Jum'at, 15 Juli 2005 MEDIA INDONESIA
Lomba Pemborosan DPR dan Eksekutif PARA wakil rakyat di parlemen rupanya cuma mengenal satu hal dalam soal anggaran. Bagi mereka, bicara anggaran artinya bicara pertambahan. Maka, meskipun situasi negeri dilanda krisis bahan bakar minyak dan penyakit busung lapar, anggota Dewan sibuk dengan usulan kenaikan anggaran untuk menambah isi pundi-pundi. Mereka menohok uang negara untuk anggaran tahun depan demi mengongkosi kegemaran jalan-jalan ke luar negeri yang dibungkus dengan judul bagus: studi banding. Anggarannya meloncat dari Rp14 miliar tahun ini menjadi Rp32 miliar tahun depan. Ketika terpojok pers, sejumlah anggota Dewan bereaksi dengan argumen konyol. Menurut mereka, kalau berbicara pemborosan, eksekutif jauh lebih boros. Nah, kalau anggota dua lembaga ini, eksekutif dan legislatif, bersaing untuk menyamai pemborosan yang dilakukan salah satu pihak, alangkah sedihnya nasib bangsa kita. Orang lebih melihat mengapa yang itu boleh, kok saya dilarang. Berbagai bentuk pelanggaran yang marak dalam masyarakat kita, salah satunya berpangkal dari mindset yang diajarkan para elite bangsa. Seseorang yang ditangkap karena mencuri uang negara berargumen di depan polisi maupun jaksa serta hakim, "Mengapa saya dijadikan tersangka, sedangkan yang lain tidak? Mengapa dia boleh mencuri, kok saya tidak boleh?" Para pembela, termasuk hakim dan jaksa serta polisi, tunduk pada argumen kekanak-kanakan itu. Kini, anggota Dewan pun ikut-ikutan menyosialisasikan pikiran sesat ini. Anggota Dewan yang kompeten, dedikatif, dan mengikuti perkembangan zaman amat diperlukan bagi bangsa ini. Mereka tidak boleh menjadi orang-orang yang terkurung di gedung Dewan tanpa melihat dan mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia yang lain. Akan tetapi, anggota Dewan adalah refleksi dari keinginan dan nurani rakyat. Tidak boleh terjadi ketika rakyat sedang menangis dililit krisis, anggota DPR justru tergila-gila jalan ke luar negeri dan menggelembungkan isi pundi-pundinya. Bila sekarang kebutuhan meningkatkan kemampuan legal drafting sangat mendesak, bisa ditempuh dengan cara yang lebih murah. Misalnya, mengirim seorang pakar ke negara tujuan lalu mewajibkan dia memberi pengajaran kepada anggota badan legislasi setelah kembali. Penghematan tidak hanya kebutuhan hari ini ketika harga minyak melampaui US$60 per barel. Untuk seterusnya, bangsa ini harus menghemat secara luar biasa karena sedang terjadi proses pemiskinan yang mengerikan oleh harga minyak dunia. Dengan harga sekarang, ditambah kenaikan konsumsi BBM di dalam negeri sebesar 10%, subsidi BBM mencapai Rp150 triliun. Dengan subsidi sebesar itu rakyat sudah sangat miskin, apalagi kalau pemerintah menghapus subsidi dengan menaikkan harga BBM. Bila ini yang terjadi, dapat dibayangkan penderitaan kita sebagai bangsa. Ancaman ini seharusnya membuat para anggota DPR lebih waras untuk memelopori gerakan penghematan [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

