Ajakan renungan A. Umar Said
(Tulisan berikut di bawah ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
PENGALAMAN KORBAN PERISTIWA 65
ADALAH GURU BESAR BANGSA
Ketika kita memperingati 40 tahun peristiwa 65 apa sajakah yang perlu kita
kenang kembali atau kita tarik sebagai pelajaran penting bagi bangsa kita
dewasa ini dan juga untuk anak-cucu kita di kemudian hari ? Boleh dikatakan,
semuanya! Semua soal yang berkaitan dengan peristiwa 65 adalah penting.
Karena itu, masalah peristiwa 65 adalah rumit, dan bersegi banyak. Dalam
persoalan besar yang sangat bersejarah bagi bangsa dan Republik Indonesia
ini ada aspek PKI, ada aspek Bung Karno, aspek TNI-AD, aspek Suharto, aspek
golongan Islam, aspek CIA. Di dalamnya terdapat juga faktor sejarah, faktor
politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Dan semuanya itu ada
sangkut-pautnya - secara langsung atau tidak langsung - dengan banyak
persoalan dalamnegeri dan internasional pada waktu itu.
Mengingat begitu besar dampak peristiwa 65 untuk kehidupan bangsa kita, maka
sebaiknya (atau sepatutnya ) makin banyak orang bisa menulis tentang itu
semua. Sehingga berbagai masalah peristiwa 65 bisa dilihat secara
betul-betul jernih dan juga secara menyeluruh. Karena, seperti kita saksikan
sendiri masing-masing selama ini, banyak sekali soal yang berkaitan dengan
peristiwa 65 telah diputarbalikkan, direkayasa, dipalsukan, dibohongkan,
disulap dan divermaak oleh Orde Baru. Dan dalam jangka waktu yang lama
sekali pula, yaitu lebih dari 32 tahun !!! Jadi, tidak tanggung-tanggung.
Dalam tulisan yang kali ini titik berat diletakkan pada ajakan kepada semua
untuk merenungkan bersama masalah penganiayaan dan penyiksaan yang
dilakukan oleh para pembangun rejim militer Orde Baru. Karena, penganiayaan
biadab dan penyiksaan sadis adalah salah satu di antara banyak senjata
ampuh yang dipakai oleh Orde Baru dalam melumpuhkan kekuasaan Bung Karno
dan dalam memukul PKI beserta pendukung-pendukungnya. Penganiayaan dan
penyiksaan (yang dilakukan dalam berbagai bentuk) adalah suatu cara rejim
militer Orde Baru untuk kemudian melakukan terror permanen di seluruh
negeri, guna memperkokoh cengkeraman kekuatan militernya. Dalam arti
tertentu, bisalah kiranya disimpulkan bahwa penganiayaan dan terror adalah
satu dan senyawa dengan Orde Baru.
PUNCAK KEBIADABAN DALAM SEJARAH BANGSA
Barangkali, penganiayaan dan penyiksaan oleh kesatuan-kesatuan TNI-AD (dan
kalangan kecil dari golongan Islam) terhadap anggota, simpatisan dan
kader-kader PKI dan pendukung Bung Karno, merupakan puncak kebiadaban yang
pernah dibikin oleh segolongan kecil bangsa kita.terhadap sesama
warganegara. Dan, mungkin juga, puncak kebiadaban yang mengerikan ini adalah
satu-satunya yang muncul dalam sejarah bangsa Indonesia. Mudah-mudahan,
Insya Allah!
Kalau mengingat betapa hebatnya penganiayaan atau sadisnya penyiksaan
terhadap begitu banyak orang yang ditangkap dan diinterogasi oleh aparat
militer maka kita bisa bertanya-tanya apakah bangsa kita ini masih pantas
dinamakan bangsa yang beradab? Apakah kita bisa membanggakan diri sebagai
bangsa yang majoritasnya pemeluk agama?
Selama 32 tahun pemerintahan rejim militer Suharto dkk orang tidak bisa dan
juga tidak berani buka suara tentang kebiadaban, kebuasan, dan kebengisan
yang terjadi dalam tahun-tahun pertama ketika Suharto dkk menyerobot
kekuasaan dari tangan Bung Karno. Sebab, berani buka suara waktu itu berarti
pasti menghadapi penangkapan dan penganiayaan.
Baru setelah Suharto dengan Orde Barunya dipaksa turun dari kekuasaan dalam
tahun 1998, sedikit demi sedikit muncullah beraneka ragam cerita dan
kesaksian tentang betapa hebatnya penganiayaan dan penyiksaan terhadap para
korban. Sebagian kecil sekali dari cerita dan kesaksian ini sudah mulai
diketahui oleh publik melalui, antara lain : wawancara, artikel atau
tulisan dalam majalah, memoire dalam bentuk buku.
Mengingat banyaknya kasus penganiayaan dan hebatnya penyiksaan, dan
mengingat juga besarnya jumlah orang yang telah menderita perlakuan yang
tidak berperikemanusiaan ini, maka kiranya kita semua perlu mendorong
sebanyak mungkin orang untuk terus menulis tentang itu semua lebih banyak
lagi. Menulis (atau menceritakan) tentang kebiadaban penganiayaan dan
penyiksaan yang telah dilakukan oleh sebagian golongan militer (dan sebagian
kecil golongan Islam pada waktu itu) merupakan tugas penting generasi bangsa
kita dewasa ini. Sebab, kalau tugas penting ini tidak dikerjakan sekarang,
maka saksi-saksi hidupnya akan makin berkurang atau banyak pelaku-pelaku
sejarahnya yang sudah keburu meninggal dunia.
BESARNYA DAN LUASNYA PENGANIAYAAN
Sekadar untuk menyegarkan kembali ingatan kita bersama, pada akhir tahun
1965, dan dalam tahun-tahun 1966 dan 1967, hampir seluruh pemimpin dan kader
PKI dari berbagai tingkat (propinsi, kabupaten, kota besar dan kota madya,
kecamatan, bahkan kelurahan) di seluruh Indonesia ditangkapi secara
besar-besaran dan ditahan secara sewenang-wenang dalam jangka waktu yang
lama. Sebagian besar di antara mereka dibunuh begitu saja dengan cara-cara
yang tidak berperikemanusiaan.
Banyak diceritakan sekarang bagaimana kejamnya siksaan terhadap mereka yang
ditangkap itu selama diinterogasi. Sebagian besar di antara mereka itu
terdiri dari para pemimpin atau kader bermacam-macam organisasi buruh, tani,
nelayan, wanita, pemuda, pelajar, tentara, pegawai negeri, dan golongan
lainnya dalam masyarakat. Banyak di antara mereka yang disetrum listrik,
disundut dengan puntung rokok, dipukuli dengan kawat berduri, digantung
sampai berhari-hari, dipukuli beramai-ramai, ditusuk-tusuk dengan pisau atau
bayonet, di-sel di ruangan gelap (tanpa sinar matahari sedikitpun) sampai
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Sebagian di antara mereka disiksa di hadapan istri dan anak. Banyak yang
sesudah disiksa tidak diberi pengobatan dan dibiarkan kesakitan sampai
jangka lama. Banyak sekali orang tahanan yang tidak boleh berhubungan sama
sekali dengan keluarganya. Tidak sedikit di antara tahanan wanita yang
diperkosa atau dilecehkan kesusilaan mereka dengan berbagai cara. Semuanya
ini sulit dibantah, karena saksi-saksinya masih ada, dan korban-korbannya
pun banyak sekali yang masih bisa memberikan kesaksian.
Dampak siksaan atau penganiayaan ini besar sekali. Dari mulut ke mulut bocor
juga berita tentang kekejaman yang diperlakukan terhadap para tahanan itu.
Berita-berita inilah yang kemudian juga menimbulkan terror di kalangan
keluarga (atau di kalangan teman-teman) yang ditahan. Ketakutan yang besar
sekali terhadap militer menghinggapi kalangan luas dalam masyarakat di
seluruh negeri waktu itu.
Dalam jangka lama semasa Orde Baru, tempat-tempat seperti Kodam, Korem dan
Kodim di seluruh Indonesia merupakan sesuatu yang sangat ditakuti oleh
banyak orang biasa. (Ditakuti, tetapi tidak berarti juga dihormati). Sebab,
sering sekali, orang-orang yang ditahan oleh Kodim adalah orang-orang yang
dianggap mempunyai masalah. Masalah yang berkaitan dengan keamanan, yang
arti polosnya yalah kekuasaan rezim militer.
Entah sudah berapa jumlah orang-orang yang pernah ditahan oleh Kodim (atau
instansi militer bawahannya) di seluruh Indonesia. Seandainya tembok-tembok
gedung Kodim di banyak tempat bisa bicara akan bisa menggigillah orang
mendengar kisah-kisah tentang hebatnya dan juga banyaknya siksaan biadab
yang telah dilakukan oleh para petugas militer waktu itu.
KESAKSIAN PARA KORBAN ADALAH MILIK BERHARGA BANGSA
Kisah-kisah tentang penyiksaan atau penganiayaan oleh petugas-petugas
militer ini sebenarnya sekarang ini dapat didengar dari banyak para korban
peristiwa 65, para eks-tapol, dan juga keluarga mereka. Kesaksian mereka
(beserta sanak-saudara mereka, dekat maupun jauh) adalah MEMOIRE KOLEKTIF
dan merupakan milik berharga bangsa, baik bagi generasi yang sekarang maupun
bagi anak-cucu kita.
Dari kisah mereka itu bangsa kita sekarang dan anak-cucu kita akan
mengetahui dengan jelas bahwa TNI-AD pernah melakukan kejahatan
besar-besaran dalam bentuk siksaan biadab atau penganiayaan sadis terhadap
sesama warganegara. Kisah para korban peristiwa 65 adalah sarana pendidikan
moral yang sangat ampuh, atau alat pemupukan rasa perikemanusiaan yang
sangat ideal. Kisah para korban peristiwa 65 tentang penyiksaan dan
penganiayaan merupakan juga contoh kongkrit atau bukti nyata tentang
pelanggaran perikemanusiaan.
Dari segi inilah kita bisa melihat pentingnya mendorong atau menganjurkan
kepada para korban peristiwa 65 (termasuk sanak-saudara, dan juga
teman-teman terdekat mereka) untuk berusaha mengangkat kisah-kisah
sebenarnya tentang pengalaman mereka mengenai penyiksaan dan penganiayaan
oleh militer, terutama sekali dalam tahun-tahun pertama sesudah terjadinya
G30S.
Dalam kaitan ini kiranya perlu sekali kita renungkan bersama -- secara
dalam-dalam -- soal berikut : pengangkatan kisah-kisah ini tidak
dimaksudkan untuk tujuan nista, yaitu : mengungkit-ungkit dendam, atau
membuka luka-luka lama, sekadar melampiaskan kemarahan dan mengumbar
hujatan, menyebar kebencian atau mengipasi permusuhan Melainkan untuk
tujuan luhur, yaitu : mengajak orang banyak untuk menjunjung tinggi-tinggi
perikemanusiaan, mematuhi peradaban, memupuk rasa persaudaraan, dan
menghormati perasaan keadilan, demi kebaikan bersama seluruh bangsa .
Di samping itu, melalui kisah-kisah tentang penyiksaan dan penganiayaan ini
kita bisa berusaha memberi sumbangan kepada reformasi di bidang jiwa dan
moral di kalangan militer (teruatama kalangan TNI-AD) , supaya tidak
mengulangi lagi kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran berat yang sudah
banyak dan sering sekali dilakukan semasa Orde Baru.
Sebab, seperti sudah kita saksikan sendiri selama ini, maka jelaslah
kiranya bahwa penganiayaan, dan penyiksaan, dan penindasan, dan
pemerkosaan, dan pemerasan, dan persekusi, dan intimidasi, adalah
praktek-praktek yang banyak dilakukan oleh kalangan militer dalam jangka
waktu puluhan tahun. Ini dialami sendiri dengan bukti-bukti yang nyata oleh
banyak orang dari berbagai kalangan dan golongan di seluruh tanah air kita.
Jadi, sekali lagi, fakta-fakta sejarah ini sulit sekali dibantah atau
diungkiri.
Kalau dalam tahun-tahun pertama sesudah G30S tindakan yang biadab itu
terutama sekali ditujukan kepada kader atau anggota dan simpatisan PKI dan
pendukung Bung Karno, maka kemudian juga golongan-golongan lainnya yang
dianggap berbahaya bagi rejim militer mendapat gilirannya. Itu sebabnya maka
terjadi peristiwa-peristiwa berdarah di Tanjung Priok, Lampung, Aceh,
Madura. Yang termasuk agak baru atau agak akhir adalah peristiwa di Timor
Timur, kerusuhan rasial bulan Mei 1998, penculikan 14 anak muda PRD,
penyerbuan gedung PDI di jalan Diponegoro, dan peristiwa Semanggi.
Pembunuhan pejoang HAM, Munir, dalam tahun 2004, adalah bentuk yang lain
lagi dari praktek biadab ini.
GURU BESAR SOAL PENYIKSAAN DAN PERIKEMANUSIAAN
Jadi, dalam rangka memperingati 40 tahun peristiwa 65 mengungkap kembali
kebiadaban penyiksaan dan membeberkan kebuasan penganiayaan aparat militer
terhadap para korban adalah perlu atau berguna dan juga tepat waktunya.
Membeberkan kebiadaban penganiayaan dan penyiksaan terhadap korban
peristiwa 65 tidaklah bermaksud untuk memojokkan salah satu golongan,
bukan pula untuk menghina salah satu aparat Negara. Apalagi, bukan juga
untuk sekadar menjelek-jelekkan atau menodai kehormatannya.
Justru kebalikannya!!! Kita, sebagai bangsa, tidak ingin kalau
kejahatan-kejahatan monumental yang sudah dilakukan oleh golongan militer
(terutama TNI-AD) selama masa Orde Baru bisa terulang lagi, baik sekarang
maupun di masa-masa yang akan datang. Sebagai bangsa, kita butuhkan militer
yang tidak berjiwa Orde Baru. Kita akan hormati militer yang anti-Orde Baru.
Kejahatan di masa yang lalu sudah makan terlalu banyak korban jiwa manusia.
Dan penderitaan yang mengucurkan banyak airmata dan darah pun sudah
berlangsung terlalu lama.
Tulisan ini diakhiri dengan himbauan kepada para korban peristiwa 65 (
termasuk juga para sanak-saudaranya dan teman-teman terdekatnya) :
Pengalaman kalian adalah guru besar bangsa dalam soal-soal penderitaan dan
perikemanusiaan! Berikanlah tanpa ragu-ragu pengalaman kalian sebagai
sumbangan kepada pembangunan jiwa dan moral baru bangsa. Demi tercapainya
masyarakat adil dan makmur, yang juga dijiwai sungguh-sungguh Pancasila dan
Bhinneka Tunggal Ika!
Paris, 14 Agustus 2005
--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.338 / Virus Database: 267.10.8/71 - Release Date: 12/08/2005
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hneq1t0/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124065146/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/