http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/07/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Kekerasan Massa di Mana-mana 


Bila virus flu burung sedang dihebohkan belakangan ini, kekerasan mungkin 
adalah "virus" lain yang entah disadari atau tidak, sudah mewabah. Hal ini 
seperti terjadi pada pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung di 
pelosok negeri ini yang ternyata diwarnai dengan unjuk kekerasan. Kerusuhan 
berupa perusakan dan pembakaran berbagai fasilitas Pemerintahan Kabupaten Kaur 
Provinsi Bengkulu, seolah jadi puncak dari sederet konflik yang terjadi dalam 
pilkada. 

 

Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno 

BAKAR BAN - Beberapa polisi lengkap dengan pakaian antihuru-hara melintas di 
dekat ban yang dibakar oleh demonstran di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Kerusuhan dalam pilkada ini menjadi pelengkap sejumlah kekerasan massa yang 
sudah sering terjadi. Sebut misalnya, keributan di lapangan sepakbola baik 
antarpemain maupun antarsuporter. Pada tempat dan saat seharusnya sportivitas 
dijunjung tinggi, justru adu otot alias adu jotos yang dikedepankan. Contoh 
lain, aksi massa yang mengatasnamakan golongan, kemudian merasa berhak main 
hakim sendiri merusak tempat-tempat umum. Belakangan, aksi massa terhadap 
sebuah kelompok keagamaan di Bogor, Jawa Barat. 

Hamdi Muluk, staf pengajar di Fakultas Psikologi UI mengatakan, ada kesamaan 
antara pilkada dan sepak bola dalam hal menjunjung sportivitas. Memang, 
seharusnya dalam sebuah perlombaan atau pertandingan, si pemenang tak perlu 
mentang-mentang. Sementara yang tak menang menerima kekalahan. "Tapi harus 
diingat, perlombaan itu dalam kompetisi yang sehat atau fair. Yang menjadi 
masalah adalah bila kompetisinya tidak sehat sehingga memicu terjadinya konflik 
di sana-sini," katanya. 


Kompleks 

Meskipun ada kesamaan, namun kerusuhan di dua wilayah itu sangat berbeda. Di 
dunia olahraga -biasanya sepakbola- kerusuhan dipicu oleh fanatisme, baik 
terhadap pemain atau klub tertentu. Sedangkan dalam pilkada lebih kompleks, tak 
sekadar fanatisme terhadap calon tertentu. 

Hamdi termasuk orang yang tak terlalu yakin bahwa masyarakat Indonesia termasuk 
tipe gampang "disulut". Ia menyebut social trust masyarakat sudah hilang. Bila 
kompetisi -dalam hal ini pemilihan kepala daerah- dinilai tidak adil, massa 
akan bertindak sendiri. Mereka tak lagi percaya pada sistem yang ada, bahwa ada 
institusi yang seharusnya menyelesaikan permasalahan dalam pilkada. Apalagi 
bila ada elite politik yang tidak puas dengan hasil pemilihan, kemudian 
memprovokasi massa. 

Ketidakpercayaan pada sistem tata negara yang ada, juga bisa ditemui pada kasus 
massa yang mengeroyok alias main hakim sendiri terhadap penjahat. Atau 
perusakan tempat hiburan malam oleh sekelompok orang yang menganggapnya tempat 
maksiat. "Hal ini sudah terjadi lama bahkan sebelum reformasi sekalipun. Hanya 
saja, pada era Soeharto ketidakpercayaan pada sistem yang ada atau hukum tidak 
sekentara sekarang," kata Hamdi. 

Senada dengan Hamdi, staf pengajar psikologi intervensi sosial pada program 
pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Piet Manoppo mengatakan, 
berbagai konflik antarkonstituen dalam pilkada terjadi karena ketidakmampuan 
mengelola kekerasan dan konflik. Kekerasan itu juga terjadi karena adanya 
kedekatan emosional yang tinggi dari konstituen dengan kandidat tertentu. 

Para konstituen menaruh harapan yang sangat besar kepada kandidat tertentu, 
sehingga ketika calonnya kalah dalam pertarungan pilkada, seolah harapan itu 
terbang dan mereka melampiaskannya dengan kemarahan. 

Bila dibandingkan dengan pemilihan presiden, sangat jarang terjadi konflik 
antarpendukung calon presiden/calon wakil presiden tertentu. Hal itu terjadi 
karena rakyat yang berada di Papua misalnya, merasa tidak terlalu 
berkepentingan dengan siapa pun yang memimpin negeri ini. 

Kalau presiden mengeluarkan surat keputusan presiden (keppres), dampaknya tidak 
terlalu dirasakan oleh warga Papua. Persoalannya akan menjadi berbeda, ketika 
se- orang bupati di Provinsi Papua mengeluarkan keputusan bupati atau peraturan 
daerah. Produk hukum tersebut tentu saja bisa bersinggungan langsung dengan 
eksistensi masyarakat. 


Demokrasi Tidak Berjalan 

Bila konflik dalam pilkada ditelisik lebih jauh, ujar Piet, akar persoalannya 
adalah demokrasi yang tidak sepenuhnya berjalan di negeri ini. Demokrasi 
memberikan ruang kepada aspirasi rakyat, bukan hanya kehendak elite yang 
dipaksakan kepada rakyat. Dengan demikian ada penghormatan terhadap perbedaan 
pendapat. Kalau demokrasi sejak dini sudah tumbuh, setiap orang akan bisa 
menerima dengan lapang dada kekalahan dalam sebuah kompetisi, termasuk dalam 
pilkada. "Coba bayangkan, dalam pendidikan formal di sekolah, anak-anak kita 
tidak diajarkan pendidikan demokrasi. Guru menempati posisi sentral, sehingga 
tidak ada alternatif pemikiran dan kritik. Kita juga sudah sangat lama berada 
di bawah pemerintah yang tidak pernah memberikan pendidikan politik dan 
demokrasi. Yang ada hanya komando dan sentralisasi sehingga, sebagian kandidat 
dan rakyat belum bisa menerima kekalahan dalam sebuah kompetisi," ujar Piet 
yang juga menjadi Koordinator Pusat Kajian dan Pengembangan Psikologi Indonesia 
pada Himpunan Psikologi Wilayah DKI Jakarta Raya (Himpsi Jaya). 

Untuk meredam konflik antarkonstituen dalam pilkada, Piet menyarankan setiap 
calon kepala daerah sejak dini harus mengusung perspektif kemanusiaan, 
persaudaraan, moralitas, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Fanatisme agama, 
etnis, dan pengelompokan ekonomi tertentu hendaknya dihindari karena isu-isu 
tersebut bisa menyulut konflik di masyarakat. 

Sedangkan menurut Hamdi, kondisi kekerasan massa seperti yang terjadi 
belakangan ini memang perlu mendapat perhatian meskipun dalam penanganan perlu 
waktu lama. Ia menyebut culture (budaya) dan structure (dalam sistem 
pemerintahan) saling mengkait dan berhubungan. 

Mekanisme penyelesaian konflik yang sudah terinstitusionalisasi harus berjalan 
sesuai aturan sehingga menjadi budaya. Dengan demikian akan terbangun kembali 
social trust masyarakat. "Tentu saja dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan dasar 
masyarakat atau basic need berupa sandang, pangan, dan papan. Dan ini perlu 
waktu panjang. Sekarang ini yang penting adalah pemerintah punya visi dan misi 
yang jelas dan tahu kapan dan dari mana memulainya," katanya. (A-16/A-15) 


Last modified: 5/8/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h4in3rn/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123365265/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke