.000 per liter. Bahkan di Jambi, kenaikan BBM menyebabkan harga-harga sembako meningkat tajam. Seperti beras 20 kg merk Putri Palembang yang biasanya Rp 68 ribu, kini menjadi Rp 72 ribu. Harga beras Solok asal Padang, yang biasanya Rp 8 ribu per gantang, kini naik menjadi Rp 12.500 per gantang. Harga sembako lain yang melonjak antara lain minyak goreng dan daging sapi, bahkan untuk cabe merah naik dari Rp 6.000 per kilogram menjadi Rp 12.500, bawang merah yang semula Rp 8.500 menjadi Rp 10.500, gula pasir Rp 5.300 menjadi Rp 7.000 per kilogram. Masih dari Jambi dilaporkan, para pengecer BBM terpaksa menjual dengan harga tinggi karena mereka membeli BBM itu dari SPBU dengan harga tinggi. "Kalau tidak dijual lebih mahal, bagaimana kami bisa mendapat untung," ujar Tukimin, pengecer di Jl. Kolonel Abunjani. Beberapa pengecer lainnya mengaku membeli dari SPBU dengan harga Rp 5.500 hingga Rp 8.000 per liter. Di SPBU mereka dapat membeli bensin hingga tiga jerigen besar kapasitas isi 30 liter. Sementara itu di Sulawesi Utara pada umumnya, antrean panjang di sejumlah SPBU Kamis (7/7) pagi ini menyebabkan kemacetan di hampir seluruh jalan di Manado, Minahasa, Bitung, Tomohon. Masyarakat pun kesulitan mendapatkan angkutan. Antrean sepanjang 3 kilometer itu terjadi sejak subuh, kebanyakan mobil angkutan umum atau mikrolet. Antrean panjang yang terpantau SH pagi ini, juga terjadi di Bandar Lampung, Padang, serta Serang. Dari Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan penjual eceran ikut antre membeli BBM di sejumlah SPBU dengan membawa jeriken dan drum. Namun pihak Pertamina baru pagi ini melarang pengecer membeli di SPBU. "Para penjual BBM eceran inilah yang menyebabkan terjadinya antrean mulai pagi hingga malam hari," kata John Karel, warga Kupang, yang dihubungi SH, Kamis pagi ini. Ny. Febri, warga lainnya, menjelaskan harga premium eceran yang dijual para pengecer BBM di Kota Kupang bervariasi antara Rp 10.000 hingga tertinggi Rp 35.000 per liter. "Ya kami terpaksa membeli karena tidak ada pilihan lain," tambah pengusaha kain tenun NTT yang kini menjadi kesulitan memenuhi pesanan kain tenun ke Surabaya itu. Di Sulawesi Utara masyarakat kesulitan mendapatkan angkutan, sehingga sejumlah pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI/Polri, dan karyawan swasta tidak masuk kantor. "Kalau begini terus, kami mau parkir kendaraan kami di Pertamina Manado," ujar sejumlah sopir angkot yang sedang antre di SPBU Wanea Manado. Sebab, hanya untuk mendapatkan bensin, mereka harus antre 5-6 jam. Krisis BBM yang terjadi di Bandar Lampung juga meluas. Malah di sini, tidak hanya premium yang sangat langka, tetapi solar untuk kebutuhan industri juga mulai susah diperoleh dua hari terakhir ini sehingga mengganggu proses pengeringan kopi, kakao, lada, dan komoditas pertanian lainnya. Dari enam SPBU di Kota Bandar Lampung yang dipantau SH, Rabu (6/7) malam, hanya satu yang masih melayani pembeli yakni di Jl. Soekarno-Hatta, sedangkan lainnya ditutup dengan alasan kehabisan BBM. Meskipun demikian, belasan mobil tetap terparkir di pelataran SPBU Jl. P.M. Nur, Palapa, karena tangkinya sudah kosong. Kamis (7/7) pagi ini baru dua SPBU yang buka dan ratusan kendaran antre sejak pukul 05.00. Warga di Kota Padang juga tampak antre untuk mendapatkan BBM sehingga membuat arus lalu lintas macet. Harga bensin melonjak cukup tinggi kalau biasanya Rp 3.000 per liter sekarang dijual Rp 4.000 per liter. Begitu pula di Banten, sampai berita ini diturunkan, antrean belum normal. Tingkatkan Produksi Pertamina Unit Pengolahan (UP) IV Cilacap melakukan peningkatan produksi terutama solar dan premium untuk memasok stok BBM nasional pada level aman 22 hari. Kilang terbesar di Indonesia tersebut menggenjot kilangnya antara 104%-110%. Menurut Kepala Hubungan Pemerintahan dan Masyarakat (Kahupmas) UP IV Cilacap M Husni Banser, Kamis pagi kapasitas kilang Cilacap ditingkatkan antara 104% hingga 110% sejak 1 Juli lalu. Peningkatan jumlah produksi utamanya difokuskan pada jenis solar dan bensin. Menurutnya, BBM jenis solar hari biasa memproduksi 10-12 ribu kiloliter (kl) per hari, saat sekarang sudah ditingkatkan hingga 16,5 ribu kl per hari. Demikian juga dengan premium dari normalnya 7 ribu kl per hari, saat ini naik sampai 10 ribu kl per hari. Semuanya ini dilakukan untuk mengejar stok BBM nasional pada level aman 22 hari. "Kilang minyak Cilacap yang memasok 33% kebutuhan dalam negeri memang dapat ditingkatkan kapasitasnya hingga lebih dari 100%. Terutama kalau terjadi persoalan "emergency" semacam ini yakni pemenuhan stok aman BBM untuk skala nasional. Kita tidak tahu sampai kapan. Yang jelas kilang di Cilacap masih mampu memproduksi di atas 100%. Hari ini saja, untuk kilang II memproduksi 104% BBM," ujarnya. (nor/dat/sir/lid/nov/imn/srn) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

