JURNAL KEMBANG KEMUNING:
SEKALI LAGI TENTANG PERTEMUAN SASTRAWAN BORNEO-KALIMANTAN KE-VIII DI SANDAKAN, SABAH. [2] Masih ada titik-titik penting dari pendapat Bang Maily yang ingin saya komentari. Apakah itu? Bang Maily menulis: "Saya kira kenyataan berbual kosong tidak tepat. meski kosong ada kebaikannya kerana membina budaya bukan seperti membina jambatan atau jalanraya/ia berkembang secara evolusi yang mungkin saja 10, 100 atau seribu tahu baru bisa dilihat perkembangannya pak". Kalimat ini sangat konyol, Bang . Konyol karena menentang logikanya sendiri. Di satu pihak mengatakan "berbual kosong tidak tepat" tapi di lain pihak menyatakan "meski kosong ada kebaikannya". Saya jadi bingung memahami pernyataan berlagak filosofis begini tapi hampa isi. Apa dan yang mana yang bisa dipegang dari pernyataan yang menegasi diri sendiri begini? Apa kebaikan dari "kosong", Bang? Barangkali saya masih harus belajar bahasa Melayu dan bahasa Indonesia untuk memahami pernyataan Abang. Sejauh pemahaman saya, "kosong" itu tak ada yang patut dihargai. Tapi abang menyebutnya "ada kebaikannya". Tolong katakan kepada saya apa gerangan kebaikan dari "kekosongan". Apakah kekosongan yang Abang maksudkan sama dengan "kosong" dalam konsep Budhisme atau konsp-konsep filosofis lainnya? Ataukah ini ucapan dan ungkapan dari sikap "yak- yak o" jika menggunakan ungkapan Jawa, "jual koyo" jika menggunakan istilah orang Kalimantan. Penjual koyo memang banyak ngoceh, tapi kosong isinya, salah satu bentuk budaya memang. Budaya kehampaan dan kekosongan yang tak bisa jadi pegangan. Malangnya di Indonesia banyak sekali "penjual koyo", saya tidak tahu apakah di Sandakan banyak "penjual koyo". Membina sastra-seni di pulau raya Kalimantan/Borneo ini , saya tidak yakin bahwa kita memerlukan "penjual koyo". Mengenai masalah pembinaan kebudayaan, Bang Maily menggatakan: "[...] membina budaya bukan seperti membina jambatan atau jalanraya/ia berkembang secara evolusi yang mungkin saja 10, 100 atau seribu tahun baru bisa dilihat perkembangannya pak". Terhadap hal ini , saya ingin membandingkan pendapat Bang Maily dengan pendapat seorang penyair dan pemikir Asia yang mengatakan: "rebut waktu pagi senja seribu tahun terlalu lama". Ini adalah mimpi. Secara kenyataan bagaimana? Saya ingin mengambil contoh apa yang dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Prancis, Jack Lang ketika merintis Pesta Musik [Fête de la Musique] bertingkat nasional untuk menggalakkan kehidupan musik pop Perancis, tidak memerlukan waktu 10 tahun, 100 atau seribu tahun, sekarang sudah bisa dilihat hasilnya. Masalah kunci bagi keberhasilan Jack Lang adalah wawasan dan orientasi yang tanggap dan aspiratif sehingga disambut oleh seluruh lapisan masyarakat Perancis. Tak sampai sepuluh tahun, dengan wawasan dan orientasi yang tanggap dan aspiratif, Fête de la Musique, sejak tahun kedua ide itu dicetuskan sudah menjadi tradisi nasional. Dengan menggunakan acuan ini, pertanyaannya sekarang bagaimana kita membina sastra-seni di pulau raya Kalimantan/Borneo jika sungguh-sungguh berkeinginan ke jurusan ini? Pengalaman di lapangan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kalimantan, tidak memerlukan waktu ratusan tahun atau seribu tahun. Di sinilah perlunya kukira, pertemuan sastrawan-seniman antar Kalimantan/Borneo patut dan layak mengikutsertakan para aktor utama kebudayaan di lapangan dan tidak sebatas pejabat serta penghuni menara gading atau orang asing dari kehidupan nyata tapi dengan latah mengatasnamai Borneo/Kalimantan.Hal inilah yang saya garisbawahi menyongsong penyelenggaraan Temu Sastrawan antar Borneo/Kalimantan selanjutnya, pertemuan yang sangat berharga. Apakah usulan ini masuk akal atau tidak? Tapi ia saya lontarkan dengan harapan mudah-mudahan bisa direnungkan tanpa emosi. Jika pendapat begini saja dipandang sebagai hujatan, artinya kita masih bocah yang sudah berusia.Pendapat-pendapat ini saya ajukan karena saya sebagai putera Kalimantan, merasa berkepentingan dengan hal-ikhwal yang menyangkut pulau raya ini. [Bersambung....] LAMPIRAN: 1. Dari Dialog Borneo-Kalimantan VIII di Sandakan, Sabah Malaysia Kalah dari Semenanjung, Ajak Sastrawan Sulawesi dan Mindanau. Dialog Borneo-Kalimantan merupakan suatu forum kajian sastra dan budaya di mana para pesertanya berasal dari pulau Borneo (Kalimantan) seperti Sabah, Sarawak, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Tujuan pertemuan tersebut adalah membahas perkembangan bahasa, sastra,dan budaya di Kalimantan. ***** FORUM yang dilaksanakan tanggal 2 hingga 5 Juli lalu,adalah forum antarbangsa yang diharapkan dapat mencetuskan dan merealisasikan agenda pembangunan bahasa, sastra, dan budaya di wilayah masing-masing.Juga menjalin kerjasama kebahasaan, kesusastraan, dan kebudayaan serumpun tiga negara yaitu Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Bertempat di Hotel Sabah, pertemuan ini mengambil tema 'Persuratan Melayu Menjana Pembinaan Bangsa'. Dari Indonesia diwakili lima delegasi. Diantaranya Yudhiswara (Kalbar), Aminudin Rifai yang lebih dikenal dengan Amien Wangsitalaja (Kaltim), Drs Muhammad Mugeni (Kalsel), Drs Rusman Namsurie (Kalteng), dan Safrulah Sanre (Sulawesi). Adanya delegasi dari Sulawesi ini, menurut Aminudin karena forum ini ke depan akan memperluas cakupannya hingga ke Mindanau Filipina dan bagian timur Indonesia. "Hal ini juga dilatarbelakangi bahawa sastra di daerah tersebut masih lemah. Sehingga perlu untuk dibangkitkan. Lagi pula daerah Mindanau juga menggunakan bahasa Melayu. Selain itu juga untuk meramaikan forum kajian sastra dan budaya tersebut," kata Aminudin kepada Kaltim Post. Lebih lanjut pria yang akrab disapa Amin ini menuturkan, ketika membicarakan perkembangan sastra di daerah masing-masing, banyak peserta mengaku merasa termarjinalkan. Seperti delegasi dari Sabah dan Sarawak yang mengeluhkan perkembangan sastra di daerah mereka yang tidak semaju daerah Semenanjung (Malaysia wilayah barat). Hal itu diperparah orang-orang Semenanjung yang menganggap remeh karya sastra dari kawasan Sarawak dan Sabah. "Kalau di Kalimantan, perbandingannya dengan Jawa dan Sumatra. Memang sastra di Kalimantan terpinggirkan atau belum semaju Jawa atau Sumatra. Walapun untuk wilayah Kalimantan, Kalsel bisa dibilang paling maju perkembangan sastranya. Oleh karena itu, pada dialog tersebut diusulkan adanya penghargaan sastra khusus untuk sastrawan Borneo - Kalimantan," tuturnya. Selain berencana memberikan penghargaan bagi sastrawan Borneo - Kalimantan, forum ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi. Diantaranya adalah memperluas cakupan keanggotaannya dengan mengajak sastrawan Filipina bagian selatan dan Indonesia bagian timur yang nantinya dinamakan Dialog Timur. Mengadakan seminar tentang Syair Melayu dalam ruang lingkup Borneo - Kalimantan. Membuat website tentang sejarah perkembangan sastra melayu, baik dalam bahasa melayu maupun dalam bahasa asing. Mengadakan pertukaran penulis di wilayah Borneo - Kalimantan dengan harapan dapat meningkatkan mutu karya masing-masing daerah. Sementara itu Ketua Menteri Sabah, Datuk Musa Haji Aman seperti yang dikutip Amin, mengucapkan pertemuan antarbangsa serumpun ini merupakan wadah untuk membahas perkembangan bahasa, sastra, dan budaya di wilayah kepulauan Borneo. Selain itu juga sebagai ajang bertukar pikiran dan pengalaman dengan harapan mampu menyejajar diri dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. "Harapan saya agar Dialog Borneo - Kalimantan ke-VIII ini dapat membuka dimensi baru dalam pengekalan budaya bangsa serantau. Di samping mengeratkan lagi kerjasama yang sekian lama terjalin. Sebelum ini pun pelbagai bentuk kerjasama dalam bidang-bidang yang lain telah berhasil dan mencapai matlamatnya (tujuan) seperti kerjasama perdagangan, persempadan, dan lain-lain. Sekali lagi saya mengucapkan setinggi-tinggi penghargaan kepada semua yang terlibat dalam menjayakan kegiatan yang amat berharga ini," tutur Datuk Musa Haji Aman. (cono rispambudi utomo) *** [Sumber:Saaludin Marif, [EMAIL PROTECTED] Thursday, July 14, 2005 12:47 PM]. 2. BACA CATATAN DALAM RENCANA KOMENTAR nadin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: -----Original Message----- From: Budhisatwati KUSNI [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, July 10, 2005 10:35 AM To: dayak; [EMAIL PROTECTED]; aliemha aliemha; kOMUNITAS TERAPUNG; LEMBAGA STUDI DAYAK21; [EMAIL PROTECTED]; Ka Ida --BPost; budi banjar; ronny teguh; nadin; JPK; jaringan penulis kaltim; Ken Zuraida Hamid Subject: JURNAL KEMBANG KEMUNING: AKANKAH PERTEMUAN SASTRAWAN SE BORNEO-KALIMANTAN SELANJUTNYA MEMPUYAI ORIENTASI BARU YANG TANGGAP DAN ASPIRATIF? JURNAL KEMBANG KEMUNING: AKANKAH PERTEMUAN SASTRAWAN SE BORNEO-KALIMANTAN SELANJUTNYA MEMPUYAI ORIENTASI BARU YANG TANGGAP DAN ASPIRATIF? Pertemuan sastrawan Borneo-Kalimantan ke-VIII yang berlangsung pada 2-5 Juli lalu di Sandakan, Sabah, Malaysia, mestinya sekarang sudah berakhir. Sayangnya informasi lebih jauh tentang hasil-hasil dan keputusan-keputusan yang ditelorkan oleh Pertemuan itu sampai sekarang masih saja tidak didapatkan, juga oleh publik di lingkungan sastrawan di Kalimantan. Apakah ini suatu kekurangpahaman pihak penyelenggara akan makna sosialisasi hasil-hasil pertemuan yang menggunakan label "sastrawan Borneo-Kalimantan" Bang Maily bersetuju pandangan sobat/sepatutnya sudah ada keputusan/resolusi di akhir dialog/tapi kalau adapun resolusi itu merupakan satu hal yang kita tunggu, tetapi akankah resolusi itu bakal dibincang dan dijadikan kenyataan atau resolusi kok tinggal resolusi melulu kerana kita kita ini suka ngomong2 aja dan kurang bertindak untuk maksud merealisasikan apa yang diputuskan"ataukah kembali membuktikan sikap elitis pertemuan yang tidak menyandarkan diri pada sastrawan-seniman dan komunitas-komunitas sastra-seni daerah-daerah yang di atasnamainya? Ataukah kedua-duanya? Apa pun alasan sebenarnya, kukira, pertemuan Sandakan itu dalam kenyataannya merupakan pertemuan para pejabat pemerintah di bidang kebudayaan dengan mengatasnamai sastrawan-seniman dan Borneo-Kalimantan. KIRAAN sobat tidak benar/mungkin hanya sedikit sahaja. Misalnya tidak ada seorangpun wakil dari Kementerian Kebudayaan Negeri dan persekutuan termasuklah lembaga Kebudayaan. Padahal kehadiran mereka amat penting sangat kerana berkaitan hal budaya yang maksudnya langsung ke sastera/Bahasa. Lain kali DBP/Penganjur harus memaksa mereka menghantar wakil/Kalau tidak lebih baik saja jabatan yang berkenaan di tutp kerana membazir wang rakyat melulu. sampaikan salam saya kepada mereka.Apa pun juga alasan sebenarnya, dan pilihan yang diajak serta oleh panitya, kukira tetap menunjukkan suatu orientasi atau politik kebudayaan elitis dan ekslusif serta mengawang tidak membumi dari Pertemuan Sandakan. Terkesan padaku, dengan orientasi begini, penanggungjawab Pertemuan Sandakan merasa diri sebagai baron-baron kebudayaan, sebagai "pangkalima-pangkalima " jika menggunakan istilah orang Dayak Katingan, Kalteng. Pangkalima tanpa bala. Apakah "pangkalima-pangkalima" sastra tanpa bala ini, kecuali bersandar pada kemampuan uang, mempunyai keperkasaan "memungkas gunung", "menimba tasik atau laut" seperti yang dilukiskan oleh legenda Oloh Dayak Katingan? Jawabannya sudah dijawab dengan orientasi dan sunyinya gema Pertemuan Sandakan di Kalimantan kecuali di segelintir hadirin yang adalah pejabat budaya yang jauh dari bumi nyata. Barangkali pertemuan begini kelak selanjutnya tidak lagi menggunakan label "sastrawan Borneo-Kalimantan" tapi "pertemuan antar pejabat" (Sebaiknya stop ngomong begini kerana momongan itu tidak berpijak di bumi tanya tanpa menelitian sebenarnya dan omongan begini tidak lebih dan kurang hanya ikuti perasaan/kritikan main hentam keromo)budaya karena aktor nyata dan berjasa sudah diabaikan. Kalau evaluasiku keliru, aku menagih panitya menyebarluaskan hasil pertemuan, paling tidak ke seluruh Borneo dan Kalimantan. Rahasia negarakah? Amboi, amboi tuan-tuan yang terhormat. Mana pula ada hubungan kerja sastrawan dengan rahasia negara? Apakah aku berhak menagihnya? Ya! Karena aku termasuk orang Kalimantan dan tidak seorang pun bisa menegasi asal kelahiranku yang telah digunakan oleh Pertemuan Sandakan. Dari informasi-informasi yang kemudian kudapatkan ternyata yang hadir dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat adalah pejabat-pejabat juga, dan dari Kalimantan Tengah atau Selatan tidak kudapatkan berita bahwa komunitas-komunitas sastra-seni , aktor-aktor sastra-seni daerah-daerah trebut telah turut menyemaraki Pertemuan Sandakan(sebenarnya sang aktor2 itu juga yang terdiri dari sasterawan/pekerja sastera/jadi tidak hairan kalau mereka itu berbicara soal teater lagi pula kala itu ada dua kerta teater dibentang/maka sambutan tentu saja bagus dan kebetulan saya mempengerusikannya yang menjadikan dia panas dan dalam panas itu saya masih bertanya kenapa saja ony ketawa hampir terbahak-bahak yang entah apa saja bisa menyebabkan ia ketewa melulu). Institut Dayakologi Pontianak [ID], sebuah lembaga berwibawa dalam masalah kebudayaan di Kalbar yang berkegiatan sudah berdasawarsa dan sudah melakukan usaha-usaha pemberdayaan serta sumbangan nyata dalam bidang kebudayaan, sama sekali tidak diundang. Karena merasa mempunyai tanggungjawab atas kehidupan kebudayaan di pulau raya Kalimantan/Borneo, majalah Kalimantan Review, organ ID, secara berprakarsa mengirimkan wartawannya. ID sendiri sebagai sebuah lembaga sama sekali tidak digubris, demikian juga Komunitas Terapung, Lembaga Penelitian Dayak21 di Palangka Raya, Kalteng, apalagi Komunitas Meratus di Kalsel. Aku menaruh perhatian pada pertemuan antar Borneo-Kalimantan karena inti prakarsa demikian kukira penting , lebih-lebih jika dilihat dari perspektif pulau. Melalui pertemuan-pertemuan demikian sebenarnya kita bisa sejak dini, sejak hari ini merancangkan dasar kerjasama antar negara yang terdapat di pulau , dasar dari suatu haridepan yang bukan hanya menjadi urusan pejabat yang sering buta aksara dalam bidang budaya. Dari segi ini, kukira sifat eksklusif baronisme dan "anak raja"isme jika menggunakan istilah penyair Perancis, Paul Elouard, tidak akan pernah tanggap dan aspiratif. Yang kuharapkan dalam pertemuan berikut, penyelenggara mempertimbangkan aktor-aktor budaya di lapangan. Mengangkat dan membahas masalah nyata kehidupan sastra-seni di bumi nyata pulau, bukan rekaan akademik dan imajiner atau bahkan sama sekali menjauhkan atau membiarkannya bagai sabut hanyut di sungai. Tidak memperhatikan aktor sastra-seni berwibawa di lapangan dan menjadikan permasalahan nyata sebagai sabut atau busa [buré-- bahasa Dayak Katingan] , hanya menjadikan pertemuan sebagai tempat "berbual-bual kosong"Saya kira kenyataan berbual kosong tidak tepat. meski kosong ada kebaikannya kerana membina budaya bukan seperti membina jambatan atau jalanraya/ia berkembang secara evolusi yang mungkin saja 10, 100 atau seribu tahu baru bisa dilihat perkembangannya pak, bertamasya dengan beaya negara yang dipungut dari pajak atas rakyat. Kalau ulah begini dipandang sebagai kesalahan, tentu saja kesalahan yang dilakukan sampai delapan kali pertemuan, masih bisa dikoreksi pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Tapi terjadi memang bahwa keledai tersandung di batu yang sama. Apakah manusia sejenis keledai?" Kalau saja anda peserta/mungkin ada juga keledai"Barangkali ada memang jenis manusia keledai dan malangnya menjadi pengurus resmi soal-soal kebudayaan. Kukira Borneo-Kalimantan dan haridepannya tidak memerlukan manusia jenis ini. Entah kalau ada yang berpendapat lain. Betapa pun aku masih menaruh harapan bahwa pertemuan berikut akan dilaksanakan dengan orientasi baru.*** Paris, Juli 2005. JJ.KUSNI [Sumber: BANG MAILY To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, July 12, 2005 2:19 AM Subject: Re: [KEMSAS] FW: JURNAL KEMBANG KEMUNING: AKANKAH PERTEMUAN SASTRAWAN SE BORNEO-KALIMANTAN SELANJUTNYA MEMPUYAI ORIENTASI BARU YANG TANGGAP DAN ASPIRATIF?] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

