Sudah lazim di jaman sekarang bahwa Sejarah dijadikan alat legitimasi
penguasa untuk mengukuhkan kekuasaan dengan cerita romantisme maupun
patriotisme sang penguasa ketika mendapatkan kekuasaan. Maka jangan
heran bila kekuasaan berpindah tangan, jalan cerita sejarah pun bisa
berubah menurut cara pandang penguasa baru, maupun terungkapnya fakta,
data atau kesaksian baru. Tapi di sisi lain, sejarah dapat dijadikan
sebagai pembebas bagi kegelisahan manusia atas ketidakadilan dan
ketidakpuasan yang dialami dirinya maupun masyarakat sekitarnya.

Kenapa sejarah di Indonesia selalu diwarnai pertumpahan darah dan
perpecahan ? Kenapa tidak ada upaya dari sejarawan untuk meluruskan
sejarah ? Apa ada kriteria tertentu untuk menentukan objektifitas
sejarah? Apakah sejarah perlu dilegalizir? Apakah riwayat Supersemar
1966 seperti yang diberitakan selama ini ? Kenapa Kartini dianggap
pahlawan wanita nasional ? Kenapa ingatan bangsa Indonesia sedemikian
pendek sehingga sejarah yang berumur 500 tahun lalu pun sudah
terlupakan?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dalam Forum diskusi bulanan
kebangsaan yang diselenggarakan oleh National Integration Movement
(NIM) di One Earth, Ciawi pada tanggal 2 juli 2005, dengan
menghadirkan Dr. Asvi Warman Adam – penulis dan peneliti sejarah
LIPI
dan Ibu Mona Lohanda – peneliti di Arsip Nasional dan pengajar
jurusan
sejarah UI, serta Wandy N Tuturoong, seperti biasa, sebagai moderator.

Dr. Asvi memulai bercerita tentang kebijakan Mendikbud baru-baru ini
untuk mengganti kurikulum sejarah 2004 yang lebih maju, obyektif dan
demokratis dengan kurikulum sejarah 1994 peninggalan rezim orde baru.
Keputusan mendikbud ini diambil setelah DPR didatangi oleh penyair
Taufiq Ismail, Jusuf Hasyim dan Fadli Zon, mempertanyakan kenapa dalam
kurikulum 2004 tidak dibahas pemberontakan PKI 1948 dan 1965, serta
hilangnya kata `PKI' dari G30S/1965.

Menurut Dr. Asvi, kurikulum 2004 lebih baik dari kurikulum 1994 karena
lebih terperinci dalam konteks yang lebih komprehensif ketika membahas
pemberontakan dan upaya memadamkannya dari perspektif yang lebih luas
seperti pergolakan pusat dengan daerah, dampak sosial politk dari
peristiwa `pemberontakan' tsb dan persaingan ideologis
antar lembaga-lembaga dalam negara. Sedangkan kurikulum 1994, lebih
menekankan pada rekor kemenangan ABRI dalam memberantas
gerakan-gerakan separatis di daerah Indonesia dan terlalu luas cakupan
pengetahuannya tapi tidak relevan bagi Indonesia sehingga memberatkan
guru dan juga murid.

Dr. Asvi membenarkan bahwa pada masa orde baru, sejarah sering dipakai
sebagai alat manipulasi dan penindas bagi segelintir orang dan
keluarganya, yang dianggap terlibat dengan gerakan PKI atau gerakan
kiri. Anggota keluarga yang punya sejarah terkait PKI, biasanya
dipersulit dalam berusaha maupun dalam berkarir pada profesi tertentu,
sehingga banyak orang yang menderita puluhan tahun karena mereka tidak
bisa jujur dalam mengungkapkan jati diri maupun keluarga mereka yang
sebenarnya, seperti yang dialami oleh peragawati terkenal Okky
Asokawati.

Mengenai Peristiwa Supersemar, Dr Asvi mengungkapkan bahwa peristiwa
ini bukanlah tindakan spontan dari 3 jendral seperti yang kita ketahui
dari sejarah `resmi'. Ada peristiwa pendahuluan yang terjadi tanggal 6
Maret 1966, di mana 2 pengusaha yang dekat dengan Bung Karno (salah
satunya Hasyim Ning) dikirim oleh Jendral Alamsyah ke Istana Bogor
yang kala itu dijaga ketat, baik oleh pasukan Cakrabirawa yang setia
pada presiden Soekarno maupun oleh pasukan Kostrad di bawah pimpinan
Jendral Soeharto. Misi 6 Maret ini dimaksudkan untuk membujuk Soekarno
untuk memberikan kuasa pemerintahan sehari-hari kepada Jendral
Soeharto. Tapi misi ini gagal, sehingga diambil tindakan lebih keras
dengan mengirim 3 jendral, yang kita kenal sekarang sebagai peristiwa
Surat Perintah Sebelas Maret.

Beliau menegaskan bahwa bila sejarah diungkapkan bukan untuk tujuan
menyebarkan dendam atau kebencian maupun membuka luka lama, maka
sejarah bisa menjadi semacam terapi atau pelajaran bagi manusia untuk
tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan di masa lampau. Bila
hal ini terjadi, sejarah bisa menjadi sebagai pembebas bagi manusia.

Sebagai pembicara ke-2, Ibu Mona berpendapat bahwa sejarah sebagai
ilmu yang paling mudah dan mempunyai 2 sisi. Di satu sisi, merupakan
suatu disiplin akademis. Di sisi lain, siapapun bisa menulis riwayat
hidup dirinya. Itu pun sejarah.

Ibu Mona, yang biasanya bekerja di `belakang layar' mengakui bahwa
sejarah itu dengan mudah `ditulis ulang' demi kepentingan penguasa.
Beliau menyebut hal itu sebagai sejarah pesanan, dan mengakui bahwa
banyak sejarawan yang menerima `pesanan' seperti ini untuk memperkaya
diri.

Penafsiran dan analisa akan sejarah pun tidak mudah bila pengetahuan
dan pemahaman kita mengenai hal itu minim. Misalnya : Pahlawan
Nasional. Selama ini paradigma Pahlawan Nasional adalah siapa pun yang
melawan penjajah, tanpa dilihat motivasi sebenarnya.

Sultan Hasanudin dianggap pahlwan nasional karena melawan Belanda.
Tapi sedikit yang tahu bahwa Sultan Hasanudin adalah raja yang
ekspansionis dan sangat kejam dalam menaklukkan daerah-daerah
sekitarnya, termasuk bone yang ketika itu dikuasai oleh Arumpalaka.
Dalam rangka membendung ekspansi Sultan Hasanudin, Arumpalaka
`terpaksa' bersekutu dengan Belanda. Maka dikenallah tokoh Arumpalaka
sebagai pengkhianat bangsa sebagaimana tertulis dalam sejarah
Indonesia. Padahal, setelah menang melawan Hasanudin, Arumpalaka malah
balik menentang Belanda.

Demikian yang terjadi dengan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram.
Sultan Agung yang ekspansionis, menganggap Kerajaan Banten sebagai
saingan jalur perdagangan dan kekuasaan bagi Mataram. Maka Sultan
Agung mengajak Portugis untuk memerangi Banten. Ketika ditolak, maka
Portugis malah diusir oleh Sultan Agung dari Batavia. Jadi, baik
Sultan Hasanudin dan Sultan Agung sebenarnya punya motivasi
ekspansionis dan persaingan ekonomi ketika berperang melawan musuh
asing, bukan motivasi mengusir penjajahan seperti yang selama ini kita
ketahui.

Kegelisahan yang muncul pada masyarakat Indonesia disebabkan rakyat
Indonesia begitu mudah percaya sejarah dari hasil jargon politik. Maka
rakyat terkesan kehilangan karakter, tapi inilah refleksi dari
masyarakat Indonesia itu sendiri. Budaya dan tradisi
oral/lisan di dalam masyarakat Indonesia pun turut menyumbang
pendeknya ingatan sejarah bagi masyarakat.

Karena hal itulah, maka Ibu Mona berpendapat bahwa sejarah tidak boleh
dimonopoli oleh siapapun. Tiap orang berhak menulis kisah kehidupannya
sendiri, asalkan jujur. Tidak ada kebenaran mutlak dalam sejarah,
karena kebenaran adalah milik Tuhan secara ekslusif.

Demikian disimpulkan bahwa perspektif dan cara pandang diri sendiri
harus dijernihkan terlebih dahulu, sebelum dengan jujur dan berusaha
secara seimbang kita menulis sejarah berdasarkan data-data yang ada.
Inilah penutup dari Mas Wandy sebelum mempersilakan Bapak Anand
Krishna untuk memberikan satu-dua patah kata.

Bapak Anand Krishna mengungkapkan kekaguman pada tulisan-tulisan dan
pandangan Dr. Asvi di media massa. Tapi hari ini, kekaguman beliau
bertambah ketika mendengarkan uraian Ibu Mona Lohanda.

Beliau setuju bahwa cara memandang sejarah bisa berbeda antara satu
orang dengan orang lainnya. Misalnya, `That's history ` bagi orang
Amerika berarti : `Peristiwa itu sudah berlalu dan lupakan'. Tapi bagi
orang Arab, itu berarti : `Peristiwa itu belum berakhir dan tidak
boleh dilupakan'. Persepsi yang berbeda ini bisa menghasilkan
kesalahpahaman antara negara-negara Arab dan Amerika mengenai isu
teroris contohnya.

Demikian pula cara tiap negara terhadap suatu peristiwa dalam sejarah
bisa berbeda. Dalam sejarah India-Pakistan, M. Ghaznavi dikenal di
Pakistan sebagai orang yang sangat berjasa membawa agama islam, tapi
di India, orang yang sama dikenal sebagai seorang perampas. Beginilah
cara seorang manusia memandang sejarahnya, berdasarkan `vested
interest' masing-masing.

Bila, kita mencoba merekonstruksi sejarah peradaban dan agama di
Indonesia, istilah `Hindu' dan `India' tidak dikenal dalam Kitab
Negarakertagama sampai jaman Majapahit. Jadi agama apa yang `digeser'
oleh Islam ketika kerajaan Majapahit runtuh ? Al Baruni menyebut
daerah atau wilayah peradaban dari Kandhaar (Afganistan) sampai
Astraland (Australia) sebagai Hindustan, yaitu negara-negara yang
berada di balik sungai Sindhu.

Jadi sebenarnya kita berada di satu wilayah peradaban yang sama di
balik sungai Sindhu, bukan satu wilayah agama. Sehingga, tradisi,
cerita maupun kebudayaan juga merupakan satu kesatuan dengan sedikit
variasi cerita pada tiap-tiap daerah. Maka, istilah jawanisasi
sebenarnya tidak ada karena kita semua adalah satu wilayah peradaban.

Memang tidak dipungkiri bila ada rezim yang mau berkuasa, mereka pasti
memakai taktik untuk memojokan kalangan tertentu atau melemahkan lawan
politik dengan menulis kembali sejarah dengan cara pandang mereka
sendiri.

Maka seorang sejarawan hendaknya berpikiran bersih dan bebas dulu dari
sampah dan beban pikiran, baru bisa menulis sejarah dengan jujur dan
berimbang berdasarkan fakta dan data yang tersedia. Dan para peneliti
dan penulis sejarah serta siapapun diharapkan berani tampil beda,
dengan keberanian untuk tetap setia pada etika profesi mereka sendiri
di jaman seperti sekarang ini.

Dilaporakan oleh Yohanes-The Torchbearers




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke