Sepakat dengan Bung Andreas, yuan memang masih undervalued. Ini memang
keuntungan China sebagai negara besar, sentralistik dengan cadangan
devisa berlebihan. Mereka bisa seenaknya membuat kebijakan, yang
sesungguhnya tidak menguntungkan bukan hanya negara maju, tapi juga
negara berkembang seperti Indonesia. 

Begitu juga saya terus terang bisa memahami kekhawatiran mbak Fauziah.
Pemerintah kita masih terlalu SULIT dipercaya. Ada banyak bukti dan
alasan bisa disampaikan untuk mensubstansikan kekhawatiran ini. 

Satu bukti mutakhir yang saya bisa disampaikan disini adalah
KOORDINASI BURUK dan PERSAINGAN TIDAK SEHAT antar instansi yang sampai
sekarang masih marak. Misalnya persaingan segi tiga emas, Depdagri,
Bappenas dan Menkokesra dalam menangani proyek kemiskinan. 

Kemiskinan dan ketimpangan masih dianggap sebagai "proyek" yang harus
diperebutkan, ketimbang untuk kesejahteraan. Jadi, tidak heran meski
masing-masing Departemen hampir pasti memiliki yang namanya 'peta
kemiskinan', tetap saja kemarin Bappenas dan BPS ngotot untuk minta
proyek baru 'peta kemiskinan' yang dihargai Rp. 300 milyar lebih. 

Begitu juga mungkin ada dampak buruk pada produksi domestik. Ini
mengingat sektor manufaktur kita masih banyak tergantung dengan bahan
baku import.

Tapi di sisi lain, jangan lupa, selain China, Malaysia juga pernah
terbukti berhasil menstabilkan ringgit dengan menahan aliran spekulasi
'hot money' dan mendapatkan keunggulan daya saing - walau sementara -
dari undervaluednya ringgit. 

Melalui memasakan rupiah, eksportir dan pemerintah bisa membeli waktu
untuk membenahi tingkat daya saing seperti halnya kedua negara tersebut. 

Begitu juga dengan sedikit diambangkannya dan direvaluasinya yuan,
aliran "uang panas" yang diperkirakan berjumlah USD 100-200 milyar di
China akan mencari tempat parkir lain, dimana Indonesia bisa menjadi
tempat mainan baru bagi mereka. 

Bahaya uang panas plus defisit anggaran ini saya pikir perlu
diwaspadai. Dan meski tidak populer di kalangan pelaku pasar, opsi ini
menurut saya layak dipertimbangkan. 

Overall, Saya pesimis. Disamping soal minimnya cadangan devisa, tambal
sulam kebijakan makro - seperti melalui kebijakan mata uang tanpa
disertai pembenahan sektor riil dan distorsi harga, yang sesungguhnya
penyebab persoalan, adalah artifisial. Apa gunanya membeli waktu
melalui "currency pegged" kalau memang sektor riil dan distorsi
harganya memang tidak mau dibenahi karena ada resistansi dan populisme
kebijakan. 

Salam



--- In [email protected], ANDREAS MIHARDJA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Manipulasi currency yg dilakukan China melalui pemerintah atau
central bank China hanya mungkin kalau negara itu belum bebas
samasekali.  Didalam negara demokrasi tulen dengan pasar terbuka pasti
RMB sudah lama dinaikan harganya dgn mungkin minimum 25% - tetapi
didalam suatu negara dimana ekonmie masih dikuasai dan diatur secara
central maka RMB dapat ditahan harga rendahnya. Ini rupanya dipakai
sebagai senjata untuk mencegah perubahan keadaan secara drastic. 
Kenaikan harga RMB dgn 2 % tidak berarti sama sekali dan masih berada
dibawah inflasi value.
> Harga currency didunia bebas tergantung dari supply dan demand -
kalau demand banyak maka currency naik etc. Dengan dilepaskanya RMB
dgn $ mungkin kalau pasar bebas bisa balance sendiri - tetapi dgn
controlled economy theory2 economy barat tidak dpt dipakai secara
direct - harus tambah factor politik dan pemerintah yg otoriter. Jadi
menurut saya nothing is changed dan RMB is still undervalued.
> Andreas
>  
>  
> 
> 
> fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya kok curiga bahwa ini cuma hokus pokus-nya Cina saja. Paling2 akan
> seperti Singapore dg mainan basket currency-nya. Saya baca dikoran
> mereka akan mengadjust nilai Reminbi dg "secret formulation" :D
> 
> Tujuan utama Cina kayaknya cuma menghindari ancaman balas dendam US
> yang akan mengevaluasi exchange policy China bulan Oktober nanti. Jadi
> ingat waktu ngobrol dg seseorang minggu lalu. Kebetulan dia baru
> pulang dari keliling survey pasar dan pemerintah di bbrp negara Asia
> untuk keperluan Regional Outlook 2005. 
> Menurutnya pelaku pasar di China bilang: ekonomi Cina sebenarnya mulai
> "ngerem", ada slow down import, decreasing lending dari SOBanks,
> perusahaan2 swasta mencoba scale-back di komoditi non-oil, dsb. Jadi
> ada tanda2 softening. Bahkan bbrp investment bankers bergurau: China
> will have a very soft landing on the 35 miles runway.
> 
> Untuk Indonesia? Pertanyaan pertama: do we trust our government? Kalo
> ya, pegged currency mungkin bisa dipertimbangkan sambil liat2 cadangan
> devisa, banking system kita, good governance kita, financial
> infrastructure kita... kok banyak ya? Kalau tidak percaya pemerintah
> dan peralatan perang kita kurang, tapi IDR dipeg, bakalan ke laut deh...
> 
> Saya setuju pendapat salah satu prof saya disini (beliau adalah salah
> satu mantan direktur central bank): monetary policy has never been
> easy. Tidak ada yang sempurna. Semua ada kelemahannya. Amerika saja
> yang paling panjang sejarah moneter-nya masih punya banyak celah,
> apalagi kalau sudah berhubungan dg ekspektasi. Dulu bbrp Bank Sentral
> berprinsip tidak ngomong apa2 soal policy-nya. Sampai2 pernah
> Greenspan bilang: "if you could understand what I said then I must did
> something wrong"
> 
> Untuk merubah exchange regime Indonesia saya kira perlu pemikiran yang
> dalam dan komprehensif. Jangan sampai menyesal karena dalam kasus ini,
> once damage has been done, it would be difficult to restore it.
> Mungkin Henke dg senang hati mau datang ke jkt :)
> 
> just my two-cent,
> 
> fau
> 
> 
> 
> --- In [email protected], M Ikhsan Modjo <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> > Solusi untuk rupiah mungkin hanya dua: Cabut subsidi BBM, atau mungkin
> > -  sekedar mungkin, saya tidak yakin juga -  kembali ke kurs tetap
> > (pegged currency).
> > 
> > Masalahnya mungkin apakah cadangan devisa kita, sekarang dan in the
> > near future mencukupi? Ada yang mau mendiskusikan?
> > 
> > Wassalam
> >  
> > 
> > 
> 
> 
> 
> 
> 
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
>
__________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS 
> 
> 
>     Visit your group "ppiindia" on the web.
>   
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>   
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service. 
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke