http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/15/opini/1897058.htm

 
Rakyat Menggugat 

Oleh: YONKY KARMAN

Pleidoi Bung Karno di hadapan pengadilan kolonial Belanda berjudul Indonesia 
Menggugat (1930). Sederet tuduhan dilancarkan kepada Partai Nasional Indonesia, 
mulai dari merusak ketenteraman umum, merencanakan makar, hingga afiliasi 
dengan partai terlarang.

Dalam pidato pembelaannya, Bung Karno menjelaskan, semua tuduhan itu fitnah. 
Namun, ia juga mengingatkan pemerintah kolonial agar tidak menyengsarakan 
rakyat, membakar kemarahannya, dan mengabaikan tuntutannya. Maka, pembelaan 
yang berapi-api dan cerdas itu lahir dari rasa kecewa atas celaka dan sengsara 
rakyat.

Visi kerakyatan revolusioner

Kritik keras ditujukan kepada kapitalisme dan imperialisme internasional 
sebagai sistem yang menjerumuskan rakyat ke lembah kesengsaraan. Sistem itu 
mengisap darah rakyat, menguras kekayaan sumber daya alam negeri terjajah untuk 
membangun industri negeri imperialis, dan menjadikan negeri miskin sebagai 
pasar produk-produknya. Maka, obsesi Bung Karno adalah rakyat cepat merdeka.

Rakyat harus menjadi bangsa yang kuat menghadapi dampak ekonomi yang buruk di 
bawah bayang-bayang pecahnya Perang Pasifik. Untuk itu, rakyat harus bersatu 
dan tak termakan politik kolonialisme divide et impera. Untuk memerintah dengan 
mudah, dibuat persaingan dan iri hati di antara sesama rakyat. Namun, itu harus 
ditolak.

Bukankah kini dalam pemilihan kepala daerah juga dipakai isu pemecah belah 
rakyat? Suara pemilih diperebutkan dengan cara mengotak-ngotakkan rakyat, 
memberi iming-iming dalam bentuk materi.

Rakyat terbawa emosi dan membentuk diri menjadi massa pendukung fanatik salah 
satu kandidat. Namun, setelah menjabat, penguasa jauh lebih berutang kepada 
pemodal kampanye daripada kepada rakyat.

Dalam visi Bung Karno, jika rakyat mampu bersatu mencapai kemerdekaan, 
persatuan akan menjadi modal sosial yang besar untuk memerangi kemiskinan, 
kebodohan, dan perasaan minder kaum Bumi Putra (inlander) berhadapan dengan 
orang kulit putih. Pemerintah kolonial secara sistematis membiarkan rakyat 
terjajah tetap miskin dan bodoh agar mudah dikuasai. Rakyat mundur secara 
sosial ekonomi dan akal budi.

Persis, kemunduran itu sedang terjadi. Bedanya, kini rakyat dibuat sengsara 
oleh elite politik bangsa sendiri yang memperkaya diri lewat jabatan publik 
yang diemban. Hati elite politik kini buta tuli. Hari Minggu (3/7) lalu, 
200.000 pengunjuk rasa dari negara-negara maju di Barat berpegangan tangan 
membentuk rantai manusia di kota Edinburgh, Skotlandia, menyerukan penghapusan 
kemiskinan.

Namun, DPR yang kerjanya belum genap setahun sudah merencanakan sendiri secara 
drastis kenaikan tunjangan anggota dan pimpinan. Mereka ingin tampil lebih 
berdaya di mata eksekutif, tetapi bukan di mata rakyat.

Demikianlah, realitas pahit di Tanah Air. Usai pemilu, usai pula bulan madu 
para petualang politik dengan rakyat. Rakyat ditinggal dalam kebisuan, terpuruk 
dalam kemiskinan. Elite politik pergi tanpa visi kerakyatan yang revolusioner.

Bung Karno menjelaskan, asas pergerakan PNI bersifat revolusioner untuk 
mendatangkan aneka perubahan dengan lekas (omvorming in utal snel tempo), 
dengan cara-cara perjuangan yang tertib, aman, teratur, dan mencerdaskan. 
Tujuan menjadi bangsa merdeka adalah perbaikan nasib rakyat segera 
(hervormingsbeweging tegelijk). Untuk itu, kesadaran rakyat harus dibangunkan 
untuk menggalang daya reformasi sosial yang dahsyat.

Manajer krisis

Setelah 60 tahun merdeka, perbaikan nasib rakyat tak kunjung tiba. Pembangunan 
fisik tampak mencolok, tetapi Indonesia belum mampu keluar dari lilitan problem 
kemiskinan.

Memang perbaikan nasib rakyat tak semudah membalik telapak tangan. Namun, pasti 
ada yang salah ketika pemerintah dan wakil rakyat di negeri kaya tak berhasil 
membebaskan rakyat dari penjara kemiskinan.

Kekayaan sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan. Pejabat kian kaya karena 
memproyekkan kemiskinan.

Menurut standar Badan Pusat Statistik, penghasilan sekitar 36 juta penduduk 
miskin Rp 60.000- Rp 70.000. Namun, menurut standar Bank Dunia, sekitar 60 juta 
penduduk berpenghasilan di bawah dua dollar Amerika Serikat per hari. Padahal, 
pendapatan satu dua juta rupiah kini nyaris tak mampu mencukupi kebutuhan hidup 
keluarga.

Dalam jangka pendek, kemiskinan berdampak terhadap maraknya kejadian demam 
berdarah, polio, busung lapar, muntaber. Program Keluarga Berencana sempat 
mandek bertahun- tahun sehingga jumlah anak dalam keluarga miskin meningkat. 
Barisan penganggur bertambah panjang karena investor yang bergerak di sektor 
padat karya lambat masuk ke Indonesia.

Krisis BBM melanda seluruh negeri. Cadangan devisa pemerintah berkurang untuk 
membiayai impor BBM yang harganya melambung. Sarana transportasi massal buruk 
dan rawan kecelakaan. Nyawa manusia tetap murah, sementara harga-harga 
kebutuhan pokok semakin mahal.

Dalam jangka panjang, kemiskinan membuat generasi anak sekolah tak memiliki 
biaya untuk menempuh pendidikan dasar. Banyak anak putus sekolah dan tak mampu 
bersekolah. Di Jakarta, seorang siswi SMP negeri dengan susah payah lulus, 
tetapi tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikut. Ia tak dapat menebus 
ijazah karena tunggakannya di sekolah belum lunas.

Miskin pendapatan, miskin kesehatan, dan miskin pendidikan. Itulah potret 
sempurna kemiskinan di Indonesia, dari daerah hingga Ibu Kota, tak bisa 
disembunyikan di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi dan statistik.

Dalam soal kualitas SDM, Indonesia kini ada di urutan ke-117 dari 177 negara 
(versi UNDP). Indonesia sedang berjalan mundur. Krisis ekonomi dan sosial di 
depan mata. Pemiskinan mengganas dan terus menelan korban.

Dibutuhkan langkah-langkah darurat dan radikal untuk mencegah jatuhnya korban 
rakyat kecil yang lebih banyak. Dibutuhkan ketegasan dan keberanian politik 
seorang pemimpin untuk membalikkan kemunduran bangsa. Rakyat menggugat.

YONKY KARMAN Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Cipanas


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke