makanya mbak, baca bukunya/beritanya dibalik aja kayak Nasrudin...hue..he..he...
wassalam, --- In [email protected], "id" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > heran sungguh heran...harre gene sekelompok orang yg ingin menegakkan > kebenaran dianggap salah dan sekelompok orang yang menegakkan > kesalahan dianggap benar...yang pusing bukan sekelompok orang yang > merasa diri mereka pintar tapi sekelompok orang yang sedang belajar > mencari kebenaran itu sendiri...dimanakah kebenaran itu tersembunyi > (maaf ini tidak merujuk komentar siapapun) > > > salam, > id > > > --- In [email protected], partogi samosir > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Justru karena itulah saya heran mengapa kita memecah ukhuwah kita > sendiri, seperti yang kita lakukan terhadap ahmadiyah. > > Coba simak nama2 yang diajukan oleh Emha sebagai calon Wali Songo > abad 21: mulai dari Quraishi Shihab, Ulil, Cak Nur, Aa Gym, Topan, > Leysus, Eko Patrio, Ulfah Dwiyanti, Taufiq Savalas sampai Elma Theana. > > So mari stop nafsu kita untuk mengkotak-kotakkan sesama kita umat > muslim. > > Kekuatiran saya persis sama dengan kekuatiran Bang Dawam Rahardjo, > yaitu realitas radikalisasi umat Islam di Indonesia akan diplintir > oleh oknum tertentu untuk mengaitkannya dengan aksi2 teror. > > togi > > > > Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Dari file lama. Selamat menikmati. > > *********** > > GATRA.com - SAYA sedang menikmati pemandangan indah: berpendar- > > pendarnya matahari terbit kebangkitan Islam di Indonesia. > > > > > > Katakanlah kita mulai kehilangan Buya Hamka, kita memiliki yang > > lebih dari itu: Quraish Shihab. Kita kehilangan Muhammad Natsir, > > malah muncul Yusril Ihza Mahendra. Mulai kehilangan Cak Nurcholish > > Madjid, malah dianugerahi Ulil Abshar Abdalla. Umpamanya pun > > kehilangan Ustad Zainuddin MZ, kita punya yang lebih dimensional: > Aa > > Gym. Dan kalaupun akhirnya pada suatu hari nanti Gus Dur uzur, kita > > punya Saifullah Yusuf. > > > > Kita punya banyak tokoh Islam fenomenologis. Pemikiran- pemikirannya > > mungkin menggelisahkan dan menjengkelkan ulama-ulama tua, tapi > > lambat laun orang-orang tua harus belajar kepada anak-anaknya. > > > > Mereka itu letaknya di pinggir, tak terlalu dianggap kental > > Islamnya, tapi nanti akan ternyata keilmuannya memang ijtihadiyah -- > > hanya saja, kita orang-orang tua terlambat memahaminya. > > > > Kita punya banyak Nashrudin lain. Kecenderungan sikapnya seolah > > bertentangan dengan tradisi konvensional kaum tua. Padahal, sungguh > > kritik mereka sangat menohok. Setelah kaum muslimin "kehilangan > > keledai", Nashrudin-Nashrudin ini seakan tidak menunjukkan sikap > > militan untuk mengutuk si pencuri. Mereka malah kelihatan seperti > > melakukan sujud syukur atas tertangkapnya Ustad Ba'asyir, Amrozi, > > dan Samudra. > > > > Bahkan terdengar seakan memuji-muji pihak yang dianggap musuh dan > > justru kaannahum mengutuk saudara-saudaranya seagama. > > > > Itu semata-mata karena model kritisisme Nashrudin memang > > mempersyaratkan kecerdasan pikiran tingkat tinggi, kepekaan dan > > kejernihan hati yang sungguh-sungguh --untuk mampu menangkapnya. > > Itulah sebabnya, "yang kau anggap baik ternyata berbahaya, yang kau > > anggap buruk malah sebenarnya baik". Islam liberal malah dicurigai, > > sementara Islam sensual justru dibiarkan saja merajalela di mana- > > mana dari kampus-kampus hingga mal-mal. > > > > *** > > Kalau Topan-Leysus ada tanpa ustad, acara bisa tetap jalan. Kalau > > hanya ustad yang ada sedangkan Topan-Leysus tak ada, acara bisa > > batal. Demikian juga yang primer adalah Eko Patrio dan Ulfah > > Dwiyanti, Taufiq Savalas dan Elma Theana, dan seterusnya. Ustad > yang > > hadir berposisi sekunder. > > > > Apakah industri TV melanggar prinsip kompetensi? Tidak. Itu yang > > disebut penyamaran strategis. Supaya orang lain tak gampang > > mengidentifikasi kita, maka hijau disamarkan dengan kuning, merah > > disamarkan dengan jingga. Ustad atau kiai yang sesungguhnya adalah > > Topan, Leysus, Eko, Taufiq, dan lain-lain. Kiai yang tawadlu adalah > > yang menghindarkan diri dari sifat-sifat yang Tuhan tersinggung > > kepada pelakunya: riya', takabur, ujub, suka pamer, menonjol- > > nonjolkan diri. > > > > Kiai-kiai sejati kita itu sepanjang tahun tidak pernah menunjukkan > > siapa mereka sebenarnya, tidak pernah memamerkan kekiaiannya, > mereka > > menyamar jadi artis. Hanya pada Ramadan mereka harus polos luar- > > dalam, sebab puasa adalah ibadah yang diminta Allah pribadi secara > > langsung. > > > > Siapa tahu, ternyata mereka itulah Wali Songo abad ke-21. > > > > [Emha Ainun Nadjib, Budayawan] > > [Kolom, GATRA, Nomor 04 Beredar Kamis 13 Desember 2002] > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

