Aloo..alooo mang Ucup...
Mudah2an dah gak mabuk ya? sehingga bisa mencerna dan berprasangka 
baik terhadap filsafat sebagai ilmu.

Dahulu kala, waktu saya mengikuti mata kuliah filsafat, saya pernah 
punya pikiran,"wah kurang kerjaan mata kuliah ini" karena saya pikir 
ini bagian dari pelajaran agama seharusnya. 

Tapi berjalan dengan waktu...Kalau Filsafat mau dianggap sebagai 
ilmu, baik-baik saja lah. Wong namanya juga ilmu. Yang menjadi bejat 
or sesat kan, apa yang dihasilkan oleh ilmu itu. Buat saya, filsafat 
sebagai ilmu, ya sama saja dengan ilmu-ilmu lainnya bisa 
menghasilkan sesuatu yang bejat dan bisa juga menghasilkan kebaikan. 
Tergantung manusia yang memakai ilmu itu, yang kata Mbah manusia itu 
ada yang mulia dan ada juga yang ngawur/berdosa. Ilmu di tangan 
manusia mulia menjadi mulia dan sebaliknya akan menjadi bejat 
ditangan orang bejat.

Mengenai manusia yang dijadikan tolok ukur kebenaran, mungkin 
istilah kerennya HAM...ini akan panjang ceritanya. Ini memang 
menjadi ukuran bagi dunia materialisme sekarang ini.

Mang, saya gak ikut2an jadi orang pinter deh dengan mengutip 
pendapat para ahli filsafat Barat, tapi saya cuma mau mengutipkan 
salah satu hadist qudsi tentang Allah yang memang perlu ditelaah 
lebih jauh lagi apa maknanya:"Aku sebagaimana yang disangkakan 
hambaKu". Dengan berdasarkan hadist qudsi tsb, saya berpendapat bhw 
gagasan-gagasan (yang kacau sekalipun) tentang Tuhan harus bisa 
dimaklumi. Namun seorang hamba yang saleh akan berdoa kepada Sang 
Penciptanya dgn hati tulus dan ikhlas untuk dapat mencapai tujuannya 
dalam mencari pe'sangkaan'nya tentang Allah, agar tak digerecoki 
oleh iblis yang selalu memberi kan pikiran wes ewes ewes (bukannya 
nenggak wine ampe mabok, mang...)...:-).

Sayapun jadi ketularan mabok, mbaca tulsian mang ini. Coba aja pikir:

> Oleh sebab itulah menurut mang Ucup: Hidup dikaruniakan kepada 
> manusia bukannya untuk dijadikan objek atau bahan untuk 
berfilsafat, > karena manusia tidak akan dapat mengenal maupun mampu 
memahami > dirinya sendiri, apabila ia tidak bertitik tolak dari 
pandangan > Allah, sebab kemampuan maupun akal manusia itu terbatas 
sedangkan > Allah tidak terbatas segala hikmat dan pengetahuan-Nya

menurut mang Ucup manusia yang akalnya terbatas harus memahami 
dirinya dengan bertitik tolak pandangan Allah, yang tidak berbatas. 

Pikiran saya: mana mungkin (akal manusia) yang terbatas harus 
bertitik tolak pada (akal Allah) yang tidak berbatas. Gak sinkron 
gitu lho! Akal Allah (baca: hikmat dan pengetahuan-Nya).

Jadi, saya menjadi bertambah yakin bahwa sesungguhnya manusia harus 
berbaik sangka (berfikir positif) kepada tujuan penciptaan Allah 
akan mahluk2nya karena Allahpun berfikir positif akan tujuan segala 
penciptaan (bukannya iseng, atau sambil lempar dadu..gitu...).

Hidup dikaruniakan kepada manusia ya untuk dinikmati/dijalani. Kalo 
ada manusia yang menjadikan hidup sebagai objek/bahan filsafat dan 
dia bisa menikmati, apalagi membawa kebaikan bagi hidupnya...itu kan 
artinya dia mampu dan mengenal dirinya.

dah ah, mang...mo minum susu..ngilangin mabok...:-)

wassalam,


--- In [email protected], "mangucup88" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Apakah mungkin manusia yg berdosa dapat dijadikan pusat dan tolok 
> ukur kebenaran?? Oleh sebab itulah manusia itu seperti rumput dan 
> segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, 
dan 
> bunga gugur. Buktinya mana ada filsuf yg dapat mempertahankan 
terus 
> teorinya sepanjang masa; pandangan dan pengetahuan mereka itu 
> semuanya relatif dan selalu berubah-rubah, beda dgn Allah yg 
> selalu „tetap" dan tidak pernah berubah!
> 
> Filsafat sendiri tidak mampu memberikan pengertian yg sepenuhnya 
> benar tentang segala sesuatu, bahkan dari tahun ke tahun selalu 
> bertanya terus dlm usahanya untuk memahami manusia. Akal budi 
> manusia tidak mungkin bisa mendapatkan kepastian, mereka hanya 
bisa 
> mengandai-andai atau postulat2. Filsafat Modern menganggap manusia 
> sebagai standar kebenaran atas segala sesuatu sehingga dgn 
demikian 
> secara tidak langsung mereka menyangkal Sang Pencipta sebagai 
> standar kebenaran.
> 
> Cobalah Anda renungkan berdasarkan pemikiran dari Rene Descartes 
> (1596-1650) yg mendapatkan julukan sebagai „Bapak Filsafat Modern" 
> yg meletakan dasar filosofis dgn mottonya „Cogicto ergo sum" –
 „Saya 
> berpikir, jadi saya ada", seharusnya ia berpikir yg sebaliknya 
> dimana ia menyatakan „Saya ada maka saya bisa berpikir" ataukah 
> mungkin juga seperti yg dikatakan oleh Ambrose Bierce „Cogito 
cogito 
> ergo cogito sum" - "I think that I think, therefore I think that I 
> am.", silahkan pilih sendiri mana yg cocok.
> 
> Menurut Immanual Kant (1724-1804) manusia berasal dari dunia 
> binatang yg berkembang terus dari taraf primitif (hewani) yg 
menuju 
> ke suatu kesadaran penyempurnaan moral.
> 
> Jean Jacques Rousseau (1712-1778) berpandangan bahwa kemajuan ilmu 
> pengetahuan dapat menghancurkan umat manusia, sebab ia memiliki 
> motto „Back to Nature", karena ia percaya bahwa manusia itu pada 
> mulanya benar2 baik. 
> 
> Oleh sebab itulah menurut mang Ucup: Hidup dikaruniakan kepada 
> manusia bukannya untuk dijadikan objek atau bahan untuk 
berfilsafat, 
> karena manusia tidak akan dapat mengenal maupun mampu memahami 
> dirinya sendiri, apabila ia tidak bertitik tolak dari pandangan 
> Allah, sebab kemampuan maupun akal manusia itu terbatas sedangkan 
> Allah tidak terbatas segala hikmat dan pengetahuan-Nya.
> 
> Dgn ini saya akhiri oret2an mengenai filsafat, minimum mulai 
> sekarang Anda sdh bisa mulai ber-Filsafat Ria dan juga bisa turut 
> berdiskusi, apabila orang2 disekitar Anda melontarkan kata2 
seperti 
> empiris, rasionalis, tabuarasa, Imannuel Kant, ato Friedrich 
Hegel, 
> jadi kelihatan seperti wong pinter, seperti apa yg sedang 
dilakukan 
> oleh mang Ucup pada saat ini, walaupun dari hasil nyontek sana & 
> nyontek sini sekalipun ora opo2, yg peting bisa mejeng abis, githu 
> Lho!
> 
> Mang Ucup - Filsuf mabok
> Email: [EMAIL PROTECTED]
> Homepage: www.mangucup.net




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke