http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/7/19/o4.htm

Untuk Apa Dendam?



MARAH tidak sama dengan dendam dan benci. Marah yang dilatarbelakangi oleh rasa 
sayang beda dengan marah yang disebabkan oleh benci dan dendam. Dalam 
Wrehaspati Tattwa ada disebutkan istilah klesa yaitu lima hal yang mengotori 
pikiran manusia. Kata klesa dalam bahasa Sansekerta artinya kotor atau cemar. 
Klesa itu ada lima yaitu awidya kegelapan hati, asmita egois, raga amat 
bernafsu, abhinivesa ketakutan, dwesa dendam atau benci. Kalau lima klesa itu 
menguasai pikiran ia akan menjadi sumber perbuatan yang mengotori dan mencemari 
diri manusia dan masyarakat.

Demikian juga halnya dengan dwesa yaitu dendam salah satu dari lima klesa yang 
dapat mengotori diri seseorang dan masyarakat. Kalau dwesa itu menguasai 
pikiran seseorang sedikit saja ada suasana yang memicunya maka akan muncul 
sifat dendamnya. Kalau ia memiliki kekuatan fisik sangat mungkin kekuatan 
fisiknya itu akan digunakan untuk melampiaskan dendamnya. Kalau ia punya uang 
ia bisa menyewa orang untuk mewujudkan rasa dendamnya. Yang paling berat kalau 
orang pendendam itu adalah seorang pejabat yang memiliki kekuasaan yang cukup 
luas dan sangat menentukan nasib orang banyak. Dampak dendam orang yang 
memiliki jabatan dan kekuasaan yang menentukan nasib orang banyak itu tentunya 
akan berakibat sangat luas. 

Orang yang menjadi korban akan lebih banyak juga. Demikian juga para pemimpin 
yang berkiprah di bidang politik. Kalau mereka mengidap penyakit dendam akan 
membahayakan dinamika perpolitikan bangsa. Politik yang harus digerakkan 
berdasarkan kesucian hati nurani akhirnya digerakkan berdasarkan dendam. Hal 
inilah yang memunculkan gerakan politik balas dendam. Yang korban tentunya 
rakyat banyak dan citra politik sampai dinyatakan politik balas dendam. Yang 
korban tentunya rakyat banyak dan citra politik sampai dinyatakan politik itu 
kotor. Padahal hakikat politik itu suci untuk mengabdi guna meningkatkan harkat 
dan martabat rakyat banyak. 

Kalajengking dendam ini bisa menyelinap di hati siapa saja. Karena itu para 
pejabat publik hendaknya dalam periode tertentu dites secara kejiwaan dan 
kebijakannya menyangkut dendam ini. Karena adanya sementara oknum pejabat yang 
pendendam itu sudah banyak menimbulkan berbagai kebijakan yang tidak adil. 
Kalau mereka yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil itu tidak kuat 
mentalnya tentunya akan berusaha memendam dendam itu untuk sementara. Suatu 
saat kalau ada kesempatan yang dianggap tepat mereka pun akan membalas dendam 
dengan dendam juga. Kalau orang itu tergolong pemimpin tentunya dampaknya akan 
meluas pada masyarakat masing-masing pendukungnya. 

Pemimpin yang mengidap sifat dendam akan sangat tidak suka pada kritik atas 
kebijakannya yang menyangkut kehidupan publik. Padahal dalam ilmu manajemen 
fungsi kontrol salah satu dari lima fungsi manajemen. Apalagi menyangkut 
kebijakan publik kontrol termasuk dalam wujud kritik itu adalah sesuatu yang 
mutlak dibutuhkan untuk menyukseskan cita-cita rakyat mencapai hidup yang aman, 
adil dan sejahtera.

Pejabat yang mengidap penyakit mental yang disebut dendam itu akan mengguyur 
mereka dengan berbagai bantuan dana kalau selalu menjadi pendukung dan pembenar 
sang pejabat. Sedangkan mereka yang berani mengkritiknya akan dengan segala 
cara disingkirkan meskipun dengan mengeluarkan dana juga. Anggaran yang 
dikuasainya itu akan dijadikan kekuatan untuk melancarkan balas dendamnya. Baik 
untuk merekrut mereka yang mendukung maupun meminggirkan bahkan memusnahkan 
mereka yang mengkritik. Semuanya itu membutuhkan anggaran. Anggaran negara yang 
dikuasainya itu pun akan digerogoti dengan sangat lihai sehingga sulit dilacak 
oleh hukum.

Pemimpin yang memiliki sifat dendam itu tidak saja ada yang bercokol di jajaran 
pemerintahan, banyak juga yang bercokol di dunia politik dan bisnis maupun 
dalam dunia penegakan hukum. Masih adanya oknum-oknum yang mengidap penyakit 
dendam ini di berbagai kehidupan menjadi salah satu penyebab munculnya 
sikap-sikap masyarakat yang anarkis. Kalau mereka yang duduk di jajaran 
pemimpin publik itu bersih dari penyakit dendam maka sifat-sifat anarkis 
sementara masyarakat akan dapat lebih diredam. 

Mereka anarkis karena ada yang mereka tiru. Karena mereka tidak punya kekuasaan 
maka kekuatan massa dan kenekatanlah yang mereka jadikan modal untuk berbuat 
anarkis. Karena itu marilah hilangkan sifat dendam.




[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke