http://www.indomedia.com/poskup/2005/08/02/edisi02/0208uta1.htm
Tokoh agama dan awam tertipu Lewoleba, PK Sekitar 70-80 orang tokoh agama yang terdiri dari pastor, pendeta, imam masjid dan kaum awam, yang direkrut sebagai tenaga penyuluh agama, merasa tertipu oleh oknum pejabat di Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Lembata. Modus operandinya, nama-nama mereka dicatut menjadi tenaga penyuluh dan mendapat sejumlah honor bulanan dan uang transportasi. Tetapi uang tersebut tak kunjung diserahkan selama dua tahun berturut-turut. Sebagian tenaga penyuluh memperoleh honor, tetapi jumlahnya tidak utuh. Demikian diungkapkan Romo Arnold Verstralen, Pr, Romo Sinyo da Gomez, Pr, Pdt. Zeth Sabu Bayang, S.Th, dan Pdt. Kiki Yohanes Husein, S.Th, ketika dihubungi Pos Kupang secara terpisah di Lewoleba, pekan lalu. Para pastor, pendeta maupun beberapa kaum awam itu menjelaskan, dana penyuluh yang dikelola Departemen Agama Lembata selama tahun 2003 dan 2004 tidak transparan, manipulatif dan cuma tipu muslihat. Menurut data yang dihimpun Pos Kupang, dana penyuluh Depag Lembata selama dua tahun anggaran itu mencapai Rp 159.360.000,00. Dalam tahun 2003 dialokasikan Rp 75.720.000,00 bagi 112 penyuluh dari agama Katolik, Islam, Kristen dan Hindu. Dan, di tahun 2004 dialokasikan Rp 83.640.000,00 untuk diberikan kepada 100 penyuluh. Romo Deken Lembata, Romo Sinyo da Gomez, Pr menegaskan, para pastor, suster, pendeta, dan banyak kaum awam hanya dicatut namanya untuk kepentingan pengelolaan dana penyuluh Depag Lembata. Meskipun nama-nama mereka telah didaftar menerima dana penyuluh, tetapi hampir seluruhnya tidak memperoleh haknya secara proporsional. "Pernah ada pegawai Depag Lembata yang datang ke sini menyerahkan uang itu tahun lalu. Ada sebagian teman-teman pastor, suster terima uang Rp 250.000,00. Tetapi setelah Romo Arnold Verstralen menyodorkan data-data alokasi honor itu, ternyata jumlah yang diterima tidak utuh. Pertanyaan saya, ke mana uang-uang itu?" tanya Romo Sinyo, yang dihubungi di pendopo Dekenat Lewoleba, Jalan Trans Lembata. Ketika berlangsung rapat di dekenat, kata Romo Sinyo, meski bukan menjadi agenda pembicaraan tetapi ketika kasus ini diangkat para pastor, agenda ini kemudian berkembang menjadi perbincangan ramai. "Para pastor bertanya-tanya, ke mana uang itu? Karena banyak sekali teman-teman pastor dan suster yang tidak memperoleh uang itu. Bahkan waktu itu ada niat di kalangan teman-teman pastor menanyakan langsung kepada Kepala Depag Lembata, Yoseph K Werang," kata Romo Sinyo. Romo Arnold menjelaskan, selama tahun 2003, semasa menjadi Pastor Paroki Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, ia menerima uang Rp 150.000,00. Teman-temannya juga menerima jumlah yang sama dari Depag Lembata. Di tahun 2004, ia menerima Rp 250.000,00 dari Depag Lembata. "Dikasih, ya... saya terima saja. Uangnya saya simpan, karena setahu saya, uang ini bermasalah dan belum diselesaikan. Ini kan lanjutan persoalan dari 2004. Menurut pengetahuan saya, jumlahnya bukan Rp 150.000,00 setahun atau Rp 250.000,00 setahun," tegas Romo Arnold. Sepengetahuannya, kata Romo Arnold, penyuluh media akan menerima uang penyuluh (honor dan transport) Rp 840.000,00 belum dikurangi pajak. Sedangkan penyuluh madya menerima honor dan transport Rp 720.000,00. "Kemungkinan tidak semua pastor dapat uang ini. Memang ada yang dapat, tapi jumlahnya tidak utuh. Saya pernah tanya kepada para suster di Lewoleba dan Boto yang namanya terdaftar sebagai penerima dana penyuluh ini, dan mereka menjawab nol rupiah," tandas Romo Arnold ketika dihubungi di Lewoleba. Menurut prosedur, kata Romo Arnold, seharusnya Depag Lembata menemui pimpinan agama di Lembata. Setelah itu pimpinan agama mengirim sejumlah daftar nama yang dibutuhkan sebagai penyuluh agama di masing-masing wilayahnya. Nama-nama penyuluh tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Departemen Agama, dan wajib dipegang semua tenaga penyuluh. "Tapi di Lembata, kami semua ini gelap gulita. Kami juga tidak tahu, apakah nama kami terdaftar sebagai penyuluh. SK penyuluh tidak diberikan," tandas Romo Arnold yang kini menjadi pastor pembantu di Paroki Lebao, Larantuka. Menurut Romo Arnold, nama-nama pastor, suster, dan kaum awam kebanyakan dicatut untuk kepentingan dana penyuluh. "Memang kenyataannya banyak yang tidak tahu kalau mereka menjadi penyuluh. Nama-nama mereka yang tercantum di SK penyuluh tahun 2003 dan 2004 yang ditandatangani Kepala Depag Lembata, Yoseph K Werang, S.Ag, dan Kepala Kantor Kantor Wilayah (Kakanwil) Depag NTT, Drs. Johannes Berchmans Bali. Tetapi SK itu tidak pernah dibagikan. "Saya katakan, Pak Yos Werang itu lakukan penipuan terhadap para pastor, suster, awam, imam masjid dan pendeta," kecam Romo Arnold. Diantar kakandepag Pendeta Pdt. Zeth Sabu Bayang, S.Th, menjelaskan, selama tahun 2003, ia menerima uang Rp 150.000,00. Uang itu diantar sendiri Kepala Depag Lembata, Yoseph K Werang. "Waktu itu saya tidak ada di rumah. Istri yang terima uang itu. Tapi saya katakan kepada istri saya, kalau uang penyuluh jumlahnya tidak seperti ini. Dalam hati saya berpikir, mungkin hadiah dari Pak Kakandepag. Kebetulan saat itu menjelang hari raya Natal," kata Pdt. Zeth, di kediamannya. Beberapa waktu setelah penyerahan itu, kata Pdt. Zeth, ia pernah bertemu Kepala Depag Lembata menanyakan asal usul uang Rp 150.000,00 itu. Dan, dijelaskan uang itu merupakan dana penyuluh tahun 2003. Menurut Kepala Depag, saat itu masih masa transisi dari Depag Larantuka (Flores Timur) ke Depag Lembata, sehingga Lembata memperoleh dana penyuluh hanya satu semester, meskipun untuk satu semester nilainya bukan Rp 150.000,00. Dalam tahun 2004, ia juga menerima dana penyuluh dalam jumlah yang utuh setelah dipotong pajak. Pada tahun 2004, lanjut Pdt. Zeth, ia pernah diberitahu pihak Depag Lembata menjadi penyuluh, meski selama dua tahun itu tidak memperoleh SK penyuluh. Ketika Lembata belum menjadi kabupaten sendiri (masih bergabung dengan Flores Timur), ia mendapat SK dan dana penyuluh setiap semester selama setahun dari Depag Larantuka. Bahkan pihaknya harus melakukan sejumlah tugas dan mengisi laporan kegiatannya. "Di Lembata sama sekali tidak ada," tandas Pdt. Zeth. Namun, ketika ia menanyakan pembayaran dana penyuluh ini kepada rekan-rekannya sesama penyuluh dari agama Katolik dan Islam, mereka mengaku tidak mendapatkannya. "Saya pernah kasih tahu Pak Yoseph Werang masih banyak teman-teman pastor, suster, awam dan dari muslim tidak dapat uang itu. Dia menjanjikan akan membereskan semuanya. Kenyataannya tidak dibayar. Malahan saya dengar dari teman-teman pastor, mereka akan mendatangi Kantor Depag Lembata. Kan tidak bagus, kami yang lain terima, yang lain tidak menerima, padahal status kami sama sebagai penyuluh," tandas Pdt. Zeth. Pengakuan sama dikemukakan Gembala Jemaat Bethel Lewoleba, Pdt. Kiki Yohanes Husein. Selama tahun 2003 ia juga mengaku menerima Rp 150.000,00 yang diantar sendiri Yoseph K Werang. "Ini ada berkat sedikit untuk tunjangan hari raya," pesan Pak Yos ketika menyerahkan uang itu kepada saya. Artinya bukan dana penyuluh. Kalau dana penyuluh jumlahnya cukup banyak setiap semester selama setahun. (ius) -------------------------------------------------------------------------------- "Hanya miskomunikasi" PENGELOLAAN dana penyuluh bagi para penyuluh agama di Kabupaten Lembata sebenarnya tidak bermasalah. Kejadian yang sesungguhnya justru miskomunikasi antara para penyuluh dengan pengelola anggaran pada Kantor Depar-temen Agama (Depag) Lembata. "Saya sudah jelaskan kepada para pastor dan pendeta. Umum-nya mereka menerima apa yang saya sampaikan. Pastor Paroki Waikomo, Romo Frans Soo, dan Romo Deken (Romo Sinyo da Gomez) juga memahami sebagai miskomunikasi. Saya minta Pos Kupang dan Buser tak usah tulis-tulis lagilah. Masalah ini ber-ulang kali diangkat oleh media-media lain," kata Kepala Kantor Depag Lembata, Yoseph K We-rang, S.Ag, kepada Pos Kupang dan Buser Timur, di ruang kerjanya, Senin (1/8) siang. Meski bagi para penerima dana penyuluh persoalan ini belum diselesaikan, kata Yoseph, persoalan ini bukan hal baru dan tak perlu dipublikasikan. Jika memang ada masalah pembayaran dana penyuluh, ia meminta diselesaikan secara baik-baik melalui jalur kekeluargaan agar tidak terkesan di masyarakat terjadi perseteruan antara para pastor dengan Depag Lembata. Guna menyelesaikan kesalahpahaman antara penerima dana penyuluh dengan Depag Lembata, kata Yoseph, ia berniat mengklarifikasinya dalam rekoleksi dengan para pastor. Rencana semula, rekoleksi ini akan digelar dalam bulan Juli lalu di Lewoleba, tetapi gagal dilaksanakan karena para pastor berhalangan dengan urusan yang lain. Dalam forum itu, kata Yoseph, ia akan menjelaskan duduk persoalan pengelolaan dana penyuluh ini yang sebenarnya agar tidak menimbulkan persepsi dan salah tafsir, seolah-olah dana tersebut disalahgunakan. Rekoleksi ini kemungkinan akan dilaksanakan pada September mendatang. "Saya yakin, kalau saya jelaskan secara transparan dalam rekoleksi nanti, mereka akan menerimanya. Tinggal bagaimana pendekatan saya secara pribadi dengan para pastor dan pendeta, sehingga masalah ini bisa dituntaskan," kata Yoseph memberi alasan. Disinggung Pos Kupang bahwa para kaum awam, pastor, dan pendeta mengaku ditipu, dan nama-nama mereka dicatut untuk kepentingan pengelolaan dana penyuluh tahun 2003 dan 2004, Yoseph meminta agar setiap persoalan yang menyangkut dana penyuluh Depag Lembata diselesaikan secara kekeluargaan. Kalau ada yang belum menerima haknya, sebaiknya datang saja ke Depag Lembata. Mengenai pembayaran dana penyuluh yang tidak sesuai dengan SK penyuluh yang diterbitkan Kanwil Depag NTT, dimana penyuluh media menerima Rp 70.000,00/bulan dan Rp 60.000,00/bulan untuk penyuluh muda, Yoseph menyatakan, itu hanya miskomunikasi. "Saya minta tak usah dibesar-besarkan lagi. Kan pak mereka bisa datang ke sini menyampaikan saja bahwa ada penyuluh yang tidak peroleh haknya. Dan tak perlu ditulislah, ko bagaimana?" tanya Yoseph meminta persetujuan wartawan. "Saya minta kamu dua (Buser dan Pos Kupang, Red) tidak usah tulis lagi. Ini hanya kesalahpahaman saja. Nanti seolah-olah antara Depag Lembata dan para tokoh agama ini ada persoalan yang amat berat. Padahalnya kan tidak. Ini yang harus saya jaga. Toh masih banyak kegiatan Depag Lembata yang bagus-bagus yang bisa dipublikasikan," pinta Yoseph. (ius) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h0lous0/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122946189/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

