Ada beberapa hal yang saya ingin tanggapi:

mangucup88 <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
 

1) Setiap bisnis selalu diawali dgn adanya 
kepercayaan tanpa adanya kepercayaan tidak mungkin bisa terjadi 
transaksi bisnis. Anda tidak perlu pergi ke Dr ato rumah sakit, 
apabila tidak memiliki kepercayaan terhadap mereka.
 
DH: Hati hati mang. Kepercayaan dalam busniess bertumpu pada, pertama, praturan 
yang berlaku dan melindungi kedua pihak, dan, kedua, nilai empiris yang dapat 
di-check. Kepercayaan ini tak dapat dibandingkan dengan kepercayaan dalam 
kontext agama.
Saya percaya bahwa makanan yang diberi tanda "bio" benar benar sehat, karena 
adanya peraturan pemerintah yang melandasi label "bio"
 

2) Ada kepercayaan yg harus di cek, umpamanya dgn data2 yg diberikan ke Bank, 
ada juga kepercayaan yg tidak perlu di cek umpamanya berita2 dari CNN dan ada 
juga kepercayaan yg tidak bisa di cek ialah tentang keberadaan-Nya Allah! 
 
DH: Keberadaan Allah adalah hal yang diluar jangkauan indra manusia, jadi tak 
dapat dibandingkan dengan cheque. Anda tak mungkin membahas masalah makanan, 
rasa sebuah duren, misalnya, dengan perhitungan diferential integral. Keduanya 
adalah hal yang berbeda dimensi.
 
3)
Walaupun demikian tidak bisa dipungkiri, bahwa kepercayaan sering 
kali bentrok dgn ilmu pengetahuan, bahkan demi kepercayaan kita 
harus kompromi dgn mengorbankan akal budi, sebagai contoh Bunda 
Maria bisa hamil dlm status masih perawan, karena ia belum pernah 
dijamah oleh siapapun juga, untuk dapat mempercayai ini, kita harus 
bersedia mengorbankan/mengosongkan ilmu pengetahukan atau pikiran 
logika kita, dlm bhs Sunda nya ini disebut „Secrificium intellectus 
= pengorbanan akal budi".
 
DH: Kepercayaan memang tak selalu sama dan sebangun dengan ilmu pengetahuan. 
Tetapi, pada dasarnya ilmu pengetahuan menumpu kepercayaan. Misalnya, bahwa 
sang Pencipta adalah omnipresens, mahaada, dan omnipotens, mahakuasa. Dalam 
kepercayaan dan ilmu pengetahuan ini identical. ini logical conclusion.
 
Mengenai bunda Maria, ini adalah hal yang belum tentu dimengerti dalam kontext 
biologis. Jadi, tak ada masalah. Siapakah yang dapat memastikan diantara kita, 
apa makna kata "perawan" dalam hal ini? Apakah tak percaya pada keperawanan 
bunda Maria berarti sekaligus tak percaya pada Tuhan?

4) Oleh sebab itulah Tertullianus berpendapat, bahwa kepercayaan itu meniadakan 
ilmu pengetahuan atau menurut Thomas dari Aquino, 
sebaiknya kepercayaan itu dipisahkan jauh2 dari ilmu pengetahuan.
 
DH: Kalau kepercayaan itu meniadakan ilmu pengetahuan, maka tak ada lagi yang 
melakukan research pengetahuan, karena ini syarat untuk memiliki kepercayaan. 
Kalau kedua hal ini dipisahkan, ini dapat dimengerti. Kalau kita tak 
mempercayai sifat hakiki matahari, maka kita takkan memahami fenomena 
geofisika. Kita takkan mampu melakukan penelidikan antariksa yang bersangkutan 
dengan matahari.. 
 
Tetapi kalau seseorang, misalnya seorang Jepang yang menganut Shinto, tak 
mempercayai Adam dan Hawa, tak menjadi masalah, karena Adam dan Hawa memang 
sesuatu yang dikisahkan dalam Kitab bangsa Semit, yang tak berkeluarga dengan 
ras Jepang.
Juga kalau saudara saudara umat Muslim atau Buddha tak mempercayai kisah 
keperawanan bunda Maria, TAK menjadi masalah, dan merekapun takkan celaka. 
Tetapi kalau seorang Kristen, Islam, Yahudi, Buddha tak percaya akan hukum 
fisika: "jangan berada dilapangan dikala guntur menyalak sengit", salah salah 
akan terpanggang halilintar..

5) Konflik antara kepercayaan dan ilmu pengetahuan sering sekali 
terjadi umpamanya dlm bidang biologi yg satu menyatakan bahwa kita 
ini keturunan dari monyet (Darwin) sedangkan menurut kepercayaan 
kita ini diciptakan oleh Allah. Bahkan sering sekali saya mendengar 
kalho kita mau percaya, kita harus berusaha untuk melupakan nalar 
kita, karena perkataan „kepercayaan" itu tidak ada di dlm kamusnya 
ilmu pengetahuan! Inilah yg dibilang doktrin comberan ato „Kebo 
duduk" ato dlm bhs Londonya Bull Sit!
 
DH: Bahwa kita adalah keturunan monyet BELUM terbukti secara ilmiah. Ini 
sekedar penyimpulan evolustis. Lagipula, andaikan kita percaya ini, maka jangan 
lupa, juga monyet diciptakan sang pencipta, yang secara falsafah juga diakui, 
menciptakan semua yang ada.
 
Percaya yang buta, memang tak dikenal dalam ilmu pengetahuan, namun, ilmu 
pengetahuan mengenal axioma dan hypothesa. Banyak hal yang anda tak dapat 
buktikan dengan mudah, dan harus anda percaya, misalnya banyaknya titik a 
diantara satu garis A-B (fenomena infinitesimal).
 
6)
Tanpa adanya kepercayaan tidak akan ada ilmu pengetahuan! Ilmu 
Pengetahuan bukannya timbul secara kebetulan! Mereka bisa 
menyelidiki dan menemukan sesuatu, karena diawali dgn adanya 
kepercayaan pada suatu hipotesis. Untuk meraih ini pada awalnya 
mereka harus bersedia mengorbankan „akal budi" atau nalar mereka, 
kalau hanya berdasarkan akal budi saja, manusia tidak akan dapat 
melakukan perjalanan ke bulan! Untuk kepercayaan ini negara2 
adikuasa seperti AS, Rusia telah mengeluarkan dana ratusan milyar 
AS$.
 
DH: Sebaliknya, pembuktian dahulu, baru percaya (hypothesa)!!! kalau A terbukti 
lebih besar dari B, dan B lebih besar dari C,maka dibawah pembatasan tertentu, 
maka A lebih besar dari C.
 
7)
Kepercayaan adalah ufuk (=horison) dari ilmu pengetahuan atau 
akarnya dari setiap ilmu pengetahuan, tanpa adanya kepercayaan tidak akan ada 
ilmu pengetahuan!
 
DH: TIDAK setuju. Pangeran Sidharta Gautama pernah bersabda:
 
"Believe nothing merely because you have been told it. Do not believe what your 
teacher tells you merely out of respect for the teacher. But whatsoever, after 
due examination and analysis, you find to be kind, conducive to the good, the 
benefit, the welfare of all beings -- that doctrine believe and cling to, and 
take it as your guide..."

8)
Begitu juga apabila ilmu pengetahuan sudah buntu, maka kepercayanlah
akan timbul, sebagai contoh: Para ilmuwan percaya (Inggris = 
believe) bahwa usia bumi kita ini kurang lebih 500 juta th yg 
lampau, mereka disini menggunakan perkataan percaya, karena mereka 
tidak dapat memastikannya atau lebih tepatnya karena mereka „teu 
nyaho" alias „tidak tahu"!
 
DH: Ini argumentasi yang membingungkan. Waktu kita disekolah, dan tak mampu 
jawab pertanyaan ujuian, apa yang kita lakukan? Give up!
Kepercayaan TAK akan timbul gara gara ketidaktahuan. Ini nonsense.
 
9) 
Kita percaya untuk hal2 yg kita tidak ketahui atau yg tidak bisa 
kita pastikan, sebab rumusan2 kepercayaan selalu melebihi logika dan
belum dapat di chek, sedangkan rumusan2 ilmiah selalu logis dan 
dapat segera di cek! 
 
DH: Apakah itu rumusan kepercayaan? kepercayaan takkan menjurus pada perumusan. 
Impossible. Sesuatu yang masih menjadi hypothesa HARUSLAH dapat dibuktikan 
later. Sesuatu yang dipercayai, namun tak kunjung terbukti, akan masuk 
keranjang spekulasi..
 
10) Bagaimana ajaibnya pertanyaan anda akan saya buktikan dengan pertanyaan 
balik: kalau saudara saudara kita kaum Muslim percaya pada Allah, tetapi TIDAk 
pada ke Ilahian Yesus, lalu bagaimana? Begok? Juga umat Buddha percaya akan 
adanya Penciptaan, namun dalam definisi yang berbeda dengan apa yang diajarkan 
dalam kitab suci agama agama samawi. Begok?

11)
Apakah orang yg percaya akan Allah itu bisa disebut sebagai  orang 
Geblek yg tidak punya otak? Tidak! 
 
DH: Kalau orang percaya pada Allah, tetapi yang berwujud tunggal, tidak tiga 
pribadi (Tritunggal) bagaimana mang?
 
12)
Walaupun demikian hingga kapanpun juga; ilmu pengetahuan maupun 
kepercayaan tidak akan dapat mencapai penyingkapan total dari 
rahasia2 Allah, manusia, dan universum, maka dari itu sebaiknya kita
berendah hati dan waspada, agar supaya jangan ada penilaian diri 
secara berlebih dan yg tidak halal!

DH: Ini mah sudah jelas mang. Bagaimana kutu akan mampu mengenali bentuk sang 
gajah? Sang pencipta tak mempunyai rahasia, untuk apa main rahasia rahasia an? 
Simply manusia yang tak akan mampu menjangkau dengan indranya. Anda 
tahu,matahari bersinar bukan? Tapi mampukah anda menatap sinar matahari 
beberapa detik saja? Kalau sebuah lilin habis, lalu kita nyalakan lilin baru, 
maka apakah api lilin pertama dan kedua sama dan sebangun? tahukah anda?
 
Penilaian apa yang tak halal mang?
 
Salam pencerahan
 
danardono


***********************************************************************************
If you desire happiness, you should seek the cause that give rise to it,
and if you don't desire suffering, then what you should do is to ensure
that the causes and conditions that would give rise to it no longer arise..
 
Dalai Lama


                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke