http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/11/sh08.html


Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (20-Habis)



Biarlah Derita Ini Buat Aku Saja
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie


AMSTERDAM-Albertina, Amiatun, Naning, Ningsih, Nike, Lala, Safira, atau siapa 
pun yang namanya ada dalam tulisan ini adalah perempuan-perempuan jujur dan 
bijaksana. Mereka mau membagi pengalaman yang kurang menyenangkan dari 
kehidupan mereka kepada banyak orang, tanpa bermaksud mendiskreditkan orang 
lain, dengan tujuan "derita ini buatku saja", jangan sampai ada lagi perempuan 
Indonesia yang menanggung derita seperti ini di negeri orang.

Memilih pasangan hidup dan membentuk perkawinan adalah putusan pribadi. Tulisan 
ini akan membuka mata hati perempuan Indonesia agar berhati-hati memilih 
pasangan hidup, terutama dengan mereka yang berbeda budaya.

Hal-hal yang kurang menyenangkan dalam kehidupan perkawinan bisa dialami oleh 
siapa saja. Tidak hanya perkawinan antarbangsa, juga dengan bangsa sendiri. 
Namun kadar penderitaan akan jauh lebih besar bila dialami oleh perempuan 
Indonesia di negeri asing. 

Perbedaan kultur/budaya, sistem sosial, pendidikan, agama, iklim yang merupakan 
sumber derita akan memberikan nilai tambah bagi penderitaan itu sendiri . 
Kalau di Indonesia kita mengalami hal yang kurang menyenangkan, masih ada 
saudara dan keluarga yang akan membantu meringankan beban psikis dan fisik. 
Sistem kekeluargaan di Indonesia masih kuat. Di Negeri Belanda sikap 
individualistis manusianya dapat membuat seseorang merasa sendiri, tidak 
dipedulikan orang.
Apa harapan seorang perempuan Indonesia memilih kawin dengan laki-laki Belanda? 
Menikah dengan laki-laki Belanda, kehidupan ekonomi akan lebih terjamin. 
Keuangan akan lebih baik dari di Indonesia. Masa depan lebih pasti. Belanda 
Negara maju dimana manusia dapat hidup dengan berkecukupan.

Sedangkan bila kawin dengan laki-laki Indonesia, jaminan ekonomi dan masa depan 
kurang dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi Indonesia masih kurang menjanjikan 
kehidupan yang wajar.

Laki-laki Belanda tidak banyak persyaratan, mereka menerima apa adanya. 
Keluargapun tidak banyak mencampuri pilihan. Sementara laki-laki Indonesia 
apalagi yang mempunyai posisi sosial dan ekonomi baik dan berada di atas 
rata-rata, maka persyaratan pasti sangat berat dan ketat. Keluarga besar masih 
tetap pegang peranan dalam menentukan calon isteri. Perempuan, calon isterinya 
harus tanpa cacat jasmani dan rohani, harus dari keluarga baik-baik, 
terpelajar, status sosial yang sama atau lebih, menyangkut bibit, bebet dan 
bobot. Karena bagi orang Indonesia perkawinan tidak hanya terjadi antara dua 
orang tetapi dua keluarga besar.


Soal Penampilan
Penampilan fisik lebih ganteng dari laki-laki Indonesia. Laki-laki Belanda 
lebih romantis dan galant dibandingkan dengan laki-laki Indonesia, yang kurang 
romantis, dan suka cuek. Ada kebanggaan karena memiliki pasangan yang tampak 
beda.
Tetapi setelah kawin, perempuan Indonesia akan menemukan hal-hal yang jauh dari 
apa yang mereka harapkan. Cinta akan perlahan-lahan tergeser, dengan munculnya 
berbagai masalah dalam rumah tangga karena perbedaan.

Kalau pada masa pacaran semua masih bagus karena masih tertutup rapat. Setelah 
menikah semuanya terbuka. Kalau kita kurang siap untuk mengenal dan menyikapi 
perbedaan tersebut, maka bencanapun mulai mengintip. 

Sebelum memutuskan untuk kawin perlu dipikir dan dipertimbangkan apa alasan 
perkawinan itu. Apa benar-benar cinta. Pertimbangan ekonomi. Atau menerima 
nasib, karena di Indonesia nasib sudah sulit untuk diubah.

Persepsi mengenai perkawinan harus sama antara perempuan dan laki-laki. Apalagi 
dari dua latar belakang kebudayaan yang berbeda. Apakah perkawinan itu sekadar 
mencari hidup lebih baik dan terjamin. Sekadar membunuh sepi, menyalurkan 
hasrat seksual yang legal. Atau ada tujuan luhur yaitu menyatukan cinta kasih 
dan melahirkan anak-anak buah cinta yang dapat meneruskan keturunan dan menjadi 
bagian dari masyarakat dimana kita hidup sesuai dengan norma-norma etika 
kemasyarakatan dan agama yang berlaku.
Suatu perkawinan yang sukses adalah bila masing-masing menghargai keberadaan 
pasangannya. Saling menunjang dengan tulus dan penuh kasih sayang baik dalam 
kesuksesan maupun dalam kegagalan. Hal ini akan memperkecil perbedaan apapun 
yang ada sebelumnya.

Nah, di sini bila alasannya jelas sesudah mempertimbangkan dan memikirkan buruk 
baiknya, gelap cerah, maka seseorang akan siap untuk menerima konsekuensi dari 
perkawinan tersebut.

Dari sekian banyak perempuan dalam tulisan ini, ternyata mereka kurang 
mempersiapkan diri untuk menikah dengan laik-laki Belanda. Informasi mengenai 
negara Belanda, kebudayaan, sistem sosial, hukum, perkawinan, iklim, 
pendidikan, sangat kurang.

Pihak Kedutaan Besar RI di Den Haag ataupun Departemen Luar Negeri di Jakarta 
sangat pelit untuk memberikan informasi tersebut. Juga Kedutaan Besar Belanda 
di Jakarta. "Kami hanya memberikan informasi atas pertanyaan. Kalau pasangan 
itu merasa tidak perlu untuk bertanya, itu hak mereka. Perkawinan ini adalah 
urusan pribadi", demikian keterangan dari seorang pejabat Deplu.

Sangat disayangkan pembinaan atas masyarakat Indonesia di luar negeri terutama 
mereka yang bermaksud menikah dengan orang asing tidak mendapat perhatian yang 
serius dari pemerintah Indonesia. Bukankah perempuan-perempuan yang bernasib 
malang ini adalah bagian dari Indonesia. Kalau mereka mengalami hal yang kurang 
menyenangkan di negeri orang, itu memberikan pengaruh buruk bagi Indonesia.

Masalah ini pernah ditanyakan penulis kepada M. Irsan SH, Duta Besar RI di 
Belanda waktu itu. Tetapi jawabannya beberapa tahun yang lalu juga sama dengan 
pejabat Departemen Luar Negeri tadi yang dihubungi beberapa hari lalu. "Wah itu 
urusan mereka pribadi. Perkawinan adalah pilihan mereka sendiri. Kami tidak 
bisa mencampuri atau mengaturnya".


Jaringan KPI
Sekelompok perempuan Indonesia di Belanda dengan kesadaran sendiri membentuk 
sebuah jaringan Kontak Perempuan Indonesia (KPI) yang memberikan advokasi pada 
perempuan-perempuan Indonesia yang akan dan sudah menikah dengan laki-laki 
Belanda, agar tidak mengalami sisi gelap ini. KPI memberikan informasi mengenai 
semua hal yang menyangkut kehidupan (sosial, budaya, hukum, tradisi dan adat 
istiadat yang tidak tertulis) melalui pertemuan periodik.

Sementara di dunia maya telah dibentuk web site dengan nama Mixed Couple, 
kelompok perempuan Indonesia yang menikah dengan orang asing, pusatnya di 
Prancis. Yang merupakan ajang tukar menukar informasi, pengalaman dan tempat 
berbagi rasa. Anggota ada di seluruh dunia. 
Dan dalam waktu dekat atas inisiatif dari beberapa perempuan yang merasa 
prihatin terhadap nasib kaumnya yang akhir-akhir ini makin dilecehkan, akan 
dibentuk pusat informasi perempuan dan perkawinan. Pusat informasi ini akan 
memberikan advokasi dan informasi mengenai hak dan kewajiban seorang perempuan 
sebagai warga negara, dalam perkawinan yang menyangkut berbagai hal mengenai 
perkawinan antara lain UU Perkawinan, persiapan pasangan memasuki perkawinan 
antarbangsa Indonesia sendiri maupun dengan bangsa asing, dan berbagai hal yang 
menyangkut kehidupan perempuan .

Akhir-akhir ini di Ibu Kota Jakarta ramai diadakan diskusi dan seminar oleh LSM 
dan media membahas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang merupakan jawaban 
atas pelecehan yang dialami perempuan. 
Sudah waktunya perempuan Indonesia bangkit mengekspresi diri memperjuangkan hak 
dan melakukan kewajiban. Jatuh bangun sebuah keluarga terutama ada di tangan 
ibu (tanpa mengecilkan peran bapak). Ibu dan isteri yang baik dan saleh serta 
bijaksana akan menghasilkan anak-anak dan suami-suami yang saleh. Rumah tangga 
yang sejahtera akan menghasilkan bangsa yang sejahtera. n
  
Copyright © Sinar Harapan 2002 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h7m9va0/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123851263/A=2896112/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke