http://www.indomedia.com/bpost/072005/24/depan/utama2.htm
Kecelakaan Pesawat TNI Bisa Berlanjut Jakarta, BPost Biaya pemeliharaan pesawat-pesawat milik TNI cuma 10-15 persen dari total kebutuhan dana. Puluhan pesawat TNI dikandangkan gara-gara tak ada biaya peremajaan komponen. Inilah yang menyulut berbagai tingginya kasus kecelakaan pesawat milik TNI yang menelan korban jiwa. Bahkan, kalau peremajaan komponen pesawat-pesawat milik TNI tidak segera dilakukan, maka bukan mustahil tragedi kecelakaan pesawat TNI akan terus berkelanjutan. Anggota Komisi I DPR, Djoko Susilo mengaku sangat mencemaskan kemungkinan buruk tersebut karena masalah pendanaan peremajaan pesawat di tubuh TNI hingga kini tak jelas arahnya. "Masak begitu banyak pesawat yang dikandangkan karena komponennya rusak, kok Departemen Pertahanan malah mau membeli pesawat bekas? Mestinya kan dana yang ada dipakai untuk membiayai pembelian komponen?" kata Djoko Susilo dalam talkshow di sebuah radio Jakarta, Sabtu (23/7). Djoko menuturkan, TNI AD memiliki sekitar 18 pesawat angkut hercules T-130. Dari jumlah itu, yang masih laik terbang cuma sekitar 8 pesawat saja. Sisanya terpaksa di-grounded-kan (dikandangkan) karena masih tertundanya peremajaan suku cadang. Namun anehnya, pihak Dephan bukannya membeli suku cadang untuk memperbaiki 10 pesawat yang rusak itu, malah berusaha membeli dua pesawat bekas dengan jenis serupa dengan anggaran sekitar 45 juta dolar AS. "Daripada dapat dua pesawat bekas, mendingan memperbaiki 10 pesawat yang dikandangkan itu?" kata Djoko Susilo. Djoko menyebutkan, dari tahun ke tahun biaya untuk pengadaan pesawat tempur dan angkut TNI cuma terkover 45 persen dari kebutuhan. Lebih parah lagi, pembiayaan pemeliharaan pesawat cuma terkover 10-15 persen dari kebutuhan. "Akibatnya terjadi kanibalisme. Satu pesawat komponennya dipreteli untuk mengobati sakit pesawat lainnya," kata Djoko. Secara angka, Djoko menyebutkan, usulan anggaran yang disodorkan DPR untuk TNI pada 2005 ini mencapai Rp 45 triliun. Namun karena tak ada duit, pemerintah hanya mampu mengucurkan sekitar Rp 22 triliun. Tahun 2006 mendatang, DPR mengkalkulasi kebutuhan anggaran TNI membengkak Rp 55 triliun. Tapi diprediksi pemerintah hanya mampu membiayai Rp 24-25 triliun. Pengamat militer MT Arifin ikut mencemaskan kemungkinan terulangnya kecelakaan pesawat TNI lantaran minimnya biaya pemeliharaan. MT Arifin beranalogi, pesawat tua itu tak seperti mobil tua. Mobil tua, sungguhpun dia mogok di jalan, tak mendatangkan bahaya karena hanya berhenti di tempat "Kalau pesawat mogok di udara, tidak mungkin berhenti di angkasa. Dia jatuh dan menelan korban," kata MT Arifin. Karena itu, Arifin mendesak Panglima TNI segera membentuk tim untuk mengevaluasi ulang pemeliharaan pesawat sekaligus mempersiapkan proyeksi anggaran pemeliharaannya. "Faktanya, sebagian besar pesawat TNI sudah tak layak terbang. Ini tak bisa ditunda karena menyangkut keselamatan nyawa," kata Arifin. Sudah Dievakuasi Setelah dilakukan pencarian siang dan malam, akhirnya tim evakuasi gabungan dari TNI AU, TNI AD dan Kepolisian, Sabtu (23/7) sekitar pukul 02:30 WIB, berhasil mengangkat jenazah dua penerbang yang tubuhnya hancur. Pesawat tempur milik TNI-AU jenis OV-10F Bronco menabrak bukit Linmas di hutan Magersari, Desa Gading Kembar, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Kamis (21/7) lalu. Setelah diangkat dari bodi depan pesawat, tubuh penerbang yang sudah hancur dan tak bisa dikenali, dini hari itu juga diangkut dengan menggunakan helikopter TNI AU Abd Saleh. Setelah dibawa ke Pangkalan Udara (Lanud) Abd Saleh, Sabtu siangnya, korban langsung dimakamkan. Dua penerbang naas itu adalah pilot Mayor (Pnb) Robby Ibnu Robil dan Co-pilot Lettu Harchus Adiya WW. Informasinya, jenazah dua penerbang itu ditemukan di dalam body depan pesawat dengan kondisi cukup mengenaskan. BP/abs/SRY [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

