http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/04/opini/1823264.htm
Busung Lapar dan Ilmu Wilayah Oleh: Bun Yamin Ramto Tahun 1970-an Sutami berhasil menyusun konsep "Ilmu Wilayah" sebagai alternatif pemecahan pembangunan yang lebih komprehensif dalam satuan wilayah dengan memerhatikan manusia dan lingkungannya. Konsep ini pada dasarnya berawal dari hasil interaksi dan interdependensi antara sistem sosial (social sytem) dan sistem lingkungan (ecosystem). Hasil interaksi ini menimbulkan aneka kepentingan yang menuntut adanya pemecahan guna memenuhi semua tuntutan kepentingan itu. Saat itu Sutami mengambil kasus Pulau Jawa, yang tidak lagi sesuai bebannya karena besarnya jumlah penduduk jika dibandingkan dengan kapasitasnya atau daya dukung lingkungannya. Akibatnya Pulau Jawa mengalami berbagai krisis, terutama krisis air dan lingkungan. Sebagai indikator, pada musim hujan terjadi banjir di mana-mana, sedangkan pada musim kemarau terjadi kekeringan di mana-mana pula. Menurut Sutami, pemecahannya dengan mengurangi tekanan penduduk di Pulau Jawa dan membangun secara komprehensif wilayah-wilayah pembangunan di luar Jawa, dipadukan transmigrasi penduduk dari Pulau Jawa. Di Pulau Jawa sendiri, wilayah-wilayah permukiman dan pembangunan harus ditata ulang dengan konsep Ilmu Wilayah, membangun waduk-waduk di hulu sungai, serta melestarikan daerah-daerah aliran sungai yang kondisi lingkungannya sudah banyak yang rusak. Wilayah terkecil dari satuan wilayah adalah manusia itu sendiri, lalu rumah tangga (keluarga), keduanya masih tergolong satuan wilayah secara natural. Selanjutnya satuan wilayah dapat diperluas menjadi kawasan permukiman atau kawasan pembangunan dengan segala aspek kepentingan kehidupan di dalamnya. Berinteraksi Besar kecilnya wilayah dapat direncanakan sesuai kebutuhan. Yang jelas, masing-masing tingkatan wilayah-sekarang maupun di datang-mempunyai jumlah penduduk tertentu yang senantiasa berinteraksi dan berinterpendensi dengan lingkungannya sehingga selalu menimbulkan tuntutan pemecahan yang tepat dan sesuai aneka kepentingan di dalamnya. Di masa Orde Baru kita pernah merumuskan, pembangunan Indonesia pada hakikatnya adalah "membangun manusia seutuhnya" dan membangun seluruh bangsa Indonesia. Sayang ketika dijabarkan dalam rencana pembangunan selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk bidang-bidang, sektor-sektor, proyek-proyek, dan sebagainya sehingga kita lupa pada kepentingan manusia seutuhnya. Yang berkembang adalah kepentingan sektor-sektor. Sampai-sampai ketika itu muncul istilah "egoisme sektoral" karena masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri tanpa memerhatikan kepentingan sesungguhnya dari manusia atau penduduk dalam satu wilayah tertentu. Kalau saja prinsip pembangunan manusia seutuhnya diteruskan sampai pada masing-masing wilayah itu, maka kepentingan penduduk pada masing-masing tingkat wilayah itulah yang perlu dibangun, termasuk kepentingan lingkungan hidupnya. Dalam Ilmu Pemerintahan dikenal istilah wilayah, yakni Wilayah Administrasi Pemerintahan. Administrasi pemerintahan juga dimulai dari manusia seutuhnya, rumah tangga, lingkungan rukun tetangga (RT), hingga rukun warga (RW), yang semuanya masih bersifat natural dan semiformal. Sedangkan yang bersifat formal selanjutnya adalah wilayah administrasi kelurahan, kecamatan, kabupaten atau kota, provinsi, hingga wilayah administrasi negara. Kedua konsep itu, yakni konsep wilayah pembangunan dan wilayah administrasi pemerintahan, dapat digabungkan untuk memudahkan pengertian. Dengan demikian, satuan wilayah pembangunan identik dengan satuan wilayah pemerintahan sehingga yang melakukan pembangunan wilayah adalah kepala wilayah pemerintahan itu sendiri dalam satuan wilayah administrasi pemerintahan masing-masing. Dalam pemerintahan dikenal pula ungkapan, seorang kepala wilayah atau pamong harus mengetahui "daun jatuh" sehelai pun di wilayahnya. Atau ungkapan lain, seorang pamong harus mengurus semua urusan penduduk dalam wilayah pemerintahannya mulai dari lahir sampai mati. Jika prinsip-prinsip ini dilakukan, tidak mungkin seorang kepala pemerintahan pada tingkat wilayah mana pun tidak mengetahui ada penduduknya yang sudah lama terkena penyakit lumpuh layuh atau menderita busung lapar atau kekurangan gizi. Jenis lapangan Konsep Ilmu Wilayah juga dapat digunakan untuk menganalisis jenis lapangan kerja yang dapat dikembangkan dalam suatu wilayah, dengan cara meneliti kondisi sosial dan lingkungan di wilayah itu. Misalnya wilayah mana yang cocok untuk pertanian, perkebunan, peternakan, serta jenis pendidikan dan pelatihan yang diperlukan. Jadi tidak perlu ada keseragaman dalam pembangunan, atau melakukan pekerjaan yang bersifat latah meniru wilayah lain. Masalahnya, bagaimana caranya menerapkan konsep Ilmu Wilayah untuk menanggulangi aneka masalah yang dihadapi penduduk. Dengan adanya sistem wilayah, baik rencana, program, maupun pembiayaannya juga harus melalui perencanaan wilayah, pemrograman wilayah, dan anggaran wilayah sehingga dapat dikatakan, tiap satuan wilayah merupakan variabel dalam pembangunan. Dengan kata lain, dengan konsep Ilmu Wilayah, pembangunan dilakukan dengan mengambil satuan wilayah sebagai variabel. Hal ini amat sesuai kriteria keberhasilan pembangunan yang telah dipakai PBB dengan mengambil ukuran Human Development Index (HDI), yaitu mengukur keberhasilan pembangunan dengan pemenuhan tuntutan kebutuhan hidup setiap penduduk, mulai dari kebutuhan pokok, seperti sandang, pangan, papan, hingga kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Mungkin dapat ditambahkan kebutuhan yang lebih tinggi lagi, seperti kebutuhan spiritual atau rohani, kebutuhan akan keamanan dan perlindungan hukum serta HAM. Dengan ukuran HDI ini, di tahun 2002 Indonesia secara keseluruhan tergolong pada peringkat ke-104 atau berada di bawah Vietnam yang menempati peringkat ke-103 dari 164 negara di dunia. Sedangkan sebelumnya, bangsa kita menempati peringkat ke-97. Bun Yamin Ramto Guru Besar Luar Biasa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Padjadjaran Bandung [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hholpq3/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123123297/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project </a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

