http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/7/28/b1.htm
Warung Global Iklim Investasi di Indonesia Kurang Aman Bank dunia memberi warning (peringatan) kepada Indonesia terkait dengan penurunan investasi yang terjadi dan juga karena gagal mempertahankan investasi, demikian kata Ketua Komisi VI DPR-RI Khofifah Indar Parawansa di Padang, Selasa (26/7). Bank Dunia itu sudah bertahun-tahun memberi bantuan kepada Indonesia dan di dalamnya duduk orang-orang profesional, tetapi kenapa tidak tahu watak Indonesia. Bank Dunia kelihatannya terlalu hati-hati untuk menyinggung korupsi di Indonesia, mungkin ini dianggap urusan pribadi. Banyaknya biaya siluman dan keamanan yang tidak terjamin mungkin menjadi poin utama yang mereka perhitungkan. Demikian pernyataan yang terungkap Rabu (27/7) kemarin dalam acara Warung Global di Radio Global FM 96,5 yang direlai Radio Singaraja FM dan Radio Genta Bali. Berikut rangkuman selengkapnya. ========================================================== Alit di Kapal mengatakan kalau bicara iklim investasi dan iklim ekonomi maka jangan sampai melupakan apa yang sudah terjadi dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini. Siapa yang mengajarkan kepada bangsa kita untuk belajar KKN. Bank Dunia tentu sudah tahu situasi ini. Alit juga bertanya, ada apa dengan Bank Dunia pascareformasi ini. Dan, dirinya yakin pasti Bank Dunia sudah mengagendakan untuk 30 tahun yang akan datang. Penjarahan terhadap Indonesia ini sebenarnya sangat besar-besaran. Jika diminta iklim investasi yang kondusif maka harus dikembalikan pertumbuhan negara dan produktivitas masyarakat. Selama ini yang menyebabkan tingkat produktivitas dan lemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ini siapa yang membuat dan siapa yang memanjakannya, tentu dari utang-utang Indonesia yang terdahulu. Social cost akibat yang terjadi setelah terjadi dalam kurun 30 tahun berutang itu banyak sekali. Dan, sepertinya Indonesia ini sengaja dibuat supaya berutang. Alit juga mengatakan yang terjadi sekarang tingkat prduktivitas masyarakat rendah, konsumerisme tinggi, daya saing rendah. Contoh ketika pemberantasan judi seperti sekarang apa yang terjadi di masyarakat ternyata masyarakat tidak siap. Masyarakat sekarang surplus waktunya berlebihan sehingga senang ngerumpi. Sikap Indonesia ketika di-warning Bank Dunia tentu adalah mengevaluasi kembali iklim investasi yang akan dibuka kepada negara maju. Kemudian proteksi pada dunia pertanian harus digiatkan kembali. Apakah sekarang elit pemerintah punya komitmen untuk berdikari atau kita harus mensyukuri rasa lapar dahulu baru kemudian negosiasi dengan Bank Dunia. UUD PMA Sementara itu, Antonius di Tabanan mengatakan minimnya penanaman modal asing di Indonesia. Sudah banyak Indonesia ditinggal oleh investor asing seperti Sony mundur dari Indonesia dan lain-lain. Sebenarnya sejak zaman rezim Megawati disinyalir sudah banyak yang akan hengkang dari Indonesia. Oleh karena itu, banyak yang harus dilakukan oleh negara Indonesia dalam melibatkan investor asing antara lain perangkat undang-undang. Semasa rezim Soeharto begitu beliau berkuasa langsung ada UU PMA No. 1 tahun 1967 yang membuka pintu Indonesia selebarnya bagi para investor dari luar negeri. Apakah UU PMA itu sudah dicabut, ini yang menjadi pertanyaan Antonius sehubungan dengan pernyataan Kofifah yang menyatakan harus ada undang-undang penanaman modal asing. Kalau nantinya ada undang-undang baru PMA tentu semua tergantung dari insan-insan penegak hukum. Kalau tidak ada kemauan dan tekad insan penegak hukum bagaiaman pun baiknya peraturan/undang-undang akan menjadi mubazir saja. Contoh bila masalah korupsi tidak ada tekad kuat untuk benar-benar membasmi adalah tindakan yang percuma. Tentu perangkat hukumnya harus berperan. Bank Dunia kelihatannya terlalu hati-hati untuk menyinggung korupsi di Indonesia, mungkin ini dianggap urusan pribadi Indonesia. Banyaknya biaya siluman dan keamanan yang tidak terjamin mungkin menjadi poin utama yang mereka perhitungkan. Nang Tualen di Tabanan mengatakan Bank Dunia benar-benar membuat ulah di Indonesia. Indonesia menjadi keblinger. Sebagai orang awam seandainya dirinya jadi Bank Dunia aturan di Indonesia yang begitu banyak ini akan membuat bingung. Ia menyarankan agar kita tidak terlalu emosi menyikapi warning mereka. Dikatakan Namg Tualen, harus ada kearifan di dalam berpikir. Bank Dunia harus diberi kepastian oleh pemerintah tentang peraturan di Indonesia dalam menangani berbagai jenis korupsi. Dan, dirinya menyambut baik kalau sistem penegakan hukum dan penanganan koruspi sedang dicari dan dipelajari yaitu dengan keberangkatan SBY ke Cina. Semoga SBY berhasil. Jero Wijaya di Kintamani mengatakan bukan hanya Bank Dunia saja yang me-warning Indonesia, termasuk IMF, ADB dan yang lainnya harus memberi warning kepada Indonesia. Mengapa demikian? Dirinya melihat di Jawa Tengah ada bupati didemo oleh masyarakat karena terlalu banyak memotong dana proyek. Banyak jenis kasus-kasus korupsi seperti itu. Di Bangli juga ada proyek yang sudah dua tahun belum terselesaikan. Dana proyek itu sudah habis tetapi proyek tidak diselesaikan. Di Indonesia ini paling banyak adalah koruptor yang notabene orang nomor 1 dan 2 di masing-masing daerahnya. Ditinggal Investor Natri Udiani di Denpasar mengatakan Indonesia ini sudah nyata sekali ditinggalkan investor. Lihat saja Mitsubishi, Sony, hengkang dari Indonesia, siapa lagi yang menyusul tentu ini memprihatinkan. Artinya, pemerintah benar-benar tidak bisa memberikan iklim yang sejuk di Indonesia. Apalagi Indonesia sudah dicap sarangnya teroris. Kalau SBY bisa menghilangkan kesan itu tentu investasi akan tumbuh lagi dan akan seperti jamur di musim hujan. Dengan hengkangnya Sony, Mitsubishi, tentu berdampak pada jumlah pengangguran. Mohon SBY jangan sering-sering ke luar negeri dan legislatif juga jangan ikut ke luar negeri. Jangan jor-joran semua ingin menikmati devisa, tetapi tidak bisa mendatangkan devisa. Ekspor juga sedang jeblok, tidak ada yang meningkat. Suardana di Gubug mengatakan lebih baik kita berhenti saja berhubungan dengan Bank Dunia. Indonesia, menurut Suardana, sudah kebanyakan duit, buktinya para pejabatnya keluyuran ke luar negeri. Indonesia sudah mendapatkan bantuan uangnya sudah dibawa ke luar negeri malah ada proyek pekerjaannya nungkak. Contoh di daerahnya ada proyek bantuan Jepang untuk pemotongan hewan juga nungkak tidak tahu kapan selesai. Apa sih gunanya sekaranng kita meminjam lagi ke Bank Dunia. Apalagi sekarang pejabat dan DPR kita banyak diberikan bonus perumahan, mobil, padahal itu uang pinjaman juga. Putuskan saja hubungan kita dengan Bank Dunia. Nuarta di Denpasar mengatakan dirinya setuju memutuskan hubungan dengan Bank Dunia. Tetapi, apakah Indonesia mampu berdikari? Kalau mampu itu sah-saha saja. Namun, perlu diingat kita adalah negara yang baru berkembang dan Indonesia kelihatannya masih membutuhkan negara lain, wajar Bank Dunia memberikan warning. Solusinya, tegakkan peraturan hukum, baru kita berani putus dengan bantuan negara lain. Apalagi uang kita banyak dikorup. Gudes di Tabanan mengatakan investasi selalu saja berhubungan dengan situasi aman. Masalah KKN Indonesia selalu kecenderungan pada birokrasi yaitu pada cost yang mahal. Kebocoran investasi 30 persen inilah yang menimbulkan masalah bagi investor. Jadi Indonesia ini belum terwujud sebagai kawasan yang aman untuk investasi. Negara lain seperti Thailand sudah punya daerah yang aman. Dan, ia melihat gerak masyarakat Indonesia masih labil dan gampang dipengaruhi unsur-unsur tertentu, sehingga sering menimbulkan kerugian bagi fasilitas investasi. Ini jelas mengundang keraguan. Padahal investasi justru akan berhubungan dengan peningkatan ekonomi, misalnya menangani pengangguran dan daya beli masyarakat. Tetapi, Gudes menilai saat ini sudah mulai ada komitmen yang jelas yaitu gencarnya pemberantasan korupsi dari SBY. Lain lagi dengan Made Sura di Tegallalang. Ia mengatakan pemberian warning ini juga bentuk kegagalan dari Bank Dunia. Bank Dunia itu sudah bertahun-tahun memberi bantuan kepada Indonesia dan di dalamnya duduk orang-orang profesional, tetapi kenapa tidak tahu watak Indonesia. Bank kecil seperti BPR saja akan bertindak bila satu dua kali gagal, kenapa Bank Dunia tidak seperti itu. Ini benar-benar sangat lucu. * bram [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

