JURNAL KEMBANG KEMUNING: MENYAMBUT LAHIRNYA KOMUNITAS SASTRA-SENI MATA BAMBU [KMB].
[2] BEBERAPA GARISBAWAH: 4. PRINSIP KETERBUKAAN DAN KEMAJEMUKAN: Yang saya maksudkan dengan keterbukaan adalah pertama-tama tidak menjadikan pandangan agama atau ideologi tertentu sebagai dasar komunitas sehingga komunitas terbuka bagi siapa saja dari aliran, pandangan dan kepercayaan apapun. Prinsip ini, saya kira sesuai dengan prinsip-prinsip republiken dan keindonesiaan: bhinneka tunggal ika. Kalau ditanya lalu, mau ke mana, prinsip apa yang mendasari komunitas maka saya kira jawabannya adalah prinsip-prinsip republiken dan keindonesia sebagai bimbingan dalam memanusiawikan manusia, masyarakat dan kehidupan, prinsip yang saya kira mendasari lahirnya sastra-seni itu sendiri. Sesuai dengan prinsip-prinsip ini maka konsep sastra-seni kepualauan terdapat di dalamnya. Atas dasar ini maka sentralisme atau monopoli standar akan berada pada kutub lain yang bertentangan dengan prinsip-prinsip republiken dan keindonesia, sebagai bagian dari prinsip-prinsip manusiawi. Saya mengkhawatirkan apabila melepaskan prinsip-prinsip republiken dan keindonesiaan yang berhakekatkan menntang pikiran tunggal [la pensée unique], kita akan terjerat oleh sektarisme dan fanatisme yang anti kemajuan bahkan anti sejarah.Ketepatan memilih prinsip banyak menentukan perkembangan suatu komunitas. Yang sektaris tidak bakal berkembang sekali pun nampaknya pada suatu saat berkembang maju dan didukung oleh dana kuat, tapi karena ia tidak tanggap zaman dan tidak aspiratif ia lambat-laun akan jenuh sendiri dan terkubur oleh kecupetannnya.Kecupetan dan sektarisme pada galibnya tidak lain dari liang kuburan. Masalah prinsip ini saya ajukan agar bisa dipertimbangkan secara sungguh-sungguh oleh pengurus KMB sambil menarik pelajaran dari komunitas-komunitas terkemuka sekarang seperti TUK dan FLP misalnya. Jika ada di antara para anggota KMB yang berbicara tentang kemasyhuran, saya kira, kemasyhuran bukanlah tujuan. Kemasyhuran erat hubungannya dengan kerja dan penerimaan masyarakat serta haridepan yang diawali oleh pilihan prinsip yang tanggap dan aspiratif. Dalam hal ini saya tidak menganggap TUK dan FLP sangat tanggap dan aspiratif sekali pun nampak bernama. Tapi kedua lembaga itu menyediakan pengalaman berharga bagi KMB. Apakah yang ditawarkan oleh TUK dan FLP untuk negeri dan republik ini dalam pengertian tanggap dan aspiratif dilihat dari segi nasion? Dengan segala keterbatasan dana, barangkali apa yang dilakukan oleh Halim HD dan kawan-kawannya di berbagai daerah, saya jauh lebih tanggap dan aspiratif bagi bangsa, negeri dan republik ini karena itu ia terus berkembang. Saya harap, pendapat ini tidak dianggap sebagai suatu serangan tapi lebih menyangkut pertanyaan prinsip dalam membangun sastra-seni di negeri kita. Pertanyaan prinsip akan bisa terangkat jika kita bisa membaca keadaan negeri dan bangsa secara nyata dengan tujuan tunggal memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat, karena bagi saya sastra seni tidak lepas dari tujuan ini. Sekali pun KMB belum merincikan prinsip dan programnya atas prinsip pilihannya, tapi melalui pengenalan pribadi demi pribadi di dalam kepengurusannya dan juga dari kerangka pemikiran yang mendasari didirikannya KMB seperti yang dibeberkan oleh Manik Praba dalam tulisannya di berbagai milis tentang KMB, saya menaruh harapan besar bahwa KMB bisa menempuh jalan alternatif dengan menimba pengalaman dari praktek komunitas-komunitas yang ada sekarang. Kalau KMB hanya mengikuti mentah-mentah apa yang sudah ada, saya tidak yakin KMB akan membesar dan berkembang di seluruh negeri seperti berkembangnya "mata bambu". Tidak juga bakal bisa menjadi katalisator komunitas-komunitas.Keunggulan dan kekurangan komunitas-komunitas yang ada sekarang tentunya merupakan lumbung pelajaran yang berharga.Kemampuan menimba pelaran dari lumbung pengalaman ini berarti KMB melangkah setindak di depan. Kerangka pikiran yang mendasari lahirnya KMB, 15 Juli 2005 adalah: -"Perlu dijalin terus komunikasi yang efektif dan harmonis antarpekerja seni dan pemerhati kebudayaan umumnya; -Perlu dikembangkan terus segenap potensi kesenian dan kebudayaan masyarakat Indonesia. -Perlu ditingkatkan terus pemahaman, kesadaran, dan kecintaan masyarakat umum terhadap kesenian dan kebudayaan; -Perlu dikembangkan situasi kehidupan yang kondusif dan layak bagi para pekerja seni dan pemerhati kebudayaan pada umumnya. -Perlu ditumbuhkan terus harga diri dan kepercayaan diri para pekerja seni dan kebudayaan agar tidak kehilangan gairah terhadap dunia seni dan kebudayaan yang digelutinya. -Perlu diberi kesempatan dan peluang yang memadai kepada para pekerja seni dan kebudayaan yang terpinggirkan, tersisihkan, dan terabaikan karena sulitnya kondisi kehidupan mereka" [Manik Praba, 21 Juli 2005]. Apabila mengamati kerangka pikiran di atas barangkali yang kurang digarisbawahi adalah sikap keterbukaan dan menghindari eklusifime pikiran serta sikap yang akhirnya akan berujung pada sikap anti budaya.Masalah ini saya kira patut ditegaskan apabila kita memang menyetujui konsep republiken dan keindonesiaan serta memungut pelajaran dari sejarah dan keadaan sekarang. Perumusan "Perlu ditingkatkan terus pemahaman, kesadaran, dan kecintaan masyarakat umum terhadap kesenian dan kebudayaan", saya kira masih terlalu samar, sekali pun benar bahwa perumusan ini bersifat suatu generalisasi dan generalisasi senantiasa mengandung kelemahan-kelemahan. Menggarisbawahi atau tidak masalah ini, saya kira akan mempunyai dampak pada langkah-langkah berikutnya. Tapi ini kan masalah teoritis? Barangkali ada yang berpendapat dan menyanggah demikian. Jika demikian alasannya, maka pertanyaan saya: Berapa jauh gerangan praktek sastra-seni dari masalah pemikiran dan teoritis? Bukankah "seni untuk rakyat", "humanisme universal", "sastra kontekstual", "komitmen" [engagement], "seni untuk seni", "sastra-seni Islam", "pluralisme", "keindonesiaan", dan sebagainya... adalah masalah-masalah pemikiran dan teoritis juga adanya? Praktek tanpa dibimbing oleh teori seperti berjalan di gelita malam yang pekat, demikian pendapat yang barangkali sudah tidak asing bagi siapa pun. Paris, Juli 2005. JJ.KUSNI [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

