suci wati juga memiliki hak untuk tidak membalas salam dari polly dan saya kita 
tindakannya tidak melanggar HAM , saya sempat kaget sewaktu dia mengatakan 
bahwa dia menolak atau tidak setuju polly di hukum mati dengan alasan HAM,  
wanita berjiwa besar masih mengukur batas HAM meskipun suaminya dibunuh dengan 
cara kotor.

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of Samsul Bachri
Sent: 11 Agustus 2005 11:31
To: [email protected]
Subject: Re: [ppiindia] Suciwati Tolak Disalami Polly


Beritahukan ke Suciwati bahwa tindakannya tlah melanggar HAM, meskipun tidak
berat.

----- Original Message -----
From: "heri latief" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "SP" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, August 10, 2005 9:16 PM
Subject: [ppiindia] Suciwati Tolak Disalami Polly


Rabu, 10 Agt 2005,
http://jawapos.com/index.php?act=detail&id=5406

Suciwati Tolak Disalami Polly


JAKARTA - Pembunuh.pembunuh.pembunuh! Teriakan seperti itu terus menggema di
lantai dua ruang sidang PN Jakarta Pusat kemarin. Teriakan itu semakin kuat
saat Pollycarpus Budihari Priyanto, terdakwa pembunuh Munir, masuk ke ruang
sidang.

Pollycarpus tidak terpancing oleh cacian pengunjung sidang. Mereka adalah
aktivis HAM yang mengenakan kaus hitam dan topeng bergambar wajah Munir.
Pilot senior Garuda itu tetap tenang berjalan menuju kursi pesakitan. Dia
dikawal ketat polisi.

Di deretan bangku depan pengunjung sidang, Pollycarpus melihat istri Munir,
Suciwati. Dia berhenti sejenak hendak menyalami janda pendiri Kontras itu.
Dia mengulurkan tangan kanannya. Namun, Suciwa menepisnya. Tubuh Pollycarpus
yang terdorong kerumunan polisi hampir mengenai Suciwati.

Suara riuh pengunjung sidang berhenti ketika majelis hakim memasuki ruangan.
Inilah suasana sidang pertama perkara pembunuhan pejuang HAM Munir. Jaksa
Domu P. Sihite mendakwa Pollycarpus dengan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan
Berencana dan pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Dokumen.

"Terdakwa Polly (Pollycarpus), baik secara sendiri-sendiri maupun
bersama-sama dengan Yeti Susmiarti dan Oedi Irianto, telah melakukan,
menyuruh melakukan, atau turut melakukan perbuatan yang sengaja dan
direncanakan untuk menghilangkan jiwa orang lain, yaitu jiwa Munir," kata
jaksa. Yeti dan Oedi adalah pramugari dan awak kabin Garuda.

Dalam dakwaannya, jaksa menyatakan bahwa Pollycarpus telah berkecimpung
dalam kegiatan pembelaan dan penegakan Negara Kesatuan RI (NKRI) sejak 1999.
"Polly melihat Munir, sebagai ketua Dewan Pengurus Kontras dan direktur ekse
kutif Imparsial, sering melontarkan kritik dan komentar yang bernada negatif
terhadap NKRI. Karena itu, terdakwa beranggapan bahwa kegiatan Munir sudah
menganggu jalannya program pemerintah," ungkap jaksa.

Berlatar belakang itu, menurut jaksa, terdakwa Pollycarpus merencanakan
secara matang untuk menghilangkan jiwa korban. Dia terus memonitor kegiatan
Munir hingga mengetahui rencana keberangkatan Munir ke Belanda untuk studi.

"Tanggal 4 September 2004, terdakwa menelepon ponsel Munir dan diterima
istrinya, Suciwati," sambung jaksa. Polly ingin mengetahui secara pasti
tanggal keberangkatan Munir ke Belanda. Suciwati menjawab bahwa suaminya
berangkat 6 September 2004.

Polly lalu mengubah jadwal keberangkatannya, dari yang seharusnya ke Peking,
China, menjadi ke Belanda. Dengan pesawat Garuda Indonesia Airways bernomor
GA-974, dia berangkat ke Belanda bersama Munir. Dia menawarkan tempat
duduknya di kelas bisnis no 3 K kepada Munir.

"Tujuannya untuk mempermudah terdakwa melakukan rencana penghilangan nyawa
Munir," ungkap jaksa. Mengapa harus di kelas bisnis? Sebab, hanya ada 18
tempat duduk di situ.

Lalu, awak kabin Oedi Irianto menyiapkan minuman
welcome drink di kelas bisnis. Sementara itu, Pollycarpus beranjak menuju
pantry di dekat bar premium. "Dia memasukkan sesuatu ke minuman orange
juice," ungkap jaksa.

Laboratorium Kementerian Kehakiman Lembaga Forensik Belanda memastikan bahwa
sesuatu itu racun arsen dalam jumlah mematikan. Dipilihnya orange juice
karena Pollycarpus mengetahui Munir tidak minum alkohol.

Pramugari Yeti Susmiarti kemudian memberikan dua gelas wine dan dua gelas
orange juice kepada Lie Khie Ngian, penumpang yang duduk di sebelah Munir.
Lie Khie Ngian mengambil wine di samping orange juice berisi arsen.
Sedangkan Munir meminum orange juice berisi arsen hingga habis.

Mengetahui Munir telah minum orange juice, Polly pergi ke ruang pilot. Dia
berbicara dengan pilot Pantun Matondang. "Setelah 120 menit mengudara,
sekitar pukul 23.32, pesawat mendarat di Bandara Changi Singapura. Selama
satu jam, Munir menunggu untuk transit pesawat," jelas jaksa.

Pukul 00.45 pada 7 September 2004, pesawat Munir lepas landas. Selang 15
menit, Munir mulai mules. Lalu dia muntah-muntah. Tiga jam kemudian, pilot
Pantun Matondang mendapat kabar kalau Munir sakit dan ditangani dokter
Tarmizi.

Munir dibawa ke kelas bisnis. Dia dibaringkan lalu diberi obat dua butir New
Diatab, satu butir Zantac, dan satu Promag. Setelah itu diberikan suntikan
Primperam dan Diazepam hingga Munir tenang. Dua jam kemudian pilot mendapat
kabar Munir tewas.

Dari dokter Tarmizi, pilot mendapat kabar kalau Munir tewas karena sakit
perut dan muntaber. "Dari hasil visum yang dibuat Lembaga Forensik Belanda
13 Oktober 2004, yang ditandatangani dr Robbert Visser, berdasarkan otopsi
mayat, disimpulkan ada konsentrasi arsen yang meningkat pada darah, urin,
dan lambung," papar jaksa.

Dakwaan Dinilai Kabur

Usai sidang, pengacara Pollycarpus, M. Assegaf, mengatakan, dakwaan jaksa
kabur dan spekulatif. Dakwaan kabur karena jaksa menganggap kliennya
mempunyai motivasi dan kepentingan untuk melenyapkan nyawa Munir. Sedangkan
dakwaan dinilai spekulatif karena jaksa meyakini Munir akan mengambil gelas
berisi orange juice berisi arsen. Bukan wine yang turut disajikan
bersama-sama.

"Padahal, bicara hukum harus secara konkret. Bukannya
menyatakan hal-hal spekulatif seperti itu," katanya.

Assegaf menambahkan, dalam dakwaan ada satu hal yang tidak dimengerti Polly.
Yaitu, pernyataan tentang Polly mempunyai kegiatan menjaga keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Assegaf menganggap jaksa mengada-ada
sehingga seolah Polly risau dengan kegiatan Munir yang dianggap mengganggu
kepentingan Polly untuk menjaga keutuhan NKRI.

Assegaf menilai proses hukum seharusnya tidak hanya sampai pada Polly dan
dua tersangka lain, Oedi Irianto dan Yeti Susmiarti. Sebab, ada pihak lain
sebagai otak pengatur pembunuhan Munir. "Seakan-akan ketiga orang itu
terdakwa tunggalnya. Ini tidak masuk akal," ujarnya.

Istri Polly, Herawati, mengatakan siap menghadapi apa pun hukuman yang bakal
dijatuhkan kepada suaminya. "Saya siap menghadapi semuanya jika suami saya
terbukti bersalah," tutur Herawati saat menghadiri persidangan.

Wanita cantik ini berharap persidangan bisa mengungkap kebenaran di balik
kasus terbunuhnya aktivis HAM Munir. Dia mengatakan, Munir adalah sosok yang
sangat baik. "Kita sama-sama mencari kebenaran," ujarnya setelah terdiam
beberapa saat.

Kalau begitu, mengapa Polly tidak menceritakan yang sebenarnya? Herawati
tidak menjawabnya. Dia hanya mengatakan, "Terima kasih atas pertanyaan
seperti itu."

Sedang istri Munir, Suciwati, menginginkan Polly tidak hanya dijatuhi
hukuman maksimal, tapi juga harus mau mengungkapkan siapa sebenarnya dalang
pembunuhan itu. "Itu hukuman setimpal untuk yang membunuh suami saya," kata
Suciwati seusai persidangan kemarin.

Suciwati datang ke pengadilan juga mengenakan kaus hitam bergambar wajah
Munir. Dia berharap nurani Polly terbuka sehingga bisa mengungkap siapa
dalang utama kasus kematian suaminya. "Saya yakin dia masih punya nurani
daripada hanya dijadikan dalang. Padahal, dia masih punya anak yang juga
membutuhkan kasih sayangnya. Saya harap dia mau bicara di pengadilan siapa
yang menyuruh dia," ujarnya.

Meski pasal KUHP yang dijeratkan kepada Polly mempunyai ancaman hukuman
mati, Suciwati menolak hukuman itu. "Sejak dulu saya menolak pemberlakuan
hukuman mati," tandasnya. (eko/agm)


---------------------------------
Yahoo! Mail for Mobile
 Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.

[Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links













***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links



 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hep1jlc/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123751842/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke