gagasan STA sama sekali tidak "maha"
justru (maaf) jauh panggang dari api.
sekarangpun
omong wacana bukan realita
mau bukti lebih rinci ?
salam, japri





--- In [email protected], Brian Chang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Menggagas kapitalisme di Indonesia
> 
> Dulu Sutan Takdir Alisjahbana (STA) pernah angkat bicara tentang 
ide 
> modernitas sebagai jalan menuju budaya dan masyarakat baru 
Indonesia. Dalam 
> suatu Kongres Pendidikan Nasional pada 1935.
> 
> STA berteriak lantang dengan slogan-slogan "Kesadaran tentang 
individualisme 
> harus dibangkitkan" atau "Bangsa Indonesia harus didorong untuk 
menumpuk 
> kekayaan material sebanyak mungkin" (Ayu Ratih, Reconsidering 
the 'Great 
> Debate' on Indonesian National Culture in 1935-1942). Saya 
beranggapan STA 
> adalah tokoh liberal yang amat radikal. Setidaknya dengan 
memperhatikan 
> realitas masyarakat masa itu yang tidak begitu paham 
arti "materialisme 
> ekonomi" dan "modernisasi". Ditambah juga dengan masih hinggapnya 
alam mitos 
> di banyak pikiran manusia Indonesia.
> 
> Namun dalam situasi sekarang ini pun, diskursus tentang 
materialisme ekonomi 
> dan rasionalitas (baca: kapitalisme) masih mengundang perdebatan 
hangat. 
> Wacana kapitalisme masih saja dilirik dengan penuh curiga dan 
alergi karena 
> gagasan itu dianggap berasal dari dunia yang "bukan" kita--suatu 
perdebatan 
> lampau yang tak kunjung selesai. Di sisi lain, dalam nuansa yang 
lebih 
> ideologis, diskursus kapitalisme diasosiasikan dengan jargon-
jargon 
> individualisme, liberalisme dan laissez-faire.
> 
> Lepas dari perdebatan yang filosofis, banyak ide-ide dasar 
kapitalisme yang 
> dapat diartikulasikan secara pragmatis. Kapitalisme secara 
pragmatis juga 
> ide tentang hak atas kepemilikan individu, rasionalitas dan 
ekonomi pasar. 
> Tiga ide ini yang mestinya kembali digagas untuk Indonesia.
> 
> Zaman sekarang sudah pasti beda dengan masa STA dulu. Kini mitos 
bahwa 
> kemiskinan tidak akan pernah dapat diakhiri pada zaman kita telah 
memenuhi 
> ruang pikiran setiap orang. Mitos ini telah menghilangkan banyak 
harapan. 
> Sejumlah pihak menuduh kapitalisme sebagai biang keladi situasi 
ini. Tetapi 
> saya melihat justru sebaliknya. Ketiadaan prinsip-prinsip dasar 
kapitalisme 
> yang telah memiskinkan masyarakat kita.
> 
> Mengapa demikian? Dalam suatu pidato yang berjudul "Bringing 
Capitalism to 
> the Masses" (2004), Hernando de Soto menunjukkan bahwa di Meksiko 
hampir 
> sekitar 80% penduduknya melakukan aktivitas ekonomi di sektor 
informal. 
> Nilai aset usaha yang mereka miliki bernilai sekitar US$315 
miliar, dimana 
> setara dengan tujuh kali nilai cadangan minyak mereka.
> 
> Di Mesir, orang-orang semacam ini memiliki aset yang bernilai 
US$248 milliar 
> atau setara dengan 70 kali bantuan bilateral yang telah mereka 
terima selama 
> ini. Saya rasa kenyataan ini terjadi pula di Indonesia
> 
> Semua aset-aset itu digerakkan oleh usahawan-usahawan kecil dengan 
> prinsip-prinsip yang kapitalistis. Aktivitas usaha mereka tanpa 
perlindungan 
> maupun pertolongan negara sama sekali. Bagi mereka kompetisi 
adalah hal yang 
> wajar dan tidak perlu menjadi ketakutan seperti para usahawan 
dengan aset 
> besar itu. Mereka pun cukup fleksibel dan berani mengambil risiko 
untuk 
> berpindah dari satu bentuk usaha ke usaha yang lain.
> 
> Persoalannya, mengapa mereka yang memiliki aset ekonomi berharga 
dan dapat 
> dimanfaatkan untuk menggerakan perekonomian nasional harus 
melakukan 
> aktivitas secara informal? Parahnya lagi hak atas kepemilikan aset 
mereka 
> tidak dijamin oleh hukum. Padahal kita paham bahwa bagi mereka 
sebidang 
> kecil tanah maupun tempat usaha dimiliki itu amatlah berharga.
> 
> Hak atas kepemilikan merupakan hal penting dalam masyarakat. Hak-
hak ini 
> terbentuk sebagai hasil konsensus di tingkat bawah dan masyarakat 
kita telah 
> mengenalnya sejak lama. Dalam sistem hukum kita, ada yang dikenal 
dengan 
> hukum kepemilikan berdasarkan adat. Sementara bila dilihat jauh ke 
belakang, 
> nusantara merupakan kepulauan yang sibuk sebagai jalur perdagangan.
> 
> Perdagangan hanya berangkat dari kepercayaan, antara satu 
masyarakat dengan 
> masyarakat yang lain. Untuk itu pengakuan atas hak kepemilikan 
selalu 
> ditemui dalam masyarakat dagang (commerce society).
> 
> Dalam sistem negara modern, pengakuan negara atas hak kepemilikan 
dan 
> perlindungan terhadapnya menjadi keharusan. Tanpa jaminan hukum 
atas hak 
> kepemilikan, setiap individu dapat menjadi korban birokrasi yang 
korup, 
> politisi dan aksi premanisme dari orang-orang yang menikmati rente 
tanpa 
> usaha.
> 
> Berangkat dari realitas ini, segala hak kepemilikan pribadi, 
berapa pun 
> jumlah dan bentuknya, harus dijamin oleh hukum dan negara. Langkah 
praktis 
> untuk ini, salah satunya, adalah dengan memudahkan pemberian 
status hukum, 
> memperpendek prosedur dan memberantas pungutan untuk pengurusan 
izin usaha.
> 
> Dengan jaminan dan penegakan hukum atas aset ekonomi mereka, para 
usahawan 
> kecil itu akan terlindungi dari aktivitas rente dan praktik bisnis 
yang 
> tidak sehat. Selain itu mereka juga berpotensi mendapatkan akses 
terhadap 
> pasar kredit dan memungkinkan untuk ekspansi usaha.
> 
> Selain pengakuan hak kepemilikan, kapitalisme juga bicara tentang 
> rasionalitas. Pembagian kerja dan kalkulasi biaya merupakan 
rasionalisasi 
> atas sistem produksi. Rasionalisasi ini yang mendorong tingginya 
> produktivitas dan menjadi kunci keberhasilan negara-negara maju 
saat ini. 
> Tentu tidak ada pelaku usaha yang tidak rasional dalam 
menggerakkan 
> bisnisnya. Akan tetapi yang seringkali ditemui justru pemerintah 
yang tidak 
> rasional dalam kebijakannya.
> 
> Abaikan persoalan
> 
> Sebut saja kebijakan subsidi suku bunga untuk usaha kecil dan 
menengah 
> (UKM). Harus dihargai niat baik pemerintah untuk mendorong sektor 
UKM 
> melalui instrumen kebijakan ini. Tetapi disini pemerintah 
mengabaikan akar 
> persoalan yang terjadi. Dalam banyak temuan, suku bunga bukanlah 
> permasalahan besar bagi usaha kecil dalam akses kredit.
> 
> Namun ketiadaan pengakuan hukum atas usaha mereka yang menjadi 
kendala 
> mendapatkan kredit. Tanpa jaminan hukum usaha, mereka tidak dapat 
> menggunakan aset mereka sebagai kolateral kredit. Sementara dalam 
kebijakan 
> ini, pemerintah cenderung merusak pasar kredit yang selama ini 
telah 
> terbangun antara Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan sektor UKM 
dan 
> informal.
> 
> Terakhir, ide tentang kapitalisme juga ide tentang ekonomi pasar. 
Seperti 
> yang diungkapkan de Soto, selama ini kita menyangka, termasuk juga 
negara 
> donor, bahwa ketiadaan fasilitas publik, seperti infrastruktur 
merupakan 
> penghambat utama perekonomian di negara berkembang. Itu memang 
benar, akan 
> tetapi ternyata yang jauh lebih dibutuhkan sebetulnya adalah 
landasan 
> institusi ekonomi pasar.
> 
> Apa yang dikehendaki dalam sistem ekonomi pasar kini bukanlah 
peran negara 
> yang minimal. Namun intervensi negara dalam ekonomi hendaknya 
tidak merusak 
> insentif yang sudah ada.
> 
> Kita butuh jalan pintas untuk mematahkan mitos tentang kemiskinan. 
Jalan itu 
> harapan tentang kehidupan, kebebasan dan kepemilikan. Semuanya itu 
harapan 
> banyak orang, termasuk juga orang miskin. Hanya dengan sistem 
ekonomi yang 
> ramah terhadap pasar, jalan itu terbuka lebar.
> 
> Oleh Teguh Y. Wicaksono
> Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International 
Studies 
> 
> ---
> Komentar oleh Jim Thio:
> 
> Ini orang pintar sekali. Tapi saya perlu kasih sedikit penjelasan 
karena banyak pasti tidak mengerti. Suku bunga yang natural adalah 
suku bunga di mana jumlah simpanan sama dengan jumlah pinjaman. 
Apabila pemerintah menurunkan atau menaikkan suku bunga maka itu 
namanya "easy" money policy.
> 
> Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah lebih banyak orang meminjam 
dari pada orang yang menabung. Apabila kita dapat simpanan dari luar 
negeri sih dengan bunga rendah dan langsung di pinjamkan ke 
pengusaha sih okay. Tapi pinjaman dari luar negeri di korupsi 
sehingga suku bunga memang nggak bisa turun.
> 
> Apa yang terjadi dengan easy money policy? Devisa negara lama lama 
habis. Negara secara eronous mengakibatkan capital misallocation 
dengan memotivasi orang untuk bisnis Real Estate. Then what happen? 
Then one day, the easy money policy will not longer be sustainable. 
Suku bunga terpaksa naik, dan bisnis Real Estate pun berhancuran. 
Ini namanya business bubble. Indonesia, jaman Suharto menganut Tight 
money policy. Jadi saya masih kurang mengerti kok bisa ancur ya?
> 
> Perusahaan kecil ROInya tinggi tinggi. Jadi mereka tidak 
dipengaruhi suku bunga. Kalo kita puter duit dengan laba 50% setaon, 
apa sih artinya suku bunga naik atau turun 1%. Tapi kalo kita 
perusahaan real estate. Pemerintah bilang suku bunga 9%. Sebagai 
pengusaha kita akan bilang, betul nih 9%? Kalo gitu saya bangun 
gedung masih masuk dong untungnya? Jadi gedung gedung di Indonesia 
dibangun dengan ROI sedikit di atas 9%. Mungkin cuman 10%. Kalo 
kemudian bunga naik jadi 25% ya gedung gedung cuman kelar separo.
> 
> Nah, di sini ada dua sekolah economy.
> 
> Sekolah yang pertama adalah Austrian Economy school. Sekolah ini 
berpendapat bahwa negara tidak seharusnya ikut campur dalam interest 
rate. Kalo ada market shock dari luar negeri, ya wess. Bahkan dalam 
resesi pun sebetulnya ekonomi sudah berjalan optimum. Kalo misalnya 
harga kancing anjlok dari Rp. 10.000 ke Rp. 5000. Apakah pabrik 
kancing yang ongkos produksinya Rp. 6000 harus berhenti membuat 
kancing? Jawaban saya adalah ya. Demikian juga apabila suku bunga 
naik, saat itu juga rencana membangun bangunan harus di stop.
> 
> Sekolah kedua adalah Chicago School. Sekolah ini berpendapat bahwa 
negara harus campur tangan dalam kasus kasus extreme di dua bidang. 
Satu menjaga interest rate dari market shock. Dan kedua dalam 
memecah monopoly.
> 
> Misalnya, jaman dulu di jaman negara berperang. Ada satu negara 
yang mengexport banyak beras, lalu kemudian secara tiba tiba 
menghentikan export beras. Yang terjadi adalah negara tetangganya 
yang menganut pasar bebas jadi kelaparan lalu diserang.
> 
> Chicago School berpendapat bahwa during Recession, negara harus 
secara artificial menurunkan interest rate. Negara juga harus 
mengadopsi tigh money policy untuk memecahkan bubble.
> 
> Menurut saya Chicago school ini, dipimpin oleh Milton Friedman ada 
benernya juga. Tapi hanya penting untuk kasus kasus extreme di mana 
rakyat udah sampe bisa kelaparan. After all, it's just money right, 
dan hidup kan lebih penting (gile gua commies lho).
> 
> Satu lagi, pasar itu Rasional. Tapi pemerintah juga rational. 
Cuman kepentingan pejabat pemerintah beda dengan kepentingan 
pengusaha. Kalo pengusaha boros bahan baku menaikkan ongkos 
produksi, laba jadi kecil. Kalo pemerintah menaikkan ongkos 
produksi, laba jadi gede. Tull nggak? Ada yang pernah bisnis ama 
pejabat?
> 
> Solusinya menurut saya adalah membuat system dividen untuk rakyat. 
Jadi kalo pemerintah pengeluarannya di perkecil, semua warga negara 
di atas 18 taon dapat duit cash. Ini akan memotivasi rakyat untuk 
memilih wakil rakyat yang hemat.
> 
> Udah gitu, kewarganegaraan indonesia kan jadi punya market value. 
Itu bisa diperjual belikan. Jadi orang kaya kalo mau punya anak 
banyak, musti beli kewarganegaraan buat anaknya satu satu. Orang 
miskin bisa dapat uang dengan menjual hak mewariskan 
kewarganegaraannya kepada yang kaya buat modal dagang dan bikin anak 
lebih sedikit. Ntar kalo dagangnya udah sukses, si miskin bisa beli 
lagi kewarganegaraan buat anaknya.
> 
> Jim




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h291osm/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122842279/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke