certia ibu Mandagie ini, terlalu mengada-ada, wajarlah
suami punya cafe istri yang mengelola, dan arti mengelola
itu bukan berarti bekerja seperti pembantu, cuma yang lucu
dari cerita ini, adalah menceritakan betapa lahapnya itu
safira menyantap makanan dari ibu Mandagie ini, seakan-akan
ibu safira dalam keadaan starving, tetapi hal yang janggal
bahwa badan ibu safira kok semakin tambun saya..

saya pikir cerita ini hanya penilaian seorang ibu mandagie
dari segi negatif, tidak ada penghargaan sedikitpun terhadap
suami ibu safira ini yang mempunyai cafe dan membantu
pada saat malam hari di mana mungkin pengunjung sangat
sibuk sekali  ....

menurut hemat saya ibu safira ini adalah seorang pekerja
keras dalam menghidupi keluarganya dan ibu mandagie
hanyalah seorang ibu yang tidak biasa bekerja keras,
karena suaminya mempunyai penghasilan yang besar
dan dapat hidup dengan layak di negeri belanda. ,,,

cerita ini menarik, tapi tidak bisa di telan mentah-mentah
ada penilaian negatif yang seharusnya dalam norma
masyarakat dianggap tidak berlebihan ...

salam,








Cerita yg mirip2 kayak cerita di bawah ini ada banyak versi dan variannya.
Intinya sama.  Menjadi isteri bule yang sebetulnya nabsibnya tidak lebih
baik dari pembantu.  Kalau pun tidak seperti pembantu,  yah hidup kerja
keraslah.

Memang menyedihkan menjadi bangsa yang keropos dari banyak segi.  Salah
satunya ialah banyak perempuan Indon yang impiannya ialah menjadi isteri
bule. Demi isteri bule,  apapun dihalalkan. Mengorbankan agama, adat,
keluarga dan
paling parah adalah harga diri.

Di Jakarta para gadis-gadis (tidak semua memang) merasa naik gengsi dan
popularitasnya kalau sudah berhasil menggandeng bule.  Mereka nggak tahu
kalau bule2 yg datang ke Indon itu belum tentu bule yg beres di negerinya.
Bule yg datang ke Indon untuk bisnis,  jelas mayoritas travelling atas
biaya
kantornya.

Bule2 bagpacker  yang umumnya anak muda dan ganteng2,  bisa saja dtg
karena sudah nabung untuk biaya travelling.  Jadi belon tentu mereka kaya
di
negerinya sana.

Bule2 kalau pulang ke negerinya akan cerita kalau gampangnya menggaet cewek
indonesia.  Dan mereka sangat paham mentalitet cewek2 kota besar Indon
kayak
gituan.

Duh perempuan Indonesia!

HP


----- Original Message -----
From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Sent: Friday, July 29, 2005 4:31 PM
Subject: [ppiindia] Jadi Istri Sekaligus Penjaga Cafe


> http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/29/sh10.html
>
>
>
> Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (9)
> Jadi Istri Sekaligus Penjaga Cafe
> Oleh
> Yuyu A.N. Krisna Mandagie
>
>
> LAREN- Masih tersisa gurat-gurat kecantikan di wajah Safira. Dulu memang
> perempuan ini cantik. Selain cantik, dia juga luas pergaulannya.
>
> Sudah sembilan tahun dia di Belanda karena menikah dengan Johann,
> laki-laki Belanda pemilik cafe di Laren, sebuah kota mirip Paris kecil di
> Belanda. Di kota ini kita bisa menjumpai butik-butik dari merek-merek
> terkenal.
>
> Tetapi yang paling terkenal adalah festival jazz yang diadakan setiap
> tahun dengan dihadiri oleh pemusik jazz Belanda dan negara-negara lain.
> Walaupun tidak sebesar North Sea Jazz yang setiap tahun diadakan di Den
> Haag.
>
> Pencinta jazz dapat menikmati "musik pembebasan" ini di cafe-cafe yang
ada
> di kota ini. Di sini ada sebuah Museum Singer terkenal yang sering
> menyelenggarakan pameran seni dan lukisan. Pameran lukisan dan seni,
> festival musik jazz silih berganti diadakan di kota ini.
>
> Penduduk Laren umumnya adalah kaum the haves. Itulah sebabnya mereka
> memiliki rumah-rumah yang besar dan bagus. Di kota yang mungil dan indah
> inilah Safira hidup bersama suaminya Johann, pengusaha sebuah cafe kecil
> di pinggiran kota.
> Ketika aku bertemu dengan Safira ada kesan dia agak sombong ketika itu.
> Yang aku ingat adalah pertanyaannya yang arogan, "Kok kamu bisa ke
> Belanda? Kawin sama Belanda ya?"
>
> "Oh tidak, suamiku bukan orang Belanda. Suamiku orang Indonesia,"
jawabku.
> "Kok bisa tinggal di Belanda?" jawab Safira.
> Aku pun menjawab, "Ya bisa saja, kenapa tidak."
>
> Itulah awal perkenalanku dengan Safira. Hari itu dia pulang menumpang
> mobilku.
> Aku bisa mengerti mengapa Safira bertingkah agak sombong. Mungkin dia
> melihat penampilanku yang biasa-biasa saja. Safira pasti mengukur diriku
> dengan keadaan dirinya. Kalau tidak kawin dengan Belanda, mana mungkin
> seorang perempuan Indonesia tinggal bertahun-tahun di Belanda. Wow picik
> benar.
>
> Selanjutnya kami mulai bersahabat. Karena jarak antara Laren dan
Hilversum
> tidak begitu jauh, maka hampir setiap hari Sabtu Safira datang ke
rumahku.
> Ia selalu berceritera tentang hal-hal yang mewah, yang tinggi. Tanpa
> malu-malu Safira dengan polos berceritera mengenai keadaannya dulu di
> Indonesia.
>
> Tatkala hotel berbintang mulai dibangun di Jakarta, Safira sudah bekerja
> di hotel berbintang 5. Tetapi karena ulahnya sendiri, ia masuk ke kamar
> tamu hotel. Tidak tanggung-tanggung, tiga bulan lamanya. Pihak manajemen
> hotel pun bertindak. Safira dipecat dari pekerjaan Dia merusak citra dan
> reputasi hotel berbintang itu.
>
> Safira kehilangan pekerjaan, tetapi untunglah laki-laki Inggris yang
telah
> hidup bersama Safira selama tiga bulan melanjutkan hubungan mereka.
Safira
> dikontrakkan rumah di daerah Jakarta Selatan. Tiga tahun kemudian, si
> Inggris kembali ke pelukan istrinya di London, lalu Safira harus keluar
> dari rumah kontrak hanya dengan satu kopor baju. Safira tidak mendapat
> apa-apa dari "suami" musimannya itu.
>
> Tetapi hal ini tidak berlangsung lama, karena segera Safira mendapat
> laki-laki Belanda yang kemudian menjadi suaminya. Safira dan Johann kawin
> di Negeri Belanda.
> Dia berharap perkawinannya dengan Johann dapat mengangkat kehidupannya
dan
> keluarganya di Indonesia. Tetapi apa yang dialami adalah sangat jauh dari
> harapan.
>
> Seragam Koki
> Kehidupan Safira dari hari ke hari sungguh memprihatinkan. Pagi-pagi
pukul
> 07.00 Safira sudah bangun. Memeriksa freezer (lemari pendingin beku), apa
> ada yang kurang dan perlu dibeli hari itu. Pukul 09.00 dia harus
> berbelanja ke groot handel (pusat grosir) khusus bahan makanan.
>
> Pulang dari groot handel, dia harus membuka cafe pada pukul 12.00.
Sesudah
> itu harus berdiri melayani permintaan di bar, sampai pukul 22.00.
> Sementara suaminya hanya membantu pada malam hari, kalau sedang tidak ada
> pertandingan bola. Bila musim pertandingan, jangan harap Johann ada di
> cafe. Dia akan mengikuti kesebelasan kesayangannya Ajax main di mana
saja.
> Tetapi Safira tetap menutup apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan
> rumah tangganya.
>
> Perempuan ini hampir tidak punya gaun biasa untuk dikenakan tatkala
> berkunjung ke rumahku. Dia selalu memakai seragam koki. Hari itu di rumah
> ada perhelatan. Safira datang dengan seragam koki, sementara ibu-ibu
> lainnya berpakaian cukup rapih dan modis.
>
> "Fi, apakah kamu enggak punya baju bagus, kok pakai seragam koki? Ini
> pesta, lho Fi," tanyaku pada Safira.
> "Aku nggak punya baju lain," jawab Safira jujur. Dia lupa membohongi aku.
> Guna mengelabui mata para tamuku, Safira tidak pernah keluar dari dapur.
> Dia menyibukkan diri. Selama pesta berlangsung Safira tetap di dapur.
>
> Hari lain, aku mengajak Safira ke Amsterdam naik kereta api. Kali ini
> Safira memakai legging hitam dan kaos oblong putih dengan tulisan reklame
> seven up di dadanya.
>
> Aku pun mengimbanginya dengan memakai pakaian sesederhana mungkin.
> Setelah melihat toko-toko di Kalverstaat-Nieuwendijk aku mengajaknya
makan
> di Chopstick restoran Cina langgananku di daerah red district Zeedijk.
> Kami memesan suikiau yaitu sup pangsit udang yang menjadi trade mark
> Chopstick.
>
> Safira menikmati makan siang di restoran itu dengan lahapnya. Aku kasihan
> melihat perempuan ini, cara makannya seperti orang kelaparan. Mungkin
> memang dia lapar sekali, atau mungkin dia tidak pernah menikmati makanan
> seperti ini selama di Belanda.
>
> Badan Safira menjadi makin tambun. Pernah beberapa hari Safira sakit pada
> kaki. Akhirnya dia harus memakai sepatu khusus. Kakinya sudah tak kuat
> menyangga badannya yang makin berat. Dan mungkin saja kakinya sakit
karena
> kecapaian berdiri sepanjang hari melayani tamu-tamu di cafenya.
>
> Selama berkenalan dengan Safira, baru satu kali dia membawa suaminya
> Johann ke rumahku.
>
> Itulah kehidupan Safira, tak ubahnya seperti seorang pembantu yang
bekerja
> banting tulang. Dalam hati aku sering bertanya, "Apa yang kau cari,
> Safira?" n
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a href="
http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hn3ruh7/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122978217/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail
">Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links













______________________________________________________________

Disclaimer :
- This email and any file transmitted with it are confidential and
are intended solely for the use of the individual or entity whom
they are addressed, if you are not the original recipient, please
delete it from your system.
- Any views or opinions expressed in this email are those of the
author only.
______________________________________________________________

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hs1t6bp/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122980884/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke