http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/nasional.html
Edisi. 24/XXXIV/08 - 14 Agustus 2005 
    Nasional 



Atase di Seantero Bumi
Panitia Anggaran DPR memperdebatkan penambahan jumlah atase di luar negeri. 
Perlu pula menempatkan penghulu. 

JIKA Rancangan Undang-Undang (RUU) Imigrasi disetujui DPR, Indonesia bakal 
punya ratusan atase imigrasi lagi di seantero bumi. Tetapi, rencana penambahan 
jumlah atase imigrasi itu keburu dihadang Komisi I dan Panitia Anggaran DPR RI. 
Penambahan itu dinilai menghambur-hamburkan uang negara. "Wong yang ada saja 
enggak ada kerjaannya," kata Joko Susilo, anggota Komisi I.

Panitia Anggaran DPR masih memperdebatkan soal penambahan jumlah atase itu, 
Jumat dua pekan lalu. Soalnya, dalam RUU Imigrasi yang pembahasannya akan 
dilanjutkan Agustus ini, Dewan melihat banyak kejanggalan. Dalam pasal 5, 
misalnya, disebutkan di setiap perwakilan RI di luar negeri terdapat tugas dan 
fungsi keimigrasian yang dijabat pejabat imigrasi. 

Dengan pasal itu, Komisi I menilai nantinya di semua perwakilan RI di luar 
negeri harus ditempatkan atase imigrasi. Jika RUU ini diloloskan, Joko 
menghitung, ratusan miliar uang negara akan habis untuk membayar atase imigrasi 
beserta sejumlah asisten dan staf lokalnya. 

Tanpa menambah atase baru pun, sebetulnya anggaran Departemen Luar Negeri tahun 
ini mencapai Rp 4,1 triliun. Sekitar 88,1 persen anggaran itu untuk mengongkosi 
673 diplomat di luar negeri, dan hanya 11,9 persen untuk diplomat di dalam 
negeri. Beban sebesar itu, sekitar Rp 600 miliar, di antaranya untuk 
mengongkosi 198 atase dari sejumlah departemen.

Departemen Luar Negeri, seperti dikatakan Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen 
Departemen Luar Negeri, Triyono Wibowo, sebetulnya sejak tiga tahun lalu telah 
melakukan perampingan organisasi, termasuk mengurangi diplomat yang bertugas di 
luar negeri. Dia memberi contoh, sejak 2003, secara bertahap jumlah 673 
diplomat di luar negeri akan dikurangi hingga menjadi 243 diplomat pada akhir 
2008. Namun, langkah efisiensi yang dirintis Menteri Luar Negeri Nur Hassan 
Wirajuda itu tak semulus yang diharapkan.

Setidaknya, anggaran Departemen Luar Negeri tahun depan justru naik menjadi Rp 
4,2 triliun. Kenaikan itu tak lain akibat rencana penambahan jumlah atase 
teknis dan atase pertahanan dari Departemen Pertahanan. 

Dari data yang sampai ke meja Komisi I, Departemen Luar Negeri menerima 
permintaan penambahan 44 atase baru. Usulan itu terbanyak dari Departemen 
Kehakiman dan HAM (11 atase), disusul Kepolisian RI (10 atase). Dengan usulan 
itu, nantinya Departemen Kehakiman dan HAM akan menempatkan pejabat dari 
Direktorat Jenderal Imigrasi sebagai atase imigrasi di sejumlah negara.

Penempatan pejabat diplomatik, termasuk atase, merujuk pada Undang-Undang No. 
37/1999 (tentang Hubungan Luar Negeri), seyogianya wewenang Departemen Luar 
Negeri. Usulan penempatan disampaikan kepada Departemen Luar Negeri, Menteri 
Keuangan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. "Menlu menyetujui jika 
sesuai misi dan kebutuhan perwakilan di luar negeri," kata Triyono.

Namun, tak jarang Departemen Luar Negeri tak mampu menolak atase hasil titipan. 
Penempatan atase imigrasi di Guangzhou, Cina, tahun ini, misalnya. Kepala 
Konsulat Jenderal RI di sana akhirnya meluluskan penempatan atase imigrasi di 
Guangzhou karena pihak imigrasi mempersulit pengiriman blangko visa ke KJRI 
Guangzhou. "Itu termasuk menghambat pelayanan masyarakat," kata Joko.

Tuduhan itu dibantah Direktur Jenderal Imigrasi Departemen Hukum dan HAM, Iman 
Santoso. "Jangan asal ngomong," kata Iman. Menurut dia, pihaknya mengirimkan 
blangko visa tepat waktu. Iman juga menolak tuduhan Direktorat Imigrasi 
memaksakan menempatkan pejabat imigrasi di setiap kantor perwakilan RI. "Kita 
hanya mengajukan di sembilan perwakilan," katanya.

Menurut Iman, dari sembilan yang diusulkan itu, pihaknya kemudian hanya 
mengusulkan penempatan delapan atase baru, yaitu di Seoul, New Delhi, Cape 
Town, Kairo, London, New York, Buenos Aires, dan Guangzhou. Baru di Guangzhou 
yang sudah disetujui tahun ini. Menurut dia, penempatan atase di sejumlah 
negara itu dimaksudkan untuk membangun sistem data keimigrasian. 

Dengan memiliki sistem data keimigrasian, pihaknya bisa memantau keluarmasuknya 
orang asing di Indonesia. Selama ini, kata Iman, hanya sebagian kecil data visa 
yang dikeluarkan pejabat konsuler perwakilan luar negeri yang dilaporkan ke 
imigrasi. Karena itu, ia berharap, dengan adanya sistem informasi itu, semua 
visa yang dikeluarkan perwakilan RI otomatis datanya terkirim ke imigrasi dan 
bisa terpantau di seluruh bandara di Indonesia. "Jangan nanti kebobolan orang 
asing, kita yang disalahkan," ujarnya.

Tetapi, bagi Joko Susilo, alasan itu terkesan mengada-ada. Menurut dia, 
pembuatan sistem jaringan informasi imigrasi tidak harus dengan menempatkan 
pejabat imigrasi di luar negeri. "Sistemnya saja dibuat. Yang menjalankan biar 
petugas konsuler," kata anggota Dewan dari PAN ini. Cara yang sama juga 
dilakukan Kedutaan Amerika Serikat, dengan mengembangkan sistem informasi 
keimigrasian tanpa harus menempatkan pejabat imigrasi di suatu negara.

Menurut Joko, jika Pasal 5 RUU Imigrasi diloloskan, ada kesan Direktorat 
Jenderal Imigrasi ingin menempatkan orang sebanyak-banyaknya di luar negeri. 
Menurut dia, sebelum mengajukan usulan atase baru, Direktorat Jenderal Imigrasi 
juga telah menempatkan 22 atase imigrasi dan asisten atase imigrasi di 16 
negara. Tugas utama mereka melayani pemberian visa, yang semestinya bisa 
ditangani bidang counsellor perwakilan RI. 

Permintaan "jatah" atase bukan hanya monopoli Direktorat Jenderal Imigrasi. 
Selain Departemen Pertahanan dan Badan Intelijen Negara (BIN), Departemen 
Perdagangan dan Kepolisian RI juga menempatkan atasenya di sejumlah negara.

Departemen Perdagangan saat ini mempunyai 25 atase. Penempatan ini, kata Sekjen 
Departemen Perdagangan, Hatanto Reksodipoetro, harus melewati seleksi ketat. 
"Mereka dari pejabat eselon III," katanya. 

Meski bukan dari bagian atase pertahanan, Polri juga menempatkan sembilan atase 
di berbagai negara, termasuk di Malaysia, Thailand, dan Papua Nugini. Tahun ini 
Polri mengusulkan menambah sepuluh atase untuk Dili, Timor Leste; Port Moresby, 
Papua Nugini; dan Washington DC, Amerika Serikat.

Seberapa penting Polri mempunyai atase di suatu negara? "Akan saya cari dulu 
informasinya," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Polisi Aryanto Budihardjo, 
kepada Mochamad Nafi dari Tempo.

Penempatan atase dan pegawai di luar negeri sering tak jelas alasannya. 
Departemen Agama, misalnya, tahun lalu mengusulkan penempatan semua penghulu di 
tiap KBRI. Karena melihat banyak yang mubazir, Joko mengusulkan agar 168 atase 
yang ada saat ini dikurangi menjadi separuhnya. "Biar negara tidak bangkrut," 
kata mantan wartawan yang pernah tinggal lama di London, Inggris, itu.

Zed Abidien, Maria Ulfah 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h6hbo0r/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123936288/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
 underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to 
life by funding a specific classroom project  
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke