"Sekr. Sarasehan 06.08.2005" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kawan kawan yang budiman,
Satu artikel yang masuk dari Romo Luluk Widyawan, bermukim di Ponorogo - "kamu
dipanggil untuk Kemerdekaan ... " Untuk itu kami publikasikan seta mohon untuk
sebarkan luaskan.
Terimakash atas perhatiannya,
Merdeka 170805
---------- Forwarded message ----------
From: luluk widyawan < [EMAIL PROTECTED]>
Date: Aug 6, 2005 7:22 PM
Subject: Re: Acara Sarasehan 60 thn Kemerdekaan R.I. ( V )
To: [EMAIL PROTECTED]
Kawan2 Panitia Sarasehan 17 Agustus 2005. Perkenalkan saya, A. Luluk Widyawan,
Pr. Saya sambut gembira upaya serius, cerdas dan semangat 45 dalam acara yang
anda selenggarakan dan saya kirimkan artikel semoga berguna. Semua demi satu
hal...Indonesia yang merdeka, yang masih terus kita perjuangkan, sampai kapan
pun...MERDEKA !
"Kamu dipanggil untuk kemerdekaan
"
Oleh: A. Luluk Widyawan, Pr
Untuk kesekian kalinya, bangsa Indonesia memperingati hari
kemerdekaannya, tepatnya ke 60 tahun. Setiap tahun, negara ini tak pernah
melupakan momen penting itu. Inilah saat terpenting dalam kehidupan berbangsa.
Meskipun hal ini bisa disebut berbeda bagi lain orang. Bagi sesepuh yang
berjuang dengan darah dan air mata, sungguh sangat berarti bebas dari
penindasan penjajah dan dapat hidup sebagai manusia merdeka di dalam dunia.
Pemaknaan kata "merdeka" di jaman sekarang pun sangatlah berbeda.
Bagaimana melafalkan kata itu? merdeka, merdeka !, "merdeka" atau merdeka?
Dulu orang berpekik "merdeka" dengan tekanan tanda seru: Merdeka! Penuh
semangat. Bila kata "merdeka!" diseru oleh Bung Karno, Bung Hatta, Bung
Syahrir, atau Bung Tomo dan disambut oleh kerumunan rakyat Indonesia di mana
pun mereka berada, langit dan bumi serasa bergetar runtuh.
Kini, tanggal 17 Agustus adalah saat libur dengan perayaan atau
pesta bagi anak-anak kita dan kaum muda. Arti merdeka, pada kebanyakan dari
mereka, tidak lagi heroik. Meskipun rakyat Indonesia adalah warga Negara dari
Negara yang merdeka. Tetapi, arti merdeka bagi setiap dari kita berbeda. Apapun
itu, setiap orang setuju bahwa kemerdekaan adalah aset yang tak terhitung
harganya dan harus kita pertahankan, bahkan dengan mempertaruhkan hidup.
Arti merdeka bagi orang kecil dan masyarakat kebanyakan lebih
sederhana, pun sederhana pula. Yaitu, hidup nyata berdasar pada pengalaman
empirik dan realitas kehidupan praktis sehari-hari. Artinya, hidup merdeka-atau
belum merdeka-itu konkret dan riil. Contohnya, bisa menyekolahkan anak, bisa
bekerja mendapatkan penghasilan, membeli bahan sembako dengan harga murah,
mudah mendapatkan BBM. Pendek kata mendapatkan hak hidup nya yang tak bisa
ditawar. Pula hak hidup untuk dilindungi, hak hidup untuk meraih kesejahteraan,
hak hidup untuk memilih cara hidup, hak hidup untuk memperoleh keadilan, dan
sebagainya. Semua hak hidup manusia itu dilaksanakan di bawah kepastian hukum
yang disepakati berdasar undang-undang yang dibuat secara adil bagi semua.
Ada banyak keceriaan menyambut peringatan kemerdekaan, di
jalan-jalan banyak dipasang umbul-umbul yang berwarna warni, penjor menghiasi
jalanan kota, lomba-lomba digelar di tingkat RT sampai kecamatan, tidak lupa
banyak spanduk yang dipasang dengan tema menarik, atau sekedar tulisan
Dirgahayu RI. Memang peringatan itu korelasinya dengan pernyataan kemerdekaan
tanggal 17 Agustus 1945, karena itu adalah jembatan emas untuk menuju
masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.
Belum Merdeka
Tapi kenyataannya bagaimana? Sampai saat ini rakyat kecil hidupnya
tetap susah, beli bensin untuk motor saja harus antri berjam-jam. Penjual
bensin eceran tidak bisa menjual bensin, karena pembelian bensin dibatasi.
Ujung-ujungnya terpaksa menjadi pengangguran. Petani dan nelayan tak pernah
mendapatkan keuntungan yang pantas. Hasil penjualan hasil pertanian selalu
minim, karena harga di pasar selalu dipermainkan pemodal besar. Padahal petani
dan nelayan bukan orang yang malas, mereka bekerja membanting tulang tetapi
penghargaan yang diterima mereka tidak sebanding dengan kerja keras mereka.
Akhir-akhir ini di berbagai media, kita disuguhi berbagai portret
kemiskinan di masyarakat dengan adanya penyakit malnutrisi. Malnutrisi tidak
hanya melanda mereka yang sungguh-sungguh miskin, tetapi melanda masyarakat
yang miskin pengetahuan kesehatannya. Hal tersebut bisa kita lihat di TV,
banyak ibu-ibu dari anak-anak penderita busung lapar itu tidak kurus kering
kerontang seperti keadaan anak-anak balitanya yang kering-kerontang dan
perutnya membusung. Karena terjadinya busung lapar itu akibat dari nutrisi yang
tidak seimbang. Memang bukan sekedar akibat alam, malnutrisi juga disebabkan
oleh daya beli masyarakat yang rendah hingga tidak mampu membeli bahan pangan
yang bergizi. Begitu juga berbagai macam wabah penyakit: polio, lumpuh layuh,
busung lapar, dan terakhir adalah wabah muntaber. Penderita utama akibat
kemiskinan ini adalah anak-anak. Hanya dalam waktu semalam saja seorang anak
yang tertimpa penyakit itu harus mati karena dehidrasi (kekurangan cairan). Ini
terjadi karena minimnya pengetahuan para orang-tua bagaimana mengatasi
penyakit. Maka kematian anak-anak bukan hanya karena kemiskinan, tetapi juga
karena kebodohan.
Kemiskinan adalah penyakit yang tak pernah mati di negeri ini.
Silih bergantinya Presiden yang memimpin negeri ini. Begitu banyaknya oportunis
yang mendirikan partai-partai baru dan mengisi gedung parlemen. Maraknya
LSM-LSM berdiri mencari donasi. Tetapi tidak mengubah angka kemiskinan. Yang
miskin tetap miskin, bahkan jumlahnya terus menerus bertambah. Seolah orang
yang dilahirkan miskin, tak akan jauh masa depannya dari situ. Mungkin saja ada
segelintir orang miskin yang beruntung menjadi kaya, tetapi sedikit sekali yang
mengangkat saudaranya. Inilah ancaman lain selain kemiskinan yaitu kebodohan.
Mencuatnya kasus busung lapar dan semua kasus kemiskinan tidak
lepas dari minimnya anggaran kesejahteraan rakyat miskin. Dana subsidi BBM yang
katanya dialihkan untuk rakyat miskin ternyata belum sampai ke sasaran.
Padahal, kenaikan harga BBM dampaknya mengenai rakyat sehingga daya beli untuk
kebutuhan primer semakin menurun. Pula anggaran pendidikan untuk mensubsidi
rakyat miskin, sehingga generasi miskin berikutnya bisa diminimumkan. Karena
pendidikan otomatis akan meningkatkan kesejahteraan seseorang. Apabila
investasi pendidikan ini dilaksanakan, kita tidak lagi mengekspor TKI-TKW untuk
tenaga kasar, tetapi yang terdidik dan terampil. Pelecehan dan kemalangan
TKI-TKW tidak akan terjadi lagi. Negara yang sejahtera akan menutup kemungkinan
warganya mengais rejeki di negeri orang
Belum lagi jika kita memperhitungkan adanya penjajahan baru di
jaman modern kini yang hadir dalam aneka rupa, bentuk dan ukuran. Mereka hadir
di perairan kita dengan kapal dan senjata, atau melalui, fiber optic, satelit,
gelombang. Dalam era globalisasi, sangat memudahkan mereka mempengaruhi bahkan
mengendalikan politik, ekonomi dan social sistem kita. Mereka begitu canggih
sehingga kita tidak pernah merasakan bahwa kita dijajah atau ditindas. Bahkan
setelah dekade pasca kemerdekaan, beberapa Negara masih tergantung dengan
negara penjajahnya di banyak sektor sebagaimana dalam bidang pendidikan,
perdagangan, militer dan lain-lain. Bagian terburuk adalah penjajahan pikiran.
Semakin terbuka suatu negara, maka semakin mudah kita diserang oleh cara-cara
mereka. Lalu, apa arti kemerdekaan jika kekayaan dan sektor strategis dapat
dibeli dan dimiliki oleh bangsa lain.
Dengan kondisi semacam itu, tampaknya wajar bila ulang tahun
kemerdekaan RI ini kita rasakan semua itu berjalan formal dan terasa kering.
Memang belum ada survey, tetapi opini sebagian kalangan, seberapa pun kecilnya,
mengindikasikan bahwa "kekeringan semangat" itu ada. Bila itu benar dirasakan
juga oleh banyak orang, bisa jadi karena pendapat kritis masyarakat bahwa kita
belum merdeka. Melainkan masih menjadi bangsa terjajah, khususnya dalam bidang
ekonomi. Dengan kata lain, kekeringan semangat perayaan kemerdekaan itu muncul
karena kita memang masih menjadi bangsa terjajah, belum merdeka.
Visi Kemerdekaan
Tepatlah kata-kata Ketua BPUPKI, Dr KRT Radjiman Wedyodiningrat
pada pembukaan sidang pertama rapat besar tanggal 29 Mei 1945 bahwa: "usaha
kemerdekaan masih juga suatu cita-cita yang belum sempai sempurna, tetapi
tujuan kemerdekaan sudah sama artinya dengan dasar kemanusiaan yang berupa
dasar kedaulatan rakyat atau kedaulatan Negara."
Bung Karno mempertegas gagasan tersebut dalam pidatonya pada
tanggal 1 Juni 1945: "Jangan mengira bahwa dengan berdirinya Negara Indonesia
Merdeka perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya katakan, di dalam
Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya
dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai
bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita
cita-citakan di dalam Pancasila."
Gagasan dari kedua tokoh perintis kemerdekaan RI, setidak-tidaknya
mengandung dua perhatian dan catatan utama dalam proses mereformasi bangsa
kita. Pertama, kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang berlandaskan
kemanusiaan universal yang mengandung humanisme dan
internasionalisme.Kemanusiaan ini sama sekali bukan kemanusiaan tertutup
melainkan kemanusiaan yang sungguh universal (gagasan ini sudah dilupakan dan
disalahtafsirkan oleh rezim Orba!), kemanusiaan ini mencakup tiap manusia,
tanpa kenal mekanisme diskriminasi sosial. Kemanusiaan menjadi batu penjuru
kehidupan dan pembangunan bangsa kita. Kedua, kemerdekaan adalah suatu proses
pemerdekaan manusia dan sama sekali bukan akhir perjuangan bangsa kita. Dalam
konteks ini kemerdekaan dipandang sebagai jembatan atau jalan menuju perwujudan
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Ketuhanan Yang Masa Esa, kemanusiaan,
persatuan dan demokrasi.
Usaha mewujudkan gagasan dalam Pancasila merupakan suatu proses
terus menerus. Dinamika sosial, ekonomi dan politik suatu bangsa yang sedang
membangun sama sekali tak boleh dilupakan, sebab dimensi ini akan mempengaruhi
hidup dan perilaku manusia secara menyeluruh. Iklim hidup demokrasi yang lebih
terbuka, dialogal dan personal masih dinantikan oleh masyarakat kita.
Perjuangan dalam era kemerdekaan adalah perjuangan untuk mewujudkan kehidupan
bangsa yang lebih baik, adil dan sejahtera. Nilai dasar kemanusiaan berperan
sebagai pendulum pembangunan bangsa kita dalam bidang ekonomi, sosial, budaya,
politik dan keagamaan. Karena itu, di alam kemerdekaan sekarang iniu,
seharusnya seluruh langkah kebijakan pemerintahan seharusnya menjunjung tinggi
nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kebenaran yang berhubungan dengan hidup
manusia. Nilai ini kemanusiaan semestinya dipelihara dan diperkembangkan dalam
era kemerdekaan. Nilai asasi ini harus dijadikan orientasi hakiki dalam mengisi
kemerdekaan.
Merdeka, Mengabdi Manusia
Kamu telah dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama
lain, dalam cinta kasih.Demikianlah petikan ayat Kitab Suci (Gal 3:28). Kita
semua, mahluk ciptaan Tuhan dipanggil untuk sungguh-sungguh hidup merdeka. Kita
dipanggil untuk kemerdekaan. Tentu bukan merdeka sebebas-bebasnya. Tetapi
merdeka untuk
Ialah untuk mengabdi satu sama lain, dalam cinta kasih.
Merdeka dalam arti, bebas dari segala belenggu ketidaktahuan,
ketidakadilan, kerusuhan, kekotoran, kebusukan dosa secara personal maupun
sistemik. Situasi merdeka mewujudkan manusia mencapai keselarasan dengan
dirinya sendiri, dengan sesame, dalam hubungan dengan Tuhan. Jadi, merdeka
bukan dalam arti liberal anarkis, melainkan merdeka sebagai ,mahluk yang
dikasihi Tuhan, yang mengasihi manusia, yang merdeka secara sejati. Merdeka
pertama-tama bukan persoalan kemerdekaan ekonomi atau politik, tetapi situasi
manusia yang otonom, tidak tergantung, lepas dari segala kedosaan, kekejaman,
keserakahan dan bebas dari segala pembedaan kepandaian, kemampuan, kulit, suku,
bangsa manupun agama. Dengan kata lain, manusia lepas dari segala yang merusak
tatanan Tuhan, agar manusia menjadi manusiawi dan mengalami kepenuhan secara
pribadi maupun sosial.
Memerdekakan manusia, siapakah manusia ? Manusia adalah citra Tuhan
sendiri (bdk. Kej 9:6). Sejak lahir manusia dikaruniai akal budi dan kehendak
bebas. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang berdaulat dan semua hak manusia
ialah hak mengembangkan diri sebagai citra Tuhan. Hak manusia dilindungi oleh
Tuhan. Akan tetapi seringkali manusia melakukan kebebasannya dengan cara yang
salah, mengartikannya sebagai kesewenang-wenangan untuk berbuat sesuka hatinya,
menindas dan menjajah sesamanya. Padahal kemerdekaan dilimpahkan kepada manusia
maksudnya supaya manusia secara sukarela mengabdi kepada Tuhan hingga meraih
kesempurnaan hidup. Kemerdekaan manusia dengan demikian menjadi tanda gambar
Tuhan dalam diri manusia, karena Tuhan bermaksud menyerahkan manusia kepada
keputusannya sendiri (bdk. Sir. 15: 14).
Manusia dipanggil untuk merdeka. Tuhan pun sungguh menghendaki
manusia merdeka. Tuhan tidak menghendaki manusia terbelenggu dosa yang membawa
kepada maut. Tuhan menghendaki manusia merdeka meraih keselamatannya. Anugerah
kemerdekaan yang diterima dan dinikmati manusia bukan diartikan untuk menindas,
menjajah, memeras, berlaku sewenang-wenang, sebebas-bebasnya, tetapi justru
untuk mengabdi Tuhan, agar hidup manusia semakin sempurna. Anugerah kemerdekaan
yang diterima setiap manusia dengan cuma-cuma mengandung arti supaya manusia
saling mengabdi dan melayani dalam cinta kasih. Karena kemerdekaan dalam
dirinya mengandung arti perubahan, juga kehendak untuk meraih keadilan dan
kesejahteraan bersama.
Lebih jelasnya, manusia dipanggil untuk merdeka, tetapi bukan untuk
bebas berkolusi, korupsi, memonopoli, mencari mudah lewat suap, memaksimalisasi
keuntungan, bergaya hidup konsumtif, mementingkan kelompok, mempolitisasi
agama, membeda-bedakan orang, membatasi kemerdekaan orang, sewenang-wenang
terhadap pasangan, menguras kekayaan alam tanpa memperhatikan AMDAL,
menyalahgunakan jabatan, menindas orang, meminggirkan kaum marjinal secara
masif dan sistematis. Kemerdekaan semacam itu justru menindas kemerdekaan
manusia lain. Padahal manusia sungguh-sungguh merdeka, kalau manusia
memerdekakan sesamanya. Karena, manusia dipanggil untuk merdeka, ialah mengabdi
sesama dalam cinta kasih.
Akhir kata, apa yang akan kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini
atau secara lebih dalam lagi, misi hidup apakah yang bisa kita jadikan fondasi
yang
kokoh untuk membangun masa depan Negara Indonesia tercinta secara lebih baik.
Ada pepatah, There are big differences between living a good life, and living a
great life. Hidup yang luar biasa adalah manakala kita memiliki kemerdekaan
untuk
memilih kehidupan seperti apa yang kita inginkan dan memiliki arti bagi sesama
melalui
apa yang kita berikan. (Imam Praja Keuskupan Surabaya, tinggal di Ponorogo)
SIP:
A. Luluk Widyawan
Jl. Gajah Mada 45 Ponorogo
081 5564 10 330
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12het0snv/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123507278/A=2894352/R=0/SIG=11fdoufgv/*http://www.globalgiving.com/cb/cidi/tsun.html">Help
tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/