--- In [email protected], "id" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> itu fitnah atau bukan silahkan di artikan sendiri, yg jelas Sabili 
> telah membuat kita mengerti/tau soal trik2 sekelompok 
> orang/organisasi yg mau menghancurkan islam. dari pengetahuan 
> itu..dari pengalaman ini kita bisa waspada...itu aja!!  

Klo yang beginian tinggal soal kejujuran hati saja.
Logikanya kan maling gak akan (gampang) ngaku.
Klo mengacu pada Mission Impossible (MI), meskipun ada tim khusus
tapi kalau ketahuan, semua link pada pusat akan dilepas..
dan pusat tidak akan mengakui keterkaitan dengan tim tersebut. :-P

> yg bener aja dong Mas, masa Partai ngurusin yang beginian seh...

Quote:
> Langkah cepat segera dijalankan Ustadz Nuh, mantan Ketua PKS 
> Sumut yang kini menjadi anggota DPRD provinsi tersebut. Ia langsung
> mengontak seluruh kader PKS Sumut. Tak beberapa lama, ada kabar
> akhwat itu berada di Polres Siantar, setelah sebe lumnya ditemukan
> di sebuah pohon dalam kondisi terikat. Kini, di Sumut, kasus pemurtadan
> akhwat tersebut menjadi persoalan serius. Meski kasus kristenisasi ini
> sudah masuk ke kepolisian, namun sejumlah ormas Islam, seperti DDII,
> IKADI, PKS dan organisasi Islam lainnya
> terus mendesak agar Kapolda Sumut segera serius mengusut tuntas
> kasus ini.

Pantas saja PKS cepat diakui masyarakat yang anti parpol (akibat doktrin
Orba dan mengacu pada kesuksesan Golkar). Media sekelas Sabili sendiri
menulis PKS sebagai ormas. Ini disengaja atau tidak?
Yeah right, ormas tapi ikut pemilu dan jadi anggota parlemen. CMIIW..
 
> salam,
> id

Wassalam,

Irwan.K 

======
> --- In [email protected], Arriko Indrawan 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > sabili dari dulu jg begitu kok.. agak2 tendensius dan menyerang..
> > serta cenderung berupa fitnah...mending diemin, di konfrontir jg 
> percuma..
> > 
> > mestinya PKS atau MUI yg concern dan berpikir jernih dong terhadap 
> ginian..
> > 
> > kalo dari kresten yg concern wah bisa berdarah2.. kalo dari LSM yg
> > concern bisa dituduh kafir.. =p
> > 
> > percuma ngaku partai paling bersih kalo ngediemin yg kotor2 kayak 
> gini =p
> > hehehe..
> > 
> > =================
> > Date: Sun, 17 Jul 2005 10:47:05 +0200
> >    From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: Gawat Kristenisasi Incar Akhwat
> > 
> > Refleksi: Hebat juga kristenisasinya a la Sabili
> > 
> > 
> > http://www.sabili.co.id/telut-e26thXII05.htm
> > 
> > Gawat Kristenisasi Incar Akhwat
> > Dengan mengenakan busana Muslimah, kaum pemurtad yang diduga kuat 
> sebagai
> > aktivis Salibis mendatangi masjid-masjid dan tempat kumpul aktivis 
> dakwah
> > yang banyak dikunjungi Muslimah. Mereka mengincar akhwat untuk 
> dimurtadkan.
> > 
> > 
> > Jumat (24/6/2005), tengah hari. Jarum jam menunjukkan angka 10.30 
> WIB. Di
> > luar, Sang surya memancarkan cahayanya, menjalankan perintah Sang 
> Khalik:
> > menyinari bumi, ciptaan Allah Yang Maha Agung. Manusia pun terlihat
> > lalu-lalang, mengejar rezeki dunia. Padahal waktu shalat Jumat 
> segera tiba.
> > 
> > Tiba-tiba suara telepon redaksi SABILI, berdering. Setelah 
> mengangkat
> > gagang telepon, terdengar suara perempuan menjerit dan 
> ketakutan. "Tolong
> > saya pak. Saat ini saya berada di luar Jakarta. Mereka menculik 
> saya dengan
> > mobil," telepon Endah (nama samaran), singkat, dengan rasa takut, 
> kepada
> > salah seorang kru SABILI.
> > 
> > Endah adalah seorang akhwat, aktivis dakwah. Bersama teman-teman 
> sebayanya,
> > selama ini gadis berusia 23 tahun itu aktif mengikuti program 
> tahfidzul
> > Qur'an di Pesantren Yapith, Pondok Gede, Bekasi. Selain itu, ia 
> juga rutin
> > mengikuti kajian pekanan (liqo') gerakan Tarbiyah.
> > 
> > Nasib Endah sungguh ironis. Gadis yang awalnya sangat periang ini 
> sedang
> > diincar gerakan kristenisasi. Endah sedang menjadi target operasi 
> (TO)
> > gerakan pemurtadan yang terselubung. Dengan cara-cara tak terpuji, 
> mereka
> > berusaha keras memurtadkan aktivis masjid ini.
> > 
> > "Penculikan" Endah ini sudah yang kesekian kalinya. Hal itu 
> dibenarkan Yan,
> > kakak Endah. Menurut Yan, tahun 2003 lalu, Endah pernah mengalami 
> nasib
> > serupa. Mereka pernah membawa Endah ke sebuah rumah yang berada di 
> daerah
> > Tanggerang. Di sana, mereka berusaha mencuci otak Endah dengan 
> memberikan
> > doktrin-doktrin Kristen.
> > 
> > Namun usaha mereka ternyata tak terlalu berhasil. Mantan siswi 
> Ma'had Al-
> > Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan ini akhirnya berhasil meloloskan 
> diri dari
> > sekapan mereka. Dengan alasan mau kuliah ke Ma'had Al-Hikmah, Endah 
> pun
> > bisa kembali lagi ke rumah. Setelah berhasil lolos, kondisi Endah 
> ternyata
> > agak berubah. Ia sering merasa sakit kepala dan kerap tak sadarkan 
> diri.
> > Dalam keadaan tak sadar itu pula ia sering menyebut-nyebut Yesus, 
> sementara
> > lidahnya terasa berat untuk membaca Qur'an.
> > 
> > Untuk mengatasinya, Endah akhirnya melakukan terapi ruqyah 
> (dibacakan
> > ayat-ayat Qur'an dan doa, sebagaimana dicontohkan Nabi saat 
> mengusir jin
> > dari dalam tubuh manusia). Setelah tim ruqyah berhasil mengeluarkan
> > pengaruh sihir dan jin dari tubuh Endah, kondisi akhwat yang sering
> > mengajar ngaji anak-anak ini lebih mendingan dan bisa kembali 
> beraktivitas
> > seperti sediakala. "Beberapa bulan lalu kondisinya sudah bagus, tapi
> > belakangan ini kambuh lagi," kata Budi.
> > 
> > Kasus Endah bermula dari sebuah acara di Masjid Istiqlal, beberapa 
> tahun
> > lalu. Waktu itu, Endah didekati seorang perempuan berjilbab, seperti
> > pakaian seorang akhwat (pakaian jubah dengan jilbab panjang). Entah 
> mengapa
> > setelah berkenalan, tiba-tiba Endah terhanyut dan mau saja mendengar
> > omongan perempuan itu. Apalagi dalam obrolan itu, ia sering kali
> > menyinggung tentang gerakan Islam, mulai dari Tarbiyah, Salafi, 
> Jamaah
> > Tabligh hingga Hizbut Tahrir.
> > 
> > Pertemuan Endah dengan perempuan berjilbab itu ternyata berlanjut 
> sampai
> > Endah kuliah di Ma'had Al Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan. 
> Perempuan ini
> > acap kali menyatroni Endah ke Ma'had tersebut. Seperti juga
> > pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti dihipnotis, Endah tak kuasa 
> menolak
> > ajakan perempuan berjilbab itu untuk berjalan-jalan. Mereka juga 
> sering
> > kumpul dengan beberapa orang, bak sebuah halaqah, mengkaji Islam.
> > 
> > Mulanya, materi-materi yang disampaikan dalam "halaqah" itu, tidak 
> ada yang
> > bermasalah. Namun lama-kelamaan dirasakan materinya agak 
> menyimpang. Tidak
> > lagi berpandangan positif terhadap Islam, malah menjelek-jelekkan 
> harakah
> > (gerakan) satu dengan harakah lainnya. Bahkan sering kali memfitnah 
> Allah,
> > Islam dan Rasul-Nya.
> > 
> > Kasus ini pun mencapai klimaksnya saat mereka "menculik" dan 
> menyekap Endah
> > di sebuah rumah di luar Jakarta. Semalaman, seorang perempuan yang
> > mengenakan jilbab dan mengenakan kalung salib mendoktrin Endah 
> dengan
> > doktrin-doktrin Kristen. Sejak itu, Endah, yang awalnya gadis 
> periang ini,
> > kini selalu dibayangi rasa takut mendalam karena menjadi incaran 
> gerakan
> > kristenisasi.
> > 
> > Di Bekasi, beberapa waktu lalu juga terjadi kasus serupa. Linda, 
> seorang
> > akhwat berteman akrab dengan seorang perempuan Kristen yang menyebut
> > dirinya dengan "umi". Saat akhwat ini lengah, perempuan itu 
> mengambil
> > dompetnya. Dompet akhwat ini kemudian diberikan kepada suami si 
> perempuan
> > itu yang juga menyebut dirinya dengan "abi". "Abi" ini kemudian 
> memanggil
> > akhwat tersebut. Namun setelah pertemuan dengan "abi", akhwat ini 
> jadi
> > tidak karu-karuan. Kepalanya sering terasa sakit. Saat diperintah 
> suaminya,
> > akhwat ini jadi tak menurut. Ia juga tak lagi senang membaca al-
> Qur'an.
> > Selain sering menyebut-nyebut nama "umi" dan "abi", akhwat ini juga 
> sering
> > kebayang-bayang Yesus, Tuhan Kristiani.
> > 
> > Kondisi akhwat itu saat ini sudah pulih kembali. Namun perjuangan
> > memulihkannya cukup berat. Untuk menghilangkan pengaruh jin di 
> tubuh akhwat
> > itu, memakan waktu sekitar tujuh bulan. Selama itu pula keluarga Adi
> > Ambargono ini mendapat tekanan batin karena sering mendapat 
> komentar tidak
> > sedap dari masyarakat sekitar.
> > 
> > Kasus pemurtadan para akhwat ternyata tak hanya terjadi di Jakarta 
> dan
> > Bekasi, tapi juga terjadi di luar Jakarta. Beberapa waktu lalu, 
> kasus yang
> > mirip terjadi di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Seorang akhwat, 
> keponakan
> > aktivis gerakan Tarbiyah Medan diculik kelompok Kristen sampai dua 
> kali.
> > 
> > Awalnya, seorang perempuan berjilbab mendekati seorang akhwat. 
> Merasa
> > targetnya sudah percaya, kemudian ia mengajak akhwat ini minta izin 
> tidak
> > masuk sekolah untuk makan-makan dan jalan-jalan. Hal ini terus 
> berlangsung
> > selama kurang lebih tiga bulan. Bak disambar geledek di siang 
> bolong.
> > Ayahnya kaget setelah mendapat kabar bahwa anaknya sudah tiga bulan 
> tidak
> > masuk sekolah dengan alasan izin ke rumah sakit. Padahal setiap 
> hari ia
> > merasa tidak ada masalah karena anaknya selalu berpamitan untuk 
> berangkat
> > sekolah.
> > 
> > Puncaknya, Akhwat ini diculik dan dibawa kabur ke Jambi. Selama 
> dalam
> > perjalanan, mereka memasukkan dan membaptis aktivis Islam ini di 
> gereja.
> > Bahkan, karena berontak, mereka pernah memukul kepala akhwat ini 
> sampai
> > pingsan. Beruntung ia bisa kabur. Namun setelah berhasil pulang, 
> kondisinya
> > sudah tak normal. Akhwat ini sering merasa sakit kepala dan kerap 
> tak mampu
> > mengendalikan diri. Akhirnya, setelah diruqyah, kondisinya mulai 
> pulih
> > kembali.
> > Tapi kaburnya "buruan" tidak membuat para pemurtad itu patah 
> semangat.
> > Beberapa waktu kemudian, saat seisi rumah tengah tertidur lelap, 
> mereka
> > menaiki loteng dan menculik kembali akhwat tersebut. Orang tua 
> akhwat ini
> > baru tersadar setelah menerima SMS dari penculik yang 
> bunyinya: "Selamat
> > mengambil anakmu yang ada di neraka."
> > 
> > Langkah cepat segera dijalankan Ustadz Nuh, mantan Ketua PKS Sumut 
> yang
> > kini menjadi anggota DPRD provinsi tersebut. Ia langsung mengontak 
> seluruh
> > kader PKS Sumut. Tak beberapa lama, ada kabar akhwat itu berada di 
> Polres
> > Siantar, setelah sebe lumnya ditemukan di sebuah pohon dalam kondisi
> > terikat. Kini, di Sumut, kasus pemurtadan akhwat tersebut menjadi 
> persoalan
> > serius. Meski kasus kristenisasi ini sudah masuk ke kepolisian, 
> namun
> > sejumlah ormas Islam, seperti DDII, IKADI, PKS dan organisasi Islam 
> lainnya
> > terus mendesak agar Kapolda Sumut segera serius mengusut tuntas 
> kasus ini.
> > 
> > Di Bandung, Jawa Barat upaya-upaya pemurtadan para akhwat, aktivis 
> dakwah,
> > juga marak. SABILI mendapat cerita langsung dari Siti Nurjanah, SS, 
> seorang
> > murrobi (guru) dan aktivis Tarbiyah. Menurutnya, untuk mengincar 
> mangsanya,
> > khususnya para akhwat di Bandung, para misionaris dan kaum pemurtad 
> sering
> > mengenakan simbol-simbol Islam, seperti jilbab panjang dan jubah.
> > 
> > Sasaran mereka adalah akhwat yang baru mengikuti kegiatan Tarbiyah. 
> Karena
> > pemahaman para akhwat ini, baru sebatas belajar dan belum utuh benar
> > pemahaman keislamannya, sehingga besar kemungkinan masih bisa mereka
> > pengaruhi. Untuk memangsa sasaran, biasanya mereka mendatangi 
> tempat-tempat
> > yang menjadi ajang berkumpulnya orang Islam di Bandung, seperti 
> Masjid
> > Salman, Masjid Istiqomah, juga Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa 
> Barat.
> > Setelah menyusup ke tempat ramai tersebut, mereka mendekati para 
> akhwat dan
> > berusaha memengaruhi akidah mereka.
> > 
> > Sebut misalnya, cerita yang terjadi di Pusdai (Bandung) beberapa 
> waktu
> > lalu. Saat itu ditemukan seorang perempuan yang mengenakan busana 
> mirip
> > akhwat pada umumnya: berjilbab panjang dan memakai jubah. Secara tak
> > sengaja, saat di toilet seorang akhwat melihat perempuan berjilbab 
> itu
> > memakai kalung Salib. Bahkan saat diperiksa, di dalam tas perempuan
> > tersebut ditemukan Alkitab.
> > 
> > Kecurigaan itu makin terasa saat para akhwat melaksanakan ibadah 
> shalat. Di
> > saat semua orang melakukan rukun Islam kedua itu, perempuan 
> berjilbab tadi
> > tidak melakukannya. "Saya mendapat informasi ini dari aktivis 
> dakwah kampus
> > yang mengikuti kegiatan Tarbiyah," tegas Siti Nurjanah. Masih di 
> sekitar
> > Bandung, kasus pemurtadan kali ini terjadi di Universitas 
> Winayamukti
> > (Unwim) Jatinangor, Jabar. Korbannya, lagi-lagi akhwat, mahasiswi
> > Universitas Padjajaran (Unpad). Beberapa waktu lalu, ia didekati 
> seorang
> > pria yang mengaku diri sebagai perwira polisi. Sejak pertama kali
> > berkenalan, pria ini terus saja menempel akhwat itu.
> > 
> > Namun belakangan diketahui pria yang mengaku dari kesatuan polisi 
> itu
> > adalah seorang Nasrani. Merasa sudah saatnya, ia pun mengajak 
> akhwat ini
> > menikah dan pindah agama. Setelah menikah, akhwat ini tak pernah 
> mengikuti
> > kegiatan Tarbiyah lagi. Tim Forum Antisipasi Kristenisasi dan 
> Pendangkalan
> > Akidah (FITRAH) juga menceritakan kasus pemurtadan yang nyaris 
> menimpa
> > seorang akhwat, mahasiswi UPI Bandung. Kasusnya terjadi pada akhir 
> tahun
> > 2004 lalu. Mulanya, seorang akhwat diminta memberikan les privat 
> bahasa
> > kepada orang asing beragama Nasrani.
> > 
> > Lama-kelamaan keluarga itu melakukan pendekatan personal. Mereka 
> melakukan
> > pendekatan persuasif, seperti mengajak jalan-jalan bareng. Saat 
> akhwat ini
> > mengalami masalah ekonomi, mereka membantunya. Namun ujung-
> ujungnya, mereka
> > meminta akhwat ini pindah agama. Untuk menghindari hal-hal yang 
> tidak
> > diinginkan, akhirnya ia pergi dari keluarga Nasrani itu.
> > 
> > Kasus pemurtadan akhwat di Sumatera Barat tak kalah hebohnya. Kasus 
> ini
> > terjadi di kampus Politani Universitas Andalas, Payakumbuh beberapa 
> waktu
> > lalu. Sedikitnya 23 akhwat, mahasiswi Politani, kesurupan dan
> > menyebut-nyebut nama Bunda Maria, Yesus dan Salib. September 2003 
> lalu
> > kasus serupa juga menghantam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II 
> Payakumbuh.
> > Sebanyak sebelas siswi kesurupan dan menunjukkan perilaku aneh,
> > menyebut-nyebut nama Yesus, Bunda Maria, Salib dan menyatakan suka 
> dengan
> > Injil.
> > 
> > Kasus demi kasus pemurtadan yang mengincar akhwat terus menguak ke
> > permukaan. Ibarat fenomena gunung es, yang nampak dan muncul 
> hanyalah
> > sebagian kecil saja. Sementara yang belum muncul ke permukaan, 
> disinyalir
> > masih banyak. Karenanya, sudah seharusnya aparat kepolisian serius
> > menindaklanjuti laporan yang masuk, seperti terjadi di Sumatera 
> Utara.
> > 
> > Sambil menunggu tindakan aparat, yang penting dilakukan Muslim dan
> > Muslimah, khususnya para dai dan daiyah, adalah agar memberikan 
> tarbiyah
> > (pendidikan Islam) secara utuh, sehingga mereka yang kerap jadi 
> sasaran,
> > terhindar dari jerat-jerat pemurtadan yang sedang mengincar. Tak 
> kalah
> > pentingnya adalah, selalu waspada. Beragam info di atas, jadikan 
> pelajaran
> > dan pengalaman, agar terhindar dari upaya-upaya busuk mereka. Jika 
> tidak,
> > gawat!
> > 
> > Rivai Hutapea




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke