http://www.indomedia.com/bpost/072005/9/opini/opini3.htm


Andaikata Suara Kita Bisa Didengar
TAK ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba ada suara bernada kecewa terhadap 
posisi Partai Golkar di pemerintahan. Sebagai pemenang pemilihan umum yang 
memiliki anggota parlemen cukup siginifikan, posisi Golkar di pemerintahan 
seperti di persimpangan jalan, masih abu-abu. Karena itu, Ketua Umum Golkar 
Jusuf Kalla diminta segera mereposisi sikap partai dalam Kabinet Indonesia 
Bersatu. Pernyataan ini dilontarkan oleh Ketua Angkatan Muda Pembaruan 
Indonesia (AMPI) Fachri Andi Calusa, di sela-sela peringatan ulang tahun ke 27 
AMPI di Kantor DPP Golkar, Jakarta.

Berita itu tidak banyak diekspos oleh surat kabar. Kecuali nilai beritanya 
sangat kurang, tokoh yang berbicara tidak memiliki bobot dan kapasitas yang 
pas. Berita baru punya nilai, kalau bobot dan sumber beritanya mampu mengangkat 
perhatian masyarakat. Tetapi kita justru mengangkat berita ini, karena kita 
menangkap ada pesan lain di baliknya.

Dalam berita itu, Wakil Ketua Umum DPP Golkar Agung Laksono menyatakan 
mendukung pernyataan tadi dan partai akan mendukung kandidat-kandidat 
terbaiknya untuk duduk dalam kabinet. Tetapi Agung tidak dalam posisi untuk 
mengusulkan.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa bola itu ditendang dari bawah, selanjutnya 
dipermainkan di atas, tendang sana tendang sini sehingga menciptakan situasi 
yang pas untuk bikin gol. Kita juga tidak menutup mata, jika ini merupakan 
permainan cerdik dari Golkar untuk membuat 'gol' sebanyak-banyaknya. Partai 
mana pun tentu ingin menempatkan kadernya sebanyak mungkin di kabinet atau pun 
parlemen. Karena tidak etis untuk membuka masalah itu dari atas, maka dari 
bawahlah hal itu diangkat. Itu sah-sah saja, sepanjang tetap dalam koridor 
aturan main.

Kita hanya ingin mengingatkan bahwa pemilihan anggota kabinet atau menteri 
adalah hak prerogatif presiden, jadi mutlak. Wakil presiden bisa menjadi 
pertimbangan, tetapi tidak menentukan. Akan halnya dengan Kabinet Indonesia 
Bersatu sekarang, yang punya hak untuk mengangkat dan memberhentikan menteri 
adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden dan wakilnya dipilih langsung oleh rakyat, bukan dipilih lewat 
perwakilan seperti dulu yang didominasi wakil-wakil dari partai politik. Dulu, 
anggota kabinet seiring dengan komposisi keanggotaan di Majelis Permusyawaratan 
Rakyat (MPR). MPR/DPPR mencerminkan komposisi hasil pemilu.

Dengan pilihan langsung bisa terjadi anggota parlemennya didominasi oleh kaum 
oposisi. Sekarang ini, kendati tidak mayoritas tetapi anggota DPR dari Golkar 
lebih banyak dibanding partai yang mengusung Yudhoyono. Tetapi tidak berarti 
bahwa kabinet juga harus didominasi oleh pemenang pemilu. Yudhoyono punya 
legitimasi kuat sebagai pilihan rakyat, karenanya tidak seorang pun boleh 
mengurangi hak konstitusionalnya. Misalnya dalam penunjukan menteri.

Kalau mau jujur, Golkar dalam pemilu lalu tidak mendukung pasangan 
Yudhoyono/Jusuf Kalla. Golkar mendukung Wiranto, setelah itu bergabung dengan 
PDIP dan beberapa partai lain untuk mendukung Megawati Soekarnoputri. Kalla 
tidak didukung oleh Golkar. Kemenangan pasangan ini lebih karena penampilan 
personanya yang memikat masyarakat pemilih. Baru setelah menjadi wapres, Kalla 
yang memang kader Golkar melihat peluang bagus untuk mendapat kendaraan 
politik, dan ia maju sebagai calon ketua umum Golkar dan berhasil. Inilah yang 
kemudian mendorong partai beringin itu menempatkan diri sebagai partai 
pemerintah dengan segala konsekuensinya.

Kita hanya ingin urun rembuk, negara kita kini tengah dilanda berbagai macam 
krisis. Sehebat apa pun presidennya, tidak akan bisa menyelesaikan krisis dalam 
waktu yang pendek. Karena itu, janganlah ini dijadikan alasan untuk setiap kali 
melakukan pergantian kabinet. Kabinet pelangi yang terdiri atas berbagai macam 
partai seperti sekarang, sudah cukup membuat repot presiden. Kita percaya, 
orang sekapasitas Jusuf Kalla yang sudah berpengalaman di pemerintahan tidak 
akan gegabah menggunakan 'kekuasaannya'.

Andaikata suara kita bisa didengar, kita pun tidak ingin kabinet dijadikan 
sebagai arena dagang sapi. Di Amerika Serikat juga pernah terjadi kongres (DPR) 
dikuasai partai yang tidak mendukung presiden. Tetapi presiden memimpin 
negaranya dengan penuh percaya diri dan kecakapan, sehingga tidak perlu takut 
menghadapi oposisi. Di Indonesia, kepentingan pribadi dan kelompok selalu nomor 
satu sehingga tuntutannya pun kadang berlebihan dan menomorduakan kepentingan 
bangsa.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke