http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=perspektif%7C0%7CX Rabu, 20 Juli 2005 Miskin Kota, Miskin Desa
Oleh: Mariana Amiruddin Pada tanggal 12 Juli 2005 yang lalu redaksi Jurnal Perempuan kedatangan tamu. Mereka adalah Ari Ujianto dari Urban Poor Consorcium (UPC), dan Lili Noviani Batara dari Bina Desa. Kali ini redaksi memang sengaja mengundang kawan-kawan yang bergerak berjuang dalam satu isu yang sama, yaitu tentang kemiskinan dalam rangka terbitnya JP edisi 42 tema perempuan dan kemiskinan. Ada dua fenomena kemiskinan dalam perbincangan kami kali ini. Ari Ujianto menangkap sisi kemiskinan kota dan segala persoalannya, sedangkan Lili Noviani Batara bicara tentang karakteristik kemiskinan di desa. Diskusi ini menarik, karena dari dua tamu kita ini, ada benang merah yang menghubungkan persoalan desa dan kota, bahwa keduanya bukanlah energi persoalan yang terpisah. Kemiskinan bahkan bukan lagi isu kelas atau bicara tentang si kaya dan si miskin, kemiskinan menjadi sesuatu yang diciptakan, disengaja, bahkan dibangun karena kesalahan menerjemahkan demokrasi dalam kondisi transisi, dan ketidakcerdasan pengelolaan krisis yang berkepanjangan. Ari Ujianto sangat menarik ketika menggambarkan kondisi kemiskinan di kota, kondisi perempuan yang berbeda dengan lelaki, dan suasana perjuangan untuk melawan kemiskinan yang mereka lakukan. Hal-hal remeh temeh yang tak terpikirkan orang mampu, akan menjadi berarti ketika keseimbangan hidup mulai terganggu. Ari bercerita, di UPC, lembaga yang digelutinya kini begitu terasa bahwa agenda perempuan penting dalam isu kemiskinan. Dulu kegiatan yang dilakukan lembaganya begitu maskulin, misalnya isu yang diangkat tentang becak yang pengorganisasiannya kebanyakan dilakukan untuk dan oleh laki-laki. Namun belajar dari pengalaman di lapangan dan melihat negara-negara lain dalam hal pendampingan seperti di India, dan negara berkembang lainnya, ternyata perempuan miskin kota paling punya banyak persoalan. Uniknya, justru dari perempuan ditemukan hal yang positif dari isu kemiskinan yang negatif, artinya ada ironi dari keberadaan mereka. Dibanding lelakinya, perempuan miskin kota cenderung kuat, paling tahan uji, tetapi sekaligus paling parah dalam konteks kemiskinan. Sejak itulah Ari mengatakan UPC memfokuskan diri pada isu perempuan dan kemiskinan. Perempuan-perempuan itu justru memiliki potensi melawan bahkan mengatasi masalah-masalah kemiskinan melalui pengorganisasian. Misalnya dengan mengumpulkan uang sekaligus informasi dalam setiap kelompok yang mereka bentuk sendiri. Di sanalah para perempuan ini memiliki media komunikasi satu dengan lainnya, terutama untuk masalah ekonomi. Kemudian setiap seminggu sekali akan ada pertemuan besar untuk menyampaikan info-info itu yang kebanyakan tentang penggusuran, bahkan kasus-kasus domestik seperti kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan untuk anak. Persoalan terbesar dari perempuan miskin kota adalah seputar legal dan ilegal dimana tempat mereka tinggal tidak memiliki RT/RW bahkan mereka sendiri tak punya kartu tanda penduduk serta akte kelahiran. Lili Noviani Batara lain lagi, ia bercerita tentang kemiskinan perempuan di desa. Menurutnya persoalan gender belum selesai bahkan di kalangan aktivis petani desa sendiri dimana pengorganisasian lebih banyak dilakukan laki-laki. Di desa, untuk advokasi kasus, perempuan lebih banyak berjuang pada kasus sengketa lahan. Pada saat reklaiming perempuan-perempuan desa-lah yang menjadi benteng terdepan. Misalnya di Palu, ada seorang ibu yang sampai minta cerai bila suaminya menyerah berjuang dalam kasus ini. Bahkan para perempuan ini mampu melakukan penyelidikan, investigasi berkeras hati sampai perjuangan atas tanah mereka selesai. Padahal mereka tidak pernah dididik untuk bersikap militan seperti itu. Fenomena perempuan desa memang sangat kuat dalam hal perebutan lahan, bahkan perempuan bisa bertahan hanya makan garam dan nasi. Para lelaki miskin desa cenderung menyukai hal-hal yang heroik, apalagi bila dalam hal aktivitas perjuangan mereka ada yang tertangkap, ternyata laki-laki lebih cepat putus asa. Tapi bila sudah terjadi reklaiming, para lelaki akan maju ke depan dan perempuan malah ditinggalkan seperti tidak dapat pembagian lahan. Kemiskinan Majemuk Kemiskinan kota sebenarnya persoalan yang dibawa dari desa yang biasanya menyangkut masalah keluarga, ekonomi dan sosial. Masyarakat miskin kota kebanyakan adalah orang-orang urban. Artinya kemiskinan yang kita alami di negeri ini adalah kemiskinan majemuk, tidak hanya sandang pangan, tetapi juga identitas, kemiskinan informasi, akses, dll. Maka bisa dikatakan semua perempuan Indonesia adalah miskin yang tidak hanya secara ekonomi, tetapi dalam tingkatan akses informasi, pendidikan, bahkan partisipasi. Oleh karena itu dalam kunjungan Ari Ujianto dan Lili Noviani Batara dalam rapat ini kami sedikit menyimpulkan bahwa sebaiknya penanggulangan kemiskinan berbasis hak-hak, bukan sekadar materi. Dengan berbasiskan hak maka secara seksual, perempuan yang memiliki karakteristik hak yang berbeda dengan lelaki akan terakomodasi dalam masalah ini. Dengan berbasiskan hak, kategori kelas tak berlaku lagi, yang terjadi adalah merangkum persoalan desa dan kota, jenis kelamin serta indikator yang mendasar mempengaruhi kemiskinan majemuk itu sendiri. Mariana Amiruddin adalah . Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan, Manajer Program Yayasan Jurnal Perempuan *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

