--- In [email protected], heri latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  ASAL USUL 

Kirain 'Asal Usil'..

> Porno
> 
> Ariel Heryanto

Respon dari Irwan.K
 
> Remaja Asia, termasuk Indonesia, telah menemukan seksualitas lebih
> santai dan pada usia lebih muda dibandingkan orangtuanya. Ini bukan
> perbedaan tingkat susila antargenerasi, tetapi perubahan sejarah
> teknologi.
>
> Berkat internet dan DVD, pornografi beredar gencar dan murah.
> Sesudah dinikmati, bisa disimpan dalam disket tanpa kelihatan jorok,
> diedarkan, diperbanyak, atau dihapus tanpa bekas. Rekaman VCD
> dan DVD seharga karcis bioskop.

Benarkah ini hanya perubahan sejarah teknologi?
Diakui atau tidak, serbuan globalisasi memang sejalan dengan fenomena
ghozwul fiqri (perang pemikiran).. tidak perlu pakai senjata dan serbuan
fisik.. cukup pikirannya saja yang diserang.. lemahkan mentalnya,
dan rusakkan aqidahnya.. dan tidak mustahil lewat makanan/minuman
yang bisa dikonsumsi publik.
  
> Generasi terdahulu jelas bersalah karena gagal menyediakan 
> pendidikan seksual yang sehat, terbuka, dan beretika pada
> generasi mudanya. Lowongan itu digarap para pedagang industri 
> informasi hiburan tanpa menghiraukan etika. Kegagalan kaum tua ini
> melahirkan reaksi defensif yang tidak selalu memperbaiki situasi.

Dan agen penghancur ini dianggap tidak punya salah/innocent..
Yang salah hanya generasi terdahulu.. Para agen penggarap (lagi")
bebas dari kesalahan.. enak kali..
 
> Ada yang bangkit menjadi kelompok militan anti-pornografi. Ada yang
> berjuang lewat undang-undang. Reaksi represif itu bukan hanya
> mubazir, tetapi bisa berbahaya dalam masyarakat yang lembaga
> peradilannya sedang amburadul. Merumuskan "pornografi" saja
> orang sudah kelabakan. Karena akar masalahnya tidak dipahami
> di luar soal moralitas baik lawan buruk.

Yang bergerak di jalan katanya anarkis, kurang beradab dan semua
sebutan buruk lain.. Yang bergerak lewat konstitusi masih dicela juga..
Maunya apa sih orang ini (dan kekuatan di belakangnya)?
Pinjam istilah GD: Maju tak gentar membela yang bayar..
Siapa yang bayar nih orang? hehehe..
 
> Terlebih konyol ketika ada yang berdalih seksualitas terbuka tidak
> sesuai kebudayaan asli bangsa Timur. Gambar relief di sejumlah
> candi kita merayakan kelamin dan seks. Di sejumlah masyarakat kita,
> pria mandi bersama di satu bagian sungai; perempuannya di bagian lain.
> Di sebagian wilayah, perempuan bertelanjang dada sehari-hari.
> Di pusat kota para pria bekerja bertelanjang dada, dan buang air-kecil
> di bawah pohon. Goyang Inul pada awalnya populer di kalangan
> yang asing pada gagasan liberalisme.

Logika yang hebat.. kalau ada gambarnya di candi berarti itu 
harus universal di masyarakat.. Logika sesat kaya' gini dimuat 
di media massa; didukung lagi..
 
> Porno tidak dikenal dalam bahasa adat kita. Kita harus pinjam
> bahasa Inggris untuk menajiskan orang lain.

Mestinya apa? Cabul? Mungkin karena ada perasaan inferior untuk
menggunakan istilah sendiri.. lebih keren pake istilah asing..
Jadi apa yang datang dari asing (apalagi eropa - yang penjajah itu,
atau amrik), dianggapnya lebih bagus kali ya..
Termasuk ke-porno-an dan liberal-nya mereka..

Atau karena istilah cabul atau maling/mencuri membuat malu/
gak enak untuk ngomong atau dengernya, ketimbang porno 
atau korupsi, misalnya.

Hebatnya lagi, yang disosialisasikan cuma yang enaknya (hedon)
doank.. tapi kemajuan teknologinya disimpen sendiri..
Yang punya teknologi culas.. agennya brengsek.. masyarakatnya
tetap dibuat bodoh..
 
> Sejak awal "adat" kita yang beraneka menyerap "adat" berbagai
> bangsa lain. Perdebatan RUU KUHP kesusilaan didorong 
> meningkatnya bentrok nilai budaya yang sama-sama datang dari
> "luar" Nusantara. Tidak ada yang berhak mengklaim lebih "asli".

Inilah problemnya.. karena berbicara moral agama sulit diterima umum..
sementara alternatif (budaya) sendiri rentan untuk dirasuki pengaruh
manapun.
 
> Apakah "pornografi" ditentukan ada atau tidaknya unsur "erotik"
> pada gambar atau tindakan? Bagaimana jika gambar atau tindakan
> itu tidak mengandung unsur erotik, tetapi yang melihatnya terangsang?
> Gambarnya harus dipidana, atau yang "tidak tahan" melihat perlu
> dibawa ke klinik ilmu jiwa?
> 
> Seorang pria Indonesia pernah menceritakan pengalamannya cuci mata
> di pantai Kuta. Banyak turis asing, perempuan berkulit putih, berjemur
> diri sambil melepas kutang. "Aneh," katanya, "saya sama sekali
> tidak terangsang. Tetapi, yang lebih aneh," tambahnya, "setengah
> jam kemudian ada perempuan berkulit coklat yang lewat dengan
> pakaian minim. Tubuh saya bergetar."

Ini namanya contoh ekstrim bos.. 
Sekedar berlogika saja (karena kesamaan persepsi kita minimal di level
ini), mungkin saja orang ini termasuk kelompok yang inferior..
kalau lihat orang asing, biarpun berlepas kutang, gak terangsang,
karena dia tidak mampu mendekati mereka.. atau kemungkinan lain,
orang ini pembohong saat bilang tidak terangsang. 

Tapi begitu lihat orang kulit coklat dengan pakaian minim, 
keberaniannya meningkat, karena menganggap lebih bisa mendekati
dan mendapat hasil.. :-P
 
> Sebagian besar kasus pornografi merendahkan perempuan, tetapi
> meresahkan pria. Perempuan diperalat sebagai objek untuk merangsang
> fantasi dan isi kantong pria, subjek yang rentan secara erotik, tetapi
> berjaya secara politik, ekonomi, hukum, dan moralitas.

Sampai titik ini, sebenarnya si penulis sudah tahu yang mana yang
pornografi/tidak. Hanya tidak mau mengakuinya saja.. 
Lihat saja kalimat 'Sebagian..'. Kalau tidak, mana bisa dia menulis 
seperti itu.. Asal nulis saja? Sotoy? Paradox dengan penyataannya 
sendiri di atas?

> Pornografi mirip terorisme. Negara berusaha menaklukkan keduanya
> lewat berbagai cara, termasuk hukum. Tetapi, keduanya susah
> didefinisikan. Dalam sebagian besar kasus, pornografi atau teroris
> hanya ada di benak yang merumuskan, bukan sesuatu yang hadir
> objektif di dunia. Bagi Presiden Bush, orang seperti Abu Bakar Ba'asyir
> itu teroris. Tetapi, bagi kelompok Ba'asyir, yang teroris adalah Bush.
> 
> Seperti terorisme, sebagian besar pornografi dikuasai, dinikmati,
> dan sekaligus dikutuk sesama pria. Kaum perempuan diperalat
> atau dikorbankan.

Ya, oleh kapitalisme dan liberalisme. Termasuk yang namanya 
feminisme sendiri, hakikatnya kan turunan dari K&L.
 
> Berciuman di muka umum atau di layar televisi merupakan tindak
> kejahatan? Tetapi, adegan baku-hantam dalam film cerita atau
> ruang parlemen sah-sah saja? Apa kita dididik lebih menghargai
> kekerasan dan kebencian, sambil menindas kasih sayang?
> Dalam seluruh sejarah, pria lahir dan dibesarkan untuk berperang
> dan membunuh. Perempuan melahirkan kehidupan, menyusui,
> dan merawatnya.

> http://kompas.com/kompas-cetak/0507/17/persona/1899020.htm

Saat saya mencicipi penerbangan ke luar negeri, saya berbincang
dengan seorang Belgia. Dia meminum banyak wine. Saya tanyakan,
bagaimana dia tidak mabuk meskipun sudah bergelas" minum wine.
Jawabnya singkat, dalam hidup ini ada yang namanya toleransi.

Semakin besar toleransi seseorang, semakin luar area tindakan yang 
bisa dimaklumi. Satu hal yang pasti, toleransi tidak berlangsung dalam
waktu singkat. Tapi butuh waktu (proses). Mirip dengan makan bubur
panas.. gak mungkin langsung sekaligus.. mulai dari pinggir dulu..
ditiup dulu, pelan".. lama" juga habis tuh bubur..

alon alon asal kelakon.. pertama dosisnya 1, gak lama jadi 2, and so on.. 
pertama yang kelihatan cukup antara leher dan dada.. 
(hm.. jadi laper n inget KFC, CFC, Texas Chicken)..  
besoknya puser, tank top, berikutnya kutang doank, and so on..

Begitu juga dengan norma/budaya bahkan ketahanan memegang
teguh ajaran agama.. yang dirusak pertama mental dulu..
kalau perlu lewat makanan/minuman yang haram..
(soal topik ini mungkin lewat thread lain - menyusul)
 
Wallahu a'lam.. CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke