Dari milis tetangga 
------------------------------------
Rahima
Kairo 23 Maret 05


Gejolak perasaanku begitu trenyuh, tatkala kulihat ayahku berbaring, tertidur 
pulas dicelah-celah bantal guling kepunyaan ibuku. Kupandangi wajahnya yang 
begitu sayu dan letih, bekas guratan-guratan kepenatan dan kelelahan kerja 
disiang hari.

Ayahku seorang pegawai biasa yang bergaji normal-normal saja. Karir demi karir 
dijalaninya, pergi pagi, pulang sore, bahkan sampai malam tanpa mengenal lelah.

Ayahku yang hanya tammatan SMEA itu, meniti hidup penuh dengan ketabahan, 
kesabaran dan keuletan.

Tak jarang kulihat rambutnya kusut, keningnya berkeringat penuh dengan 
butiran-butirandari bongkahan air, matanya sayu, wajahnya kering bagai bebatuan 
yang terkena sengit mentari, sepulang mencari nafkah demi sesuap nasi, mengisi 
minyak kompor agar dapur kami berasap.

Sering kutanya : " Ayah..kenapa ayah sering terlambat pulang dari kerja? ".

Ayahku menjawab : " Nak,.ayah banyak pekerjaan, kalau ayah tak kerja, bagaimana 
kita makan, bagaimana Shinta sekolah, bagaimana adik-adik dan kakak-kakak 
berpakaian sebagaimana teman-teman kalian berpakaian, bagaimana adikmu yang 
kecil bisa bermain dengan mainannya. Semua itu pakai duit, tak ada yang gratis 
sekarang, air saja bayar, rumah saja bayar pajak, masih untung nak, bernafas 
masih gratis, coba kalau bernafas saja harus bayar lagi ?".

Pagi-pagi sekali, ayahku sudah bangun, sementara kami masih terlelap dalam 
mimpi-mimpi dan bunga-bunganya tidur, dipulau kasur yang tak bertepi, tak 
berbatas, selain hanya menambah kenyeyakan mata saja.

Dan tak jarang ayahku membanguni kami agar segera bangkit dari pulau empuk itu, 
mandi, berwudhuk dan shalat, juga menyuruh kami membersihkan kasur, tak jarang 
juga beliau melipat selimut-selimut kami, karena selimut kami begitu tebalnya 
sehingga tak kuat kami mengangkatnya, hanya tangan ayah yang kuat dan tegar 
saja yang mampu melipat semua itu dengan begitu rapihnya.

Ayahku sering menjadi imam diantara kami, mengajari kami tulis baca AlQuran, 
mendidik kami menjadi anak-anak yang berakhlak baik, hidup dalam kemuliaan, 
bersikap baik sesama manusia dan binatang, juga ciptaan Allah lainnya, walaupun 
ayahku bukanlah tamatan sekolah tinggi di Al Azhar Mesir sana, namun ia bisa 
dengan fasih membaca AlQuran.

Kalau ayahku sedang sakit, biasanya ia sangat manja dengan ibuku yang dengan 
sabar melayani ayah terbaring dikasur, menyediakan teh hangat, soup sayuran, 
walau ngak pakai daging, atau ayam, maklumlah hidup seorang pegawai biasa, 
sangat sulit untuk membeli daging dan ayam yang mahal-mahal.

Makanan kami seringnya tempe, tahu, ikan asin, ikan teri kecil-kecil saja, 
namun tetap juga kami sehat, karena ayah selalu melarang kami untuk makan yang 
siap jadi(instant), atau makan dijalanan, karena ayahku bilang kurang terjamin 
kesegaran dan khasiatnya.

Ayahku memang jarang, bahkan tidak suka makan diluar, direstoran, kedai-kedai, 
sukanya makan dirumah, masakan ibuku yang sederhana, tetapi segar. Kata ayah 
masakan ibu jauh lebih nikmat dibandingkan makanan direstoran Padang itu. 
Ayahku memang pemuji ulung lagi menghargai hasil kerja ibuku.

Sebelum ayahku bekerja dikantoran, ia dulunya pernah bekerja sebagai tukang 
angkat batu bangunan. Sungguh menyedihkan, terkadang kaki ayah sampai 
luka-luka, tangannya kasar akibat berteman dengan pekerjaan kasar semacam itu. 
Badannya sedikit bungkuk akibat membawa beban berat bebatuan dipunggung dan 
pundaknya.

Ada tawaran untuk berbisnis kain,.dan baju-bajuan.

Maka sempat jugalah ayahku menjadi pedagang kaki lima di pinggiran jalan itu.

Sambil menjajakan dangangannya beliau berkata : " harga murah..harga 
murah…siapa mau beli,.akan beruntung..kain bagus,..baju bagus,.buatan 
Indonesia,.kainnya lembut, tenunannya halus ,.hanya Rp 10.000 perlembar kain ".

Duh,..datang sipenglihat-lihat dari para ibu-ibu yang rajin menawar 
dipasar,.sudah bongkar sana-sini,..tanya harga keliling jembatan,.tawar 
menawar,.nggak juga beli,.". Tinggallah ayahku menyusun kembali dan melipat 
kain yang sudah digebrak gebruk oleh ibu tadi.

Namun ia tetap tabah dan sabar,.sambil berkata terus tanpa kenal lelah, dimana 
simpanan suaranya sudah mulai serak-serak kering.

Terkadang beliau pulang dengan tangan hampa, terkadang membawa hasil yang 
lumayan. Begitulah hari demi hari dilalui ayah, sampai datanglah tawaran untuk 
menjadi pegawai biasa.

Karir ayahku dimulai dari kuli mengkopy-kopy , kemudian menanjak menjadi 
pegawai tetap yang lumayan berkedudukan, sampai akhirnya ayahku memegang 
jabatan kepala bagian disuatu instansi.

Namun begitupun ayahku tak pernah sombong, tak mau korupsi.

Kata ayahku : " Tak boleh setetes darah yang mengalir ditubuh anak-anak ayah 
akibat hasil yang subhat dan haram, tak akan berkah hidup dan ilmu anak-anak 
ayah yang tumbuh dan berkembang dari hasil yang haram, biarlah kita hidup 
sederhana, makan apa adanya, asalkan kelak diakhirat sana kita bebas dari 
tanggung jawab, pertanyaan : Darimana, kemana dikemanakan harta itu kau dapat 
dan pergunakan", itulah yang selalu disampaikan ayahku pada kami anak-anaknya.

Kini ayah sudah tua sekali, kulihat keriput diwajahnya, namun masih tetap 
nampak bersih dan bersinar. Beliau masih rajin shalat dan kemesjid, membaca 
AlQuran, walau matanya sudah mulai kabur, giginya sudah mulai gugur, rambutnya 
sudah beruban dan banyak yang rontok, ayahku tetaplah ayahku yang dulu masih 
giat bekerja, rajin beribadah, mendidik kami anak-anaknya yang sudah dewasa dan 
berumahtangga, menjaga cucu-cucunya yang terkadang lebih dari kami memanjakan 
anak-anak kami.

Ayahku seorang lelaki yang tegar, sebagaimana ibuku seorang ibu yang tangguh !




"Bangkitnya manusia karena pemikirannya"
"Kemajuan mustahil tanpa perubahan. Dan mereka yang tak bisa merubah 
pemikirannya, maka tak akan bisa merubah apa pun"
(George Bernard Shaw 1850-1950)

                
---------------------------------
 Start your day with Yahoo! - make it your home page 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke