Suatu sumber informasi yang bagus.
Untuk melengkapinya, saya gelar artikel mengenai sumbangan SEMUA anak bangsa
bagi munculnya negara NKRI yang kita cintai, milik kita semua dari semua agama.
Selamat membaca.
salam
Danardono
----> Thomas Matulessy Kapitan Pattimura, pejuang pada era pra-kebangkitan
nasional dari Maluku, adalah seorang pejuang kemerdekaan pada zamannya. Pada
waktu terkepung disebuah gereja di Saparua, ia meninggalkan Alkitab di mimbar,
terbuka pada kitab Mazmur 17 yang baru dibacanya. Ia adalah seorang pejuang
yang memperoleh inspirasi perjuangannya di dalam iman Kristiani. Kemerdekaan
adalah hak, karena kemerdekaan adalah bagian dari keselamatan oleh kebangkitan
Kristus.
Bersama para pejuang pada era itu, seperti Tuanku Imam Bonjol di Sumatera
Barat, Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, Nyi Ageng Serang di Banten, Jawa
Barat, Sisingamangaraja ke-12 di Tapanuli, Sultan Hasanuddin di Sulawesi
Selatan, Christina Martha Tiahahu di Maluku, Tengku Cik di Tiro, Cut Nyak Dien
dan Teuku Umar di Aceh, Pangeran Antasari di Kalimantan, Pattimura telah
menyemaikan prinsip kemerdekaan di dalam embrio kelahiran bangsa Indonesia di
kemudian hari. Sebelumnya sejarah juga mencatat kepahlawanan raja Mataram,
Sultan Agung Anyokrokusumo pada abad ke-17 dalam melawan penjajah Belanda.
----> Agama-agama semawi dan agama-agama lainnya mulai hadir diwilayah persada
Nusantara semenjak ratusan tahun yang lalu. Sejarah mencatat kehadiran umat
Kristen semenjak tahun 645 Masehi di daerah Pancur, Barus, Tapanuli,
sebagaimana dicatat dalam buku kuno tulisan Shaykh Abu Salih al-Armini dan
telah di dokumentasikan oleh Dewan Gereja-gereja di Indonesia pada tahun 1979.
Demikian pula kehadiran jemaat Tuhan di Padang, Sumatera Barat, di Semarang dan
Surabaya di pulau Jawa, diberbagai tempat di pantai Barat Sulawesi bagian
Selatan dan bagian Utara, di pelbagai tempat di Maluku serta pada daerah-daerah
lainnya, semuanya pada awal abad ke-16, bersaksi tentang kehadiran agama
Kristen di bumi Nusantara sejak lama. Kedatangan pedagang dari Portugis,
Spanyol dan Belanda dan kemudian penjajahan Belanda telah menambah pertemuan
masyarakat Nusantara dengan agama Kristen.
Bersamaan dengan itu ke-Kristen-an semakin berkembang di wilayah Nusantara.
Tetapi sejarah membuktikan bahwa agama Kristen bukanlah agama kolonial. Para
pejuang kemerdekaan yang beragama Kristen dimasa kerajaan Nusantara dan juga
dimasa kebangkitan nasionalisme Indonesia modern, justru mendapat dasar dan
motivasi terdalam bagi perjuangannya melawan penjajahan dan ketidak-adilan
didalam iman Kristiani-nya.
Lengkapnya, silakan baca:
PANGGILAN DAN TANGGUNG JAWAB MEMASUKI MASA DEPAN BERSAMA
Refleksi Umat Kristen Indonesia Dalam Rangka Merayakan Paskah dan Menyongsong
Pemilihan Umum 1997.
PENDAHULUAN.
"Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah
kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan
Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan
segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil
menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur
kepada Allah didalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan
perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil
mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kol 3 : 15 - 17).
Perasaan sukacita dan syukur meliputi hati, setiap kali kita, umat Kristen
Indonesia, merayakan Paskah. Oleh kebangkitan Yesus Kristus, kuasa dosa dan
kematian telah dikalahkan, diganti dengan kuasa kasih yang membebaskan,
menghidupkan, memberi damai dan menjadikan kita manusia yang baru. Dalam kuasa
kebangkitan-Nya dengan penuh pengharapan dan sukacita kita songsong masa depan
yang lebih baik bagi semua orang, sesuai dengan kehendakNya. Sebagai manusia
baru, sendiri-sendiri maupun bersama-sama, kita terpanggil untuk menjadi
saksi-saksi atas kasih Kristus yang telah bangkit dan menjadi saluran berkat
bagi semua.
"Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan
sia-sialah juga kepercayaan kamu ". (1 Kor 15:14)
Berbagai peristiwa kekerasan dan kerusuhan yang terjadi, perusakan gedung
gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya, perusakan sekolah-sekolah,
panti-asuhan, fasilitas-umum, kantor-kantor, harta-benda milik pribadi,
perkelahian antar suku, demikian pula terbunuhnya hamba Tuhan pendeta Ishak
Kristian, isterinya bersama 3 orang sanak-keluarganya, sikap permusuhan
terhadap warga keturunan Cina, sungguh amat mencemaskan hati kita. Hasutan dan
ancaman kepada kita, baik sebelum, selama, maupun sesudah peristiwa-peristiwa
itu terjadi, sangat meresahkan hati. Kita menjadi saksi dan mencatat peristiwa
ketegangan dan kekerasan yang terjadi diberbagai tempat di pulau Jawa, di
Kalimantan Barat, di Timor Timur dan di Irian Jaya, peristiwa-peristiwa yang
telah mengganggu persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa.
Ditengah-tengah perubahan dan kemajuan bangsa yang dicapai sebagai hasil
pembangunan berkesinambungan selama lebih dari seperempat abad, mengendap
berbagai potensi laten yang berdampak positif maupun berdampak negatif bagi
bangsa. Kemajuan dan perubahan telah memperkokoh potensi bangsa Indonesia untuk
terus maju, untuk terus membina persatuan dan kesatuan bangsa. Berbagai
kekurangan dan kelemahan yang ada menumbuhkan potensi keresahan dan ketidak
puasan. Potensi ini semakin dirangsang oleh apa yang dirasa sebagai
ketidak-adilan, kesenjangan dan kemiskinan, praktek-praktek koruptif dan
penyalah-gunaan kekuasaan, sikap angkuh dan melecehkan dari sementara pejabat.
Kondisi masyarakat demikian itu rawan. Berbagai siasat politik dapat
memanfaatkannya bagi kepentingan tertentu. Itulah yang kita rasakan telah
terjadi dibalik peristiwa kekerasan dan kerusuhan itu.
Kita semua meyakini kebenaran fakta sejarah bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945
sebenarnya adalah bukti nyata kesepakatan seluruh bangsa untuk bersatu dalam
negara Republik Kesatuan dari Sabang sampai ke Merauke dan kenyataan itu
ditegaskan kembali dan disahkan dengan penetapan Pancasila dan UUD 45 pada
keesokan harinya. Kaidah-kaidah dasar yang kita yakini sebagai bangsa telah
terkristalisasi didalam Pancasila dan UUD 45. Masyarakat Indonesia yang sangat
majemuk itu bersatu dalam didalam kepelbagaiannya, sebagaimana dinyatakan di
dalam lambang Bhinneka Tunggal Ika. Tiada lain, kita sangat bersyukur kepada
Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah menganugerahkan kepada rakyat Indonesia
sebuah bangsa dan negara. Kita berjanji untuk menjaga dengan sekuat tenaga
keutuhan bangsa dan negara kita sebagaimana terkandung didalam Pancasila dan
UUD 45.
Sekarang kita menyaksikan betapa segelintir orang berusaha mengganggu keutuhan
bangsa dan negara yang telah diperjuangkan rakyat Indonesia sepanjang sejarah.
Walaupun ada yang ingin melihat peristiwa kekerasan itu sebagai permusuhan
antar agama, antar suku atau antar etnis, namun kita tidak melihat peristiwa
itu sebagai pertentangan antara umat Kristen dengan umat Islam, atau antara
suku Dayak dengan suku Madura, atau antara pribumi dengan non-pribumi keturunan
Cina. Pada dasarnya peristiwa kekerasan dan kerusuhan itu adalah ulah
segelintir perusuh yang mencoba mengadu-domba masyarakat dengan menunggangi
berbagai kerawanan yang terdapat ditengah masyarakat untuk merusak sendi-sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45 dalam
rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu..
Perasaan kita tersentuh dan haru manakala saudara-saudara sebangsa yang
beragama Islam turut berusaha mengatasi kekerasan dan kerusuhan itu dan bahkan
turut serta memperbaiki kerusakan gedung gereja dan kerusakan-kerusakan lainnya
yang telah terjadi. Demikian pula kepada ABRI dan aparat negara yang kemudian
mengatasi keadaan dan memulihkan ketertiban kita menyampaikan penghargaan dan
rasa terima kasih.
Kepada Pemerintah kita senantiasa mengharapkan untuk menindak tegas berdasarkan
hukum mereka yang menjadi penggerak kekerasan serta bijaksana dalam mencegah
terulangnya kembali kekerasan dan kerusuhan seperti itu. Kita sendiri kiranya
mengampuni mereka, pribadi-pribadi yang telah berbuat kekerasan itu, sebab
sebenarnya mereka tidak mengetahui apa yang diperbuatnya (Bdk Luk 23:34).
Kitapun perlu bercermin diri agar kita tidak berbuat dan bersikap yang dapat
menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita sebangsa dan semakin menyadari
bahwa kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini dan perlu
bekerja-sama bahu-membahu dengan saudara-saudara kita membangun bangsa dan
negara. Sekarang marilah kita memusatkan perhatian, menatap kemasa depan.
Sebagai umat Tuhan yang telah beroleh keselamatan melalui kemenangan Kristus
atas dosa dan maut, kiranya hati dan pikiran kita dipenuhi oleh kuasa kasih
Kristus yang membawa damai sejahtera, yang memungkinkan kita melaksanakan
panggilan
dan tanggung jawab kita sebagai bangsa dengan berpengharapan, khususnya di
dalam memasuki putaran 5 tahunan kepemimpinan nasional bangsa yang akan dimulai
lagi dengan pelaksanaan Pemilihan Umum pada tanggal 29 Mei 1997 yang akan
datang.
I. SEJARAH BANGSA.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkembang dan lahir dalam suatu proses
sejarah yang panjang. Mutiara-mutiara sepanjang perjalanan sejarah di bumi
Nusantara sambung-bersambung, semakin lama semakin nyata. Dari awal kehadiran
suku-suku dan agama-agama di bumi persada, kejayaan kerajaan-kerajaan
Nusantara, datangnya penjajah silih berganti, ganti-berganti dan bersama-sama,
jiwa bangsa telah ditempa dan dibentuk untuk kemudian lahir sebagai bangsa
Indonesia. Atas berkat Allah perjuangan bangsa Indonesia berhasil memperoleh
kemerdekaan.
Sejarah yang benar adalah sumber keterangan dan saksi yang penting bagi
generasi penerus tentang berbagai peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau.
Sejarah perjalanan bangsa Indonesia adalah saksi yang benar bagi perjuangan dan
pengorbanan para pahlawan dari berbagai suku dan daerah, dari berbagai agama
dan kepercayaan, baik pada masa kerajaan Nusantara, pada era kebangkitan
nasional, pada era merebut kemerdekaan, maupun pada era menegakkan dan mengisi
kemerdekaan.
Sejarah yang benar adalah juga sumber inspirasi dan pendorong semangat untuk
melanjutkan perjuangan memasuki masa depan dengan berkeyakinan dan
berpengharapan. Agar generasi yang sekarang dan generasi-generasi selanjutnya
dapat terus bahu-membahu melaksanakan pembangunan nasional sebagai pengamalan
Pancasila, guna mewujudkan Indonesia yang maju, modern, adil dan makmur dan
tetap pada jati-dirinya.
Bagi kita, bangsa dan negara Indonesia adalah sebuah karunia, karya Allah yang
unik, agung dan diberkati-Nya. Dari kepelbagaian kemajemukan suku, agama,
budaya dan wilayah, kita telah dipersatukan sebagai satu bangsa. Didalam
ketunggalan sebagai bangsa Indonesia kita tetap memelihara kebhinnekaan kita
sebagai kekayaan dan sumber kekuatan serta kreativitas. Oleh karena itu kita
akan senantiasa memelihara prinsip Bhinneka Tunggal Ika di dalam persatuan dan
kesatuan bangsa dan tidak ingin menyimpang daripadanya. Sangatlah tepat bait
seloka yang terdapat dalam madah Sutasoma karya Mpu Tantular yang menyatakan :
"Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa" (Mengabdi dan setia kepada
prinsip berbeda-beda namun tetap satu jua sebagai suatu kebenaran yang tiada
duanya). Prinsip Bhinneka Tunggal Ika telah dimeteraikan didalam lambang negara
Garuda Pancasila dan semboyan Tan Hanna Dharma Mangrwa dilestarikan sebagai
sasanti lambang Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia.
Agama-agama semawi dan agama-agama lainnya mulai hadir diwilayah persada
Nusantara semenjak ratusan tahun yang lalu. Sejarah mencatat kehadiran umat
Kristen semenjak tahun 645 Masehi di daerah Pancur, Barus, Tapanuli,
sebagaimana dicatat dalam buku kuno tulisan Shaykh Abu Salih al-Armini dan
telah di dokumentasikan oleh Dewan Gereja-gereja di Indonesia pada tahun 1979.
Demikian pula kehadiran jemaat Tuhan di Padang, Sumatera Barat, di Semarang dan
Surabaya di pulau Jawa, diberbagai tempat di pantai Barat Sulawesi bagian
Selatan dan bagian Utara, di pelbagai tempat di Maluku serta pada daerah-daerah
lainnya, semuanya pada awal abad ke-16, bersaksi tentang kehadiran agama
Kristen di bumi Nusantara sejak lama. Kedatangan pedagang dari Portugis,
Spanyol dan Belanda dan kemudian penjajahan Belanda telah menambah pertemuan
masyarakat Nusantara dengan agama Kristen. Bersamaan dengan itu ke-Kristen-an
semakin berkembang di wilayah Nusantara. Tetapi sejarah membuktikan bahwa agama
Kristen
bukanlah agama kolonial. Para pejuang kemerdekaan yang beragama Kristen dimasa
kerajaan Nusantara dan juga dimasa kebangkitan nasionalisme Indonesia modern,
justru mendapat dasar dan motivasi terdalam bagi perjuangannya melawan
penjajahan dan ketidak-adilan didalam iman Kristiani-nya.
Thomas Matulessy Kapitan Pattimura, pejuang pada era pra-kebangkitan nasional
dari Maluku, adalah seorang pejuang kemerdekaan pada zamannya. Pada waktu
terkepung disebuah gereja di Saparua, ia meninggalkan Alkitab di mimbar,
terbuka pada kitab Mazmur 17 yang baru dibacanya. Ia adalah seorang pejuang
yang memperoleh inspirasi perjuangannya di dalam iman Kristiani. Kemerdekaan
adalah hak, karena kemerdekaan adalah bagian dari keselamatan oleh kebangkitan
Kristus. Bersama para pejuang pada era itu, seperti Tuanku Imam Bonjol di
Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, Nyi Ageng Serang di Banten,
Jawa Barat, Sisingamangaraja ke-12 di Tapanuli, Sultan Hasanuddin di Sulawesi
Selatan, Christina Martha Tiahahu di Maluku, Tengku Cik di Tiro, Cut Nyak Dien
dan Teuku Umar di Aceh, Pangeran Antasari di Kalimantan, Pattimura telah
menyemaikan prinsip kemerdekaan di dalam embrio kelahiran bangsa Indonesia di
kemudian hari. Sebelumnya sejarah juga mencatat kepahlawanan raja Mataram,
Sultan Agung Anyokrokusumo pada abad ke-17 dalam melawan penjajah Belanda.
Politik etis di Hindia Belanda, yang dilaksanakan oleh kolonial Belanda sebagai
kompensasi atas korban kekejaman politik tanam paksa sebelumnya, telah
melahirkan generasi pertama warga pribumi Hindia Belanda yang memperoleh
pendidikan Barat modern. Mereka memperoleh kesadaran baru tentang kemerdekaan
dan prinsip kesetaraan umat manusia didalam wadah nasional yang bersatu dan
merdeka. Sejarah mencatat hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 bersamaan
dengan lahirnya Budi Utomo yang melambangkan bangkitnya kesadaran nasional
modern dalam wawasan Hindia Belanda. Selanjutnya sejarah mencatat lahirnya
bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang sangat monumental
itu. Sejarah menyaksikan bagaimana kepelbagaian Indonesia, baik suku maupun
agama telah mempersatukan diri dalam nasion Indonesia. Sepanjang proses sejarah
itu, umat Kristen bersama-sama dengan yang lain terlibat didalamnya.
Sebuah peristiwa monumental lainnya terjadi pada waktu para pendiri bangsa
Indonesia berhasil mengatasi perbedaan paham yang mendasar tentang sila-sila
Pancasila sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia diproklamasikan dapat
pada tanggal 17 Agustus 1945. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945,
para pemimpin bangsa, Ir. Sukarno, drs. Mohammad Hatta, Prof. DR. Mr. Raden
Supomo, Mr. Johannes Latuharhary, Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi,
Haji Teuku Muhammad Hassan, Mr. Raden Kasman Singodimejo, Mr. I Gusti Ketut
Pudja, Drs. Yap Tjwan Bing, Haji Wachid Abdul Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan
kawan-kawan, menegaskan ulang hakekat negara kesatuan yang diproklamasikan
sehari sebelumnnya dan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
itu mengesahkan Undang-undang Dasar yang sekarang kita kenal sebagai UUD 45.
Sejarah mencatat kegigihan Mr. Johannes Latuharhary dan Dr. G.S.S.J. Ratulangi
pada sidang-sidang PPKI sebelumnya dalam mempertahankan bentuk negara
kebangsaan yang meliputi wilayah dari Sabang sampai Merauke. Jika perbedaan
prinsip itu tidak dapat diatasi sebelumnya, maka Proklamasi 17 Agustus 1945
tentu tidak akan pernah terjadi dan bumi Nusantara mungkin sudah akan
tercerai-berai didalam bentuk beberapa negara yang berdasar agama dan paham
kebangsaan. Dengan diatasinya perbedaan itu Proklamasi dapat dilakukan dan
Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke dapat berdiri dan
selanjutnya Pancasila dan UUD 45 dapat disahkan. Oleh karena itu Pancasila
bukanlah pengorbanan ataupun hadiah dari satu golongan untuk bangsa atau untuk
golongan lainnya. Pancasila adalah buah kebijaksanaan dan kebesaran jiwa
seluruh pemimpin bangsa.
Sejarah juga mencatat betapa banyaknya korban jiwa dan harta dalam
mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan. Makam pahlawan yang tersebar
diseluruh persada menjadi saksi betapa banyak putera-puteri seluruh suku,
seluruh agama, seluruh daerah, telah gugur dan jasadnya menghiasi bumi pertiwi.
Seorang pejuang muda, Walter Robert Monginsidi tertangkap dan dihukum tembak
mati oleh penjajah Belanda di Makasar. Ia mengakhiri hayatnya didepan regu
tembak Belanda dengan tangan kiri memegang Injil, mata terbuka dan tangan kanan
mengepalkan tinju seraya berseru "Merdeka!!". I Gusti Ngurah Rai adalah putera
Bali yang terkenal heroik didalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan
melawan Belanda. Dengan perintah perang "Puputan" ia memilih gugur di medan
perang daripada menyerah kepada Belanda. Sejarah juga mencatat kepahlawanan
Panglima Besar Jenderal Sudirman, Bapak Tentara Nasional Indonesia. Serta merta
dengan itu kita juga mengingat peran Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang,
Kepala Staf
Angkatan Perang yang meletakkan dasar-dasar peran militer dalam perjuangan
bangsa.
Pada kurun waktu berikutnya sejarah juga mencatat jasa Frans Kasiepo dan
kepahlawanan Komodor Yosaphat Sudarso dalam epos pembebasan Irian Jaya.
Kemudian diikuti oleh pengorbanan Jenderal Achmad Yani, Letnan Jenderal M.T.
Haryono, Letnan Jenderal S. Parman, Jenderal Mayor D.I. Panjaitan, Kolonel
Sugiyono, Kapten Pierre Tendean, AIPDA Karel Satsuit Tubun dan lain-lain, yang
gugur karena pengkhianatan PKI.
Konfigurasi nama dalam berbagai peristiwa sepanjang sejarah masa lalu Indonesia
menggambarkan betapa kayanya lembaran sejarah Indonesia dihiasi oleh rangkaian
kepahlawanan putera-puterinya yang berasal dari berbagai suku, berbagai agama
dan berbagai daerah dalam berbagai waktu dan kesempatan. Sejarah juga
menyaksikan bahwa kita, sama seperti saudara-saudara yang lain, telah sama-sama
membangun sejarah Indonesia semenjak awal, telah turut berkorban bagi bangsa
Indonesia pada setiap tahap perjuangannya. Demikian pula dalam babakan Orde
Baru, bersama-sama dengan saudara-saudara yang lain, kita telah turut
meluruskan jalan perjuangan bangsa, kembali atas rel perjuangan menegakkan dan
mengisi kemerdekaan berdasarkan Pancasila dan UUD 45.
Dari cerminan sejarah perlu direnungkan bahwa keikutsertaan kita didalam
perjuangan bangsa, untuk membangun bangsa, untuk menegakkan kemerdekaan, untuk
membangun negara yang menghormati keadilan, kesetaraan, kebersamaan, dan
nilai-nilai lainnya sebagaimana dikandung didalam Pancasila berakar jauh
kedalam penghayatan iman Kristen dan tidak untuk bersiasat mencari balas jasa
dan keuntungan sempit.
Prinsip itu kiranya dapat terus dihayati dan diwariskan kepada generasi
penerus. Dengan bercermin kepada sejarah bangsa, kita bertekad untuk terus
menjawab panggilan untuk bertanggung jawab bagi kemajuan bangsa guna mencapai
cita-cita kemerdekaan.
II. PERGUMULAN DAN TANTANGAN.
Bangsa Indonesia adalah salah satu dari hanya beberapa bangsa negara berkembang
didunia yang berhasil melakukan pembangunan berkesinambungan selama lebih dari
seperempat abad. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 7 % se-tahun,
bangsa Indonesia telah berhasil mengatasi permasalahan- permasalahan mendasar
negara berkembang dan sekarang telah berada dalam tahap tinggal landas.
Dalam menyongsong abad ke-21, pada waktu mengawali Pelita VI, masyarakat dunia
menjuluki Indonesia sebagai "The Asian Miracle". Kita, umat Kristen Indonesia,
dengan tulus menghargai prestasi yang membanggakan itu. Disebabkan oleh
berbagai keterbatasan kemampuan, pembangunan harus dilakukan secara bertahap
dan dengan menetapkan prioritas tertentu. Untuk selanjutnya, sesuai dengan
kemampuan yang berhasil dikembangkan, berbagai kelemahan dan kekurangan yang
terjadi berdasar tolok-ukur Pancasila dan UUD 45, perlu dikoreksi dan
disempurnakan.
Kita menyadari bahwa pilihan yang diambil telah membuahkan hasil kemajuan dan
perubahan namun juga telah menyisakan berbagai kelemahan dan kekurangan.
Permasalahannya adalah bagaimana agar bangsa ini, ditengah-tengah kemajuan yang
dicapai, dapat menyadari kelemahan dan kekurangannya dengan setepat-tepatnya
untuk kemudian secara bijaksana melakukan koreksi dan penyempurnaan atas
kekurangan-kekurangan itu tanpa harus menimbulkan kerugian dan goncangan yang
tidak perlu.
Kita juga bergumul dengan ekses proses kemajuan yang telah menyebabkan penduduk
asli di Kalimantan dan Irian Jaya, demikian pula ditempat-tempat lain seperti
di Timor Timur, di sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, menjadi
terdesak, ketinggalan dan terasing dari proses kemajuan secara keseluruhan,
yang telah menimbulkan ketidak-puasan dan keresahan yang semakin lama semakin
mendalam. Demikian pula kegiatan ekonomi eksploitasi kekayaan alam yang merusak
lingkungan telah semakin memperparah keadaan rakyat kita yang berdiam didaerah
itu dan mengandalkan hidupnya sehari-hari pada kekayaan alam.
Belakangan ini kita merasakan betapa ikatan persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika itu mengalami cobaan dan goncangan.
Nampaknya kesejahteraan rakyat yang telah meningkat secara menyeluruh telah
membangkitkan dinamika baru yang memerlukan penanganan dan penyaluran yang
tepat. rancang bangun politik nasional yang berasal dari era awal 1970-an
kelihatannya memerlukan penyesuaian dan revitalisasi agar rakyat yang telah
semakin sejahtera dan semakin kritis-dinamis itu dapat menyalurkan aspirasinya
secara baik dan wajar. Apabila kesempatan untuk itu tidak terbuka didalam
sistem, ada kemungkinan mereka akan mencari saluran diluar sistem atau bahkan
mencari sistem alternatif.
Dalam kaitan itu kita melihat munculnya kembali berbagai ide dan konsepsi yang
tadinya pernah muncul dalam sejarah masa lalu bangsa, sebagai harapan
penyaluran berbagai aspirasi yang berkembang. Namun sebenarnya ide dan konsepsi
itu telah usang dan tidak sesuai lagi karena bangsa telah menetapkan Pancasila
sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Hanya saja bangsa ini perlu terus memperbaharui rancang bangun
politik nasionalnya itu sehingga struktur dan sistem politik dapat berfungsi
dengan sebaik-baiknya supaya ide dan konsepsi yang telah usang itu tidak perlu
dimuncul-munculkan kembali.
Inilah salah satu pergumulan dan harapan kita, yaitu agar bangsa ini terus
bertumbuh semakin maju, semakin adil, semakin demokratis tanpa harus tersandung
pada permasalahan baru disekitar ideologi negara.
Kita juga menyadari bahwa untuk bisa keluar dari belitan keterbelakangan,
bangsa Indonesia harus memacu pertumbuhannya. Pilihan tersebut mengandung
risiko. Memacu pertumbuhan masyarakat yang belum berkembang telah berakibat
sempitnya lingkup ekonomi yang dapat menjadi pusat penunjang pertumbuhan itu
dengan dampak melebarnya kesenjangan, baik kesenjangan sosial maupun
kesenjangan antar sektor dan kesenjangan perkembangan wilayah.
Kita juga menyadari bahwa tidak ada rumus sekali-jadi untuk mengatasi dilema
itu. Koreksi atas kelemahan kebijakan memacu pertumbuhan perlu dilakukan
melalui intervensi terus-menerus agar aspek pemerataan dapat ditanggulangi
secara bermakna tanpa harus menyebabkan pertumbuhan menjadi mandek. Sebaliknya
kita juga menyadari bahwa pertumbuhan yang sangat cepat justru akan mempersulit
usaha pemerataan. Apabila terjadi keadaan demikian maka pertumbuhan yang cepat
tanpa pemerataan yang memadai akan rawan terhadap pergolakan dan pada
gilirannya akan mengakibatkan pembangunan terhenti dan bahkan juga akan merusak
hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai.
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa didalam kesejahteraan bangsa-lah
kesejahteraan kita terletak, maka kita harus berusaha dan bertanggung jawab
bagi kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara karena dengan demikianlah kita
sejahtera. (Bdk Yer 29: 7).
Pendekatan pragmatik memang diperlukan untuk menopang usaha pertumbuhan ekonomi
ditengah-tengah ekonomi dunia yang bersaing ketat, tetapi pendekatan itu telah
memperhadapkan kita dengan berbagai permasalahan moral, etik dan spiritual.
Korupsi, kolusi dan penyalah-gunaan kekuasaan adalah berbagai penyimpangan yang
terjadi tengah-tengah masyarakat serta perlu memperoleh perhatian
sungguh-sungguh untuk dihentikan manakala kita ingin mensukseskan pembangunan
berkesinambungan dengan sekaligus melakukan koreksi dan peningkatan. Kelemahan
dan cela moral, etik serta spiritual itu merusak keteladanan serta menumbuhkan
keresahan dan kemarahan dikalangan rakyat.
Tantangan pembangunan masa depan juga mensyaratkan bangsa untuk mengembangkan
budaya yang sesuai. Masyarakat bangsa yang majemuk pada hakekatnya adalah
potensi laten yang amat positif bagi pengembangan budaya yang didukung berbagai
pusat budaya Nusantara. Jikalau kita sebagai bangsa membiarkan budaya tumbuh
dan berkembang atas dasar pola budaya tunggal, baik budaya daerah maupun budaya
agama, bangsa ini akan kehilangan potensinya yang hebat untuk tumbuh berkembang
menjadi bangsa yang besar. Bangsa ini akan kehilangan jati-diri yang
sesungguhnya bilamana budaya tidak tumbuh sebagai budaya yang Bhinneka Tunggal
Ika.
Kita bergumul untuk memajukan saling pengertian, persaudaraan dan kerukunan
ditengah-tengah masyarakat kita yang majemuk. Kita juga menyadari bahwa maksud
baik itu juga dihayati oleh saudara-saudara sebangsa. Namun kita juga
mengetahui bahwa usaha dan maksud baik itu tidaklah mudah, diperlukan kesabaran
dan ketekunan. Di dalam kerangka itu kita berharap agar semua pihak menyadari
bahwa ada berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan Pemerintah
yang semula dimaksud untuk menciptakan dan memelihara kerukunan dan
persaudaraan pada kenyataannya justru telah merangsang semakin berkembangnya
sikap saling mencurigai dan bermusuhan ditengah masyarakat.
Bangsa Indonesia juga bergumul dengan pelbagai tantangan yang datang dari
perkembangan global. Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia demikian pesat
dan masyarakat kita semakin mampu menyerap perkembangan itu. Dalam proses
demikian masyarakat mengalami tarikan yang paradoks. Disatu pihak masyarakat
ditarik kearah modernitas, keterbukaan, persaingan dan kerjasama, tetapi dilain
pihak masyarakat ditarik kearah premordialisme sempit, pikiran dan sikap
sektarian serta fundamentalisme.
Demi kebaikan bersama, paradoks ini perlu dicermati dan dikelola dengan
bijaksana.
Kita bergumul dalam pengharapan agar bangsa berhasil melewati tahapan yang
kritis ini di dalam perjuangan menjadi bangsa yang maju tetapi yang tetap
berkepribadian sesuai jati dirinya yang Bhinneka Tunggal Ika. Dalam kerangka
itu kita berharap agar komunikasi yang sehat dan yang saling menghargai dapat
diadakan dan dikembangkan, melibatkan para pemuka masyrakat dan pemerintah.
Agar supaya komunikasi dan dialog itu bermanfaat bagi bangsa hendaknya
dilakukan dalam suasana kebersamaan yang saling menghormati, bersama-sama
mengacu kepada nilai-nilai dasar Pancasila, tanpa ada yang bersikap merasa
paling berhak dan paling tahu apa keinginan dan keperluan masyarakat yang
sebenarnya.
Peristiwa-peristiwa kekerasan dan kerusuhan yang terjadi telah membangunkan
kita untuk bercermin diri. Kita perlu berusaha memengerti apa maksud Tuhan di
dalam berbagai peristiwa itu ? Persekutuan diantara kita perlu dibenahi.
Demikian pula hubungan kita dengan masyarakat perlu semakin diperbaiki. Kita
adalah bagian yang tak terpisahkan dari mayarakat dan karena itu kita tidak
boleh mengasingkan diri, menjauh dari masyarakat. Sopan-santun dan tata-krama
pergaulan bersama perlu kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, termasuk
didalam usaha memberitakan kabar baik.
Sebenarnya peristiwa kekerasan dan kerusuhan itu telah membuka kesempatan untuk
menilai pembinaan iman, tatkala kita mengalami ketakutan, kecemasan, kehilangan
pegangan dan bahkan penyangkalan. (Bdk Luk 22:54-62).
III. DATA DAN ANALISIS PERUSAKAN RUMAH IBADAH.
Sejarah telah membuktikan bahwa pertikaian ideologi, pertikaian etnik dan
pertikaian antar umat agama sangat berperan dalam perpecahan bangsa. Setelah
perang dingin ideologi usai dengan simbol runtuhnya tembok Berlin, dunia
diperhadapkan dengan pertikaian antar etnis dan antar agama yang amat kejam.
Bangsa dan negara Yugoslavia terpecah belah dan sirna dari muka bumi oleh
pertikaian suku dan sekaligus agama. Etnis Hutu bertikai dengan etnis Tutsi.
Kedua peristiwa diatas menelan korban yang besar, baik berupa hilangnya
persatuan dan kesatuan bangsa maupun korban nyawa dan harta benda. Kita semua
tidak ada yang menginginkan hal serupa terjadi di negeri ini. Namun terjadinya
peristiwa kekerasan dan perusakan gedung gereja dan tempat-tempat ibadah
lainnya serta ditiup-tiupkannya permusuhan dan kebencian antar agama, antar
suku, maupun kebencian kepada warga keturunan Cina, perlu di waspadai.
Pada awal perjalanan negara Republik Indonesia jumlah kejadian perusakan gedung
gereja, tempat-tempat ibadah lainnya, panti-asuhan, dan sebagainya, relatif
sedikit. Peristiwa perusakan gedung gereja khususnya terjadi didaerah yang
mengalami gejolak politik dan keamanan sehubungan dengan gerakan ekstrim kanan
DI/TII di Aceh, Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Diluar itu, kalaupun ada
peristiwa yang terjadi, adalah insiden terbatas dan bersifat sangat lokal.
Beberapa tahun setelah pembangunan menyeluruh mulai menampakkan hasilnya, telah
terjadi perubahan pola dan susunan kependudukan dalam wilayah negara. Wilayah
dan kantong-kantong penduduk yang tadinya homogen, terdiri hanya dari salah
satu suku atau salah satu agama, semakin berkurang dengan terjadinya
perpindahan penduduk. Penduduk yang semakin berbaur dan heterogen disetiap
wilayah memperbesar kemungkinan terjadinya letupan sosial akibat pergeseran
antar kelompok. Sejarah mencatat meningkatnya peristiwa perusakan dan resolusi
terhadap gedung gereja dalam kurun waktu tersebut.
Dalam kurun waktu antara awal tahun 1967 sampai akhir tahun 1992 peristiwa
perusakan dan penutupan gedung gereja meningkat dibandingkan era sebelumnya.
Selama rentang waktu 25 tahun itu terjadi 211 perusakan gedung gereja, atau
rata-rata 8.4 gedung gereja per-tahun.
Sejak awal tahun 1993 sampai Mei 1996 telah terjadi peningkatan yang menyolok.
58 gedung gereja telah dirusak atau dibakar, belum terhitung gedung gereja yang
diresolusi atau yang tidak boleh dipergunakan sebagai gedung gereja. Dalam 3
1/2 tahun telah terjadi 58 perusakan atau 16.6 kejadian per-tahun, sebuah
peningkatan lebih dari 100 % dibanding kurun waktu sebelumnya.
(gbr.1, grafik, tidak dapat di insert dalam bentuk plain text)
Namun perusakan gedung gereja sangat melonjak tajam pada 10 bulan terakhir
semenjak Juni 1996 sampai Maret 1997 dengan puncak peristiwa Surabaya,
Situbondo, Tasikmalaya dan Rengasdengklok. 64 gedung gereja telah dirusak atau
dibakar. Artinya sebuah peningkatan sebesar hampir 450 % lagi dibanding
rata-rata kejadian pada periode 1993-(Mei)1996. (gbr2. grafik, tidak dapat di
insert)
Dari sisi daerah sebaran peristiwa kekerasan dan kerusuhan itu kita mendapat
kesimpulan sebagai berikut. Wilayah Jawa Timur tertinggi, yaitu 25.9 %,
Jawa Barat 21.4 %,
Sulawesi Selatan 13.7 %,
Jawa Tengah 13.3 %,
Kalimantan 4.8 %,
DKI Jakarta Raya dan DI Yogayakarta masing-masing 4.0 %,
Sumatera Utara dan Lampung masing-masing 2.8 %,
dan daerah-daerah lainnya 7.3 %.
Perusakan juga meliputi vihara dan fasilitas umum lainnya seperti perusakan
bangunan sekolah, panti asuhan, toko-toko, rumah-pribadi, kantor pemerintah,
pabrik, yang juga mengakibatkan ribuan pekerja kehilangan pekerjaannya dan
ribuan anak sekolah kehilangan tempat bersekolah dan sebagainya.
Lebih dari itu, terjadi juga penganiayaan, pelecehan seksual, bahkan telah
jatuh korban jiwa yang terjadi di Situbondo. Pendeta Ishak Kristian, isterinya
Ribka Lena Kristian, putrinya Elisabeth Kristian dan sanak-nya Nova Samuel dan
Rita, mati terbakar didalam kompleks gedung gereja yang dibakar oleh para
perusuh.
Di dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi di Situbondo, Tasikmalaya dan
Rengasdengklok telah terjadi juga peristiwa kekerasan rasialis yang ditujukan
kepada warga keturunan Cina.
Fenomena lain kita temukan dalam kerusuhan yang terjadi di Timor Timur. Sebuah
surau dan sebuah gereja Protestan dirusak. Demikian pula di dalam kerusuhan dan
bentrokan antar suku yang terjadi di Sanggauledo dan di tempat-tempat lain di
Kalimantan Barat yang mengakibatkan ratusan korban meninggal. Dipermukaan,
kerusuhan di kedua daerah itu lebih berbobot konflik antar suku dan budaya
daripada konflik antar agama. Khususnya di daerah Timor Timur, peristiwa
kerusuhan itu dilatar-belakangi keresahan dan kemarahan penduduk setempat atas
proses interaksi sosial yang dirasakan mereka tidak bijaksana.
Mencermati peristiwa kekerasan dan kerusuhan yang terjadi, terutama yang
terjadi dalam kurun 10 bulan terakhir, ditemukan berbagai kejanggalan pada
kejadian pemicu meletusnya kerusuhan-kerusuhan tersebut.
Pada peristiwa Surabaya, Situbondo, Tasikmalaya dan Rengasdengklok ternyata
kejadian pemicunya selalu bersifat salah informasi atau malah mengada-ada.
Tidak ada bukti yang nyata bahwa meletupnya peristiwa itu dipicu oleh masalah
pertentangan antar-agama, atau antar etnik, atau kemarahan pada aparat. Memang
setelah terjadi letupan, kerusuhan itu marak dengan cepat. Namun juga jelas
terbukti tidak ada kaitan sebab-akibat di antara berbagai peristiwa di
tempat-tempat yang berbeda-beda itu.
Apabila kita mengamati dari sisi sebaran wilayah tempat kejadian peristiwa
kerusuhan itu, kita tidak menemukan korelasi yang jelas antara keadaan tempat
dengan terjadinya kerusuhan. Daerah-daerah itu bukanlah daerah yang
terbelakang. Kesenjangan ekonominya tidak berhimpit dengan perbedaan etnik.
Selanjutnya, jika diperbandingkan karakteristik daerah yang mengalami peristiwa
itu dengan daerah lainnya, akan ditemukan sangat banyak daerah lain yang
mempunyai karakteristik yang sama dengan daerah peristiwa, namun pada
kenyataannya tidak terjadi peristiwa serupa di daerah lain tersebut.
Tetapi yang jelas tema pokok yang menjalar selama kerusuhan-kerusuhan itu
adalah kebencian kepada orang Kristen dan kebencian kepada warga keturunan
Cina.
Dalam kondisi seperti itu jelas terlihat indikasi adanya dalang aktor
intelektual di balik kerusuhan itu.
Mengenali tema yang dipergunakan para perusuh dan mengingat pengalaman bangsa
di masa lampau, peristiwa-peristiwa itu berkaitan dengan kegiatan kelompok
ekstrim kanan yang berusaha bangkit kembali dengan memafaatkan kondisi
masyarakat yang mengandung banyak kerawanan.
IV. KEPRIHATINAN DAN HARAPAN.
Bangsa Indonesia yang majemuk dan bersatu adalah karunia Tuhan. Sejarah
terbentuknya bangsa dan negara Indonesia yang unik dan panjang sangat
mengagumkan. Kita mensyukuri anugerah Tuhan itu, yang memberikan sebuah bangsa
dan negara Indonesia yang berdasarkan prinsip Ke-Tuhan-an yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan Permusyawaratan/ Perwakilan dan Keadilan
Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai dasar Pancasila itu telah
mengkristalisasikan prinsip-prinsip terdalam kemanusiaan universal bagi rakyat
Indonesia. Prinsip kemerdekaan, prinsip kebebasan beragama dijamin oleh negara,
prinsip persamaan didepan hukum tanpa kecuali, prinsip keadilan, prinsip
kebersamaan, dan prinsip-prinsip pokok lainnya telah menjadi prinsip-prinsip
yang dianut oleh bangsa dan negara.
Keutuhan bangsa dan negara anugerah Tuhan ini adalah milik bangsa yangpaling
berharga yang harus bersama-sama dipelihara dengan sekuat tenaga. Kita prihatin
manakala menyaksikan masih ada yang berusaha merusak keutuhan itu dengan
berbagai dalih dan dengan menggunakan berbagai cara.
Kita juga menyadari berbagai kelemahan dan kekurangan yang dapat mengganggu
kesinambungan pembangunan disegala bidang dan bahkan yang dapat menggangu
keberadaan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita juga menyadari sepenuhnya bahwa
kita bersama-sama turut bertanggung jawab sesuai bidang masing-masing.
Merosotnya kepercayaan terhadap kepastian dan keadilan hukum, penyalah gunaan
kekuasaan, sikap meremehkan dan menakuti-nakuti rakyat serta praktek-praktek
koruptif sementara pejabat mendorong merebaknya kekerasan dikalangan rakyat dan
sangat berbahaya bagi kelangsungan stabilitas yang sehat dan dinamis.
Demikian pula permasalahan kesenjangan yang diikuti dengan prasangka rasial
anti keturunan Cina merupakan sumber ancaman bagi ketenangan dan ketenteraman
masyarakat.
Merupakan keprihatinan bagi bangsa apabila setelah menyadari berbagai kelemahan
itu, tidak menanggulanginya sebagaimana harusnya. Kita prihatin karena
akibat-akibat keadaan itu, apabila tidak tertanggulangi dengan baik, sungguh
sangat berbahaya bagi keberadaan bangsa.
Kita juga prihatin, apabila setelah peristiwa kekerasan dan kerusuhan itu kita
tidak melakukan mawas diri dan memperbaiki kekurangan didalam sikap dan
pergaulan kita ditengah masyarakat majemuk Indonesia. Mungkin saja pelayanan
dan kesaksian kita telah terasa menyakitkan mata dan melukai hati
saudara-saudara kita sebangsa.
Sejalan dengan keprihatinan itu, kita sangat mengharapkan agar kesinambungan
pembangunan disegala bidang dapat berlangsung sambil terus melakukan koreksi,
peningkatan dan pembaharuan atas segala kekurangan yang masih terdapat
ditengah-tengah bangsa. Yaitu khususnya guna memantapkan persatuan dan kesatuan
bangsa, untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan, memperbaiki moral dan etika
dan untuk terus mengembangkan perwujudan demokrasi Pancasila. Marilah kita
melakukan semua itu dengan hati yang tulus dan itikad yang murni seraya
mengucapkan syukur atas segala keberhasilan yang telah dicapai.
Kita menatap kemasa depan dengan penuh pengharapan seraya terus bersama-sama
mengembangkan komunikasi dan dialog diantara semua unsur kepelbagaian
masyarakat, bersama-sama mencegah terjadinya kekerasan dan kerusuhan dan
bekerja sama bahu-membahu mengatasi berbagai tantangan masa depan.
Kita perlu semakin bersungguh-sungguh menggalang kerjasama dengan semua pihak
yang berkemauan baik untuk memantapkan kebangsaan Indonesia, mempertebal
solidaritas kebersamaan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki, guna
mengusahakan hajat hidup layak bagi semua orang.
Kiranya cobaan yang datang dalam berbagai musibah kekerasan dan kerusuhan dapat
lebih mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Mejadi harapan kita senantiasa agar setiap kekuatan sosial dan kekuatan politik
bangsa dapat menjadi pendorong bagi saling pengertian, menjembatani dan menjadi
perekat bagi keutuhan persatuan dan kesatuan ditengah-tengah kemajemukan.
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tetaplah kiranya menjadi milik nasional
yang tidak pernah berubah, milik semua golongan, prajurit pejuang yang
Sapta-Margais dengan bekal Sumpah Prajurit, yang setia mengawal keberadaan
Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang berlandaskan
Pancasila dan UUD 45.
Berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan Pemerintah,
pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang justru telah merangsang dan
memberi tempat bagi rasa saling mencurigai, saling bermusuhan agar ditarik dan
disempurnakan. Dilaksanakannya tanggung jawab Pemerintah untuk mengayomi
seluruh warganya secara adil dan penuh kecintaan akan menghasilkan kerukunan
dan persaudaraan yang alami dan sangat kokoh.
Oleh karena iman dan pengharapan kita baiklah kita senanatiasa menjawab
panggilan kita untuk menjadi saluran berkat dan mengasihi sesama kita segenap
saudara-saudara sebangsa. "Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat
bagi segala yang dijadikan-Nya." (Mzm 145:9).
Baiklah kita ingat pesan Tuhan agar kita menjadi umat yang disukai karena
dengan demikianlah umat dapat melaksanakan pelayanannya. (Bdk Kis 2:47). Dan
baiklah pula kita menyaksikan iman dan pengharapan kita dengan lemah lembut dan
hormat agar supaya kita tidak menyakitkan mata dan tidak menyakitkan hati serta
tidak menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita sebangsa. "...... Dan
siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab dari kamu
tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan
hormat." (1 Ptr 3:15b).
Memasuki masa depan yang penuh peluang dan tantangan yang datang bersama
perubahan menyeluruh yang amat pesat, kita dituntut untuk bersiap dengan sumber
daya manusia (SDM) yang bermutu dan bertanggung jawab sehingga apabila kita
terpanggil untuk memenuhi tanggung jawab kita sebagai bagian tidak terpisahkan
daripada bangsa ini, kita mampu melakukannya dengan sebaik-baiknya dan membawa
kesejahteraan bagi semua orang. (Bdk Est 8:1-17).
Selanjutnya kita sangat mengharapkan agar pemilihan umum yang telah terlaksana
teratur setiap 5 tahun sekali dapat terus meningkat mutu-nya agar dapat
memerankan fungsinya sebagai mekanisme perwujudan kedaulatan rakyat, untuk
menyegarkan semangat bangsa, melakukan koreksi dan pembaharuan yang diperlukan
dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Melalui pemilihan umum yang jujur dan
adil, yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia, kita percaya
amanat UUD 45 agar negara menyerap dinamik yang terjadi ditengah rakyat setiap
5 tahun sekali sebagai bahan untuk menentukan dan memperkokoh haluan dan
kebijakan negara, dapat dilaksanakan.
Pemilihan umum adalah sarana perwujudan kedaulatan rakyat. Rakyat yang
merupakan pemegang kedaulatan di dalam negara perlu menyadari bahwa hak
kedaulatannya didalam pemilihan umum itu haruslah diemban dengan penuh
kesungguhan dan dengan bertanggung jawab. Kiranya kita menggunakan hak
kedaulatan rakyat itu dengan berhati-hati dan bersungguh-sungguh, dengan bebas,
dengan mendengarkan hati-nurani masing-masing yang sedalam-dalamnya Kita dapat
memahami bahwa ada diantara kita yang mengalami kesulitan dalam menentukan
pilihannya. Kiranya hak-kedaulatan itu kita wujudkan pada waktunya di tempat
pemungutan suara (TPS), dengan menggunakan hak kedaulatan kita secara bebas,
tanpa rasa takut dan tidak takluk kepada tekanan dan paksa an serta tidak
termakan bujukan dan rayuan dari pihak manapun.
PENUTUP
Marilah kita berdoa bagi keselamatan dan kemajuan bangsa dan negara. Kiranya
Tuhan menjauhkan segala pencobaan dan dilepaskanNya bangsa Indonesia daripada
yang jahat. Kita juga berdoa bagi para pemimpin dan pemuka bangsa, agar mereka
melaksanakan tugasnya dengan takut kepada Tuhan, supaya pekerjaannya
mendatangkan kebaikan dan kemajuan untuk seluruh bangsa. Kita juga berdoa agar
Tuhan berkenan atas bangsa ini dan memalingkan wajahNya dan memberkati bangsa
ini dan kepada kita diberikan kelayakan dan semangat untuk dapat hidup di dalam
kesetiaan pada Tuhan agar kelak kita memperoleh mahkota kehidupan. (Bdk Why
2:10).
Atas segala kekerasan dan kerusuhan yang sudah terjadi, kita memohon kekuatan
dari Tuhan agar kita dapat memaafkannya. "Tetapi Aku berkata kepadamu :
Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Mat 5:44).
Jauhkanlah hati kita dari dendam dan keinginan melakukan pembalasan, karena
Tuhan tegas tidak mengizinkan umatNya untuk melakukan pembalasan. (Bdk Rm
12:19-20). Para pendahulu telah mengorbankan jiwa dan raganya dalam melahirkan
bangsa ini, dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka telah membayar
"hutangnya" kepada bangsa ini. Kita semua juga orang yang "berhutang".
Merupakan panggilan iman dan tanggung jawab kita untuk juga membayarnya sesuai
dengan tugas pelayanan kita masing-masing. (Bdk Rm 1:14 dan Mat 25:40-45).
Akhirnya dengan dilandasi semangat pengorbanan Kristus yang telah bersedia
menderita, kiranya kita diberi kekuatan, ketekunan dan pengharapan untuk
menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan memberikan keberanian untuk menghadapi
risiko apapun yang harus kita tanggung oleh karena kebenaran. "Dan siapakah
akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik ? (1 Ptr 3;13).
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah,
dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu bahwa dalam
persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Kor 15:58).
SELAMAT PASKAH.
TERIRING SALAM DAN DOA.
Jakarta, 27 Maret 1997.
Dikeluarkan bersama oleh :
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI )
DEWAN PANTEKOSTA INDONESIA (DPI)
PERSEKUTUAN BAPTISI NDONESIA (PBI)
PERSEKUTUAN INJILI INDONESIA (PII)
GEREJA BALA KESELAMATAN
GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH
trúlÿsøúl <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:ttg Sisingamangaraja yg Islam bisa dibaca
artikel dibawah ini..wallahuaklam..
salam,
tr.-
Si Singamangaraja: Korban Rekayasa Sejarah
Lazim diketahui oleh para ahli sejarah bahwa pola penulisan sejarah yang dewasa
ini berkembang mengikuti klasifikasi tertentu. Ada penulisan sejarah berdasar
agama, disebut religious historical, ada pula yang memandangnya dari sudut
lain, nasionalisme misalnya.
Konsep nasionalisme sebagai suatu ideologi merupakan konsep yang baru. Menurut
Islam konsep ini bertentangan dengan konsep kesatuan umat. Ia hanyalah sarana
bagi musuh musuh Islam untuk memecah dan melemahkan kekuatan Islam. Jadi konsep
penulisan sejarah dengan bersandarkan pada nasionalisme juga merupakan pola
penulisan yang baru.
Perjuangan Si Singamangaraja, Pattimura, P. Diponegoro dan yang lainnya secara
substansial sulit dimasukkan dalam frame perjuangan berskala nasional. Apalagi
dikaitkan dengan semangat nasionalisme. Data sejarah menunjukkan bahwa dasar
perjuangan mereka dalam melawan penjajahan adalah Islam. P. Diponegoro bahu
membahu dengan para ulama menyatukan rakyat untuk bertempur melawan para
penjajah. Begitu pula dengan Cut Nya' Dien, Pattimura, Si Singamangaraja dan
lain lainnya.
Belanda dan Strategi Kristenisasi
Belanda ketika menyerbu suatu daerah berusaha menjadikan penduduk sekitarnya
menjadi pengikut Nashrani. Tujuannya adalah agar perlawanan dapat padam dengan
sendirinya, karena mereka menganggap penjajah dan penduduk setempat akan diikat
oleh persatuan kristiani.
Daerah Tapanuli bisa menjadi contoh usaha Belanda dalam menjalankan politik
kristenisasi sebagai bagian dari strategi integral penjajahannya. J.PG.Westhof,
seorang pekerja Belanda yang ditempatkan di Indonesia, mengatakan:"Pada
pendapat kami, untuk tetap memiliki jajahan jajahan kita, sebagian besar
tergantung pada konsep kristenisasi pada rakyat setempat. Baik yang belum
memeluk agama maupun yang sudah beragama Islam".(J.H. Meerwaltd,1903,111 dan
Solichin Salam,1965,50)
Gerakan agresi agama ini besar kemungkinan mulai dilancarkan pada tahun 1824,
terbukti terjadi pembunuhan pendeta baptis Amerika bernama Munson dan Lyman di
Sinaksak. Sedang pada tahun 1861 gerakan pengkristenan ini makin kuat dengan
berdirinya Rijnsche Zending di Padang Sidempuan. Untuk keperluan ini pemerintah
Belanda menunjuk missionaris Nommensen dan Simoniet untuk menangani program
pengkristenan ini secara lebih besar. Atas jasa yang demikian besar pemerintah
Belanda menganugerahkan bintang Officer van Oranje-Nassau kepada Nommensen pada
tahun 1911.
Di beberapa daerah strategi ini berhasil memadamkan perlawanan dan megubah
sebagian kecil komposisi penduduk dari Islam ke kristen. Namun secara luas
strategi ini gagal, bahkan menghasilkan perlawanan yang amat keras dan panjang.
Perjuangan Si Singamangaraja XII
Dalam kondisi tertekan akibat monopoli ekonomi, serangan kristenisasi, dominasi
politik kolonial, Si Singamangaraja XII dinobatkan sebagai Maharaja negeri
Toba, bersamaan dengan diterapkannya open door policy(politik pintu terbuka).
Saat itu tinggal Aceh dan Tapanuli yang belum menandatangani Korte Volkering
-Perjanjian Pendek- yang menegaskan dominasi Belanda di bidang politik,
ekonomi, dan lain lain.
Akibatnya terjadi peperangan yang panjang antara Aceh dan Tapanuli di satu
pihak dengan Belanda di pihak lain. Peperangan ini berlangsung puluhan tahun.
Hal yang jarang diberitakan oleh para sejarawan adalah bahwa Islam sebagai
dasar semangat tempur mereka.
Para Sejarawan sering menulis bahwa agama yang dianut oleh Si Singamangaraja
adalah Palbegu, semacam ajaran animisme yang memuja para dewa. Ini sulit sekali
kita terima bila kita teliti cap kerajaan Si Singamangaraja XII yang berbunyi:
"Inilah Cap Maharaja di negeri Toba. Kampung Bakara nama kotanya. Hijrah Nabi
1304 ". Cap ini dengan sendirinya menggambarkan betapa pekatnya ajaran Islam
mempengaruhi diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf Batak yang masih
diabadikan, sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mempertahankan
huruf jawa dalam menulis surat.
Begitu pula jika kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam
pada gambar kelewang serta matahari dan bulan. Akan lebih jelas jika kita kutip
komentar koran koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang dianut oleh
Si Singamangaraja XII, antara lain: Volgens berichten van de bevolking moet de
togen,woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam zijn bekeerd,
doch hij wird geen fanatiek islamiet en oefende geen druk op zijn ongeving uit
om zich te bekeeren" (Menurut kabar kabar dari penduduk, raja yang sekarang
(maksud titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu
telah memeluk Islam dengan fanatik. Demikian pula ia tidak menekankan supaya
orang orang sekelilingnya menukar agama).
Berita di atas memberikan data bahwa Si Singamangaraja beragama Islam dan tidak
memaksakan agamanya terhadap rakyat. Berbeda dengan penyebaran agama yang
dilakukan oleh Rijnsche Zending di Toba yang disertai serangan militer Belanda.
Serangan semacam ini baik yang dilancarkan tahun 1861 maupun 1877 juga
bermaksud untuk menguasai daerah daerah Toba yang subur.
Tak mengherankan jika Si Singamangaraja membalas serangan tersebut dengan tak
kalah keras. Dalam perjuangan bersenjata tersebut beliau bekerjasama dengan
Panglima Nali dari Minangkabau, daerah yang sejak dulu merupakan basis
perjuangan Islam, dan Panglima Teuku Mohammad dari Aceh, Serambi Makkah. Selain
karena satu keyakinan, letak Tapanuli yang berada di tengah tengah antara Aceh
dan Sumatra Barat juga sangat menunjang terjadinya kerjasama tersebut.
Penguasaan daerah Tapanuli oleh Belanda secara fisik bisa dikatakan berhasil.
Bahal Batu, Butar dan Lobu Siregar telah berhasil didudukinya. Namun apalah
artinya penguasaan tersebut jika tidak bisa menundukkan kemauan rakyatnya. Daya
juang yang tinggi dimiliki oleh rakyat Tapanuli, dan daya juang yang demikian
itu biasanya hanya dimiliki oleh bangsa yang telah mempunyai ajaran agama yang
mengajarkan pembelaan diri apabila diserang. Disini Si Singamangaraja memiliki
agama tersebut, yakni Islam. Keislamannya telah menunjangnya untuk mampu
bertahan dan berjuang selama tigapuluh tahun lamanya. Beliau tidak hanya
dianggap sebagai raja oleh rakyatnya, tetapi juga sebagai Imam dalam Agamanya.
Faktor dukungan dari rakyat ini menunjang sekali dalam perjuangan bangsa
melawan penjajahan.
Menghadapi seorang pemimpin yang mempunyai kharisma besar dan didukung penuh
oleh rakyatnya tersebut, Belanda berusaha menggunakan cara licik. Ibu,
Permaisuri, dan kedua putra Si Singamangaraja ditangkap. Dengan demikian
diharapkan beliau bisa digiring ke meja perundingan. Namun cara ini gagal
total, karena kompromi tidak bisa tercapai.
Sejalan dengan situasi Tapanuli tersebut, Belanda memancarkan serangan membabi
buta terhadap Ulama' di Aceh yang merupakan tulang punggung gerilya. Tindakan
ini merupakan realisasi dari nasihat Snouck Hurgronje,seorang orientalis, untuk
mengadakan pengejaran tanpa henti terhadap para ulama. Operasi yang sangat
kejam dengan melakukan pembunuhan semena mena terhadap pemuka pemuka Islam
tersebut mendapat restu pula dari menteri Bergsman.
Tindakan Belanda terhadap Ulama Ulama di Aceh tersebut ditambah dengan kalahnya
persenjataan membuat kekuatan Si Singamangaraja semakin berkurang. Politik
Pintu Terbuka yang menuntut pengamanan modal asing, melibatkan negara negara
imperialis lainnya untuk membantu usaha Belanda mengakhiri perlawanan umat
Islam di Indonesia. Termasuk perlawanan Si Singamangaraja.
Pada 17 Juni 1907 di bawah pimpinan Kapten Christofel, Belanda menggempur pusat
pertahanan Si Singamangaraja. Sampai saat pertempuran terakhir ini, beliau
bersama putrinya Lopian, memilih gugur sebagai Syuhada daripada menyerahkan
Bumi Islam Tapanuli di atas Korte Verklaring kepada Belanda.
Kini tangan tangan tak bertanggung jawab mencoba mengaburkan fakta sejarah
untuk tujuan tertentu. Gelar Syuhada diganti dengan atribut lain yang tak
memiliki dasar dan fakta. Termasuk klaim yang mengatakan bahwa bagian timur
negeri tercinta kita adalah basis agama tertentu dengan menafikan peran muslim
di wilayah tersebut. Padahal sebagian besar Maluku, NTB, Ternate, Tidore dan
Sulawesi mayoritas Islam. Mungkinkah Sultan Baabullah, Sultan Nuku, Sultan
Hasanudin bukan pahlawan pahlawan Islam....? Terlalu bodoh untuk dijawab
"Ya..., mungkin". Hasbunallah wani'mal wakil.
Sumber:
Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Ahmad Mansur
Suryanegara
Sabili, No.06/ Th.5, 1992
Samsul Bachri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menurut sumber yang bisa dipercaya, saya lupa namanya, Sisingamangaraja dan
Ahmad Lussy (Matulessy) adalah Muslim, bukan mo sombong, tapi menyampaikan
yang saya tahu.......Insya Allah tidak untuk sombong, karena pengetahuan
saya cum sedikit...
----- Original Message -----
From: "Ari Condro"
To:
Sent: Thursday, August 04, 2005 11:08 AM
Subject: Re: [ppiindia] Re: Kebebasan Beragama?
---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "ppiindia" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
***********************************************************************************
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west;
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.
Sidharta Gautama
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h6nd4t1/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123489298/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">DonorsChoose.
A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/