Publikasi: 21/07/2005 09:09 WIB eramuslim - Tragedi bom London kembali memicu kebencian barat terhadap Islam dan umat Islam, khususnya 1,6 juta warga Muslim di Inggris menghadapi ancaman aksi balasan yang bisa mengancam jiwa mereka. Meskipun sudah menyatakan mengutuk, bahkan memanjatkan doa bersama untuk para korban ledakan, kebencian terhadap warga Muslim tidak menyurut. Harian The Guardian menuliskan, Muslim Council of Britain yang mewadahi umat Islam di Inggris, menerima sekitar 30.000 email yang berisi pesan-pesan penuh kebencian. Kekuatan senjata, kedigdayaan Barat, terbukti tidak mampu membuat warga dunia hidup nyaman dan tenang ...
Dari Negeri 1001 Malam ke Negeri Pangeran Charles Sejumlah pakar berpendapat, tragedi bom London mewakili sejumlah episode kekerasan yang dialami Barat sebagai konsekuensi dari 'Perang terhadap Terorisme' yang mereka kampanyekan. Serangan-serangan terhadap kepentingan-kepentingan Barat di beberapa penjuru dunia, membuktikan bahwa orang-orang di Timur-Tengah bukan satu-satunya pihak yang harus membayar mahal 'perang terhadap terorisme' yang masih berlangsung. "Kekuatan ledakan yang membunuh dan melukai ratusan warga London pada 7 Juli kemarin, adalah bagian dari mata rantai kekerasan yang terjadi di Fallujah dan Baghdad," tulis pengamat barat Paul Rogers di situs Open Democracy. Pandangan serupa juga bermunculan di media-media Inggris dan banyak orang pada akhirnya mengarahkan telunjuknya ke pemerintah Inggris. Tak heran kalau Rev Mike Ketley, seorang warga Inggris melontarkan pernyataan pedas, "Anda memalukan, Mr. Blair. Lebih baik diam, mundur --dan siapapun yang menggantikan, secepatnya tarik pasukan dari Irak dan Afghanistan," katanya seperti dikutip the Guardian. Tindak kekerasan seperti tragedi bom di London memang tidak bisa dibenarkan. Tapi kebijakan luar negeri AS dan Inggris yang terus menyerang negara-negara Islam, bahkan jauh sebelum perang mereka ke Irak atau Afghanistan, bisa menjadi penjelasan, jika memang pelaku bom London itu adalah orang Islam, seperti berita yang mencuat saat ini. Ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya terluka dan cacat di negara-negara Muslim, cukup menjadi alasan bagi mereka untuk melakukan serangan seperti bom London demi membangunkan dan membuka mata bangsa Barat. Chris Nineham, dari organisasi Stop the War Coalition pada BBC mengungkapkan, "Ini benar-benar sebuah persoalan bahwa perdamaian menjadi satu-satunya jawaban dan lebih cepat tentara asing keluar dari Irak, maka akan lebih baik." Setelah menumbangkan rejim di Afghanistan dan Irak, mengerahkan lebih dari 200.000 ribu pasukan, membunuh, melukai dan menangkap puluhan ribu orang tak berdosa, kenyataan menunjukkan bahwa 'aksi teror' terus terjadi. AS dan Inggris seharusnya menyadari bahwa kampanye 'perang terhadap terorisme' yang mereka lakukan tidak membuat dunia lebih aman. Perang Bukan Jawaban untuk Berantas Terorisme Kaitan antara invasi asing di Irak dengan tragedi London, seolah mengingatkan kembali pernyataan yang pernah dilontarkan Walikota London, Ken Livingstone. Pada September 2002, walikota yang cukup dekat dengan warga Muslim Inggris ini mengingatkan bahwa serangan ke Irak hanya akan memicu opini dunia dan membahayakan keamanan dan perdamaian di seluruh dunia. "London, sebagai salah satu kota utama di dunia punya punya potensi untuk mengalami kerugian akibat perang dan mendapatkan keuntungan dari perdamaian, kerjasama internasional dan keamanan global," ujar Livingstone saat itu. Dalam tulisannya di Islamonline, analis asal Qatar, Ramzy Baroud menyatakan, AS dan Inggris nampaknya meremehkan peringatan semacam itu. Invasi ke Irak menjadi faktor pemicu makin suburnya terorisme dan militansi di seluruh dunia, termasuk di Irak sendiri. "Perang Anglo-Amerika tidak menghasilkan apa-apa kecuali pembunuhan dan penganiayaan, yang meintasi batas-batas negara dan kota-kota besar dan London menjadi target paling akhir," tulis Baraoud. Lebih lanjut ia menyatakan, kesalahan intelejen sehingga memicu perang di Irak diikuti oleh kegagalan-kegalan fatal lainnya dimana mereka tidak bisa membendung rencana pengeboman besar yang berhasil melumpuhkan sebuah kota seperti kota London itu. Fakta ini lagi-lagi membuktikan bahwa bukan kekuatan militer atau badan intelejen yang menjadi jawaban untuk memerangi terorisme. Jawabannya, menurut Raboud, adalah menghentikan agresi militer yang dilakukan negara-negara super power terhadap negara-negara yang lemah, dengan mengatasnamakan kemanusiaan dan demokratisasi. Hal ini ini bisa dihindari dengan langkah diplomasi, integrasi budaya dan dialog. Jika tidak, serangan-serangan seperti yang dialami kota London tidak bisa dihindari dan akan terulang kembali dimasa datang. Bersihkan Islam dari Terorisme Kenyataan menunjukkan, umat Islam selalu menjadi pihak yang dikambinghitamkan dalam setiap kasus serangan terorisme. Organisasi Islam, cendikiawan muslim dan pemuka agama bertaraf internasional, berulang kali dengan tegas mengatakan Islam tidak membenarkan aksi- aksi kekerasan yang menimbulkan korban di kalangan masyarakat sipil. Namun upaya itu nampaknya belum maksimal untuk lebih mengedepankan esensi Islam yang sebenarnya. Cendikiawan Muslim Inggris yang juga menjabat sebagai Direktur Muslim Institute (IPS), Ghiyasuddin Siddiqui mengajak komunitas Muslim untuk lebih memperkuat persatuan demi membersihkan Islam dari persoalan- persoalan terorisme. "Mereka adalah orang-orang yang membawa-bawa bendera Islam dan menanamkan ekstrimisme, fundamentalisme dan kegilaan pada generasi muda Muslim," ujar Siddiqui menanggapi pelaku bom London. Meski demikian, ia mengakui lemahnya peran komunitas Muslim dan fasilitas ibadah seperti mesjid-mesjid dalam memenuhi harapan kaum muda, baik muslimin maupun muslimah berkaitan dengan isu-isu dan persoalan yang mereka hadapi. Menurutnya, kondisi itu mengarah pada munculnya radikalisme. "Ketika kaum muda ini mulai bersikap radikal, yang dilakukan adalah mengekang mereka. Ini merupakan kesalahan terburuk yang kita lakukan. Apa yang terjadi kemudian adalah kaum muda itu mulai mengorganisir diri mereka sendiri di luar lingkungan mesjid dan mereka mulai kehilangan kendali. Pada saat itulah mereka mulai menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang melakukan 'cuci otak' terhadap mereka," jelasnya. Shiddiqui mengatakan perekrutan kaum muda oleh kelompok-kelompok teroris kebanyakan terjadi di luar lingkungan mesjid. Ia mengakui di kalangan komunitas Muslim sendiri banyak perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, menurutnya, keputusan harus diambil oleh 'mayoritas terbesar' di antara komunitas Muslim itu. "Islam datang bukan baru kemarin, atau kemarinnya lagi. Islam sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, ada tradisi-tradisi, ada buku-buku. Apa yang sedang terjadi adalah, bahwa orang-orang (teroris) ini menggunakan teks-teks yang sama dan mengklaim legitimasi mereka sebagai Muslim. Saya pikir, komunitas Muslim harus menentang orang-orang seperti ini. Cendikiawan, imam-imam, harus melakukan itu. Ini adalah tanggung jawab mereka, tugas mereka," tegasnya. Shiddiqui menjelaskan, munculnya Islam militan dan kekejaman yang mereka lakukan bersumber dari ajaran-ajaran Wahabi, ditambah dengan kehadiran intelejen AS dan Inggris yang menciptakan ideologi baru untuk melawan invasi Soviet di Afghanistan. Ideologi-ideologi yang mengedepankan paham kekerasan itu, menurut Shiddiqui, sampai sekarang masih disebarluaskan dan tentu saja bisa mempengaruhi pemikiran generasi muda dari kelompok manapun. "Kita semua sudah tahu bahwa banyak para pejuang yang katanya melakukan perjuangan suci sengaja dilatih, beberapa di antaranya di Skotlandia," ungkap Shiddiqui. Yang penting sekarang, tegasnya, komunitas Muslim harus memutuskan apakah mereka akan membatasi kelompok teroris ini atau mereka akan membiarkannya saja dalam waktu lama. Itulah pilihan yang mereka punya. Hal serupa juga diungkapkan oleh Imtiaz Alam, editor sebuah kelompok media di Pakistan. Dalam tulisannya ia mengatakan, biar bagaimanapun perubahan yang diharapkan tergantung pada masyarakat Muslim sendiri. Umat Islam tidak harus meminta belas kasihan pada orang lain atau meminta siapapun untuk menyelamatkan mereka dari situasi ini. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah melindungi generasi muda Muslim dari ajaran-ajaran menyimpang yang mengarah pada tindakan ekstrim. (ln/iol/ guardian/the Jung) *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

