aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
Mbah Danar,
.....Definisi pluralisme yang mbah berikan sudah pas dengan definisi yang ada
dalam pikiran saya, meski ada beberapa hal menjadi catatan kaki. Terutama kata
ini
The existence of religious pluralism depends on the existence of freedom of
religion. bla, bla bla,bla . GImana ya mbah, saya tak bisa mengatakan suatu
dalih sedangkan mbah bukan muslim. Aris yakin nggak bakalan nyambung selamanya.
DH: Gini mBak. Yang dimaksud, adalah, pemaknaan kata "pluralisme religi" itu
tergantung skenario kemasyarakatan yang mengitarinya.
Di USA, misalnya, ini dimaknai secara benar benar luas. Plural sak plural
pluralnya. Bunga mawar sampai bunga rumput semua ada ditaman.
Dalam masyarakat dimana kebebasan religi dibatasi, seperti di Eropa dimasa
Katholik menjadi satu satunya agama, maka "plularisme" ini hampir tiada.
Mendirikan gereja Protestant-pun dilarang, pengikut Protestant di-kejar kejar.
-------------------
AS:
Saya memang bukan orang filsafat yang kadang lebih sering berdefinisi dan
berpikiran agak jlimet, alur pikiran saya sederhana. Aris muslim, maka
konsekuensi sebagai seorang muslim berusaha melaksanakan aturan agama saya.
Mungkin karena terbiasa hidup dalam kesahajaan alam pertanian yang dekat dengan
ciptaan Allah. :-) Jadi mikirnya simple. Sudah ada aturan yang dibuat Pencipta
manusia dan alam segala isinya, sudah pasti sempurnanya, indahnya, rahmatnya ko
ya bingung cari konsep lain yang belum pasti. Sudah terbukti 14 abad lagi ,
kurang punapa malih tho mbah. Diskusi kita akan menemukan titik temu, menawi
simbah muslim. :-)
DH: Filsafat mungkin njlimet, mungkin bersahaja. Falsafah Jawa yang sederhana
misalnya, adalah tut wuri handayani, dari belakang memberikan pengarahan. Atau
sepi ing pamrih rame ing gawe, tanpa tuntutan bagi diri sendiri, namun
semaximal mungkin berkarya...dsb.
Aturan sang pencipta ditangkap manusia sejak ribuan tahun yang silam, dan
dicoba dibukukan. Mulai dari Tripitaka oleh sang Sidharta, ke kitab Taurat yang
diturunkan Musa pada umat Israel, Kitab Injil bagi umat Kristen sampai ke Al
Quran bagi umat Muslim.
Sebenarnya, mBak (atau mas?), aturannya satu.
Bahwa ada sang Pencipta yang tak berawal tak berakhir, maha ada dan maha kuasa,
yang menciptakan semua, yang mencintai ciptaanNya dan menyempurnakanNya.
Mbak, hujan yang jatuh di lereng gunung Rogojambangan cair dan hangat, yang
jatuh diatas lereng pegunungan Alpinia dingin dan kadang menjadi salju, yang
jatuh diatas Lithuania dibulan December dingin dan membatu. Namun semua adalah
air awalnya, dan dari atas.
hal yang sama, namun diterima dan ditangkap berbeda.
Sinar yang dipatahkan, mBak terima sebagai bianglala (rainbow) yang indah, dan
saya lihat dari tempat jauh berbeda bagaikan cahaya putih biasa. Awal sinar ini
sama, sang Surya.
Don't worry, aturan yang sama mengantar kita sejak lahir, sampai kita
meninggalkan mayapada ini. Dan satu aturan berlaku bagi kita semua mBak:
memenuhi misi kita sebagai manusia, berperilaku mulia, memenuhi dharma.
-------------------------------------
AS: Mbah, dalam islam negara dan agama itu satu kesatuan utuh ndak terpisahkan,
beda dengan kenyataan dahulu Roman Catholicism or Protestantism. Adalah
katolik dan protestan, bila umat mereka ingin bangkit, Agama dan negara harus
dipisahkan (sekularisme). Sedangkan Islam meminta umatnya ketika berbuat,
berkata,berdiam, berniat, bertingkah laku disegala bidang mengikuti aturan
Allah.Jadi tak ada ruang sekularisme.
DH: Agak keliru mBak.
Juga umat Kristen, sebagai juga umat lain sebelumnya, Hindu dan India nun jauh
didataran Indus dan Kapilawastu, juga menyatukan negara dan agama.
Ribuan tahun, agama Kristen adalah bentuk negara. Peraturan gereja adalah
peraturan negara. NON SEKULAR. Sebagaimana yang dituju masyarakat Islam.
Namun, karena manusia memang demikian sifatnya, pemimpin gereja dan negara,
juga dalam kerajaan kerajaan Hindu dimana tak ada sekularisme, sampai Majapahit
dan Shailendra, kerajaan kerajaan di Bali, manusia menganiaya ya menguasai
manusia melalui titah Tuhan. Karena kata Tuhan adalah kata penguasa, dan kata
penguasa adalah kata Tuhan. Mereka mendekretkan demikian, rakyat tergilas
dibawah. rakyat Eropa bangkit, membebaskan diri dari tyrani penguasa dan agama.
Timbul pencerahan (rennaisance, enlightment), timbul revolusi Perancis.
Keinginan manusia selalu mengikuti perintah Allah adalah indah. Namun, apabila
ini dijabarkan dalam sebuah negara menjadi rumit. Allah melarang umat Islam
memakan babi, memerintahkan mereka naik haji kalau mampu, dsb. pada saat yang
sama, umat Kristiani tak dilarang oleh Allah yang sama memakan babi, tak
diperintahkan ke Mekkah naik haji, tak diperintahkan percaya pada nabi
Muhammad. demikian pula saudara saudara kita berumat Buddha.
Lalu, negara harus mengatur bagaimana? Melarang per undang undang bagi seluruh
warga makan babi? memerintahkan seluruh warga percaya pada nabi Muhammad? per
undang undang? lalu bagaimana saudara kita yang menghormati sang Sidharta yang
memerintahkan menjalankan dharma dan menjauhi ketamakan, harta, kesenangan,
berbakti pada sesama, kalau mungkin jangan membunuh hewan apapun?
Peraturan agama yang mana yang harus diangkat menjadi peraturan negara? Kalau
hanya satu agama yang dijadikan aturan, apakah ini fair bagi penganut agama
lain?
Austria pernah mengalami negara non-sekular. Ribuan tahun mBak. Agama lain
selain Katholik dikejar dan kalau mbangkan dibunuh. Yahudi, Protestant (walau
sama sama Kristiani), Islam. Tak boleh ada rumah i´badah selain gereja
Katholik, juga gereja Protesttant yang menghormati Krustus dilarang, apalagi
mesjid ataiu syanagoga, atau Vihara!
Mereka insyaf, dan kini menghormati sesama manusia, dan mengakui hak SETIAP
manusia menghormati Tuhannya. Tidakkah ini mulia mBak?
Disini umat Muslim hanya sedikit, lalu menurut azas kekhaffahan, haruskah
peraturan Kuran dimasukkan kedalam peraturan negara Austria? Tidakkah akan
timbul huruhara, salah salah banjir darah?
MBak, gara gara non-sekularisme di Eropa, jutaan jiwa melayang. Pernah dengar
Perang Tigapuluh Tahun? 15001648 antara kerajaan kerajaan Katholik dan
Protestant?
Cukup kan mBak, non-sekularisme membanjirkan darah menghancurkan harta dan
ladang?
--------------
AS:
Mbah Danar, Kulo nggih mboten sreg dengan tulisan punika :
Muslim views
Classical Muslim views
Like Christianity, Islam originally did not have ideas of religious pluralism
for different Islamic denominations. Early on, Islam developed into several
mututally antagonistic streams, including Shiite Islam, Sunni Islam and Sufi
Islam. In some periods believers in these two communities went to war with each
other over religious differences.
Modern (post-enlightenment era) Muslim views
Many Muslims brought up in Western nations now accept some modern views of
religious pluralism. Some Shiite, Suni and Sufi Islamic leaders are willing to
recognize each other's denomination as a valid form of Islam. However, many
other Islamic leaders are unwilling to accept this; they view other forms of
Islam as outside the Islamic religion.
Tak ada pembedaan classical and modern bagi seorang muslim, karena islam itu
tak berubah sejak dahulu diturunkan hingga sekarang, sehingga harusnya tak ada
perubahan pula seorang muslim dahulu dan sekarang.
DH: Yang dimaksud disini BUKAN ajarannya. Karena TAK ada ajaran agama yang
dimodernisasi. Jangankan Al Quran, Kitab Tripitaka yang jauh lebih tua juga tak
pernah diubah.
Yang berubah adalah komunitas Muslim. Dan ini benar. Saya lihat perilaku dan
cara hidup Muslim di AS, di Eropa, sangat beda dengan di Tunisia, Marokko dan
Mesir, terutama di pedalaman. Juga komunitas Muslim di Turki barat, di kota
besar, dan di wilayah Anatolia, Turki Timur: wau bagaikan langit dan bumi.
--------------------------------------------
AS:
Kalau ada pembedaan yang harus di renungkan jangan-jangan orang muslimnya yang
salah mengaplikasikan agamanya. Bukan agamanya yang salah.
DH: Agama, ex definitione, TAK pernah salah. Yang salah adalah pemahamannya,
penjabarannya.
Orang Katholik pernah menyangka, Alkitab mengajarkan langit itu datar, lalu
yang menganggap bumi itu bulat, dihukum mati.
Si pembunuh di Belanda asal Marokko, juga yakin, ajarannya dan ketaatannya pada
Allah mengharuskan dia membunuh sipembuat film yang menghina ajarannya itu.
Apakah Kuran memerintahkannya? Pasti tidak bukan?
Kalau manusia di barat dekadent, mabuk mabukan, melawan susila, berjudi, dll,
ini mengikuti Alkitab? Tidak bukan?
----------------------
AS:
Aris akui ko mbah banyak umat islam KTP. Aris berdoa semoga aris dihindarkan
dari hal ini dan aris juga berdoa sangat semoga mereka diberikan hidayah
termasuk simbah. Biar merasakan indahnya islam.:-)
DH: Mbak pernah melihat film atau membaca mengenai Dalai Lama, pemimpin umat
Buddha dari Tibet? Beliau memancarkan kedamaian bathiniah dan welas asih,
sehingga yang melihat beliau turut menjadi tenang dan damai. Beliau menjalankan
dharma seperti yang diajarkan sang Sidharta, dan tak pernah mendengarkan ajaran
Islam, tetapi tidakkah kehidipan beliau yang sederhana dan luhur itu indah?
keindahan buddhawiah?
Atau ibu Teresa,yang dari lahir Katholik sampai wafat? Yang mengecap
kebahagiaan tak terhingga dalam kewelas asihannya? Apakah beliau mengenal
keindahan Islam? Entahlah, tetapi keindahan dalam mengabdi sang Pencipta.
-------------------------------
AS:
Mbah Danar, jika aturan islam itu diterapkan dan agama nasrani dll ikut
bernaung di dalamnya maka hak antara umat yang Islam dan non Islam itu sama.
Suer mbah, kulo mboten goroh. Bahkan Rasulullah bilang, bila ada yang menyakiti
ahli dhimah maka dia bukan termasuk golonganku. Tapi mbah sekarang sistem islam
ndak diterapkan, umat islam kehilangan ruhnya. Keyakinan 100 persen terhadap
agama islam itu mbah layaknya ruh bagi jasad. Umat islam lagi sakit atau bahkan
sekarat.
DH: Tetapi mbak, bagaimana saudara kita di Minahasa, Nias, Flores, Timor atau
Bali, yang bukan Muslim harus bernaung didalam Islam? Agama yang tak mereka
kenal? Banyak yang tak pernah ketemu manusia Islam didesa desa seumur hidup?
Bukankah kita pernah mengalaminya, mBak, 300 tahun, didalam hukum ketatanegraan
negara yang asing, yang mengatur hidup kita, yang jutaan bangsa kita tak perah
melihatnya orang mereka seperti apa?
Mana mungkin, umat satu agama bernaung dalam agama yang tak exist dalam wilayah
mereka?
Jangan lupakan sedetikpun Mbak, mBak, saya serta teman teman lain di milis ini,
menamakan diri kita SEBANGSA, karena RI dari áwal BUKAN negara agama.
Andaikan wakil Islam dalam Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dari
Juni sampai Agustus itu BERSIKERAS mendirikan negara Islam, seperti dituntut Ki
Bagus Hadikusumo itu, apakah Mbak dan saya, dan saudara saudara dari pulau
pulau lain, masih satu passport? Apakah mBak Truesoul, mBak Listy, mas Nizami,
mas Yustam dan kita berdua satu kewarganegaraan?
Kalau dipaksakan mBak, sebentar lagi, kita berdua, orang Jawa, dan saudara
saudara dari bali dan Minahasa mempunyai passport berbeda.
----
AS:
Ntar ya mbah kalau seluruh umat islam sudah bersatu dan cukup sehat. Mbah akan
tahu cemerlangnya agama ini.
DH: kita baca sejarah mBak, Islam sudah muncul 300an tahun setelah Masehi.
Adakah arah penyatuan mBak? Mengapa pasukan islami dari Irak dahulu ngeluruk ke
Kuweit? mengapa pasukan pasukan islami dari Iran dan Irak saling membantai?
mengapa pasukan islami dari Jawa dan Aceh saling membantai? mengapa pasukan
islami dari Indonesia dan Malaysia gara gara wilayah perairan dekat pulau yang
tak berpenghuni siap saling bantai?
Mbak duga ini akan berhenti?
Cemerlang mBak? bangsa Jepang yang turut memimpin IPTEK dijagad ini dan
buddhawi (Shinto), AS dan Eropa yang memimpin IPTEK dijagad raya dan kristiani,
Majapahit dan Shailendra yang hindu-buddhawi. Mereka mengecap kecemerlangan
mBak, atau saya keliru?
Kini India yang hindhuwi, Korea dan Tiongkok yang buddhawi atau Tao, encang
ancang meraih kecemerlangan. Yang vcemerlang di Malaysia adalah pulau Penag
yang Tao dan buddhawi, mBak, bukan pantai timur yang islami. Monggo silakan
lihat sendiri.
Bilamana kerajaan Islam pernah cemerlang ditanah ibu Pertiwi mbak?
Móhon maaf kalau ada ketidakbijakan dalam kata kata. Atau ada ketidakhatihatian.
salam hangat
danardono
NB: sebagai orang dari generasi lama, kami wajib mencanangkan kata kata, walau
mungkin tak indah didengar ditelinga. Kalau ini dirasakan perlu dalam saling
tukar wacana. Atau?
***********************************************************************************
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west;
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.
Sidharta Gautama
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hl07lko/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123240829/A=2894354/R=0/SIG=11qvf79s7/*http://http://www.globalgiving.com/cb/cidi/c_darfur.html">Help
Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/