Muhammad Dalam Sastra Goethe

Oleh : Taufik Munir

Adakah kata-kata yang lebih mengabadi selain syair

atau puisi? Banyak kata yang dimuntahkan filsuf,

pemikir atau nabi, namun -setelah kitab suci- syair

selalu menjadi media komunikasi antargenerasi yang

paling efektif. Ini dibuktikan oleh pencipta syair,

yang meskipun mereka sudah tiada namun karyanya tetap

berbicara, senandungnya senantiasa mendengung, kepak

sayap syairnya selalu mendarat di telinga

pendengarnya.

Van Goethe, penyair Jerman terkemuka abad-18 yang

karyanya mengabadi hingga kini, berhasil merekam

kemunculan Muhammad yang dianggapnya sebagai 'seorang

promotor revolusi sosial yang membawa nilai keadilan

dan persaudaraan'. Kata-kata Muhammad begitu bertuah,

siapa mendengarnya berbicara, kawan dan lawan akan

tunduk membenarkan. Muhammad melebihi semua penyair

dan raja yang mendahuluinya. Ketika Muhammad

mengibarkan panji Quran, Goethe dengan lantang

mengakui: "Kitab ini akan tetap mendapat tempat

melampaui seluruh masa dan mempunyai pengaruh yang

kuat."

Goethe sendiri terpengaruh. Bukan hanya pada seorang

Muhammad, tapi juga pada sastra timur yang dikaguminya

itu. Akhirnya pada 1771 dan 1772, ia berinteraksi

langsung pada Alquran dan mulai fasih berbicara dengan

Islam dan Muhammad. Sampai-sampai sebagian pemikir

Jerman menganggapnya benar-benar masuk Islam, karena

tulisannya yang banyak memuja nabi umat Islam itu. Tak

aneh jika lantas mereka menuduh Goethe 'punya hubungan

khusus', lebih dari sekadar hubungan pribadi dengan

Muhammad.

Terbukti pada tahun yang sama, Alquran berhasil

diterjemahkan oleh Frederich Megerlin ke dalam bahasa

Jerman dan untuk pertama kalinya terbit. Reaksinya

begitu cepat, salah satu halaman edisi 'kritikus

sastra Frankfurt' memuat kritik tematis terhadap pusat

penerjemahan Alquran itu. Dilihat dari gaya bahasa dan

cara pengungkapannya, penulis yang protes itu ternyata

Goethe.

Protes gencar tersebut membuktikan, Goethe secara

eksplisit mengikrarkan diri pada kekecewaannya

terhadap penerjemahan yang serampangan itu. Barangkali

karena Goethe punya persepsi lain tentang Alquran,

jauh lebih banyak dari gambaran yang diungkapkan

penerjemah itu. Terlebih lagi Megerlin menulis tentang

Alquran dan Nabi tidak dengan sebenarnya.

Goethe begitu intens mempelajari bahasa dan sastra

Arab, baik yang tertulis dalam antologi karya

sastranya atau buku ilmiah yang ia tulis. Salah satu

bukunya West-Ostlicher Divan yang berarti Sastra Timur

Oleh Pengarang Barat, sebagai contoh. Selain ditulis

dalam bahasa Jerman, juga ditulis teks Arabnya

Al-Diwan Al-Sharq Li Al-Mu'allif Al-Gharbi. Demikian

juga dengan judul puisi yang ia tulis, hampir semuanya

berbahasa Arab. Maka tak heran hampir di tiap karya

Goethe akan ditemukan judul seperti: Moganni Nameh

yang berarti Al-Mughanni (Sang Penyanyi), Uschk Name

yang berarti kitab al-'Usyq (bab cinta), Tefkir Nameh

yang asalnya kitab al-Tafkir (bab perenungan), dan

ratusan judul yang berbau Arab lainnya. 

Penulis mencoba menulis apa yang dikatakan Goethe

dalam semua karyanya itu. Dalam salah satu pasal

khusus berjudul Mohammad berbentuk prosa, Goethe

memulai ceritanya tentang kemunculan seorang nabi

akhir zaman: "Saat kita berkontemplasi, kita terbiasa

melihat sesuatu dengan pola pandang sastra, atau

--setidaknya- kita merujuk ke sana. Namun yang juga

relevan dengan tujuan kita sejak pertama adalah

memberi pengkabaran tentang tokoh yang luar biasa itu

--seperti yang ia umumkan sendiri dan menegaskan

dengan pasti- bahwa ia hanyalah seorang Nabi, dan

bukan seorang penyair." (West-Ostlicher Divan).

Ini berarti, Goethe tidak merasa puas dengan

menyebutkan keagungan dan kekuatan pribadi Muhammad

pada syair dalam antologi itu. Bahkan ia seolah ingin

menegaskan keyakinannya pada keagungan pribadi Sang

Nabi, tanpa harus diletakkan pada tabir fantasisme

syair atau dialogisme drama.

Untuk penegasannya itu, dalam halaman yang lain,

Goethe menjelaskan lebih jauh tentang perbedaan antara

Nabi dan Penyair. Kata Goethe: "Kalau kita ingin

memberi batas pembeda antara seorang penyair dan Nabi,

jelas kita akan jawab bahwa keduanya inspirasi Tuhan

dan dalam perlindungan Nya."

Seorang penyair pasti dihibahkan Tuhan dengan rasa

nikmat tiada tara dan berupaya mengekspresikan

ekstasisme syair itu sedemkian rupa, sehingga berhasil

menjadi suatu keindahan yang berlipat-lipat dan itu

berarti akan mengenyampingkan motivasi lain.

Sementara, seorang nabi tidak demikian. Ia tidak akan

pernah melihat kecuali pada suatu posisi mata bidikan

tertentu, selalu menggunakan segala fasilitas untuk

mencapai tujuannya dengan cara termudah. Nabi selalu

ingin menunjukkan suatu keyakinan tertentu,

mengorganisasi semua bangsa di sekitarnya, seolah

bermimpi tengah menggenggam dunia dalam satu panji.

Untuk tujuan ini, seorang nabi ingin dunia rela bahwa

ia seakan tengah menjejaki langkah dalam satu nada.

(West-Ostclicher Divan).

Jika kita mencoba untuk meninggalkan antologi Goethe

barang sejenak, kemudian beralih pada sebagian karya

Goethe yang lain, serta merata kita akan menemukan

keberanian langka yang dimiliki Goethe saat ia

menyatakan: "Bagaimana pun saya tidak akan pernah

mampu melihat bahwa Muhammad seorang penipu."

-Gesammelte Werke (Dichtung und Wahreit) 6/600.

Terlebih lagi ada berbagai macam saksi yang

menunjukkan, di balik keyakinan Goethe terdapat akar

masa silam yang menyemburat dalam benaknya, membentang

dari empat puluh tahun perjalanan hidupnya saat ia

merintis karya tulis tentang 'Muhammad' untuk teater

yang tak pernah rampung hingga 1773.

Upaya menulis karya teater itu disebutkan dalam sebuah

buku hariannya: "Sebelumnya aku sudah membaca

kehidupan Nabi dari Timur itu dalam waktu singkat dan

kupelajari dengan hati-hati, karena itu aku merasa

siap ketika ide itu muncul". Dari pengakuannya ini,

berarti tokoh ini telah membentuk keyakinan terhadap

Nabi umat Islam itu sejak sekitar 1772, yaitu sebelum

ia mulai menulis karya teater, dan ternyata

berkelanjutan terus hingga buku Dichtung und Wahreit

itu diterbitkan antara 1811-1814.

Dengan kata lain, cetakan kedua buku tersebut dimulai

beberapa saat sebelum ia meninggal dunia, justru

terbit setelah ia meninggal yaitu pada 1831-1833 tanpa

perubahan sedikit pun dari yang ditulisnya tentang

Nabi mulia itu. Dengan analisis tambahan ini dapat

kita simpulkan: keyakinannya pada kenabian Muhammad

terus berlanjut sekitar 60 tahun hingga ia meninggal

pada 1832. 

Untaian kalimat indah dari sang Nabi: "Sesungguhnya

perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi sebelumku

bagaikan seorang laki-laki yang membangun sebuah

rumah. Ia memperbagus dan mempercantik rumah itu

kecuali satu tempat batu bata di sebelah pojok. Rumah

itu membuat orang-orang takjub dan berputar

mengelilingi dan memujanya. Lantas mereka berkata:

Mengata tidak engkau letakkan batu bata ini?"

Jawab Muhammad: "Akulah batu bata itu. Dan akulah

penutup segala Nabi." (Ibnu Hajar Al-Asqalani: 43/14).

Mahasiswa Filsafat Universitas Al-Azhar, Kairo

e-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke