Catatan laluta:
 
Dalam rangka hasil Ekspersi diri 'Temu Wicara Sarasehan 06 augustus 2005' di 
KBRI-Den Haag, juga dari karya tulisan kolumnis Ratna Megawangi di Suara 
Pembaruan 11 Agustus 2005,  seorang kawan Pelukis, Penulis dan Penyair bermukim 
di Brussel - Belgia tak luput dari statusnya sebagai Eksil ekses 40thn G30S 
'65.  Dengan mempertanyakannya sebagai refleksi dirinya: "Bagaimana memaknai 
Merdeka. Apakah secara hakiki Bangsa dan Negara Indonesia sudah Merdeka ?"Untuk 
itu saya kirimkan sebuah Esai ungkapan ekspresi diri A.Kohar Ibrahim ...
 
La Luta Continua!
 
Perjuangan Politik  Penyair Kemerdekaan

Esai: A. Kohar Ibrahim
 
BULAN Agustus mengandung arti bersejarah berupa Proklamasi Kemerdekaan dan 
berdirinya negara Republik Indonesia. Lebih-lebih lagi tahun 2005 ini. 
Karenanya bangsa  Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri sibuk 
memperingatinya.
 
Di luar negeri, salah satu contohnya, terjadi evenement berupa sarasehan 
memperingati 60 tahun Kemerdekaan RI bertema : « Membangun Keindonesiaan Yang 
Merangkul Dan Mendengarkan » bertempat di Kedutaan Besar Republik Indonesia 
tanggal 6 Agustus 2005 di Den Haag, Nederland. Dihadiri 130 peserta baik yang 
mewakili kalangan resmi maupun dari mereka yang merupakan korban politik 
represip Orba. Dalam kesempatan mana terjadi dialog yang masing-masing 
mengekspresikan dirinya mengenai berbagai persoalan kehidupan bangsa dan negara 
Republik Indonesia. Termasuk pertanyaan : Bagaimana memaknai Merdeka. Apakah 
secara hakiki Bangsa dan Negara Indonesia sudah Merdeka ?
Sungguh signifikan pula, di Indonesia sendiri antara lain terlansir pertanyaan 
yang hakikatnya sama :  « Indonesia Merdeka, Manusia Indonesia Merdeka ? » 
tulis kolomnis Ratna Megawangi di Suara Pembaruan 11 Agustus 2005.
 
Pertanyaan sedemikian itu jika dinyatakan dalam zaman jaya-jayanya Orde Baru, 
tentulah akan jadi kasus « subversif ». Di masa itu, yang berekspresi secara 
berani konsekwensinya masuk bui. Seperti dialami seorang penyair macam Rendra, 
yang hanya untuk membacakan puisi bersemangatkan humanisme ala Multatuli tahun 
1990, harus berurusan dengan pihak kepolisian Orba yang militeristis.
 
Masalah kemerdekaan adalah masalah besar dan mendasar yang layak menjadi urusan 
tiap insan. Bukan hanya urusan politisi melainkan juga tiap individu dari 
masyarakat manusia umumnya,  khususnya kaum intelektual, jurnalis, penulis dan 
penyair. 
Dalam hal ini, saya pernah menulis bloknota yang menegaskan bahwa berkat  
perjuangan politik, pada 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta  
memproklamirkan berdirinya Republik Indonesia. Peristiwa bersejarah itu 
sekaligus merupakan tindakan politik demi mencapai kehidupan bangsa Indonesia 
yang merdeka,  adil makmur aman sentosa. seperti  terkandung dalam mukadimah 
UUD’45.
 
Bung Karno dalam tulisannya berjudul "Mencapai Indonesia Merdeka" (1933) 
mengumpamakan "Kemerdekaan adalah jembatan emas". Akan tetapi, apa dan 
bagaimanakah jembatan emas itu dijalani bangsa selama ini? Tidakkah yang 
menjalani jembatan secara keemasan  hanyalah baru sebagian kecil orang saja? 
Sedangkan yang mayoritasnya masih terbelenggu ketidak-adilan dan 
kemiskin-sengsaraan ? Bagaimana bisa demikian? Dalam suasana merenungkan makna 
kemerdekaan sekaligus gema teriak dan tangis mendambakan perealisasian 
aspirasinya dari Sabang hingga Merauke,  saya mencoba mengajak pembaca untuk 
menyimak jejak langkah perjuangan bangsa yang tercermin dalam aktvitas dan 
kreativitas beberapa penyair. Seperti Chairil Anwar,  HR Bandaharo, WS Rendra 
dan Wiji Thukul. 
 
Dalam mengungkapkan semangat perjuangan, sikap Chairil Anwar yang salah seorang 
tokoh Angkatan'45 itu, dapat kita nikmati dalam sajak-sajaknya berjudul 
"Diponegoro", "Krawang Bekasi"  dan "Persetujuan dengan Bung Karno"nya:
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji / Aku sudah cukup lama dengar 
bicaramu / dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu /
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 / Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu 
/ Aku sekarang api aku sekarang laut /

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat / Di zatmu di zatku kapal-kapal kita 
berlayar / Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh.  (1948)
Betapa plastis dan puitisnya semangat  Revolusi Agustus diungkapkan oleh 
Chairil Anwar itu. Suatu pengungkapan kobaran api revolusi yang dinamis dan 
optimis. Ketegasan sikap dan keberpihakkannya juga menjadi anutan banyak 
penyair, seniman dan sastrawan lainnya. Sayangnya dia mati muda, dalam usia 25 
tahun pada 1949. Dalam suasana genting dan penting pilihan jalan perjuangan: 
betekuk tunduk kembali menerima dikte kaum kolonialis dan imperialis atau 
meneruskan perjuangan agar bangsa Indonesia benar-benar mencapai kemerdekaan 
yang penuh? Kerna kaum kolonialis dan nekolim ternyata tidak sudi menyaksikan  
bangsa dan  Republik Indonesia benar-benar menjadi bebas merdeka. 
 
Kalau saja Chairil Anwar panjang usia, tentunya dia akan lebih gigih dan lebih 
kreatif lagi dalam bidang seninya mengungkapkan gelora perjuangan bangsa 
Indonesia selanjutnya. Gelora perjuangan di bawah pimpinan Bung Karno untuk 
mencapai aspirasi kemerdekaan dengan mengayomi semangat persatuan bangsa yang 
besar demi menghadapi rongrongan  kaum nekolim (neo kolonialisme dan 
imperialisme) yang dikepalai oleh imperialisme Amerika Serikat. Berupa dukungan 
terhadap pemberontakan di berbagai daerah. Seperti pemberontakan militeristis 
DI/TII, RMS, PRRI dan PERMESTA. Dengan puncaknya berupa kudeta militeristis 
yang berhasil di bawah pimpinan Jenderal Suharto - setelah secepat kilat 
mengatasi "Gerakan 30 September 1965" pimpinan Kolonel Untung.
 
Kudeta itu menumbangkan rezim Orde Lama pimpinan Bung Karno yang 
anti-feodalisme dan anti nekolim serta hendak membawa  masyarakat Indonesia 
mewujudkan Sosialisme Indonesia. Kudeta itu terkenal juga sebagai kudeta 
merangkak. Di mulai dari 1 Oktober 1965 hingga dikeluarkannya Super Semar 1966. 
Yang kemudian diabsahkan oleh Tap-tap MPRS demi pelucutan sama sekali kekuasaan 
Bung Karno. 
 
Lembaran hitam dalam sejarah bangsa dan negara Republik Indonesia itu telah 
menelan jutaan korban yang terbunuh, terpenjarakan, dibuang ke Pulau Buru dan 
derita sengsara lainnya. Salah seorang diantaranya adalah penyair HR Bandaharo. 
Sejumlah karya puisinya mencerminkan zaman kegelapan yang dialami masyarakat 
Indonesia, terutama sekali kaum tertindas. Seperti tercermin dalam sajaknya 
"Cerita" yang melukiskan korban keganasan  bangsa membunuh bangsa sendiri, juga 
amat signifikan sajaknya  berjudul "Dosa Apa" dan "Sepuluh Sajak Berkisah". 
Salah seorang penyair besar Indonesia kelahiran Medan (1917) pencinta 
kemerdekaan dan keadilan ini pernah dibuang ke Pulau Buru belasan tahun tanpa 
ada pembuktian dosanya. Kemudian wafat dalam kesengsaraaan di Jakarta 1 April 
1993. 
 
Rezim Orba adalah rezim militeristis yang menghegemoni semua bidang kehidupan. 
Bahkan,  pegawai negeri dan kepolisian yang semestinya jadi pengabdi masyarakat 
pun terjebak militerisme. Sedangkan kaum seniman, sastrawan dan penyair sampai 
yang paling bersikap bebas merdeka pun mesti tunduk dihadapan mesin politik 
yang represip itu. Maka jika ada yang mencoba membandel akan segera kena 
bredel! Seperti yang dialami  majalah  Tempo. Dibungkam, seperti yang dialami 
penyair Rendra.
 
Sungguh ironis ! Penyair  mesti berurusan dengan polisi hanya lantaran kreasi 
puisinya. Seperti sajak "Demi Orang-Orang Rangkasbitung" dan "Doa Seorang 
Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam" yang dilarang pembacaannya di TIM 8-9 
Nopember 1990. 
Mengapa penguasa begitu ketakutan terhadap puisi? Meskipun yang diutarakan 
hanyalah berupa pertanyaan? Lagi pula:  "Pertanyaan yang wajar-wajar saja," 
kata Rendra menjelaskan pada majalah "Pelita" (10.11.1990). Pertanyaan yang 
tidak menyalahi hukum dan undang-undang.  Lanjutnya: "Kalau rakyat  tidak 
mempunyai hak hukum untuk menghadapi adipati-adipati yang baru, apa itu namanya 
bangsa merdeka. Negara Anda sudah merdeka, tapi apa bangsa Anda sudah merdeka? 
Kalau bangsa Anda tidak punya hak hukum, apakah bisa disebut bangsa yang 
merdeka?"
 
Ya, tumpuan masalahnya memang mempertanyakan kehakikian kemerdekaan itu. 
Apalagi jika disimak pengungkapan puitis Rendra dalam dua sajak itu memang soal 
kemerdekaan dan keadilan bagi rakyat.  Dan keyakinan Rendra,  tiadanya 
kemerdekaan dan keadilan, dalam sejarah, selalu akan melahirkan orang-orang 
semacam Multatuli. 
 
Masih segar ingatan saya, bagaimana hangatnya sambutan umum terhadap Rendra 
pada  malam "Puisi di bawah Represi" belasan tahun lalu di Amsterdam. Suatu 
kegiatan kebudayaan yang tak lepas dari rangkaian perjuangan demi kemerdekaan, 
demokrasi dan hak-hak azasi manusia yang dihadiri juga oleh penyair korban 
represi lainnya, yakni Sitor Situmorang. Sedangkan pelukis Basuki Rsobowo 
menyemarakkan acara dengan pameran karya bertema kerakyatannya. Dan dalam masa 
itu pula Rendra menerima Hadiah Wertheim  (Wertheim Encourage Award). Suatu 
penghargaan cukup bermakna yang diterimanya bersama penyair lainnya yang juga 
kelahiran Solo (1963): Wiji Thukul.
 
Wiji Thukul memang layak dihargai, kerna intensitas aktivitas-kreativitas 
budayanya yang memperjuangkan terlaksananya aspirasi kemerdekaan. Sudah sejak 
awalnya, di tahun 80-an, Thukul menyanyikan lagu kemerdekaan dan keadilan. 
Seperti dalam sajaknya berjudul "Sukmaku Merdeka" (Kusajak  Wiji Thukul, Temu 
Budaya, Komitee Indonesia Amsterdam 1991). Dalam mana ia menggores baris kata  
puitis yang  profetis: 
"sebelum malam mengucap selamat malam / sebelum tidur mengucapkan selamat 
datang / aku mengucap kepada hidup yang jelata / m e r d e k a ! "

 
Dalam sajak-sajaknya berjudul "Salam", "Pertanyaan", “Merdeka” Thukul selain 
mengungkapkan bagaimana harus merebut kemerdekaan, juga mempertanyakan peranan 
negara dan rakyat, demokrasi dan kebebasan menyatakan pendapat. Sekalipun untuk 
itu dia harus mengalami berbagai kesulitan dan penindasan penguasa. Bukan hanya 
dia harus mengalami hinaan, di luar maupun di depan meja hijau, tapi juga 
didera siksaan fisik untuk akhirnya termasuk dalam daftar "orang hilang" - 
setelah terjadinya Peristiwa 27 Juli 1996. 
Sungguh Merdeka dan Kemerdekaan itu tak ternilaikan harganya. Setelah enam 
dasawarsa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan, setelah 
adanya pengorbanan sedemikian besarnya, kiranya semangat perjuangan itu masih 
harus dikobarkan terus. Demi mewujudkan aspirasinya yang hakiki. °°°











                
---------------------------------
 Start your day with Yahoo! - make it your home page 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hl7lcm7/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124201213/A=2894354/R=0/SIG=11qvf79s7/*http://http://www.globalgiving.com/cb/cidi/c_darfur.html";>Help
 Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke