MEDIA INDONESIA
Selasa, 02 Agustus 2005

Prajurit Tumbang dalam Pilkada
Aris Santoso, pengamat TNI



PILKADA yang berlangsung baru-baru ini, tidak satu pun yang menempatkan calon 
yang berasal dari TNI keluar sebagai pemenang. Benar, seluruh perwira TNI 
rontok dalam pilkada. Fenomena ini menjadi menarik karena seolah tidak match 
dengan kemunculan SBY (yang juga figur militer) sebagai orang nomor satu di 
negeri ini.

Kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi TNI untuk menentukan sikap di masa 
depan, apakah masih akan bertarung dalam pilkada-pilkada berikutnya. Seandainya 
masih akan bertarung, kira-kira strategi macam apa yang akan dipilih agar 
hasilnya bisa optimal.

Politik kekuasaan
Bagi TNI, periode sekarang masih bisa disebut masa transisi: dari sebuah 
kekuatan politik yang sangat besar di masa lalu menuju kekuatan politik yang 
sewajarnya (untuk tidak mengatakan kembali ke barak). Berbeda dengan elemen 
politik lainnya, khusus bagi TNI transisinya bisa butuh waktu lebih panjang. 
Ini berkaitan dengan kapasitas politik TNI sendiri yang sangat besar sehingga 
perubahannya juga tidak bisa seketika.

Proses pilkada itu sendiri bisa dijadikan etalase bagaimana proses transisi itu 
berjalan dan seberapa besar kapasitas politik TNI. Walau bagaimanapun, citra 
politik TNI tetap kuat. Itu terlihat dari hasrat banyak parpol untuk mengajukan 
figur dari TNI.

Sementara dalam TNI sendiri, soal pencalonan anggota TNI dalam pilkada masih 
menjadi polemik. Selain tidak sejalan dengan semangat UU No 34/2004 (tentang 
TNI), Panglima TNI Jenderal E Sutarto sendiri sempat mengimbau kepada parpol 
untuk tidak mencalonkan figur dari TNI.

Namun, kita semua tahu bahwa kekuasaan memiliki magnitudo yang sulit dihindari. 
Terlebih bagi TNI, yang selama puluhan tahun akrab dengan kekuasaan, baik 
secara kelembagaan atau personal. Inilah yang mungkin menjadi faktor pendorong 
beberapa anggota TNI untuk mencoba meraih kembali sesuatu yang dulu sangat 
identik dengan TNI.

Visi parpol sendiri juga problematik. Terlihat sekali banyak parpol yang masih 
ambigu, yang kurang percaya diri bila tidak merapat ke TNI. Sikap parpol yang 
selalu berusaha mencari dukungan TNI, sebenarnya tidak konsisten dengan 
platform gerakan masyarakat sipil yang berupaya membangun sikap kritis pada 
TNI. Dengan kata lain, sikap itu bukanlah pendidikan politik yang baik bagi 
rakyat, dan justru menjadi bumerang bagi parpol itu sendiri. Kita bisa 
memberikan apresiasi pada parpol yang sebisa mungkin tidak melibatkan unsur 
TNI, seperti PKS.

Rupanya zaman telah berubah, masa keemasan telah berlalu. Itu terbukti dalam 
'palagan' pilkada, ternyata jalan menuju kemenangan begitu terjal, semua 
perwira TNI rontok. Memang ada beberapa analisis post factum, seperti kasus di 
Ogan Ilir (Sumsel), yang kebetulan kami ikuti perkembangannya dari dekat.

Di Ogan Ilir, terdapat nama Kolonel Inf DJ Nachrowi (sebagai cawabup, diusung 
PDIP) yang berpasangan dengan cabup M Yamin. Ada suara yang muncul di lapangan 
pascakekalahan pasangan tersebut, bahwa seandainya formasi dibalik, maksudnya 
Kolonel Nachrowi yang dipasang sebagai cabup, kemungkinan hasilnya akan lebih 
baik. Namun, adakah jaminan untuk (keberhasilan) itu? Sementara Kolonel 
Nachrowi sendiri sudah menunjukkan jiwa besar dengan mengakui kekalahan 
tersebut.

Putra daerah
Seperti ditulis di awal tulisan ini, di mana kemunculan SBY sebagai presiden 
telah memberi inspirasi bagi majunya beberapa pamen TNI untuk maju dalam 
pilkada. Tentu kita semua sudah paham, keberhasilan SBY dalam pilpres tempo 
hari sangat didukung oleh figurnya yang sudah kuat sejak lama. Persoalannya 
kini, bagaimana kekuatan figur pamen TNI yang maju dalam pilkada baru-baru ini?

Memang kita tidak bermaksud membandingkan, antara skala nasional (presiden) dan 
daerah (bupati/wali kota). Namun, setidaknya parpol juga harus berhitung, meski 
untuk skala daerah, bukan berarti bisa asal merekrut figur TNI. Perlu juga kita 
lihat bagaimana track record perwira dimaksud, seperti soal kedekatan emosional 
dengan calon pemilih dan sumbangan konkretnya bagi kawasan yang akan dibidik.

Selama ini kita selalu bertumpu pada asumsi keunggulan putra daerah, padahal 
itu bukan jaminan. Meski putra daerah, kalau figur tersebut tidak pernah 
tinggal atau berdinas di kampung halamannya, atau tidak pernah memberi 
sumbangan konkret bagi kampungnya, sebaiknya jangan terlalu bermimpi untuk 
berhasil.

Tampaknya para calon beserta tim suksesnya kurang peka terhadap psikologi massa 
seperti itu. Bagaimanapun rakyat masih memiliki nurani, tentu mereka cukup 
cerdas menyikapi janji-janji kosong yang selama ini sudah sering mereka dengar.

Persoalan calon asal TNI adalah figur. Oleh karena itu, perlu dimajukan calon 
yang memang benar-benar meyakinkan bila nanti ada figur TNI lain yang masih 
ingin maju dalam pilkada. Catatan penting lainnya, sebaiknya yang maju adalah 
mereka yang sudah berstatus purnawirawan untuk meminimalkan kontroversi yang 
muncul. Selain itu untuk menjaga 'kehormatan' institusi TNI bila figur TNI 
ternyata gagal.

Ini bisa menjadi masukan bagi parpol yang masih ingin menjaring figur TNI bahwa 
faktor putra daerah jangan lagi diprioritaskan. Meski bukan putra daerah, kalau 
pamen tersebut pernah menjadi Danrem atau Dandim di wilayah itu dalam waktu 
cukup lama dan dekat dengan masyarakat setempat, kita masih boleh berharap 
figur itu akan menggapai sukses.

Sekadar ilustrasi bisa kita ajukan dua nama, Mayjen TNI Syaiful Rizal (Danjen 
Kopassus) dan Brigjen TNI M Noer Muis (Kasgar I/Jakarta). Saat masih berpangkat 
kolonel, Mayjen TNI Syaiful Rizal (asal Sumsel) sempat menjadi Danrem Salatiga. 
Bila Mayjen TNI Syaiful Rizal saat pensiun nanti bersedia maju sebagai calon 
Wali Kota Salatiga, tentu hasilnya akan mencengangkan, dan akan membuat calon 
lain berdebar-debar menanti hari penentuan.

Hal yang sama bisa terjadi pada Brigjen M Noer Muis (asal Jambi) bila ingin 
mencalonkan diri sebagai Wali Kota Purwokerto atau Bupati Banyumas, mengingat 
Brigjen Noer Muis sempat menjadi Danrem Purwokerto (1998-1999). Persoalannya 
sekarang, bersediakah seorang purnawirawan pati turun menjadi 'sekadar' wali 
kota atau bupati, seperti yang sudah dilakukan Nurmahmudi Ismail, seorang 
mantan menteri (jabatan setingkat pati) yang bersedia 'turun' menjadi Wali Kota 
Depok.***

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h9anu2n/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122945362/A=2894350/R=0/SIG=10tj5mr8v/*http://www.globalgiving.com";>Make
 a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke