http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/28/opini/1925084.htm
Negara Tanpa Negarawan
Oleh: Benny Susetyo
Berbagai kejadian memilukan dan memalukan akhir-akhir ini membuat bangsa
ini kian kehilangan rasa optimistis untuk keluar dari krisis.
Busung lapar, polio, kurang gizi, kelaparan, krisis bahan bakar minyak,
pendidikan menurun, korupsi dan pemberantasannya, narkoba, penegakan hukum yang
payah, ketidaknyamanan fasilitas pelayanan publik, dan seterusnya, membuat rasa
optimisme menjadi bangsa yang kuat semakin menipis.
Optimisme mulai pudar ketika sebagian besar elite bangsa mulai kehabisan
empatinya terhadap berbagai persoalan yang menimpa bangsa. Busung lapar,
misalnya, belum berhasil membuat elite bangsa ramai-ramai bersolidaritas
mengeluarkan sebagian depositonya untuk membantu mengurangi beban penderitaan.
Empati lahir dari ketulusan hati. Namun, meski elite memiliki nurani,
tetapi empati terhadap persoalan bangsa belum menjadi bagian dari cara mereka
melihat, merasa, dan memikirkan bangsa. Realitasnya, empati kian lama kian
tidak dianggap sebagai bagian terpenting proses bangsa keluar dari krisis.
Jangankan bergerak menjadi simpati, sebagai sikap hidup, nyatanya rasa empati
pun kian hilang dari sanubari.
Tak pernah dibatinkan
Bangsa ini telah kehilangan kepercayaan diri sebagai kaum yang mampu
bergerak bersama untuk memiliki dan meraih harapan yang tersisa. Harapan yang
dinantikan tak kunjung datang karena kita melupakan hal yang paling mendasar
sebagai bangsa, yakni tidak berani melihat sejarah.
Sejarah sebagai bangsa tidak pernah dibatinkan dalam kehidupan bersama
karena hanya ditulis oleh jenderal pemenang perang dan selalu dimanipulasi
untuk melestarikan kekuasaan.
Katanya, kebesaran dan adidaya suatu bangsa bisa ditengok dari bagaimana
sejarah suatu bangsa dibangun. Nyatanya, sejarah kita lepas dari pembatinan.
Sejarah kita hanya menjadi materi pendidikan di sekolah dan perdebatan yang
membosankan.
Akibatnya, sikap obyektif tidak menjadi bagian dari kultur kehidupan.
Hidup hanya dimaknai apa yang menyenangkan indrawi. Kebijakan diambil tanpa
memedulikan dasar hukum. Semua serba kacau, serba bertentangan.
Pertentangan demi pertentangan boleh dijadikan ukuran bagaimana demokrasi
bangsa dihargai. Namun, pertentangan itu hanya tameng bagi elite untuk
mengelabui publik bahwa bangsa ini sudah demokratis. Seolah-olah demokrasi
hanya sekadar berbeda pendapat. Seolah demokrasi hanya berisi pertentangan dan
boleh mengabaikan kepentingan yang lebih besar, yakni kesejahteraan rakyat.
Bangsa yang tak pernah membaca dan membatinkan sejarah adalah bangsa yang
tidak memiliki pathos, yakni bangsa yang sedikit demi sedikit menghilangkan
ingatan secara kolektif akan nilai-nilai ketulusan dan kejujuran. Yang ada
adalah ambisi politik dan kekuasaan untuk menguasai dan menipu publik.
Dalam kenyataannya, uang menjelma menjadi monster baru dalam dinamika
demokrasi. Dalam pemilihan gubernur, bupati/walikota, pejabat, dan pos-pos
kekuasaan lain, uanglah yang berbicara, bukan nurani.
Tanpa pertimbangan akal
Uang juga berbicara dalam berbagai perumusan kebijakan negara. Berbagai
aturan dibuat tanpa ada pertimbangan akal sehat dan nurani. Tanah boleh
digusur, orang boleh ditipu. Semua dibungkus dalam aturan yang disahkan atas
nama bersama.
Kita tidak menyangkal karena sering kali aturan dibuat sebagai bentuk
deal dengan cukong. Dengan bahasa sarkastik, aturan dibuat karena ada pesanan
para cukong. Para cukong itu, di negeri ini, merasa paling berkuasa.
Negeri ini sudah dipenuhi para cukong berdasi yang mengatur deal demi
deal dengan politisi.
Dan deal tentu secara logis dibuat dengan sama sekali meminggirkan
kepentingan rakyat. Lalu, di mana posisi rakyat dalam pertarungan dan perumusan
deal-deal antara mafia, politisi busuk, makelar politik, pemodal hitam, atau
para cukong?
Posisi rakyat amat dilematis karena tak berdaya menghadapi semua ini.
Sudah lama rakyat tidak memiliki kekuatan dan minim daya tawar akibat sejak
lama ditipu oleh aturan-aturan menyesatkan. Selama ini, publik tidak pernah
mendapat kecerdasan yang membuat mereka paham mengenai demokrasi sebenarnya.
Warga tidak pernah mendapat pendidikan politik memadai.
Partai politik, entah besar entah gurem, perilakunya masih zaman Orba,
tidak berubah. Yang menjadi orientasi partai, bagaimana menguasai aset negara
sebanyak-banyaknya untuk kepentingan diri elite dan partainya! Dalam kategori
Maslow, kelompok politik ini masih dalam proses pemenuhan kebutuhan paling
mendasar, yakni rasa kenyang!
Partai hanya akan berbunyi bila dipandang ada kepentingan politik praktis
yang menguntungkan. Karena itu, jangan harap partai memiliki empati terhadap
berbagai penderitaan bangsa. Jangankan peduli penegakan hukum, peduli busung
lapar atau bencana alam pun amat rendah.
Inilah yang membuat negeri ini kian kehilangan daya nalar dan hati
jernih. Negeri yang serakah. Negeri yang menghasilkan orang tidak tahu diri,
tidak sadar atas kemampuan dan keterbatasannya.
Negeri dengan penghuni yang berlomba-lomba ingin menduduki kekuasaan,
tetapi tidak memiliki sikap kenegarawanan babar blas.
Negeri kita sedang menderita penyakit, akut dan kronis. Diperlukan
kesadaran kolektif yang bisa mendobrak semua kebekuan. Bencana di Aceh hanya
menghasilkan simpati sesaat, busung lapar belum menghasilkan elite-elite dengan
empati yang tangguh. Lalu, dengan cara apa bangsa ini harus diajar dan dididik?
BENNY SUSETYO Budayawan
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/