Identitas Kultural dan Sastra yang Tersebar

Oleh Sudarmoko
 
Suatu saat, saya pernah mendengarkan sebuah obrolan ringan tentang fenomena 
yang menarik tentang pengarang-pengarang Minangkabau. Mereka mencoba membagi 
dan melihatnya dalam beberapa bagian. Mengingat juga bahwa pembagian ini, 
dengan cara lain, sering dibicarakan dalam beberapa tulisan, lebih-lebih yang 
membicarakan tentang pengarang karya sastra Indonesia yang berasal dari 
Minangkabau.

Kehadiran dan pengaruh mereka terlihat jelas dalam sastra Indonesia. Hal ini 
disebabkan, mereka yang ‘menguasai’ Balai Pustaka dan karya-karya mereka banyak 
yang diterbitkan di sana. Demikian juga halnya dengan kedekatan bahasa 
Minangkabau dengan bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia. Mereka dengan 
mudah ‘menemukan’ frasa atau kalimat yang sangat indah dan penuh mewakili untuk 
mengekspresikan sesuatu. Demikian juga dengan sejumlah tradisi ritual dan 
seremonial yang, tak dapat dihindarkan, mempengaruhi kompetensi dan ingatan 
akan bahasa dan cara bertutur mereka. 

Apa yang saya dengar ketika itu adalah bahwa pengarang Minangkabau memiliki 
kecenderungan untuk mengikatkan dirinya pada rantau dan kampung. Rantau menjadi 
sebuah wilayah atau ranah yang dianggap mendewasakan anak-anak lelaki, baik 
secara psikologis maupun materi. Dan sebagian besar pengarang yang berasal dari 
Minangkabau memang besar di kota-kota atau tempat di luar Minangkabau. Meski, 
sebagian juga masih bertahan tetap di dalam ranah Minangkabau, dan melakukan 
perantauan bukan dalam arti geografis dan fisikal.
Untuk kasus yang pertama, zaman Balai Pustaka sudah menunjukkan contohnya. 
Sementara pada kasus yang kedua, sejumlah nama seperti AA Navis (alm), Wisran 
Hadi, Gus tf, Yusrizal KW, Harris Efendi Thahar, Ode Barta Ananda (alm), dapat 
diajukan. Mereka masing-masing memberikan sebuah fakta yang patut diperhatikan 
dan mungkin dapat dilihat jejaknya dalam karya-karya mereka.

Memang tak ada jaminan bahwa karya yang dihasilkan oleh perantau akan lebih 
baik daripada orang-orang tetap tinggal di daerah. Hal ini telah dibuktikan 
dengan keberhasilan karya-karya Navis, Wisran Hadi, atau Gus tf yang mampu 
menjadi fenomena dan bahkan mampu memenangi berbagai penghargaan berkelas 
regional. Dengan demikian, kemungkinan capaian estetik tak ada sangkut pautnya 
dengan keberadaan geografis pengarang.   

Namun demikian, ada satu hal terlintas dalam pembicaraan semacam ini, apakah 
penting membicarakan wilayah dalam membicarakan karya-karya sastra? Seperti 
juga kenapa dalam sebagian  karya-karya sastra dituliskan kolofon tempat dan 
waktu di bagian akhirnya? Apakah ia pertanda akan sebuah jejak atas nama tempat 
dan waktu? Mungkin sebagian pembaca karya sastra memperhatikan kolofon yang ada 
di akhir sebuah tulisan, entah itu puisi, cerpen, atau novel. Dapat saja dari 
sana pembaca mendapatkan sebuah informasi, entah untuk tujuan apa. Atau juga 
kadang hanya membacanya selintas dan kemudian menyudahi bacaannya.
Melalui penanda yang sering dilewati ini, saya mendapatkan sebuah ide untuk 
menuliskan sesuatu setelah membaca antologi Raudal Tanjung Banua, Pulau Cinta 
di Peta Buta (Jendela Press, 2003). Tentu saja, pembicaraan ini, awalnya, 
berangkat dari cerpen-cerpen yang terhimpun dalam antologi tersebut. Antologi 
yang menghimpun 18 cerpen ini diawali dan diakhiri dengan dua buah cerpen, 
masing-masing “Elegi Kantor Pos” dan “Pulau Cinta di Peta Buta”, yang ditulis 
dalam sebuah perjalanan di atas kapal Lambelu, Samudra Indonesia, Agustus 2000. 
Cerpen-cerpen lainnya ditulis di tempat tinggalnya, yang sekaligus dijadikan 
tempat berproses kreatif pribadi dan bersama dalam hal kepenulisan dan teater, 
Rumahlebah Yogyakarta (masing-masing untuk cerpen “Lengking Pilu Terompet 
Waktu”, “Seekor Kambing Mati Tergantung”, “O Bintang Kemana Bulan...”, “Jalan 
ke Bukit sudah Berubah”, “Lembah yang Riang dan Kemilau Mata Air”. Selebihnya 
hanya dituliskan kolofon Yogyakarta, bisa dimana saja di bagian
 Yogyakarta, yaitu cerpen “Purnama di Serambi”, Bis Berhenti di Kampung 
Lengang”, Truk Berderak di Waktu Malam”, “Pertemuan di Jakarta”, “Nyonya Helena 
da Costa”, “Metamorfosa Cicak di Atas Peta”. Sisanya, seperti cerpen pembuka 
dan penutup, ditulis di perjalanan atau tempat lain, Yogyakarta-Solo (untuk 
cerpen “Rendesvous”), Lombok-Yogyakarta (cerpen “Tanah Harapan”), di atas selat 
Bali (pada “Penyeberangan”), dan Denpasar (cerpen “Dongeng Pulau Dewata”). 
Sementara terdapat hanya satu cerpen, “Sungguh Kematian Begitu Indah”, yang tak 
berkolofon.

Cerpen-cerpen Raudal dalam antologi ini memiliki kekuatan dalam penceritaan dan 
imajinasi. Alur yang digunakan sebagian besar kuat dan solid. Ia seperti 
bercerita atau bergumam dalam sebuah keramaian. Lihatlah bagaimana dalam “Elegi 
Kantor Pos” sosok ‘aku’ bertemu dengan seorang ‘gadis dari sebuah daerah tak 
berkantor pos’ dalam rutinitas kantor pos. Atau dalam “Pertemuan di Jakarta”, 
percakapan antara Abilio dan Lozario, saudara kembar, yang terpisah lama, dan 
sudah berbeda garis perjuangannya masing-masing, melakukan percakapan dalam 
diam. 

Demikian juga dalam hal suspensi, Raudal tampaknya dengan tekun menjaga setiap 
logika dan kejutan imajinasi yang dibangunnya. Ia bahkan mengelabui penonton 
dengan alur cerita yang dibangunnya. Pada “Elegi Kantor Pos” misalnya, gadis 
yang selalu setia di sana mencari orang-orang yang bersedia memberikan 
perangkonya untuk dijilat, ternyata bermotifkan pengalaman gadis itu yang 
sedang menunggu surat dari kekasihnya dan kepindahannya dari kotanya yang tak 
lagi berkantor pos karena konflik yang terjadi. 

Gadis yang ‘terdampar’ di sebuah kota, yang lalu melakukan sebuah rutinitas 
aneh di kantor pos, meminta kesediaan orang-orang yang datang ke sana untuk 
menjilati perangko, menggantikan lem yang biasa tersedia di meja-meja khusus di 
tengah ruang tunggu, dan ketika bertemu dengan ‘aku’ ia menjilati perangko 
sedemikian rupa. Gambaran ini memang membutuhkan imajinasi yang liar, seperti 
sebuah keadaan atau scene yang tak terduga dalam benak siapapun. Sementara 
dengan baik Raudal menyimpan motif kelakuan gadis itu dibelakang. Eksplorasi 
imajinasi seperti ini tentulah dihasilkan dari sebuah kedisiplinan  dalam 
mengolah tokoh dan penokohan selama proses kepenulisan berlangsung. Seperti 
halnya seorang aktor harus mampu mengeksplorasi segala kemungkinan dari tokoh 
yang harus diperankannya. Ia, sang aktor, harus mencari referensi dan 
sumber-sumber yang berkaitan dengan tokoh dan penokohan yang dibangunnya untuk 
kemudian memilih dan membentuknya seperti apa yang dia inginkan, atau 
diiinginkan
 oleh kemungkinan yang disediakan dalam teks dan di luar teks.

Atau pada “Rendesvous”yang pada awal cerita terlihat seperti sebuah kisah 
detektif namun sebenarnya bercerita tentang berbagai rekayasa yang dilakukan 
oleh aparat keamanan dalam memantapkan operasi mereka. Dalam cerpen ini, 
Gunturu bukanlah digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan atau 
pengaruh yang kuat untuk membuat sebuah makar, namun sebenarnya dia tidaklah 
siapa-siapa. Namun pihak keamananlah, dan orang-orang yang terlibat dalam 
skenario yang melingkarinya,  yang membuatnya menjadi ‘sesiapa’. Atau seperti 
inilah sebenarnya kerja seorang pengarang atau penulis, membuat sesiapa yang 
pada awalnya tak berharga, tak memiliki tempat dalam perhatian khalayak, 
menjadi penting dan dipikirkan oleh pembaca.  

Demikian halnya dengan “Pertemuan di Jakarta” yang dengan sangat sabar Raudal 
menjalin ceritanya, menahan emosi, dan mempermainkan serta membawanya 
kemana-mana. Demikian juga, pada cerpen ini penokohan dibangun dari dialog dan 
narasi yang dengan sangat berhasil dihadirkan. Ia tidak berpanjang-panjang 
untuk menjelaskan detil tokoh yang kembar itu, namun dari cerita yang dibangun, 
pembaca akan dapat membangun penokohannya. 

Melalui tokoh-tokoh ini Raudal, dan juga para pengarang pada umumnya, 
menghadirkan pada kita aktor-aktor lain dalam hidup ini. Di tengah tarikan 
dahsyat televisi yang menghadirkan tokoh-tokoh selebritis dan populis, apapun 
bidangnya, cerita malah menghadirkan orang-orang kecil dan biasa saja. Lihatlah 
pada cerpen-cerpen dalam antologi ini, hadir tokoh-tokoh seorang pengarang 
pemula, sopir truk di perkebunan yang jauh dari hiruk pikuk, seorang prajurit, 
seorang murid SD di sebuah pulau di ujung Indonesia, para pencari kerja di 
bagian lain Indonesia, dan sebagainya. Mereka hadir menjadi ‘tokoh’ yang 
menghasut pikiran kita. Menjadi ‘jagoan’ yang memiliki peran penting dalam 
sebuah peristiwa dalam hidup.   

Raudal melalui cerpen-cerpennya ini, terlihat mampu bertindak melepaskan diri 
dari ‘identitas kultural’, seperti yang ditulis Agus Noor di halaman belakang 
antologi ini. Memang pada satu sisi hal ini dapat dilihat dalam sejumlah cerpen 
yang mengambil latar dan peristiwa di berbagai daerah. Namun juga tak dapat 
disangkal bahwa kerinduan pada kampung masih terasa sangat kental bila dibaca 
cerpen “Jalan ke Bukit Sudah Berubah”, yang dalam kolofonnya menyatakan bahwa 
cerpen itu ditulis di rumahnya, Rumahlebah, Yogyakarta. Kenyataan yang dihadapi 
oleh tokoh suami istri dalam cerpen ini seperti mewakili kenyataan sejumlah 
perantau Minang yang disebut merantau cina, merantau dan tidak akan kembali 
lagi ke kampung halaman. Sebagian perantau memang tidak kembali lagi ke kampung 
halaman, karena alasan atau pandangan tertentu yang dimiliki perantau itu.

Nah, apakah dengan demikian Raudal, dalam karya-karyanya, tidak lagi memiliki 
beban kultural semacam ini? Bila dilihat pada sejumlah cerpennya, memang 
didapat sebuah kesimpulan bahwa ia tidak hanya berbicara tentang etnik 
tertentu, bahkan kampung halamannya sendiri, namun lebih berbicara tentang apa 
saja dan dimana saja. Ia berbicara tentang Papua dalam “Elegi Kantor Pos”, 
“Metamorfosa Cicak di Atas Peta”, “Peta Cinta di Peta Buta”. Atau tentang Timor 
Timur dalam “Pertemuan di Jakarta” dan “Nyonya Helena Da Costa”. Tentang Lombok 
dalam “Tanah Harapan”. Tentang Bali dalam “Dongeng Pulau Dewata”. Atau yang 
lainnya. Namun ternyata, asumsi ini tak sepenuhnya benar. Beban kultural 
mungkin tak ditemui dalam pemilihan tema atau latar belakang cerita, namun 
dengan mudah dapat ditelusuri kegelisahan kulturalnya dalam mengungkapkan 
(bahasa) cerita, atau ketika secara khusus menjadikannya sebagai tema cerita. 
Di sini, saya berlainan dengan pandangan Agus Noor di atas.

Sama halnya, sebenarnya, ketika Gus tf menulis tentang etnik lain dalam 
cerpen-cerpennya. Meski letak geografis dan pengalaman empirik antara kedua 
cerpenis ini berbeda. Bahkan dialogpun diciptakan secara tak langsung antara 
kedua cerpenis ini ketika Raudal menulis cerpen “Sungguh, Kematian Begitu 
Indah”. Berbeda halnya dalam cerpen lain yang dilakukan Raudal adalah meminjam 
dan ‘menyetujui’nya, terutama dalam “Jalan ke Bukit Sudah Berubah” yang 
merupakan judul puisi Afrizal Malna. Pernah terlintas dalam pikiran saya, 
akankah ada sebuah karya yang merupakan ‘kelanjutan’ dari karya sebelumnya? 
Misalnya, akankah ada sebuah karya tentang anak Hanafi (dalam Salah Asuhan 
(Balai Pustaka, 1928) karya Abdoel Moeis) yang ditinggal mati, bagaimana 
nasibnya setelah ditinggal mati ayahnya, apakah dia akan mengikuti nasihat 
ibunya untuk tidak meniru ayahnya, tidakkah dia berpikir kemudian bahwa jejak 
ayahnya patut ditiru? Bagaimana nasibnya kini? Atau ini mungkin yang 
ditinggalkan oleh Moeis
 kepada kita.         

Tapi bagaimana sebenarnya Raudal melihat perjalanan dan perantauannya? Dapat 
disimak dalam baris-baris sajaknya berjudul Mata Pisau Perantau berikut: 
Sebagai perantau, satu-satunya mata pisauku/mungkin cuma kenangan. Tapi 
ternyata, rantau punya/ dua mata pisau yang agak ganjil cara mengasahnya://Mata 
pertama diasah kabar gembira/yang kilauan-kilauannya memukau orang sekampung/- 
kabar keberuntungan/Di malam-malam larut mereka rindukan tajamnya/mengiris 
kebekuan mimpi, tak pernah rampung,/tak pula surut.//Mata yang sebelahnya lagi 
terasah kabar buruk/yang harus kubara sendiri dengan 
kengiluan-kengiluanku,/dengan igauan-igauanku, tak terbalaskan.// Dua mata 
pisau, satu hulu, menyatu dalam diriku/selalu terasah walau kusarungkan ke 
balik jantung/membuat kenangan pun berdarah!/ (Suara Karya, 13/3/2005)

Bagi perantau, entah apapun latar belakangnya, mengingat kampung adalah 
memungut kerinduan dan sekaligus kehilangan. Seperti juga yang saya alami 
ketika bertemu dengan orang-orang exile yang ada di sebuah negeri, 
bertahun-tahun hidup dalam pengembaraan dengan sebuah rindu tak terkatakan. 
Begitulah, bertemu dengan orang-orang seperti pak Mintardjo, Agus Salim, Cipto, 
Rusjdi dkk, yang selalu menitikkan air mata setiap kali menyanyikan lagu 
kebangsaan atau menceritakan kepedihan masa lalunya. Air mata yang bukan karena 
cengeng menghadapi hidup, terbukti bahwa sebagian dari mereka mendapatkan 
posisi dan kehidupan yang baik. Namun air mata itu lebih tertuju pada sebuah 
entitas bangsa, tanah air, kampung halaman mereka, saya kira. Siapa dapat 
menerka, seperti apa kerinduan mereka atas kampung halamannya? Saya pikir tak 
pernah tertuntaskan untuk membicarakannya. Hal ini juga dibaca dengan jelas 
oleh Komaruddin dalam esainya “Dapatkah Sastra Eksil Berbicara?” (Kompas 
Minggu, 25 Mei 2003)
 yang menunjukkan bahwa kerinduan terhadap tanah air mendominasi karya-karya 
yang dihasilkan oleh para pengarang eksil. 

Jejak perjalanan dan perantauan akan tercatat dalam setiap kenangan. Namun 
demikian, rindu akan kampung adalah sebuah jejak awal sekaligus pemantik api 
yang selalu menghidupkan keinginan untuk terus hidup. Identifikasi seseorang 
terletak pada latar belakang etnisitas, yang semakin kabur pada saat belakangan 
ini, sembari terus mengenakan berbagai emblem kenangan dan kebudayaannya. 

Membaca cerpen-cerpen Raudal, pada satu sisi memang mengindikasikan bahwa beban 
atau kaitan dan identifikasi etnis semakin kabur, dengan mengangkat berbagai 
tema dan peristiwa yang terjadi dimana-mana. Namun pada sisi lain, hal itu 
adalah sebuah warta kepada orang-orang di kampung bahwa ia masih ada dan masih 
harus terus berjalan. Kenapa? Karena masih didapati sejumlah karya yang 
ditujukan pada kampung, kenangan masa lalu, dan kegundahan serta tarik menarik 
untuk mengunjungi dan sekaligus usaha untuk berjarak.

Pendapat ini dapat dibenarkan melalui penjelasan yang diberikan oleh Suryadi 
dalam bukunya Syair Sunur Teks dan Konteks ‘Otobiografi’ Seorang Ulama 
Minangkabau Abad ke-19 (Yayasan Citra Budaya Indonesia dan PDIKM, 2004). 
Suryadi menjelaskan sebuah teks syair yang ditulis oleh syekh Daud dapat 
dikatakan mewakili dirinya untuk bercerita kepada orang-orang di kampungnya, 
Sunur. Hal ini dilakukan oleh Syekh Daud karena dirinya tak mungkin untuk 
kembali ke kampung karena alasan masa lalu yang memalukan. Maka ia hanya 
mengirimkan salinan teks syair untuk dibaca dan diketahui oleh orang-orang 
kampung bahwa dirinya masih hidup dan sebenarnya ingin kembali ke kampung.

Hal ini memungkinkan sebuah dialektika yang tak akan pernah hilang dan habis 
dalam perjalan hidup. Katakanlah bahwa ia juga menjadi sumber energi dan sumber 
penciptaan dalam proses kepenulisan dan kepengarangan. Raudal dalam 
karya-karyanya mungkin saja berbicara tentang etnis mana saja, namun pada 
dasarnya pengalaman masa lalunya memberi sebuah alternatif cara memandang dan 
cara berpikir dalam melihat persoalan. Masalah antara pendatang dan pribumi, 
misalnya, bukan hanya masalah di pulau paling timur Indonesia. Program 
transmigrasi telah membawa pengaruh besar di berbagai daerah di Indonesia, 
termasuk juga di Sumatra Bara, dan juga di Pesisir Selatan, tempat Raudal 
pernah dibesarkan. 

Bisa disimak ketika ia berbicara tentang “Tanah Harapan”, Raudal tidak sekadar 
bicara tentang orang-orang yang ada di Mataram, tetapi juga jutaan orang 
Indonesia yang bercita-cita menjadi tenaga kerja di luar negeri. Ini masih 
ditambah lagi dengan cerpennya “Jalan ke Bukit sudah Berubah” yang 
memperlihatkan keadaan yang sama di daerahnya sana. Inilah bentuk lain dari 
sebuah common sense itu. Raudal memperlihatkan perhatiannya pada masalah ini di 
berbagai daerah sembari juga menunjukkan jarinya ke daerahnya sendiri. 

Atau, di sini berlaku apa yang dinamakan perasaan transindividualisme dalam 
sosiologi sastra itu. Perasaan yang lebih tepat untuk disebut perasaan bersama 
yang dialami oleh seseorang terhadap berbagai masalah yang terjadi di 
sekitarnya. Semacam common knowledge dan common sense. Apalagi ditambah dengan 
arus informasi dan percepatan penyebaran berita yang dalam hitungan detik sudah 
bisa diketahui oleh jutaan orang. Seperti begitu dahsyatnya respon yang 
diberikan orang di seluruh dunia terhadap bencana Tsunami dan gempa bumi yang 
terjadi di Aceh dan Nias (tulisan Sudjoko di Bentara Kompas, Rabu, 4 Mei 2005, 
“Adakah Persahabatan Semesta?” dengan sangat simpatik menggugah perasaan yang 
seharusnya dirasakan dan direnungkan lebih dalam).

Maka tak ada yang aneh dengan kepedulian dan perhatian yang diberikan 
pengarang, dan juga seniman, terhadap berbagai peristiwa yang terjadi. Mereka 
bebas untuk bicara apa saja dan tentang peristiwa dimana saja. Seperti yang 
ditulis oleh Radhar Panca Dahana dan kemudian ditanggapi oleh Danarto tentang 
adanya banjir karya karena bencana di Aceh, di harian Kompas beberapa waktu 
lalu. Atau kemudian harian Republika malah membuka ruang cerpennya khusus 
bertema bencana Aceh sejak bulan April lalu. Hal yang mengingatkan kita pada 
rubrik oase puisi Republika yang menyediakan tema reformasi di awal era 
reformasi dulu. Inilah sebuah semangat baru merespon dengan sengit apa yang 
terjadi di sekitar. Walau meski juga tak semua karya itu kemudian dihasilkan 
dari sebuah pendalaman, karena memang kadang bersifat emosional dan permukaan 
sekali.

Muhammad Radjab telah menghabiskan segala kenangannya Semasa Ketjil di Kampung 
(1913-1928) kedalam novel biografinya (Balai Pustaka, 1950). Dan itu adalah 
batas dimana dia berhubungan secara fisik dengan kampung dan segala sudutnya, 
untuk kemudian harus menempuh sebuah perantauan. Tapi hal itu pula yang sangat 
membekas dan memberi alas bagi perjalanannnya berikutnya. Ada batas tak kentara 
dalam fase kehidupan. Batas yang ingin dijemput namun selalu tak sampai. Batas 
yang kemudian menghantui sepanjang jalan ke depan.  

Tak dapat dielakkan begitu saja bahwa karya sastra, sedikit banyak, adalah 
biografi yang didasarkan atas pengalaman masa lalu. Atau pengalaman kekinian 
yang kemudian berubah nama menjadi cerita yang fiksi. Budi Darma (dalam Soediro 
Satoto dan Zainuddin Fananie (eds.), Muhammadiyah University Press and HISKI: 
2000), dengan mengutip George Bernard Shaw dalam Gibb mengatakan bahwa karya 
sastra yang baik pada dasarnya merupakan representasi dari pengalaman 
pengarangnya sendiri.

Seperti apa beban kultural yang harus dipikul oleh pengarang? Mungkin bisa 
dihadirkan banyak pertanyaan untuk hal ini. Pun demikian dengan batasan yang 
dilekatkan ketika berbicara tentang kultur dan kampung halaman. Pengarang kini 
telah melebur dalam sebuah kebudayaan semesta yang tak dapat lagi dengan mudah 
dipilah dan dijejaki. Berbaurnya berbagai budaya telah dengan sangat dahsyat 
membentuk cara berpikir, yang kemudian terefleksi dalam karya-karya atau 
tulisan. Sementara di tengah serangan yang dahsyat atas keterpengaruhan budaya 
itu, identitas kultural semakin hablur. Orang semakin was-was dengan 
keetnisannya, apalagi bila menghubungkannya dengan perpindahan generasi, 
disertai pertanyaan akan resistensi yang dipunyai. 

Sementara kampung halaman, mungkin lebih dipikirkan sebagai sebuah idealisasi 
individu. Masih relevankah berbicara tentang kampung halaman? Nyatanya, bila 
diteliti dengan lebih seksama, ia masih relevan, tentu bila kita ingin bicara 
tentang proses kreatif atau ekspresi yang dimiliki sastrawan, misalnya. Tak 
dapat dimungkiri bahwa diri kita, sebagian, semakin meringkuk dalam determinasi 
primordial. Sementara pada saat yang sama juga ditarik masuk dalam perputaran 
budaya semesta yang mengglobal. Di sini, mungkin, diperlukan sebuah identitas 
budaya dan kampung halaman itu, agar tak hilang diri dan tersesat dalam sebuah 
dunia yang menelikung.

Ada kemungkinan lain bahwa identitas kultural dan kampung halaman itu dimaknai 
sebagai kemanusiaan. Seperti halnya nilai sastra itu sendiri yang melampaui 
waktu dan batasan geografis. Ada kebebasan untuk membahas dan berbicara tentang 
apa saja dan dimana saja, tanpa ada batasan spesifik. Dan karenanya berguna 
bagi siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Kemungkinan ini lebih dapat 
diterima dan dianut oleh orang-orang. Toh, kerja sastra, dan seni, adalah 
mengabadikan sesuatu yang sebelumnya terserak dan liar.    

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya melihat bahwa sebagai sebuah pribadi yang 
berkembang, ada yang tak sinkron dengan kehidupan. Begitupun yang dialami 
sebagian para perantau yang tentu saja berhadapan dengan masalah-masalah 
psikologi yang unik dan menarik. Misalnya, perantauan menawarkan berbagai 
kebaruan, tampaknya, selalu berhadapan dengan kampung yang, tampaknya, statis 
dan lamban dalam kehidupan. Saya teringat dengan obrolan Gus tf di Kayu Tanam 
dalam sebuah acara dulu, bahwa “berhadapan dengan kamu, dunia seakan lamban 
berjalan,” begitu kira-kira dia berucap. Saya membawanya dalam sebuah konteks 
pembicaraan yang berbeda. Namun, sungguh, ada yang hilang ketika kita berjarak 
dengan sesuatu, entah kenangan, atau juga harapan.
 
 
Sudarmoko, menulis kritik sastra dan mempublikasikannya di media massa lokal 
dan nasional. Sedang berusaha membangun komunitas langkan budaya indonesia 
padang dan terlibat dalam kerja kreatif terutama teater dengan menulis dan 
menyutradarai sejumlah pertunjukan. 





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hi83pjj/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123106019/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke